Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Ke kampung Rani


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Rani dan Ibunya sudah sampai di kampung halamannya. Tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu perjalanan satu setengah jam saja dari rumah mertuanya. Rani dan ibu Darti langsung meminta sopir taksi itu mengantarnya ke rumah sakit.


" Bagaimana keadaan bapak Ndi?."Tanya Rani saat dia sudah bertemu dengan Andi sang adik angkatnya.


" Bapak terkena serangan jantung mbak. Dan saat ini keadaanya kritis."Jawab Andi dengan lemas.


" Apa yang terjadi dengan bapakmu? Kenapa dia bisa terkena serangan jantung? Setahu ibu, bapak itu tidak punya riwayat penyakit jantung."Ucap ibu Darti.


Suami ibu Darti memang tidak pernah sakit atau jarang sekali sakit. Namun siapa sangka dia bisa terkena serangan jantung secara tiba-tiba dan tentunya semua itu ada sebab dan akibatnya.


" Semua ini gara-gara ibu. Bapak jadi seperti ini karena ulah ibu. Bu, lihat bapak sekarang terkapar didalam sana semua itu karena ulah ibu !! Ibu berhutang dengan pak Salman sebanyak 85 juta dan menjadikan sertifikat rumah sebagai jaminannya. Dan sudah dua bulan ibu tidak membayar bunganya, sehingga pak Salman datang dan mengambil rumah kita bu, bukan hanya itu. Motor bapak pun ikut di sita juga bu. Semua nya habis karena ibu !!."Seru Andi dengan kesal.


Deegghhh.


Akhirnya apa yang di takutkan oleh ibu Darti kejadian juga. Dia memang punya hutang dan suaminya tidak tahu menahu soal hutang itu. Sehingga saat pak Salman datang suaminya kaget dan syok sampai terkena serangan jantung.


" Ibu !! Hutang untuk apalagi bu?"Tanya Rani juga terlihat kaget dan syok atas apa yang baru saja dia dengar dari adiknya.


Ibu Darti terdiam, dia tidak bisa berkata apapun. Fikirannya saat ini sedang bingung dan kacau. Kenapa semuanya bisa jadi serumit ini, bahkan rumah yang dia punya harus dia relakan di sita pak Salman.


" Ibu masih suka main judi?."Tanya Rani penuh selidik.


" Jawab bu?"Tanya Rani lagi tegas.


" Maaf."Jawab ibu Darti singkat.


Hanya kata maaf itu saja yang bisa di ucapkan ibu Darti. Rani dan Andi sudah tidak kaget lagi, ibu Darti memang dari dulu suka bermain judi. Terkadang off line dan juga online, namun mereka mengira jika ibu Darti sudah berubah dan tidak judi lagi. Ternyata mereka semua dibohongi, tidak main Off line ternyata bisa lewat online juga.


" Terus bagaimana bu? Kita mau tinggal dimana? Pak Salman hanya memberikan wsktu 3 hari saja untuk mengosongkan rumah. Jika ibu bisa membayar lunas hutang ibu dan bunganya pak Salman akan mengembalikan rumah kita. Apa ibu punya uang?."Tanya Andi.

__ADS_1


" Uang darimana? Uang di dompet ibu saja tinggal 50 ribu saja. Kamu itu seharusnya cari uang yang banyak untuk bayar hutang. Kamu itu aku besarkan agar saat besar bisa membantu meringankan keuangan ku. Tapi malah cuma kerja di pabrik yang gaji tidak seberapa."Ucap Ibu Darti memarahi Andi.


" Bu, gaji Andi cuma 2,5 juta dan yang 1 juta juga Andi serahkan sama ibu."Seru Andi membela diri.


Ceklekkk


Pintu terbuka dan perdebatan mereka pun terhenti. Mereka langsung mendekati dokter dan menanyakan keadaan Pak Mamat.


" Bagaimana keadaan bapak saya dokter?"Tanya Andi sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan bapaknya.


" Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Allah berkehendak lain. Pak Mamat sudah meninggal, saya turut berduka cita."Ucap dokter dengan ramah.


Haaahhhh


Bapak meninggal? Rani dan ibu Darti langsung menangis dan saling memeluk. Mereka tidak menyangka jika pak Mamat pergi secepat ini.


" Bapak."Seru Andi sangat terpukul atas kepergian pak Mamat.


Biarpun hanya orang tua angkat, Andi sangat menyayangi dan menghormati pak Mamat. Meskipun semasa hidupnya pak Mamat juga sering memarahinya, namun Andi tetap menyayanginya dengan tulus.


" Mbak, kita bawa pulang bapak dan kita makamkan."Seru Andi dengan suara serak karena menangis.


Tidak menunggu lama, Pak Mamat pun dibawa pulang dengan diantarkan oleh ambulance. Rani juga sudah menggubungi suaminya, menyampaikan kabar kematian pak Mamat.


*******


" Kita kesana naik apa, Bim?." Tanya Ibu Marni yang kebingungan.


Bima langsung izin pulang cepat saat Rani mengabarkan meninggalnya pak Mamat. Saat ini dia sudah sampai di rumah dan bersiap untuk berangkat, namun dia lupa jika belum memesan taksi online.


" Bima lupa pesan taksi online bu. Sebentar Bima pesan taksi dulu."Ucap Bima lalu mengambil ponsel nya.


Tiin Tiin Tiinn


Saat Bima hendak memesan taksi, tiba-tiba ada mobil yang masuk di pekarangan rumahnya. Bima keluar rumah dan mendapati mobil Arya sudah ada didepan. Arya dan Raru turun bersamaan, dan menghampiri Bima.


" Mas sudah siap?."Tanya Arya.

__ADS_1


" Siap kemana?." Tanya Bima balik.


" Loh.. Kerumah mertua mas Bima. Katanya pak Mamat meninggal apa mas Bima tidak mau kesana? Aku dan Ratu juga mau ikut kesana makanya aku kesini biar kita berangkat bareng."Ucap Arya lagi.


Saat tahu Bima izin pulang cepat dengan alasan bapak mertuanya meninggal, Arya langsung pulang dan meminta Ratu untuk bersiap-siap. Ratu tidak menolak, disaat saudara sedang terkena musibah seperti ini dia harus mengesampingkan egonya.


" Ini lagi mau pesan taksi. Kalau kamu mau kesana ya sudah kami ikut mobil kamu saja. Bapak dan ibu juga mau ikut, Serli biar di rumah saja tunggu rumah."Ucap Bima dengan cepat.


" Beruntung kamu datang Arya, ya sudah yuk kita langsung berangkat saja. Ayok bu bawa tas ibu naik mobil, ingat jangan bikin ulah. Jika ibu bikin ulah lebih baik ibu tidak usah ikut."Seru Pak Santi mewanti-wanti ibu Marni agar tidak mencari ribut.


" Iya. Terpaksa aku mau satu mobil dengan wanita serakah ini."Seru ibu Marni dengan ketus.


" Ibu !." Seru pak Santo.


Hhuuuffff


Ibu Marni membuang nafas dengan kasar, dia melengos lalu masuk ke mobil dan diikuti oleh Pak Santo dan Bima. Setelah semuanya masuk ke mobil, Arya melajukan mobil meninggalkan pekarangan rumah orang tuanya.


" Memangnya pak Mamat sakit apa mas?." Tanya Arya dengan pandangan tetap fokus kedepan.


" Rani bilang kena serangan jantung."Jawab Bima sesuai yang Rani beritahu.


" Umur memang tidak ada yang tahu mas. Makanya kita persiapkan semuanya dari sekarang untuk bekal kita di akhirat nanti."Ucap Ratu ikut bicara.


" Kamu menyindir ibu, Ratu?." Tanya ibu Marni dengan kesal.


Haaahhhh?


Ratu sama sekali tidak menyindir ibu mertuanya, tapi kenapa justru sang ibu mertua merasa tersindir.


" Ibu apa-apaan sih? Ratu sama sekali tidak menyindir ibu, tapi kenapa ibu punya fikiran kalau Ratu menyindir ibu? Letak sindiran Ratu dimana?." Tanya Ratu masih dengan sopan.


" Helehh.. Alasan saja."Seru ibu Marni lagi-lagi membuat ulah.


" Arya, kamu turunkan saja ibu mu disini. Terserah dia mau lanjut apa mau kembali pulang kerumah. Lagipula ini juga masih belum jauh dari rumah, atau kalau tidak biar dia naik taksi online saja."Seru pak Santo membuat mata ibu Marni langsung melotot sempurna.


Sepertinya dia memang melupakan nasehat dari sang suami sebelum berangkat tadi. Jika jangan berulah atau buat masalah.

__ADS_1


********


__ADS_2