
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Rani mengerjabkan matanya, dia tidur sudah cukup lama. Dia tidak menyadari jika saat ini dia sudah memasuki kampung halamannya. Dia mengira jika terminal kota masih jauh. Namun, tiba - tiba dia seperti mengenali jalanan yang saat ini dia lalui.
" Ini sudah sampai mana? Aku merasa mengenali jalanan ini? Hah.. !! Bukannya ini jalanan kampungku? Kamu kenapa mengantarkan aku sampai kampungku?."Seru Rani yang akhirnya menyadari jika dia sudah berada di kampung halamannya.
Pria yang menolong Rani hanya tersenyum tipis, sambil tangannya terus memutar kemudi setir mobilnya.
" Kenapa cuma tersenyum saja? Memang kamu tahu rumahku yang mana? Kok main melaju terus menerus tanpa bertanya rumah nya yanv mana?."Tanya Rani sedikit kesal dengan pria yanv mengantarnya pulang.
Ciiiittttttt
Pria itupun mengerem secara mendadak, beruntung tidak terjadi apa-apa dengan Rani.
Buugghhh
Buugghhh
Rani memukul lengan pria itu dengan menggunakan tas selempangnya. Hampir saja dibuat celaka karena kecerobohan pria yang tidak dia kenal itu.
" Kamu mau membuat celaka?."Tanya Rani dengan kesal dan meninggikan suaranya.
" Maaf, maaf. Aku tadi tidak sengaja, emm aku baru ingat jika tidak tahu dimana letak rumah kamu."Seru pria yang belum Rani ketahui namanya itu.
" Makanya kalau ada orang bicara dan bertanya itu dijawab. Beruntung ini sudah memasuki kampung halamanku, tidak kamu bawa nyasar. Rumah ku masuk gang ini, nanti lurus saja dan rumah no 3 dari ujung dengan cat rumah warna biru tua. Itu rumah kontrakan adikku, atau turunkan saja aku disl sini dan aku akan jalan kaki. Berapa ongkos yang harus aku bayar?."Seru Rani dengan serius.
Haahhhh
Pria yang belum Rani ketahui namanya itu pun langsung bengong. Dia bukan sopir taksi Online dan bukan juga sopir angkutan umum yang bisa dia bayar.
" Kamu kira aku ini sopir taksi? Aku ini ikhlas menolong kamu, apalagi kamu hamil sebesar ini takut saja kalau sampai lahiran di jalan. Biar aku antarkan sampai rumah adikmu saja, kasihan tuh bayi dalam kandungan kamu kalau kamu terlalu capek. Oh iya nama kamu siapa? Sedari tadi kita belum tahu satu sama lain, kenalkan nama ku Agung."Seru Agung mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Rani.
__ADS_1
Rani tidak langsung menyambut uluran tangan Agung, dia justru memandangi tangan Agung yang mengambang di hadapannya itu. Dia ragu untuk bersalaman dengan Agung.
" Emm.. Namaku Rani. Terima kasih kalau kamu memang ikhlas menolong ku. Sekarang bisakah kamu mengantarkan aku pulang, aku sudah capek duduk di mobil. Sudah ingin merebahkan tubuh di kasur."Seru Rani sedikit memaksa Agung untuk cepat mengantarnya pulang.
" Oh Rani, nama yang bagus. Baiklah aku akan mengantarmu pulang, lets go."Seru Agung dengan semangat.
Tanpa sadar Rani tersenyum melihat kelakuan Agung. Sepertinya Agung memang lelaki yang baik dan ikhlas menolongnya. Jika dia bukan lelaki baik, bisa saja saat Rani tertidur tadi dia membawa kabur Rani dan mencelakai Rani.
Tidak menunggu lama, mobil yang di kendarai Agung sudah sampai di halaman rumah kontrakan Andi, adik angkat Rani. Rumah nampak sepi, namun pintu rumah terbuka lebar.
" Ini rumahnya? Kok sepi? Memang kamu tidak memberitahu orang rumah kalau kamu mau datang? Kok tidak ada yang menyambut kedatanganmu begini?."Tanya Agung dengan beruntun.
" Aku tidak memberitahu orang rumah. Terima kasih ya sudah mau mengantarkan aku pulang. Emm, kamu mau mampir dulu untuk minum?."Tanya Rani berbasa-basi menawarkan minum kepada Agung.
" Boleh, kebetulan aku mau minum kopi. Lagi pula aku juga capek, mana mungkin aku mau langsung kembali ke kota. Aku juga butuh istirahat."Seru Agung sambil nyengir kuda.
* Dasar laki-laki yang aneh.*Gumam Rani dalam hatinya.
*****
Dreeettt
Dreeettt
Dreeett Dreeett
Namun ponsel Arya kembali bergetar membuat Arya tidak konsentrasi. Arya melihat ponselnya, siapa kira-kira yang menghubunginya.
* Hahh bik Siti? Ada apa bik Siti menghubungiku?.*Gumam Arya dalam hatinya.
Bik Siti tidak mungkin menghubunginya jika tidak ada hal yang penting. Arya pun meminta izin kepada kliennya untuk mengangkat telepon lebih dulu.
[ Hallo, Assalamualaikum bik? Ada apa bik?.] Tanya Arya langsung pada intinya.
[ Waalaikumsalam Pak Arya. Pak Arya, bisa ke rumah sakit XX sekarang ! Mbak Ratu kami bawa ke rumah sakit, sepertinya mbak Ratu mau melahirkan.] Seru bik Siti dengan suara terdengar cemas.
[ Istriku mau melahirkan? Bukannya masih dalam hitungan 2 mingguan lagi istriku melahirkannya bik?]
__ADS_1
[ Bibi juga tidak tahu Pak Tadi tiba-tiba Mbak Ratu perutnya sakit dan langsung bibik dan Pak sopir bawa ke rumah sakit. Dan ini Mbak Ratu sudah ditangani oleh dokter.]
[ Baiklah Bik, tolong temani istriku dulu. Saya akan segera ke rumah sakit dan jika terjadi sesuatu tolong segera hubungi saya bik.]
[ Baik pak Arya]
Klik
Arya mematikan sambungan teleponnya lalu dia kembali masuk ke ruang meeting. Untuk hari ini meeting terpaksa ditunda lebih dulu. Arya menjelaskan kepada kliennya, jika istrinya masuk rumah sakit dan akan melahirkan.
" Tidak masalah pak, meetingnya bisa kita pindah dilain hari. Sekarang lebih baik pak Arya cepat ke rumah sakit dan temani istri pak Arya."Ucap klien Arya yang ternyata bisa memaklumi Arya.
" Terima kasih pak, Rudi. Sekali lagi maaf, meetingnya kita tunda."Seru Arya lagi.
Pak Rudi mengangguk dengan tersenyum ramah. Arya pun keluar dari ruangan meeting lebih dulu, dia segera bergegas menuju rumah sakit di mana saat ini istrinya berada.
" Semoga istri dan kedua calon anakku tidak apa-apa. Ibu dan anak lahir dengan selamat, dan tidak ada halangan apapun."Ucap Arya terus berdoa untuk anak dan istrinya.
Padahal ibu mertua Arya baru besok lusa baru akan datang untuk menemani Ratu saat melahirkan. Saat ini mereka masih ada di kampung, di rumah kedua orang tuanya.
Arya melajukan mobilnya dengan lumayan cepat, dia tidak mau saat istrinya melahirkan dia belum sampai rumah sakit. Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit akhirnya Arya sudah sampai di rumah sakit.
" Bagaimana keadaan istriku bik?."Tanya Arya saat sudah bertemu bik Siti.
" Emm.. Maaf pak, mbak Ratu sepertinya harus operasi. Lebih baik pak Arya temui dokternya dulu untuk lebih jelasnya. Bik Siti tadi tidak paham dengan yang dikatakan dokternya."Seru bik Siti.
Arya mengangguk, dia bergegas di antar bik Siti ke ruangan dokter. Bagi Arya, mau melahirkan secara normal maupun cesar itu sama saja. Terlebih Ratu memang hamil bayi kembar. Yang terpenting anak dan istrinya semuanya selamat.
Setelah menemui dokter, Arya pun menandatangani berkas persetujuan operasi. Setelah itu Arya menyelesaikan administrasi, dan dia meminta izin untuk di perbolehkan menemani istrinya saat proses op3rasi berjalan.
" Sayang pasti kamu kuat, kamu bisa. Semangat ya sayang, bismillah semuanya pasti baik-baik saja."Seru Arya lalu mencium kening Ratu dengan mesra.
" Iya mas. Mas, jangan lupa kabari mama sama papa ya. Nanti mama marah kalau kita telat ngabari dia."Seru Ratu masih sempat mengingatkan Arya.
" Iya sayang."Jawab Arya memanggil Ratu dengan panggilan sayang.
Sebentar lagi operasi akan segera dilaksanakan, dokter dan teamnya sedang mempersiapkan semua yang dibutuhkan saat operasi.
__ADS_1
*************