
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
" Mas, Bima bisa minta tolong buatkan teh manis sama roti selai cokelat?."Tanya Karina dengan sopan.
Sekitar jam 11 malam, Karina membangunkan Bima hanya untuk meminta teh dan roti selai cokelat. Sebenarnya dia bisa membuatnya sendiri tanpa membangunkan Bima. Akan tetapi, Karina sangat menginginkan makan dan minum buatan Bima.
Mengetahui Karina membangunkannya hanya ingin memakan sesuatu, Bima sama sekali tidak marah. Bima tahu saat ini pasti Karina sedang ngidam, Bima sudah cukup belajar banyak dari Arya bagaimana menghadapi wanita hamil. Apa lagi saat tengah malam begini dan dia menginginkan sesuatu.
" Iya sayang, kamu tunggu di kamar saja ya. Nanti mas bawa teh sama rotinya ke kamar, kamu berbaring saja lagi."Ucap Bima dengan lembut sembari mengusap kepala Karina pelan.
" Iya mas, aku menunggu di kamar saja. Jangan lama-lama ya mas, aku sudah lapar. "Seru Karina sambil mengusap perutnya.
" Iya sayang, tunggu ya."Jawab Bima lalu dia turun dari ranjang dan keluar kamar.
Saat sudah sampai di dapur Bima dengan cekatan membuatkan apa yang tadi diminta Karina. Sembari menunggu airnya mendidih, Bima membuatkan roti selai cokelat lebih dulu. Tidak menunggu lama, airnya pun mendidih dan teh segera Bima seduh.
" Beruntung aku sudah banyak belajar dari Arya. Hemm.. Mungkin kalau aku belum tahu bagaimana cara menghadapi wanita hamil, mungkin sekarang aku akan mengomel, karena Karina sudah mengganggu tidurku. Ternyata begini ya nikmatnya menuruti maunya istri yang sedang hamil."Ucap Bima bicara pada dirinya sendiri.
Roti dan 1 gelas teh manis kini sudah berada di atas nampan, tidak lupa Bima juga membawakan air putih untuk Karina, siapa tahu dia juga ingin minum air putih.
" Sayang, ini pesanan kamu sudah jadi. Sini duduk di sofa saja ya makannya."Ucap Bima dengan lembut meminta Karina turun dari ranjangnya.
" Iya mas."Jawab Karina dengan cepat.
Kini Karina dan Bima sudah sama-sama duduk di sofa yang ada di kamarnya. Karina menikmati roti selai cokelat yang dibuatkan oleh suaminya dengan sangat lahab. Bima sendiri hanya menemani Karina, dia membuat dua roti dan itu hanya untuk Karina semua. Bima tidak terbiasa makan tengah malam seperti itu.
" Enak sayang?."Tanya Bima singkat.
" Enak banget mas, tapi sekarang aku kenyang banget."Seru Karina setelah menghabiskan dua porsi roti.
" Duduk dulu, jangan langsung tidur lagi ya. Mas temani kamu kok, ini tehnya masih setengah. Tidak mau di habiskan?."Tanya Bima lagi.
Karina dengan cepat menggelengkam kepalanya. Dia benar-benar sangat kenyang, sudah tidak sanggup menampung teh. Bima juga tidak tanggung-tanggung, membuatkan teh 1 gelas besar.
" Ya sudah biar mas yang habiskan tehnya."Ucap Bima lalu meraih gelas teh yang ada di depan Karina.
__ADS_1
" Iya mas habiskan saja. Mas sih buat gelasnya besar seperti itu. Em.. Sudah boleh tidur belum mas? Aku sudah mengantuk banget."Ucap Karina dengan lesu sambil sesekali dia menguap.
" Ya sudah tidur saja lagi, mas bawa ini ke dapur dulu ya. Nanti dirubungin semut kalau tetap dibiarkan di sini."Ucap Bima sambil membereskan gelas dan piring.
" Iya mas. Maaf ya mas aku sudah merepotkan kamu dan sudah mengganggu istirahat kamu. Tidur kamu jadi terganggu karena aku yang lapar, tapi ini juga maunya anak kamu juga loh mas."Ucap Karina tersenyum manja sambil mengusap perutnya.
" Tidak apa-apa sayang, ini juga sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang suami. Lagi pula anak itu juga hasil dari buah cinta kita, jadi sebisa mungkin aku akan menuruti apa saja yang kamu minta. Tapi jangan minta rumah dulu ya sayang, uangnya belum cukup. Heheee."Ucap Bima sambil terkekeh.
Karina mengurungkan niatnya kembali ke atas ranjang, dia memeluk Bima lebih dulu dan memberi kecup4n mesra di kedua pipi Bima dengan lembut. Bima tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu, Bima pun membalas apa yang dilakukan Karina sehingga mereka pun saling balas membalas.
" Sayang, kamu sengaja ya menggoda mas? Kamu harus tanggung jawab."Ucap Bima dengan berbisik di telinga Karina.
" Siapa yang menggoda kamu sih mas, mas saja loh yang salah paham. Sudah ah, aku mengantuk banget nih. Aku tidur duluan ya mas?."Seru Karina sambil menahan tawanya.
Wajah Bima langsung berubah cemberut, sebab dia sudah On dan Karina justru ingin melanjutkan tidurnya. Padahal tadi Karina duluan yang mulai, Bima nampak pasrah begitu saja.
" Iya."Jawab Bima dengan lesu.
" Idih kok lesu amat sih mas? Seperti tidak dikasih jatah saja? Memangnya istrinya kemana sih?."Seru Karina menggoda Bima.
Padahal Karina tadi mengantuk, tapi tiba-tiba rasa kantuknya hilang. Sekarang dia lebih suka menggoda suaminya, sampai suaminya cemberut seperti itu.
" Jangan cemberut dong, nanti tidak aku kasih loh. Yuk main."Seru Karina sambil memainkan alisnya.
*******
Ratu menikmati perannya menjadi ibu baru dan ibu muda dari kedua anak kembarnya, Devan dan Revan. Mama dan Papa Ratu juga masih ada di rumah Ratu, mereka ingin lebih dekat dengan kedua cucunya sekaligus membantu Ratu mengurus sikembar.
Raja sudah kembali setelah acara Aqiqah beberapa hari yang lalu. Dia hanya 2 hari saja menginap, pekerjaannya banyak dan tidak bisa di tinggalkan terlalu lama.
" Ratu, si kembar mama bawa jalan-jalan-jalan di depan ya. Mumpung masih pagi dan udara masih segar."Ucap Dinda meminta izin Ratu untuk membawa anak-anaknya ke luar rumah.
Sikembar saat ini sudah berusia 2 minggu, perkembangannya sangat baik. Bahkan dalam 2 minggu mereka masing-masing naik setengah kilo gram. Tubuhnya semakin gemoy dan menggemaskan.
" Iya ma, memang mama bisa membawa dua sekaligus?."Tanya Ratu.
" Sama papa dong. Kamu sama Arya sarapan saja dulu, mama sama papa nanti saja. Tadi kami juga sudah minum teh."Ucap Dinda memberitahu.
" Ya sudah terserah mama dan papa saja. Yang penting mama dan papa tidak capek ya."Ucap Ratu mengingatkan.
" Cuma ngajak jalan-jalan di depan rumah doang mana mungkin capek. Sekalian kami olah raga, lagian cuma tinggal dorong saja kan? Tidak harus menggendong cucu-cucuku ini."Seru Dinda lagi.
__ADS_1
Kehadiran mama dan papa Ratu membuat Ratu merasa tertolong. Untuk sementara Ratu belum memakai jasa baby sitter, mamanya juga tidak memperbelohkan karena ada dia yang masih bisa membantu mengurus Devan dan Revan. Masih terlalu dini jika harus memakai jasa baby sitter.
" Mana mama sama papa?."Tanya Arya saat sudah berada di meja makan.
" Lagi ngajak Devan sama Revan jalan-jalan depan rumah. Mas sarapan duluan tidak apa-apa, tadi mama sudah berpesan kalau kita suruh sarapan duluan."Ucap Ratu lalu menuangkan nasi goreng ke dalam piring Arya.
" Oh begitu.. Terima kasih istriku sayang."Ucap Arya lalu mulai menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Arya dan Ratu sarapan berdua saja, setelah selesai sarapan Arya pun berangkat ke kantor. Ratu mengantarkannya sampai depan rumah.
******
Seminggu yang lalu Rani sudah pindah ke rumah kontrakannya dan sudah mulai membuka usaha warungnya. Rani menjual kebutuhan rumah tangga berupa sembako dan yang lainnya. Ibu Darti juga ikut pindah di rumah kontrakan Rani. Tidak mungkin dia tega membiarkan Rani tinggal sendirian dengan kehamilan yang tinggal menghitung waktu lagi.
" Bu, kok perut Rani sakit banget ya bu. Apa Rani mau melahirkan?."Seru Rani saat sedang menunggu warung bersama ibunya.
" Haahh... Kamu mau melahirkan Rani? Lihat ini air ketuban kamu sudah pecah, ya ampun Rani kenapa kamu tidak bilang dari tadi."Ucap ibu Darti panik.
" Ketuban? Jadi ini air ketuban bu? Rani tidak tahu bu, tadi Rani kira Rani kencing bu. Bu, ini sakit banget."Ucap Rani sambil mengusap perutnya yang semakin sakit.
Ibu Darti kebingungan, dia mau minta tolong kepada siapa. Andi sendiri sedang bekerja fan tidak mungkin ibu Darti meminta Andi untuk pulang.
" Ibu Darti kenapa?."Tanya ibu Ria yang datang hendak berbelanja.
" Itu bu, Rani mau melahirkan dan ketubannya sudah pecah. Bagaimana ini bu."Ucap ibu Darti semakin panik.
Ibu Ria pun langsung masuk ke warung tanpa permisi lebih dulu. Dia segera melihat keadaan Rani, ternyata benar ketuban Rani sudah pecah dan Rani harus segera di tangani dokter maupun bidan.
Kebetulan Ibu Ria adalah bidan desa yang membuka praktek di rumahnya. Meskipun hanya bidan desa, banyak para warga yang datang untuk berobat serta melahirkan dengan ibu bidan Ria. Rumah bidan pria pun menyediakan ruangan-ruangan untuk bersalin para ibu yang akan melahirkan.
" Bu, bawa Mbak Rani ke rumah saya. Mbak Rani sudah mau melahirkan, sekarang sudah bukaan 8 bu. Ibu panggil orang untuk membantu membawa mbak Rani."Ucap Bidan Ria.
" Iya bu."Jawab Ibu Darti dengan cepat.
Ibu Darti berlari memanggil tetangganya untuk membantu membawa Rani ke rumah ibu bidan Ria.
" Rileks ya mbak, jangan panik."Ucap ibu Ria mencoba menenangkan Rani.
" Ini sakit bu."Seru Rani sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya.
Tidak lama, ibu Darti datang bersama dua orang tetangga yang akan membantu membawa Rani. Akhirnya Rani pun di angkat untuk dibawa ke rumah ibu bidan Ria, yang hanya berjarak 7 rumah dari rumah kontrakan Rani.
__ADS_1
************