
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Tok
Tok
Tok
Pintu ruang depan rumah pak Santo ada yang mengetuk. Di rumah hanya ada ibu Marni saja, sedangkan Serli ikut membantu pak Santo ke toko. Dia jenuh di rumah saja, dan jenuh selalu mendengar ibunya mengomelinya.
Tok Tok Tok
Pintu kembali di ketuk, sepertinya tamu itu tidak putus asa. Dia terus mengetuk pintu sampai yang punya rumah membukakan pintu.
" Ihhh siapa sih? Ganggu orang lagi santai saja."Seru ibu Marni mendengus dengan kesal karena merasa istirahatnya terganggu.
Jam di dinding masih menunjukan pukul 10 pagi, ibu Marni sudah tiduran sambil menonton televisi dan memainkan ponselnya. Keadaan rumah masih kotor dan berantakan, makanan pun belum ada. Dia akan membereskan rumah saat sore hari sebelum pak Santo dan Serli pulang dari toko.
Ceklekkk
Pintu ruang depan terbuka lebar, dapat terlihat jika ada tamu seorang wanita hamil yang berdiri didepan pintu.
" Rani, mau apa kamu datang kesini? Bukannya kamu itu sudah tidak mau sama orang miskin sepertiku? Waktu itu saja kamu menghina ku sekarang kok datang ke rumahku. Mau apa?."Tanya ibu Marni terlihat kesal.
Meskipun kesal dia sebenarnya senang Rani mau datang berkunjung di rumahnya. Apalagi dia memang sangat menyayangi Rani seperti anaknya sendiri, dan ibu Marni juga masih mengharapkan Rani mau rujuk dengan Bima.
" Apa boleh Rani masuk bu?."Tanya Rani dengan suara dibuat selembut mungkin untuk menarik simpatik ibu Marni.
" Hemm.. Masuklah."Jawab ibu Marni dengan singkat dan padat.
__ADS_1
Rani mengangguk, dan diapun melangkahkan kakinya masuk ke rumah. Lalu duduk di sofa ruang tamu, suasana rumah masih sama seperti dulu. Hanya saja rumah lebih berantakan dan kotor.
" Ada apa?."Tanya ibu Harti lagi.
Hikksss Hikkss Hikksss
Rani tiba-tiba menangis dan langsung memeluk ibu Marni. Ibu Marni nampak kebingungan kenapa Rani justru menangis, dia mengira jika kata-katanya tadi ada yang kasar.
" Ada apa? Kenapa kamu menangis?."Tanya ibu Marni sambil mengusap punggung Rani pelan.
Rani melepaskan pelukannya lalu membenarkan posisi duduknya.
" Bu, aku sebenarnya hamil anaknya mas Bima. Bukan anak Yanto."Ucap Rani sengaja berbohong agar ibu Marni mau membantunya untuk bisa kembali lagi dengan Bima.
Apa?
Ibu Marni kaget mendengar pengakuan dari Rani. Dia tidak menyangka jika anak yang di kandung Rani adalah anak Bima. Yang artinya itu juga cucu nya, Ibu Marni dengan pelan mengusap perut Rani yang sudah membesar itu.
" Sudah berapa bulan?."Tanya Ibu Marni sambil mengusap perut Rani.
Ibu Marni membawa Rani kembali dalam pelukannya dan ibu Marni pun tersenyum tipis. Dia sudah punya cara untuk menggagalkan pernikahan Bima dan Karina. Dia akan meminta Bima untuk rujuk dengan Rani, karena ada anak yang membutuhkan Bima.
Rani kembali menceritakan kehidupannya selama dia di talak Bima. Rani jujur jika dia tinggal di rumah mewah pacarnya, tapi Rani berbohong jika dia hanya tinggal sendirian. Nyatanya masih ada Yanto yang seatap dengannya.
" Kamu tenang saja, ibu akan membuat kamu dan anak dalam kandungan kamu ini bisa berkumpul lagi dengan Bima. Ibu janji akan membuat Bima kembali padamu, Rani."Ucap ibu Marni penuh keyakinan.
" Tapi bukannya mas Bima sudah mau menikah bu? Bahkan calon istrinya pun sudah di kenalkan sama Rani bu, dia cantik dan sepertinya dia orang kaya. Bukannya itu menantu impian ibu?."Tanya Rani sedikit heran dengan ibu Marni.
" Ibu tidak setuju dengan rencana pernikahan Bima dan Karina itu. Meskipun kaya, dia itu susah diatur seperti si Ratu kutu kupret itu. Pilihan ibu tetap sama kamu, kamu yang lebih pantas menjadi istri nya Bima. Ibu menyayangi kamu seperti anak ibu sendiri Ran, jadi ibu akan tetap meminta Bima untuk menikah atau rujuk denganmu."Ucap ibu Marni menyakinkan Rani.
Rani menggenggam tangan Ibu Marni penuh semangat, dia tersenyum bahagia. Akhirnya apa yang dia inginkan sebentar lagi akan tercapai. Dengan mendapat dukungan dari ibu Marni, Rani yakin jika Bima mau rujuk dengannya.
Ibu Marni dan Rani pun mulai menyusun rencana agar Bima dan Karina tidak jadi menikah. Mereka berencana secepatnya akan menemui Karina dan memberitahu Karina jika Rani hamil anaknya Bima. Dengan begitu Karina pasti akan membatalkan pernikahannya dengan Bima, dan meminta Bima untuk menikahi Rani kembali.
" Terima kasih Bu. Ternyata Ibu masih selalu ada di pihakku, Ibu masih menyayangi aku seperti dulu. Maafkan Rani jika dulu Rani pernah membuat Ibu marah. Rani janji, setelah Rani rujuk dengan Mas Bima Rani akan belajar menjadi menantu yang baik untuk ibu ."Ucap Rani dengan janji-janji manis palsunya.
__ADS_1
" Sampai kapanpun ibu akan selalu mendukungmu. Ibu menyayangi kamu melebihi Ibu menyayangi anak ibu sendiri, Rani. Makanya saat kamu menggelapkan uang tabungan Bima, ibu sama sekali tidak marah sama kamu. Karena Ibu tahu, kamu dan orang tua kamu berhak atas uangnya Bima. Tanpa bantuan dari orang tua kamu, mungkin Bima sekarang sudah tidak ada." Ucap Ibu Marni masih saja terus membahas masalag hutang budinya.
Rani menyunggingkan sudut bibirnya, ternyata hutang di masa lalu masih berfungsi sampai sekarang. Sehingga Ibu Marni masih selalu membelanya dan mendukungnya meskipun sudah beberapa kali Rani melakukan kesalahan. Sengan begini Rani akan semakin mudah untuk mendapatkan Bima kembali.
Obrolan mereka berhenti karena tiba-tiba ada suara motor memasuki halaman. Motor itu di kendarai oleh Serli, tidak seperti biasanya Serli pulang di siang hari. Biasanya dia akan pulang sore hari setelah adzan asar.
" Mbak Rani ngapain ada di sini bu?."Tanya Serli kaget saat mendapati Rani ada didalam rumah.
" Dia hanya bersilahturahmi saja sama ibu Ser, kamu tumben jam segini pulang?."Tanya ibu Marni mengalihkan pembicaraan.
" Oh itu, hanya ingin pulang saja bu. Sekalian mengambilkan perlengkapa sholat bapak, kemarinkan yang di toko dibawa pulang dan tadi pagi baru Serli cuci. Ibu tolong carikan sarung dan sajadah yang lain, Serli tunggu disini."Ucap Serli sambil melirik Rani.
Tidak tahu kenapa Serli merasa jika Rani lah orang yang sudah mencelakainya. Sebab jika orang lain dia tidak akan bisa masuk lewat pintu depan padahal pintu terkunci, Rani dulu punya kunci cadangan dan pasti saat itu Rani datang dan membuka pintu menggunakan kunci cadangan.
Setelah ibu Marni pergi ke kamar, Serli duduk di samping Rani. Rani nampak gugup dan menundukkan kepalanya.
" Kenapa mbak? Takut, gugup? Mbak kamu tidak mau melihat tangan dan wajahmu hasil kerja kerasmu?." Seru Serli membuat Rani semakin salah tingkah.
" Emm.. Maa. Maa.. Maksud kamu apa Serli?Aku tidak tahu."Ucap Rani berpura-pura tidak tahu.
" Mbak Rani, Mbak Rani.. Hem, kamu kira aku tidak tahu jika kamulah yang sudah menyiram wajah ku dengan 4ir ker4s. Aku selama ini diam bukan berarti aku tidak tahu mbak, kamu licik dan picik mbak. Lihat saja, aku akan membuat hidupmu menderita jika kamu berani mengusik keluargaku."Seru Serli mengancam Rani.
Gleekkk
Rani menelan salivanya sendiri, dia benar-benar gugup dan takut. Ternyata Serli tahu jika dialah yang sudah mencelakainya. D4d4 Rani seakan sakit dan sesak, dia tidak bisa membayangkan jika dia sampai mendekam di penjara.
" Itu pantas kamu dapatkan Serli, seharusnya wajahmu keseluruhan yang aku siram agar kamu tidak lagi membanggakan wajahmu itu. Dasar wanita nur4h4n !! Kamu yang sudah merebut calon suamiku, calon ayah anak dalam kandunganku ini. Lihatlah sekarang, wajah yang kamu banggakan sudah tidak mulus lagi. Menyeramkan, Serli. Hahaaaa." Seru Rani dengan tawanya yang tidak tahu tempat.
Plaakk
Plaakk
Dua tamparan berhasil Serli hadihakan di kedua pipi Rani.
**********
__ADS_1