Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Tetap ibu kita


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


Berita penangkapan ibu Marni sudah terdengar di telinga para anak dan menantunya. Namun Bima sudah tidak kaget lagi, dia sudah tahu pekerjaan ibunya. Semua itu sudah menjadi resiko bagi ibu Marni, setiap pekerjaan pasti ada resikonya.


Serli, sebagai anak perempuan satu-satunya sudah pasti dia bersedih. Seburuk apapun perlakuan dan kelakuan ibu Marni, beliau tetap ibu kandungnya yang telah melahirkan dia ke dunia ini. Tentunya Serli sedih dengan berita penangkapan ini, terlebih ibunya tertangkap karena menjadi seorang g3rmo.


Tidak perlu ada yang disesali, semua itu sudah menjadi pilihan hidup ibu Marni. Bima sebagai anak sudah mencoba mengingatkan, tapi sama sekali tidak di anggapnya.


" Bapak tidak menyangka ibu mu menjadi wanita seperti itu. Saat dia menjalin hubungan dengan pria itu saja bapak sempat heran, kenapa sekarang malah menjadi wanita yang tidak bermoral dan malah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang."Ucap Pak Santo tidak habis fikir dengan kelakuan mantan istrinya itu.


" Serli malu pak, malu punya ibu seperti dia. Lihatlah, wajah ibu terpampang nyata di televisi. Semua ini pasti gara-gara Yanto !! Yanto yang sudah menjadikan ibu seperti ini !."Seru Serli sambil mengepalkan tangannya.


" Jangan hiraukan dia, wanita seperti itu tidak pantas kita sebut seorang ibu. Sebelumnya aku sudah menasehatinya agar dia berhenti dari dunia h4r4mnya itu. Dia bukan hanya g3rmonya, tapi dia itu juga pekerjanya juga. Sudah tidak pantas kita panggil ibu."Seru Bima bicara dengan penuh rasa kesal.


" Jadi mas Bima sudah tahu, jika ibu itu sebagai g3rmo?."Tanya Arya kaget.


Heeemmm...


Bima hanya berdehem saja sembari menganggukkan kepalanya. Dia sendiri juga sudah muak dengan tingkah ibunya, semenjak bercerai dengan pak Santo kelakuan ibunya semakin tidak terarah dan itu semua karena Yanto!.


Bima pun menceritakan pertemuannya dengan ibu Marni 2 minggu yang lalu saat berada di restoran kepada Arya. Semua orang nampak mendengarkan cerita Bima dengan serius.


" Jadi apa sekarang kamu masih tetap ingin membela ibu, Serli?."Tanya Bima kesal.


" Aku tidak membela kesalahan ibu mas, aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja, dari rahimnyalah kita ini terlahir. Mau seburuk apapun kelakuan ibu, dia tetap ibu kita mas."Seru Serli.


" Yang dikatakan Serli benar Bima, seburuk apapun ibu kalian. Dia tetap wanita yang sudah melahirkan kamu dan Serli, biar dia mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri. Kita tidak boleh ikut menghakiminya dan tidak boleh membencinya."Seru Pak Santo menasehati Bima dan Serli secara bersamaan.

__ADS_1


Hhheeehhhh


Bima mendengus kesal, hanya itu yang bisa dia lakukan. Tidak bisa membantah ucapan pak Santo. Tidak tahu kenapa, semenjak pertemuan terakhir dengan ibu Marni, Bima sangat malu mempunyai ibu seperti ibu Marni. Seakan enggan untuk mengakui ibu Marni sebagai ibu kandungnya.


" Untuk sekarang ini, kalian jangan menjenguk ibu mu dulu. Nanti kalau situasi nya sudah kondusif, kalian bisa menjenguknya."Ucap pak Santo lagi.


" Iya pak."Jawab Arya , Bima dan Serli secara bersamaan.


Ratu, Karina dan Yusuf saat ini tidak mau ikut bicara, bukan mereka tidak mau ikut bicara. Akan tetapi mereka membiarkan para anak-anak dari ibu Marni saja yang berbicara. Sebagai menantu tentunya mereka juga menginginkan yang terbaik untuk mantan ibu mertuanya itu.


" Pak, Arya sama Ratu pulang dulu ya. Kasihan Devan dan Revan kalau ditinggal terlalu lama, nanti kalau mau menjenguk ibu kabari saja. Kita ke sana bareng-bareng."Ucap Arya berpamitan.


" Iya, kalian pulanglah. Kasihan cucu-cucu bapak."Ucap pak Santo sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah berpamitan, Arya dan Ratu pun pulang lebih dulu. Sementara yang lainnya masih tetap tinggal di rumah pak Santo.


" Mas, menurut mas Arya ibu seperti ini ada paksaan dari Yanto tidak?."Tanya Ratu saat mereka ada di perjalanan pulang.


" Yang pastinya ada dek. Tapi semua itu tergantung sama ibu. Kalau ibu melakukannya dengan terpaksa tentunya dia bisa berontak. Tapi tidak tahu juga apa yang terjadi sebenarnya, kita tidak bisa menebak-nebak seperti ini."Ucap Arya menjawab pertanyaan Ratu.


" Nanti kamu coba tanyakan saja dek sama mbak Karina. Kalau menurutku sih sepertinya mbak Karina sudah tidak ada masalah."Jawab Arya tetap fokus menyetir mobil.


" Iya mas."Jawab Ratu singkat.


Ratu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil, lalu memejamkan matanya. Hari ini dia sangat lelah sekali, pekerjaannya di butik sangat banyak dan mulai banyak menerima kerja sama juga dari beberapa WO dan perusahaan jasa iklan. Dan untuk hari ini Ratu di butik sampai sore, dan pulang-pulang pun ke rumah pak Santo lebih dulu untuk membicarakan masalah ibu Marni.


Tidak menunggu lama, terdengar dengkuran halus dari Ratu. Ratu tertidur di mobil, melihat istrinya tertidur seperti itu Arya hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


" Ternyata istriku sangat lelah, kasihan sekali dia. Sampai rumah juga harus mengurus sikembar, semoga kamu selalu sehat-sehat ya sayang."Ucap Arya sambil mengusap kepala Ratu dengan pelan.


Mobil Arya berhenti di minimarket, dia membelikan titipan mama mertuanya terlebih dahulu. Sebenarnya Ratu yang dititipin akan tetapi Ratu tertidur, jadi Arya berinisiatif untuk membelikannya saja.


" Loh mas, sudah sampai ya?."Tanya Ratu terbangun saat Arya hendak membuka pintu mobil.

__ADS_1


" Belum sayang, ini masih ada di minimarket. Bukannya tadi kata kamu mama nitip dibelikan Yogurt sama keju ya? Nah ini mas mau beli, tadi kamu tidur jadi mas tidak tega mau membangunkan kamu, sayang."Jawab Arya dengan lembut.


" Oh iya mas, aku lupa kalau mama tadi minta beliin Yogurt sama keju. Beruntung mas ingat, terima kasih ya mas. Kalau begitu mas yang belj ya, aku tunggu di mobil saja."Ucap Ratu lalu dia menguap lebar karena masih sangat mengantuk.


Arya menganggukkan kepalanya, lalu dia turun dari mobil untuk membeli titipan mama mertuanya. Tidak sampau 15 menit, Arya sudah kembali lagi ke mobil dan dilihatnya Ratu tertidur kembali.


" Dasar puteri tidur."Ucap Arya pelan sambil terkekeh.


Arya kembali melajukan mobilnya membelah jalanan kota. Jalanan lumayan macet, biasa di saat jam-jam pulang kerja pasti jalanan akan macet.


Di tempat lain, rumah Rani sudah mulai dibersihkan dan dirapikan. Ada beberapa pekerja yang sengaja Rani panggil untuk merapikan rumah sebelum hari pernikahannya.


" Mbak Rani, nanti pestanya mau di rumah ya? Kok pakai beresin tanah kosong samping itu juga? Memang sudah minta izin sama pak Salim, mbak Rani di sini kan cuma ngontrak. Bukan apa-apa sih mbak, takutnya nanti pak Salim tidak terima tanahnya di pakai untuk tempat pesta. Apa lagi istrinya pak Salim kan rada-rada pelit mbak."Ucap salah satu ibu-ibu yang datang berbelanja di warung Rani.


" Alhamdulillah sudah izin kok bu, dan pak Salim dan Istrinya juga sudah mengizinkannya."Jawab Rani dengan sopan.


" Bagaimana tidak di izinkan? Itukan sewa bu, istri pak Salim kan memang agak pelit. Dia bilang minta bayaran sewa 4 juta, beruntung calon suaminya mbak Rani kaya raya jadi ya dibayar saja. Sepertinya pernikahan mbak Rani ini nanti bakalan menjadi pesta termewah dan terbesar di kampung ini. Mana ada artis dari ibu kotanya juga loh, saya tahu dari ibu Rt." Ucap ibu yang lain.


" Wah mbak Rani memang pintar cari calon suami, meskipun janda anak satu tetap dapatnya perjaka kaya. Bagus banget nasib mbak Rani dan Tegar ini, kalau ada kenalan lagi pria kaya kenalin sama anak saya ya mbak. Biar kecipratan dapat menantu kaya juga. Saya doakan semoga sama yang ini nanti langgeng sampai kakek nenek ya mbak."Ucap ibu yang lainnya lagi.


Aamiin


Rani dan ibu-ibu pun tidak lupa mengucap aamiin. Inilah yang membuat Rani malas menjaga warung, pasti ada saja ibu-ibu yang bergosip. Tapi apa boleh buat, Rani berdagang dan kebanyakan pembelinya pun para ibu-ibu. Rani harus kuat mental dan tebal telinga saja agar tidak mudah baper dengan ucapan para ibu-ibu.


" Sudah-sudah, ini mau pada belanja apa mau pada gosip."Seru ibu Darti yang tiba-tiba datang sambil menggendong Tegar.


" Dua-duanya bu Darti. Kalau ngumpul begini tidak ada bahan obrolan itu rasanya ada yang berbeda banget."Seru ibu-ibu itu sambil tertawa.


" Cepat pulang sana, itu anak-anak kalian sudah pada lapar."Seru ibu Darti mengusir secara halus.


Dan ibu-ibu itupun mulai pulang satu persatu karena ingat ada yang sedang memasak air, ada yang anaknya minta makan pakai telor. Giliran beli telor tidak pulang-pulang dan bergosip di warung.


" Besok lagi kalau para ibu-ibu itu bergosip kamu panggil ibu saja Ran. Biar ibu yang gantiin kamu jaga warung. Ini Tegar sepertinya haus, sana kamu masuk saja dan kasih Asi Tegar biar ibu yang gantian jaga warung."Seru ibu Darti.

__ADS_1


" Iya bu."Jawab Rani lalu menerima Tegar dari tangan ibu Darti.


**********


__ADS_2