
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Sekitar jam 5 sore, Bima sudah sampai di rumah. Rumah dalam keadaan sepi, ibu dan istrinya ada di kamarnya masing-masing. Bima hanya melihat pak Santo yang ada di belakang rumah sedang membakar sampah dedaunan yang tadi sudah dia sapu.
Bima masuk kekamarnya, dilihatnya Rani sedang tiduran sambil memainkan ponselnya dan hanya melirik sekilas ke arah Bima tanpa peduli mau menyambut suaminya yang baru saja pulang kerja.
" Tolong buatkan mas teh panas, Ran. Badan ku capek banget dan kepalaku juga pusing. Sepertinya aku tidak enak badan ini."Seru Bima sambil melepas sepatunya.
" Buat sendiri saja sih mas. Aku lagi sibuk chatt sama teman-teman ku."Jawab Rani sama sekali tidak menghiraukan sang suami.
Tidak ada jawaban dari Bima, setelah dia melepas sepatunya dia langsung keluar dari kamar dan menuju dapur untuk membuat teh. Didapur ternyata ada ibu Marni yang sedang mencuci beras.
" Belum masak bu?." Tanya Bima mengagetkan Ibu Marni.
" Bikin kaget saja kamu Bim. Iya ini lagi mau masak nasi, mana istrimu?." Tanya ibu Marni.
" Ada di kamar bu. Bima mau buat teh, kepala Bima pusing banget bu."Jawab Bima dengan jujur.
" Oh ya sudah sana kamu buat. Ibu mau masak nasi ini dulu."Ucap ibu Marni.
Bima hanya mengangguk, lalu dia membuat teh sesuai dengan keinginannya tadi. Setelah teh berhasil di buat, Bima membawa gelas teh di ruang keluarga. Disana Bima menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan memejamkan matanya.
* Padahal aku ingin sekali pulang kerja seperti ini di sambut dan di layani dengan baik oleh istriku. Tapi kenapa istriku tidak peduli begini? Ya Allah, salahkah jika aku berkeinginan menikah lagi dengan wanita yang benar-benar bisa menghargaiku. Aku bosan dan jenuh dengan rumah tanggaku ini.*Gumam Bima dalam hati.
Melihat Bima yang duduk sendirian, membuat pak Santo yang baru masuk pun menghampiri Bima dan duduk bergabung di hadapan Bima.
" Bim, kamu sakit?." Tanya Pak Santo dengan pelan.
" Eh bapak, emm kepala Bima pusing pak."Jawab Bima sambil membenarkan posisi duduknya.
" Ohh.. Kamu cepat mandi saja. Setelah itu istirahat, oh iya apa kamu sudah dapat rumah yang mau kamu beli? Kalau memang belum dapat, kamu tetap tinggal disini saja sampai kamu dapat rumah yang sesuai dengan tabungan kamu. Cari rumah memang tidak mudah, kamu yang sabar saja ya."Ucap pak Santo tanpa memberitahu apa yang sudah dilakukan Rani dengan uang tabungannya.
__ADS_1
Pak Santo tidak mau ikut campur, dia membiarkan Bima tahu dari mulut Rani langsung. Bukan dia tidak peduli dengan Bima, hanya saja itu urusan rumah tangga Bima dan Rani, biarlah mereka berdua yang menyelesaikannya sendiri.
" Bapak mandi dulu ya, bau asap tubuh bapak."Seru pak Santo.
" Iya pak. Bima juga mau mandi, tunggu teh ini habis dulu."Ucap Bima.
Bima sebenarnya anak yang baik dan sopan kepada pak Santo meskipun dia tahu pak Santo bukan bapak kandungnya. Namun hanya pengaruh ibu dan istrinya yang terkadang membuat Bima tidak peduli dengan keluarga yang lain. Bima pelit juga karena istrinya, dan itu juga di dukung oleh ibunya sendiri.
Bima masuk kamar dan dia tidak mendapati Rani, terdengar air gemercik di kamar mandi yang menandakan Rani sedang mandi. Saat Rani mandi, tiba-tiba ponsel Rani yang ada di atas nakas bergetar, Bima pun mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang mengirim pesan.
Ini pertama kalinya Bima berani membuka pesan di ponsel Rani. Dan beruntungnya ponsel Rani tidak pakai pasword.
Deeeghhhh..
Jantung Bima berdetak semakin kencang saat dia membaca sederet pesan yang dikirim ibu mertuanya.
[ Mana uang bulanan untuk ibu, Rani. Bukannya kemarin Bima sudah gajihan? Bahan makanan di rumah sudah habis ini, Ran. Kamu kan tahu kalau selama 2 tahun ini kami hanya mengandalkan uang bulanan dari gaji Bima itu.]
* Apa maksud pesan ibu ini? Apa Rani memberikan uang gajiku untuk orang tuanya?.*Gumam Bima.
" Jadi selama ini uang gaji ku yang katanya untuk di tabung, Rani kirimkan kepada orang tuanya. Dan tidak tanggung-tanggung, 3 juta dia kirimkan tiap bulannya. Belum lagi untuk renovasi rumah dan beli motor. Kurangajar kamu, Rani."Seru Bima sangat marah sambil meletakkan kembali ponsel Rani di atas nakas.
Cekllekkk
Pintu kamar terbuka, Bima menatap tajam Rani. Rani tidak tahu jika saat ini suaminya sedang dalam mode marah dan sudah tahu semua kebohongan Rani.
Rani mendekati lemari dan membuka lemari serta mengambil pakaian gantinya. Bima membiarkan Rani memakai baju terlebih dahulu.
" Kamu kenapa memandangku seperti itu mas?."Tanya Rani sambil menyisir rambutnya.
" Kamu sudah selesai? Aku mau bicara dengan kamu." Tanya Bima dengan datar.
" Bicara saja."Ucap Rani dengan santainya.
Bima mengambil ponsel Rani dan membuka aplikasi hijau dan menunjukan deretan pesan percakapan antara Rani dan ibunya. Mata Rani terbelalak saat Bima menunjukan pesan itu yang ternyata itu ponsel pribadinya.
" Mas, lancang kamu dengan membuka-buka ponselku !!."Bentak Rani dengan lantang.
__ADS_1
Pllaakk
Pllaakk
Tangan Bima menampar Rani untuk yang pertama kalinya selama mereka menjadi sepasang suami istri. Bima sudah tidak mau banyak bicara lagi, dia langsung bertindak. Amarahnya pun sudah tidak tertahan lagi.
" Kamu pakai uang gajiku untuk menghidupi orang tuamu? Kurangajar kamu, Rani !! Selama 3 tahun aku percayakan uang gajiku untuk kamu tabung, tapi kamu gunakan uang itu untuk orang tuamu tanpa sepengetahuanku?"Teriak Bima dengan lantang.
Rani menunduk ketakukan, ternyata Bima jika sudah marah sangat menakutkan. Sampai dia berani menampar Rani.
" Bahkan kamu gunakan uang itu untuk renovasi rumah, membelikan motor orang tua kamu. Kamu ini punya ot4k apa tidak Rani? Jikapun kamu mau memberi orang tua kamu aku tidak masalah, asal kamu bilang dan tidak sebanyak itu juga, Rani !! Lagi pula adik laki-lakimu juga sudah bekerja !!."Bentak Bima lagi-lagi tidak bisa menahan amarahnya lagi.
Rani sebenarnya anak tunggal, tapi dia punya adik angkat laki-laki. Ibu Rani tidak bisa hamil lagi dan akhirnya mereka memutuskan menganggkat anak laki-laki dan saat ini sudah seumuran Serli. Dia tidak kuliah, setelah lulus SMA 3 tahun yang lalu bekerja di pabrik dekat rumah orang tua Rani.
" Maaf mas. Lagi pula gajinya Andi tidak besar dan itu hanya dia pakai untuk memenuhi kebutuhan nya sendiri. Di desa gaji 2 juta doang mas, kasihan Andi kalau harus menanggung biaya bapak dan ibu. "Ucap Rani membela diri.
" Nafkah untuk keluargamu itu bukan urusanku, Rani. Salah siapa mereka banyak hutang, akhirnya usaha nya bangkrut kan? Makanya gaya hidup itu tidak usah sok kaya, sesuaikan dengan keadaan ekonomi."Ucap Bima terus saja marah.
" Mas !! Mereka itu orang tuaku dan aku ini anak kandungnya, jadi aku berhak dan wajib menolong mereka. Cuma uang segitu saja pelit banget sih kamu mas."Ucap Rani justru dia ikut marah.
" Cuma kamu bilang? Uang segitu kamu bilang cuma? Heehhh Rani, kalau punya ot4k itu dipakai. Selama 3 tahun aku percayakan gajiku untuk kamu tabung, tapi hasilnya mana. Uang 140 juta kamu bilang cuma? Sekarang kalau aku minta kamu untuk kembalikan uang itu, kamu bisa tidak? Kamu memang berhak menolong orang tua kamu, tapi kamu tidak berhak memakai uang ku !!." Seru Bima dengan marah.
Brraakkk
Bima keluar dari kamar dan membanting pintu dengan kuat. Pak Santo yang ada di ruang keluarga sudah tahu semua pertengkaran antara Bima dan Rani. Bima ikut duduk bersama pak Santo,dengan nafasnya yang masih memburu.
" Sabar Bima, ini sudah magrib. Lebih baik kamu sholat dulu biar hati kamu tenang."Ucap pak Santo dengan pelan.
" Bagaimana Bima bisa tenang pak, Rani sudah menghabiskan uang tabungan untuk beli rumah. Dan parahnya uang itu dihabiskan untuk orang tuanya. Itu uang tidak sedikit pak, Bima harus bagaimana pak?." Seru Bima dengan pasrah.
" Hemmm.. Bapak dan ibumu sudah tahu masalah ini tadi siang. Ratu yang sudah membongkar kebohongan istrimu, bahkan tadi Rani bilang mau pinjam uang 150 juta kepada Ratu dengan alasan ibu nya masuk rumah sakit."Ucap pak Santo akhirnya dia buka suara.
Pak Santo menceritakan apa saja yang tadi siang terjadi antara Ratu dan Rani, yang akhirnya membongkar semua kebohongan Rani yang selama ini dia sembunyikan.
* Jadi Ratu dan Arya sudah tahu masalah ini? Bahkan Ratu yang sudah membongkar kebohongan Rani? Ya Allah, betapa malunya aku sama mereka berdua.*Gumam Bima dalam hati.
*************
__ADS_1