Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Mulai terungkap


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


Saat ini Yanti bisa berbangga diri bisa membuat Ratu bersedih. Namun dia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan nanti. Yanti datang ke tempat persembunyian Rembo, dengan membawa wanita paruh baya yang sudah dia bayar mahal untuk menjaga dan merawat Revan. Meskipun dia tidak suka dengan yang namanya anak kecil, Yanti tidak tega jika mentelantarkan anak yang tidak bersalah.


" Lama sekali kamu !! Anak ini menangis terus sepanjang malam, sudah dikasih susu masih saja menangis. Merepotkan ku saja!!."Bentak Rembo dengan kesal.


" Ini aku sudah bawa orang yang akan merawat anak kecil itu. Hehh bik, sana kamu urus dulu anak itu. Kamu mandikan dan kamu kasih makan dia, keperluannya ada di dalam tas ini. Brrukkk..."Ucap Yanti sembari membanting tas yang berisi keperluan Revan yang sengaja dia siapkan dari semalam tanpa sepengetahuan Firman.


Wanita paruh baya itu hanya mengangguk patuh, dia mengambil tas yang tadi dibanting Yanti dan segera menuju kamar di mana saat ini Revan sedang menangis.


" Kamu ini kalau punya mulut di jaga dulu !! Tidak lihat di sini ada wanita itu? Meskipun dia sudah aku bayar, tapi kamu bisa jaga ucapanmu juga."Ucap Yanti memarahi Rembo.


" Aku tidak perduli, sekarang kamu berikan bayaranku dan jangan lupa kamu tambahin karena semalaman aku dan anak buahku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Masih bagus anak itu tidak aku cekokin obat tidur."Rembo berucap sembari memicingkan matanya.


Hheeehhhh


Yanti membuang nafas dengan kasar, tanpa menunggu lama dia merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Amplop cokelat yang terlihat tebal kini sudah beralih ke tangan Rembo. Rembo dan anak buahnya senyum-senyum setelah menerima bayaran full dan bonus menjaga Revan semalaman.


" Nah kalau beginikan enak. Senang bekerja sama denganmu. Kalau ada pekerjaan lagi, jangan lupa hubungi saya. Sekarang kamu urus itu anak kecil, aku dan anak buahku mau pulang dan beristirahat. Byee...."Seru Rembo dengan senyum mengejek Yanti sambil melambaikan tangannya.


" Dasar mata duitan !!."Bentak Yanti mengiringi kepergian Rembo.


Yanti menghampiri Revan, dia melihat Revan baru saja dimandikan oleh pengasuh barunya. Yanti tersenyum sinis ke arah Revan. Anak yang tidak tahu apa-apa harus menjadi alat balas dendam wanita yang tidak punya hati.


" Kamu urus anak itu dengan baik, jangan berani-berani keluar rumah dengan membawa anak itu."Ucap Yanti mengingatkan.


" Iya Non. Maaf kalau boleh saya tahu, kenapa anak ini harus tinggal di sini dan tidak Nona bawa pulang ke rumah saja? Jika di rumah nona pun saya akan tetap bekerja merawatnya." Tanya pengasuh itu.


" Heeehhh.... Diam kamu !! Siapa kamu berani mengaturku ? Tinggal kerjakan saja apa yang aku perintahkan dan tidak perlu banyak bertanya. "Ucap Yanti memarahi pengasuh itu dengan tangan berkacak pinggang.


" Maaf, maaf Non."Seru pengasuh itu ketakutan.


Hhhuuuu Hhuu Haaahhaa


Revan pun kembali menangis, dia ketakutan melihat Yanti yang bicara dengan marah-marah. Bukannya merasa iba, Yanti justru memelototkan matanya ke arah Revan sehingga Revan semakin ketakutan.

__ADS_1


" Heehhh.. Anak kecil !! Bisa diam tidak kamu !! Menangis saja bisanya."Seru Yanti memarahi Revan.


Bukannya diam, Revan semakin menangis dan suaranya pun semakin keras. Pengasuh itupun dengan cepat mendiamkannya.


" Non, tolong jangan di marah lagi. Kasihan anak ini ketakutan, anak sekecil ini tidak seharusnya diperlakukan kasar seperti ini."Ucap pengasuh itu dengan lembut sambil memeluk Revan yang ketakutan.


Brrraaakkkk


Yanti marah dan membanting kotak tisu yang ada di dekatnya. Dia tidak terima pengasuh itu menasehatinya. Menurutnya pengasuh itu hanya orang rendahan yang tidak bisa ikut campur dengan urusannya. Apa yang ingin dia lakukan adalah haknya.


" Diam !! Kamu tidak perlu menasehatiku, pengasuh si4l4n !!."Seru Yanti kasar.


" Sekarang aku mau pergi dulu. Kamu urus anak itu dengan baik, ingat jangan pernah bawa anak itu keluar dari rumah ini. Untuk keperluan makan kalian nanti akan aku antarkan."Seru Yanti bicara dengan pongahnya.


Pengasuh yang bernama ibu Halimah itu pun hanya bisa menganggukkan kepalanya. Kalau saja dia tidak sedang butuh uang, tentunya dia tidak akan mau menerima tawaran kerja dari Yanti.


" Awas saja kalau kamu membantah ku !!."Seru Yanti lagi dengan menunjuk tepat di wajah ibu Halimah.


Yanti pun meninggalkan Revan dan ibu Halimah, Revan mulai diam menangis saat Yanti sudah pergi.


" Ma, Pa... Van. Hiikkss hhhikkksss."Seru Revan memanggil anggota keluarga sambil tersedu-sedu.


" Anak ganteng yang sabar ya, sekarang anak ganteng sama ibu ya. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi, wanita lampir itu sudah pergi. Ya Allah, sebenarnya kamu ini siapa ? Kenapa Non Yanti memperlakukanmu seperti ini, ibu kira tadi kamu itu anaknya. Apa kamu anak yang di culik? Siapa namamu anak ganteng?."Ucap ibu Halimah mengajak Revan berbicara.


Sementara itu di tempat lain, Agung sedang mengikuti Yanti. Agung melihat mobil Yanti ada di lampu merah dan dia memutuskan untuk mengikutinya. Kali ini mobil Yanti memasuki salah satu pusat perbelanjaan, Agung ragu ingin mengikutinya. Namun akhirnya dia memaksakan diri untuk tetap mengikuti Yanti sampai masuk ke supermarket.


" Semoga saja feelingku benar, jika Yanti yang sudah menculik Revan."Seru Agung.


Yanti tidak tahu jika gerak-geriknya sedari tadi diperhatikan oleh Agung dari kejauhan. Tangan Yanti pun mulai meraih beberapa barang kebutuhan bayi dan memasukannya ke dalam troli. Dan hal itu membuat Agung semakin curiga dan yakin jika Yanti orang yang sudah menculik Revan.


" Untuk apa dia membeli barang-barang kebutuhan bayi? Setahu ku dia belum mempunyai anak? Hemmm ini ada yang tidak beres, pasti Yanti yang sudah membayar orang untuk menculik Revan. Tebakkan ku tidak meleset."Seru Agung sembari terus memperhatikan Yanti.


Agung pun berjalan semakin mendekati Yanti, sampai akhirnya Yanti menyadari keberadaan Agung.


" Agung ! Kamu belanja juga?."Tanya Yanti sedikitpun tidak menaruh curiga jika sedari tadi Agung sedang mengintainya.


" Ehh... Iya, ini aku sedang belanja. Kebetulan tadi istriku tidak bisa pergi jadi aku yang belanja keperluan anak. Kamu belanja juga? Kok banyak barang-barang anak kecil? Memangnya kamu punya anak kecil?."Tanya Agung secara beruntun.


Heeemmm..


Yanti terlihat bingung hendak memberikan jawaban apa. Mana mungkin dia bilang jika itu untuk anaknya, sedangkan Agung sudah tahu jika dia belum mempunyai anak. Yantipun terus berfikir untuk mencari alasan yang tepat agar Agung tidak menaruh curiga.

__ADS_1


" Ohh itu, emm aku dan mas Firman berencana untuk mengadopsi anak. Iya, adopsi anak."Jawab Yanti sama sekali tidak menyakinkan Agung.


Namun Agung tetap berpura-pura percaya agar dia bisa terus menggali informasi dari Yanti yang bodoh itu. Jahat, tapi tidak pernah memikirkan akibatnya.


" Ohh mau adopsi anak? Kok barang-barangnya sudah ukuran besar? Tidak jauh beda sama Tegar anak saya?."Tanya Agung penuh selidik.


" Iya Gung, anak yang mau kami adopsi itu laki-laki dan usianya kurang lebih 1 tahun. Kalau ambil yang masih bayi 3 atau 4 bulan aku tidak bisa mengurusnya, jadi kami memutuskan untuk mengambil yang sudah berusia 1 tahun dan anak laki-laki."Jawab Yanti mengalir begitu saja tanpa sedikitpun menaruh curiga kepada Agung.


Heeemmmm


Agung hanya berdehem sembari menganggukkan kepalanya. Di sudut bibirnya terukir senyuman tipis, sampai Yanti tidak menyadari arti senyuman Agung.


Setelah dirasa cukup, Agung pun berpura-pura menyudahi belanjanya. Dia hanya mengambil 2 pak popok dan 2 botol shampo saja agar Yanti tidak curiga jika tadi dia hanya memata-matainya.


Agung menunggu Yanti di dalam mobil, dia akan mengikuti mobil Yanti saat dia sudah keluar dari supermarket.


" Heemmm aku yakin Yanti yang sudah menculik Revan. Untuk memastikannya, aku akan mengikuti mobilnya." Ucap Agung pada dirinya sendiri.


Sementara itu, di rumah Ratu.Arya, Satria dan beberapa orang suruhannya sedang mengecek rekaman CCTV rumah sampai taman. Dan benar saja, orang itu memang sudah mengintai Ratu dan anak-anaknya dari rumah sampai diikutinya sampai taman.


" Tuan, kalau melihat kasusnya. Sepertinya mereka ini hanya orang suruhan, jika memang menculik untuk meminta tebusan seharusnya mereka sudah menghubungi kita. Pasti ada orang yang tidak suka dengan kebahagiaan Non Ratu."Ucap Ardi salah satu anak buah Satria.


Meskipun sudah tidak lagi muda, Satria masih di segani oleh kalangan pembisnis dan para mafia-mafia. Mengingat dia yang berhasil mengungkap kasus besar gembong n4rkob4 yang menjadi target polisi.


" Kamu benar. Coba kalian perhatikan, apa kalian tidak mengenali wajah-wajah mereka? Mereka tidak memakai masker, dan jika memang mereka ini seorang penjahat tentunya kalian tidak asing lagi dengan mereka."Ucap Satria kembali menunjuk ke arah layar monitor.


Ketiga anak buahnya pun kembali mengamati layar monitor yang sedang memutar rekaman Cctv yang saat ini dioprasikan oleh Arya.


" Tunggu Tuan !! Coba hentikan di menit ke 22 tadi, sepertinya aku mengenali orang yang sedang berbicara dengan pengasuh si kembar."Seru Ardi meminta Arya untuk menghentikan Cctv nya.


Ardi terus memperhatikan layar minitor, dan pada akhirnya dia pun mengingat satu nama.


" Jon !!." Seru Ardi mengenali orang yang pura-pura menanyakan alamat itu adalah Jon.


" Anda mengenalinya?."Tanya Arya.


" Iya Tuan, saya mengenalinya. Dia ini adalah Jon, penjahat bayaran. Dia ini sering bersama Jek, dan mempunyai boss bernama Rembo. Mereka sering berulah, dan bisa dibilang preman yang cukup ditakuti."Ucap Ardi.


Ucapan Ardi membuat Arya dan Satria syok, mereka ingat dengan Revan. Bagaimana Revan jika orang-orang itu adalah preman yang sudah pasti jahat dan b3ngis.


" Revan, Pa."Seru Arya semakin menghawatirkan keadaan anaknya.

__ADS_1


**************


__ADS_2