Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Kedatangan Agung


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


Rani mengintip dari balik jendela rumahnya, ada mobil yang berhenti di samping warungnya. Saat ini warung dijaga oleh ibu Darti, Rani sedang menidurkan anaknya.


* Mobil siapa ya? Apa mobil anaknya pak Salim pemilik rumah ini? Tapi mau apa dia datang kesini?.*Gumam Rani pada dirinya sendiri.


Seseorang dalam mobil itu tak kunjung turun, membuat Rani maupun ibu Darti yang ada di dalam warung menjadi semakin penasaran. Ibu Darti yang sudah penasaran akhirnya dia mendekati mobil untuk mencari tahu siapa orang di dalam mobil itu.


Pintu mobil terbuka, dan keluarlah seseorang pria yang berpenampilan rapi dan berparas tanpan. Ibu Darti merasa tidak asing dengan pria itu, tapi dia lupa siapa pria yang ada di hadapannya itu.


" Assalamualaikum bu."Sapa pria tersebut.


" Waalaikumsalam, maaf siapa ya? Terus cari siapa?."Tanya ibu Darti penuh selidik sambil terus berfikir siapa pria yang ada di hadapannya itu.


Sedangkan dari dalam rumah, Rani kaget dan menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Dia masih hafal betul siapa pria yang baru saja turun dari mobil itu.


" Agung? Itu kan Agung, orang yang pernah mengantarkan aku pulang? Kenapa dia bisa datang ke sini, dan kenapa juga dia tahu rumah kontrakanku? Dulu saat dia mengantarkan aku pulang, itupun di rumah kontrakan Andi."Ucap Rani kaget melihat kedatangan Agung yang secara tiba-tiba.


Bahkan Rani sering mengabaikan pesan yang dikirim Agung, teleponnya pun tidak pernah dia angkat. Itu semua karena Rani tidak mau terlalu dekat dengan Agung, dia masih trauma untuk berdekatan dengan pria terlebih statusnya yang janda mempunyai bayi.


" Saya Agung bu, temannya Rani. Dulu yang pernah mengantarkan Rani pulang."Jawab Agur dengan sopan.


" Ohh.. Iya iya, ibu baru ingat sekarang. Nak Agung apa kabar? Kenapa tidak bilang dari tadi, ya sudah ayok masuk dulu nanti ibu buatkan minuman yang segar-segar. Pasti nak Agung hauskan? Perjalanan lumayan jauh."Seru ibu Darti menyambut dengan baik kedatangan Agung.


Agung hanya mengangguk lalu dia mengambil beberapa barang bawaannya dari dalam mobil. Agung mengikuti langkah ibu Darti masuk ke rumah.


" Rani, ini ada nak Agung."Seru Ibu Darti memanggil Rani yang sudah masuk ke kamarnya.

__ADS_1


" Iya bu, sebentar."Jawab Rani beteriak dari dalam kamar.


Ibu Darti kembali menghampiri Agung, dan mempersilahkan dia untuk duduk.


" Bu, ini ada oleh-oleh untuk anaknya Rani. Dan ini juga ada kue untuk ibu dan Rani, maaf ya bu saya tidak tahu kue kesukaan ibu jadi saya bawanya asal saja."Ucap Agung tetap bersikap sopan.


" Wah nak Agung ini repot-repot sekali loh. Tapi terima kasih sudah bawain ini semua, ibu mah apa saja suka yang penting bukan makanan yang mentah."Ucap ibu Darti lalu tertawa kecil.


" Iya bu sama-sama."Jawab Agung singkat.


Rani keluar sambil menggendong Tegar, Agung mengangguk lalu mengulas senyum saat beradu pandang dengan Rani. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja Agung gugup dan salah tingkah saat Rani datang, dan jantungnya pun seakan tidak aman.


" Rani, lihat ini. Nak Agung bawa oleh-oleh untuk Tegar."Ucap ibu Marni sambil menunjuk 3 kantong plastik besar yang ada di atas meja.


" Terima kasih pak Agung. Lain kali jangan seperti ini lagi, saya tidak mau merepotkan anda."Ucap Rani dengan bahasa yang terlalu formal.


" Iya, maaf kalau kedatangan saya mengganggu istirahat kamu. Emm, tolong jangan panggil Pak dong. Panggil saja Agung, lagi pula aku ini belum tua kok. Menikah saja belum loh."Ucap Agung dengan narsisnya.


Rani membuang nafas dengan kesal, Agung lama-lama membuat dia bisa terkena tekanan darah tinggi. Rani akui, Agung memang pria yang baik namun Rani masih takut kecewa dengan pria yang bersikap baik dan manis dengannya. Yanto dulu pun begitu, baik manis serta royal dengan Rani. Hingga akhirnya rumah tangga Rani hancur dan dia juga hamil, Yanto mengabaikannya dan tidak mau menikahinya.


" Rani, ibu ke warung ya. Itu sepertinya ada pembeli."Ucap ibu Darti dengan sengaja, padahal dia hanya ingin membiarkan Rani berduaan dengan Agung.


" Nak Agung ibu tinggal ke depan ya."Ucap Ibu Darti berpamitan.


" Iya bu, silahkan."Jawab Agung singkat.


Kini di ruang tamu hanya ada Agung dan Rani yang duduk sambil memangku anaknya. Mereka saling diam sesaat, Rani tidak punya obrolan ataupun bahan pembicaraan. Sedangkan Agung sedang menenangkan detak jantungnya yang semakin tidak menentu.


* Kenapa jantungku sedari tadi jedag jedug tidak menentu begini? Apa aku ini sedang jatuh cinta? Jatuh cinta dengan Rani?.*Gumam Agung dalam hatinya.


" Emm.. Mau minum apa?."Tanya Rani mulai berbasa-basi.


" Apa saja, asal tidak kamu kasih r4cun saja. Hehee.. Oh iya, sini itu anaknya biar sama saya. Kamu nanti kesulitan bawa minum sambil gendong anak."Ucap Agung lalu mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil Tegar.

__ADS_1


Yang dikatakan Agung benar, Rani pasti susah membawa minuman sambil menggendong Tegar. Akhirnya Rani pun mengangguk dan memberikan Tegar kepada Agung dengan hati-hati. Agung yang belum pernah menggendong bayi sebenarnya dia takut, akan tetapi demi Rani dia yakinkan dirinya jika dia bisa.


" Awas jangan kamu cubit."Seru Rani lalu pergi ke dapur.


" Ya mana mungkin om mau mencubit kamu ya, mama kamu itu ada-ada saja. Kamu lucu banget sih, nanti kalau sudah besar mau jadi apa?."Ucap Agung mengajak bicara Tegar.


Di pangkuan Agung, bayi yang baru berusia 1bulan itu nampak tenang. Agung terus mengoceh untuk mengajak Tegar berbicara, bayi itupun sesekali tersenyum meskipun dia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Agung.


Dari balik dinding, Rani mengintik kebersamaan Agung dengan Tegar. Meskipun masih terlihat kaku saat memegang bayi, tapi Agung cukup sabar menghadapi bayi. Diajaknya berbicara padahal bayinya juga tidak tahu apa yang dia bicarakan.


" Agung sepertinya pria yang baik, sabar dan bertanggung jawab. Tapi aku tidak boleh memberikan harapan untuk Agung, selain aku masih ingin sendiri aku juga tidak pantas untuk Agung. Bukan aku terlalu percaya diri, dari pesan-pesan yang aku kirim dan dari cara berbicaranya, aku tahu Agung itu berusaha untuk mendekati dan mengambil hatiku."Ucap Rani bicara pada dirinya sendiri.


Sebagai wanita dewasa sudah pasti Rani tahu kenapa Agung sampai mau datang jauh-jauh menemuinya seperti ini. Apa lagi Agung itu seorang pengusaha dan dia juga tampan, pasti banyak wanita yang mau dengannya.


" Maaf hanya ada teh saja. Silahkan diminum."Ucap Rani meletakkan secangkir teh di atas meja.


" Iya terima kasih. Siapa nama anak kamu ini, Ran?."Tanya Agung.


" Tegar Prasetio."Jawab Rani dengan singkat.


" Tegar ? Hemm.. Nama yang bagus. Dia anteng loh, murah senyum juga. Dari tadi senyum-senyum terus sama aku, mungkin karena aku tampan ya makanya dia suka sama aku."Ucap Agung tetap saja over percaya dirinya.


" Sini biar Tegar sama aku, kamu minum tehnya dan cepat habiskan. Setelah ini kamu pulang, oh iya terima kasih oleh-olehnya dan tolong besok-besok jangan begini lagi, Aku tidak enak sama tetangga."Ucap Rani mode serius.


Agung terdiam, dan Rani langsung mengambil Tegar dalam pangkuan Agung. Agung mengambil teh dan meminumnya sedikit demi sedikit sebab teh itu juga masih panas.


" Maaf kalau kedatangan aku membuat kamu tidak nyaman. Aku datang kesini bukan hanya untuk main-main, Ran. Aku datang untuk melihat anak kamu dan kamu, tidak tahu kenapa aku ingin sekali bertemu dengan kamu. Aku merasa nyaman dan bahagia saat bersama kamu."Ucap Agung bicara dengan jujur dan tulus.


Sepertinya Agung memang sudah jatuh cinta dengan Rani. Sejak pertemuannya dengan Rani, Agung seperti ada semangat baru untuk menjalani hari-harinya. Bahkan sejak mengenal Rani, Agung sudah bisa melupakan perasaannya kepada Ratu.


Rani diam saja, tidak tahu harus bicara apa kepada Agung. Rani sudah tahu arah pembicaraan Agung meskipun Agung belum detail berbicara.


*************

__ADS_1


__ADS_2