
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Satu bulan berlalu.
Usia Revan dan Devan sekarang sudah hampir 2 bulan. Bayi kembar itu semakin menggemaskan, berat badannya pun sudah bertambah. Setiap hari libur, Arya selalu menghabiskan waktunya untuk membantu Ratu mengurus sikembar, agar mama mertuanya bisa beristirahat.
" Mas, aku titip Devan sama Revan ya. Itu keduanya tidur semua kok mas, aku cuma mau ke minimarket sebentar mau cari sabun dan keperluan lainnya untuk sikembar."Ucap Ratu yang sudah bersiap-siap untuk pergi.
" Nanti kalau mereka bangun dan minta susu bagaimana? Susunya kan kamu bawa sayang."Ucap Arya sambil terkekeh.
Pletaaakkkk
Ratu memukul kepala Arya menggunakan dompet yang sedari tadi sudah dia pegang. Ucapan Arya tadi mengandung unsur yang membahayakan. Apa lagi kalau misal didengar oleh anak-anak.
" Sakit loh sayang ku, istriku tercinta."Ucap Arya sambil mengusap kepalanya yang memang sakit betulan.
" Makanya kalau bicara itu yang bener, beruntung Devan sama Revan itu masih bayi, jadi belum paham ucapan mas tadi. Kalau mereka sudah paham, bisa malu aku mas. Jangan dibiasakan bicara seperti itu, awas saja kalau masih seperti itu."Seru Ratu memarahi Arya.
" Heheee... Maaf sayang, kan cuma bercanda. Lagi pula Revan sama Devan kan masih tidur mereka tidak mendengar yang mas ucapkan. Ya sudah sana kalau mau ke minimarket, tapi jangan lama-lama ya, takutnya nanti anak-anak bangun dan menangis."Ucap Arya sambil nyegir kuda.
" Tidak lama, mungkin cuma 35 menit saja. Lagi pula mama sama papa juga ada di rumah kok, tapi kalau yang bangun cuma salah 1 jangan minta bantuan mama. Ingat, ini hari libur waktunya mas Arya yang bantuin aku mengurus sikembar. Pahamkan?."Seru Ratu mengingatkan suaminya.
" Iya istriku sayang."Jawab Arya sambil menganggukkan kepalanya dengan patuh.
Ratu mengambil kunci mobil yang ada di atas meja, lalu dia keluar dari kamar anaknya dan menuju mobil yang ada di depan rumah. Sebenarnya banyak yang hendak dia beli, dan itu semua kebutuhan untuk sikembar.
Tidak sampai 10 menit mobil Ratu sudah sampai di depan minimarket. Ratu turun dan segera masuk minimarket, mencari barang-barang yang hendak dia beli. Diapers, shampo, sabun dan minyak telon untuk sikembar semua. Ratu membeli lumayan banyak, sekalian untuk stok di rumah.
" Ratu?."Seru seseorang memanggil Ratu.
__ADS_1
Ratu pun mengalihkan pandangannya, mencari sumber suara orang yang memanggilnya.
" Kak Agung?."Seru Ratu saat tahu jika Agung yang memanggilnya.
Di tangan Agung memegang keranjang dan terisi beberapa kebutuhan bayi. Ada sabun, shampo dan juga bedak. Ratu mengernyitkan keningnya saat melihat isi keranjang yang dibawa Agung. Setahu Ratu, Agung belum menikah dan belum juga punya anak. Lantas barang-barang yang saat ini hendak dibeli Agung untuk siapa.
" Belanja untuk sikembar ya? Emm.. Maaf aku belum sempat menjenguk anakmu. Aku, aku malu sama kamu."Ucap Agung terbata-bata dan gugup.
" Iya kak tidak apa-apa. Kenapa mesti malu kak, memangnya kak Agung tidak pakai baju ya?."Tanya Ratu sedikit bercanda.
Agung justru hanya terkekeh mendengar pertanyaan dari Ratu. Dia nampak masih gugup dan salah tingkah juga.
" Ehh kak Agung kok belanja kebutuhan bayi? Memangnya untuk bayi siapa kak?."Tanya Ratu ingin tahu.
* Sepertinya aku minta tolong sama Ratu saja untuk mencarikan kebutuhan bayi. Dia kan juga punya bayi pasti dia tahu apa saja yang harus aku beli. Minta tolong sama karyawan aku malah malu.*Gumam Agung dalam hatinya.
" Oh ini,emm.. Temanku ada yang lahiran dan dia tinggalnya di kampung. Sudah 1 bulan ini sih anaknya lahir, dan sekarang aku mau kesana. Tapi aku bingung mau bawa apa, dan aku juga tidak tahu anaknya itu laki-laki apa perempuan. Mau menanyakan dulu aku malu, emm apa kamu bisa membantuku untuk mencarikan barang-barang yang pantas untuk aku bawa."Ucap Agung terlihat serius.
" Oh begitu, baiklah aku bantu. Cari barang yang netral saja ya, bisa dipakai untuk laki-laki dan bisa dipakai untuk perempuan. Itu di keranjang kak Agung sudah ada kebutuhan mandi dan bedak, sekarang aku carikan yang lainnya."Ucap Ratu dengan tulus membantu Agung.
" Apalagi kak?."Tanya Ratu singkat.
" Apa ya? Kalau susu bagaimana?."Tanya Agung balik.
" Jangan kak. Siapa tahu bayinya minum Asi, sayangkan kalau misal susu formulanya nanti tidak keminum. Kalau kak Agung mau beli kereta bayi juga bisa, tapi sepertinya disini lagi kosong deh. Biasanya diletakkan di sebelah sana tapi di sana kosong, nanti kak Agung bisa mampir ke toko lain saja untuk membelinya. Kak, maaf ya aku tidak bisa berlama-lama soalnya takut sikembar bangun. Salam untuk teman kak Agung."Ucap Ratu lalu membawa barang belanjaannya tadi ke kasir.
Agung pun ikut mendekati meja kasir untuk membayar barang belanjaannya. Agung dan Ratu selesai dan keluar dari minimarket bersamaan.
" Terima kasih ya Ratu. Maaf tadi aku sudah merepotkan kamu, dan maaf belum sempat melihat anakmu."Seru Agung yang sebenarnya sedikit tidak enak hati dengan Ratu karena sampai sekarang dia belum pernah melihat anak Ratu.
" Ok tidak masalah kak. Aku duluan ya kak, Bye."Ucap Ratu lalu masuk mobil.
Mobil Ratu menjauh meninggalkan minimarket, Agung masih tetap terpaku memandangi mobil Ratu yang semakin menjauh.
* Ratu memang wanita yang baik. Beruntung sekali pria yang mendapatkan hatinya.*Gumam Agung dalam hati.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, Arya sedang kebingungan menenangkan kedua anak kembarnya yang sudah menangis secara bersamaan. Devan dan Revan terbangun secara bersama, dan menangis pun bersamaan. Arya kebingungan mau menggendong yang mana. Jika harus menggendong keduanya Arya tidak berani, dia takut jatuh.
Oeekk Oeeekk Ooeekk
Revan dan Devan terus menangis, Arya kebingungan sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Mendengar tangisan Devan dan Revan yang tidak juga berhenti, membuat bik Siti mendatangi kamar sikembar untuk melihat keadaannya.
" Loh kenapa sikembar menangis semua pak? Dan mana mbak Ratu?."Tanya bik Siti lalu mengangkat Revan dan menggendongnya.
Melihat bik Siti yang menggendong Revan, Arya pun mengambil Devan dan menggendongnya. Meskipun sudah di gendong tangisan keduanya masih belum berhenti, namun sudah tidak sekencang tadi.
" Ratu lagi ke minimarket bik. Tadi itu yang bangun Revan duluan, terus Devan ikut-ikutan bangun jadi aku bingung mau gendong yang mana. Aku takut kalau harus gendong keduanya. Bik, ini bagaimana? Pasti mereka haus."Seru Arya panik.
" Tenang pak Arya, jangan panik. Anak bayi menangis belum tentu dia lapar atau haus, bisa jadi dia ini lelah terus berbaring dan hanya perlu kita gendong begini saja. Nanti kalau sudah tenang dan sudah tidak menangis lagi bisa kita letakkan lagi. Nah lihat, mereka mulai diam kan? Jadi bayi menangis bukan berarti lapar dan haus."Ucap bik Siti menjelaskan.
" Oh begitu ya bik."Seru Arya mulai memahami.
" Ada apa ini? Kok digendong semua?."Tanya Ratu yang baru saja pulang dan membawa banyak barang belanjaan.
" Mereka bangun semua dek, tadi menangis semua dan mas bingung mau gendong yang mana. Mau memanggil mama, mama ada di dalam kamar sama papa. Mas tidak mau mengganggu mereka, beruntung ada bik Siti. Dek, sepertinya kamu sudah butuh pengasuh untuk membantu kamu saat mereka menangis bareng seperti ini."Ucap Arya kasihan dengan Ratu jika waktu istirahat Ratu tidak efektif.
" Soal pengasuh nanti saja kita bicarakan mas. Cari pengasuh itu susah-susah gampang mas, aku takut salah pilih."Jawab Ratu sambil meletakkan barang belanjaannya.
Bik Siti lalu meletakkan Revan di atas kasur, Revan sudah tenang dan tidak menangis lagi. Setelah itu bik Siti keluar dari kamar sikembar dan kembali menyelesaikan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda sebentar.
" Mas, tadi aku ketemu sama kak Agung di minimarket. Dia juga belanja kebutuhan bayi, katanya sih dia mau menjenguk temannya yang baru punya bayi. Tapi temannya itu tinggal di kampung."Ucap Ratu menceritakan pertemuannya dengan Agung.
" Terus?."Tanya Arya bingung.
" Tidak ada terusannya mas."Jawab Ratu cepat.
Hhhufffff.
Arya membuang nafas dengan pelan, dia tadi mengira jika Agung masih mengganggu Ratu lagi. Arya sendiri tidak dekat dengan Agung, mereka kenal juga karena kerja sama dan berkomunikasi pun soal pekerjaan.
__ADS_1
***********