Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Drama sikembar


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


" Yah ngompol."Seru Arya dengan suara kagetnya.


Arya yang sedang menggendong Devan, dan tiba-tiba Devan kencing di gendongan Arya. Untuk pertama kalinya Arya di kencingi oleh anaknya.


Hahaaaa Haahaaa


Ratu justru tertawa melihat Arya yang manyun, kemeja Arya basah air kencing Devan. Padahal Arya sudah bersiap untuk pergi ke kantor.


" Kok bisa sampai basah? Memang tidak dipakaikan diapers, Ratu?."Tanya Dinda dengan wajah keheranan.


" Heehee.. Tidak ma. Ratu lupa, ini Revan juga ternyata tidak pakai diapers. Maaf ya mas, istrimu yang cantik imut-imut ini lupa memakaikan diapers sikembar."Seru Ratu sambil terkekeh pelan.


" Huuhh.. Dasar !! Pelupa kamu itu coba di buang deh, Ratu. Kasihan kan suami kamu harus bersih-bersih lagi. Padahal sudah rapi dan sudah siap berangkat ke kantor."Seru Dinda mengingatkan Ratu.


Dinda mengambil Devan dari gendongan Arya dan membawanya masuk kamar untuk di ganti celana dan dipakaikan diapers. Ratu masih saja senyum-senyum, untuk pertama kalinya dia melihat Arya yang basah karena air kencing Devan.


" Maaf ya mas, mas ganti baju saja dulu. Aku mau makein Revan diapers, keburu mama ngomel nanti."Seru Ratu lagi.


" Iya istriku sayang. Hai Revan sayang, lihat nih papa basah karena diompoli sama Devan. Coba kamu juga dong, tapi sama mama kamu saja jadi biar satu sama."Ucap Arya lalu menciumi pipi Revan yang ada dalam gendongan Ratu.


Seerrrrr.... tangan Ratu tiba-tiba terasa panas dan ada sesuatu yang mengalir. Dan benar saja, Revan kencing dan membasahi baju Ratu.


Seperti tahu apa yang diperintahkan oleh papanya. Tiba-tiba Revan pun mengompol dan baju yang dikenakan Ratu juga basah dengan air kencing Revan. Melihat hal itu, Arya langsung tertawa. Ternyata anaknya itu mengikuti apa yang dia perintahkan.


" Yah, dia ngompol beneran mas. Duh ini anak masih bayi kok sudah bisa bekerjasama juga ya sama Papanya. Bener-bener deh, awas ya kamu mas kalau ngajarin yang gak bener."Seru Ratu dengan mata melebar.


" Anak papa gitu loh."Seru Arya terkekeh lalu dia masuk kamar untuk mengganti pakaiannya.


Hhhuuufffff


Ratu membuang nafas dengan pelan, Ratu berjalan menuju kamar si kembar untuk mengganti pakaian Revan.


" Revan ngompol juga?."Tanya Dinda sambil mengernyitkan keningnya.


" Iya ma, ini gara-gara mas Arya. Masa Revan suruh ngompol, jadi basah juga kan aku."Gerutu Ratu sambil memanyunkan bibirnya.


" Yang namanya sudah mempunyai anak itu harus siap semuanya. Siap lelah, siap begadang, dan siap terkena kencingnya dan juga pupnya. Masa iya anak mama ini masih perlu diajari terus? Kan sudah dewasa, sudah punya anak juga."Ucap Dinda sambil mengusap lengan Ratu dengan lembut.


" Iya ma, Ratu sudah paham kok mama. Terima kasih ya ma sudah mengajari Ratu banyak hal. I miss you mama."Seru Ratu dengan manja.


" Iya sama-sama sayang. Sekarang kamu letakkan saja Revan di atas kasur, nanti biar mama yang mengganti celananya. Kamu urus dulu suami kamu, antarkan dia sampai depan rumah."Ucap Dinda lagi meminta Ratu untuk mengantar Arya lebih dulu. Kebetulan juga sikembar masih pada anteng, hanya Revan yang perlu ganti celana dan pakai diapers. Devan sudah anteng, bahkan matanya seperti sudah mengantuk.


" Iya Ma."Jawab Ratu patuh.

__ADS_1


Setelah meletakkan Revan, Ratu keluar kamar anaknya lalu dia mengantarkan Arya yang ternyata sudah siap berangkat. Tidak menunggu lama, Arya pun berangkat dengan mengendarai mobil nya sendiri tanpa memakai jasa sopir.


******


Serli dan Yusuf siang ini ada di toko, mereka hanya berdua saja. Kebetulan pak Santo tidak ke toko dan karyawan yang satunya sedang mengantarkan barang ke rumah pelanggan. Serli nampak murung, Yusuf mencoba menanyakan masalah apa yang sedang difikirkan oleh istrinya itu.


" Dek, kamu mikirin apa? Dari tadi mas perhatikan kamu diam saja. Apa sedang ada masalah? Coba kasih tahu mas, siapa tahu mas bisa bantu menyelesaikannya."Ucap Yusuf bicara dengan tutur kata yang sangat lembut.


Serli beralih memandang wajah Yusuf. Yusuf mempunyai alis yang tebal dan wajah yang terlihat sangat teduh. Serli tidak sanggup berbohong dengan Yusuf. Saat ini Serli sedang memikirkan ibunya, sudah beberapa hari ini dia terus kefikiran ibu Marni sampai terbawa dalam mimpi.


" Aku kefikiran ibu Mas, apa aku ini anak yang durhaka ya mas? Aku sudah berusaha berdamai dengan hati ku, tapi ucapan ibu itu masih terus terngiang di telingaku. Sudah beberapa hari ini aku kefikiran ibu terus mas."Ucap Serli bicara dengan memandang wajah teduh Yusuf.


" Kamu mau ketemu ibu? Nanti mas antarkan?."Tanya Yusuf lembut.


Serli sangat ingin bertemu dengan ibunya, tapi apakah ibunya mau bertemu dengannya. Sedangkan sekarang ibunya sudah tidak menganggapnya anak. Jika pun menemui ibunya di rumah nya, yang ada dia juga akan bertemu dengan Yanto. Serli tidak mau jika Yusuf juga betemu dengan Yanto, bagaimanapun Serli dulu pernah punya hubungan kelam dengan Yanto.


" Tapi apa ibu mau menerima kedatangan ku mas? Mas tahu sendirikan jika ibu sudah tidak menganggapku anak."Ucap Serli pesimis.


" Kita coba saja dulu. Kalau kita tidak mencobanya mana kita tahu? Nanti sore setelah toko tutup kita ke rumah ibu, kamu tahu kan alamatnya?."Seru Yusuf lagi.


" Iya mas aku tahu."Jawab Serli singkat.


Serli kembali terdiam, jika Yusuf mengantarkannya sudah pasti akan bertemu dengan Yanto. Lagi pula tidak mungkin juga Serli akan datang sendirian tanpa suaminya. Dia tidak mau membuat suaminya salah paham.


" Mas, tapi nanti bakalan ketemu dengan Yanto? Mas tahu sendirikan siapa itu Yanto? Emm.. Apa mas tidak akan marah jika aku bertemu dengan dia?."Tanya Serli dengan penuh kehati-hatian.


" Kenapa harus marah? Kamu kan datang aku temani dan kamu kesana tidak untuk menemui Yanto, melainkan menemui ibu kan? Sudah berapa kali aku bilang, jika aku tidak akan mempermasalahkan masalalu kamu. Aku memilihmu menjadi pendamping hidupku itu sudah pasti aku juga sudah tahu tentang kamu, dek."Jawab Yusuf membuat hati Serli menghangat.


Serli dan Yusuf menghentikan obrolannya,ada pelanggan yang datang untuk membeli lemari etalase. Yusuf mengantarkan pelanggan memilih lemari yang di inginkannya, sedangkan Serli duduk di tempat kasir.


Alhamdulillah toko sekarang semakin ramai dan semakin dikenal para pelanggan. Semua itu juga berkat kegigihan Yusuf yang pandai berdagang. Yusuf alias Ucup, sekarang lebih sering dipanggil Yusuf oleh Serli dan keluarganya.


Hari sudah sore, adzan asar pun sedang berkumandang. Yusuf dan Serli serta karyawannya sedang membereskan toko, toko akan tutup. Setelah toko tutup, Serli dan Yusuf ke masjid lebih dulu untuk melaksanakan sholat asar.


Selesai sholat, Yusuf menepati janjinya kepada Serli untuk mengantarkan Serli ke rumah ibu Marni. Yusuf sebelumnya memberitahu pak Santo jika mereka akan pulang terlambat, namun Yusuf tidak mengatakan jika mereka akan menemui ibu Marni.


" Mas, aku kok takut ibu marah ya."Ucap Serli saat masih ada di parkiran masjid.


" Jangan berpikir seperti itu, berpikirlah secara positif agar hati kamu tenang dan yakin. Yakin jika ibu akan menerima kedatangan kita, dan seandainya ibu tidak menerima kedatangan kita itu urusan ibu. Yang terpenting kita sudah datang untuk bersilahturahmi, dan asal kamu tahu Serli. Di dunia ini tidak ada yang namanya mantan ibu ataupun mantan anak, sebesar apapun kesalahan ibu, beliau tetap ibu kamu. Wanita yang sudah melahirkan kamu. Jadi sebisa mungkin tetap jalin silahturahmi dengan baik, dan jangan kamu membenci ibu."Ucap Yusuf menasehati yang baik-baik untuk Serli.


" Iya mas, terima kasih atas nasehatnya. Ya sudah, sekarang kita langsung ke rumah ibu saja. Nanti keburu sore dan kita pulangnya juga bisa kemalaman."Ucap Serli mengajak untuk segera berangkat.


" Iya dek."Jawab Yusuf singkat.


Yusuf dan Serli berangkat ke rumah ibu Marni, meskipun belum pernah datang ke rumah yang di tempati sekarang, Serli sudah tahu alamatnya dari Bima.


" Dek, yang ini bukan rumahnya?."Tanya Yusuf berhenti di jalan depan rumah ibu Marni.


" Sepertinya sih iya mas. Alamat rumahnya sesuai kok, langsung masuk halaman saja mas."Ucap Serli juga yakin jika rumah itu tempat tinggal ibu Marni.


Motor yang dikendarai Yusuf saat ini sudah berhenti di halaman rumah Ibu Marni. Serli dan Yusuf secara bersamaan melangkah menuju rumah, dengan j4ntung yang berdebar-debar Serli memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah.

__ADS_1


Tok


Tok


" Assalamualaikum."Serli dan Yusuf mengucap salam secara bersamaan.


Cukup lama mereka menunggu tapi pintu tak kunjung dibuka juga. Serli tidak putus asa, dia kembali mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Dengan begitu, baru terdengar ada langkah kaki yang mendekati pintu. Serli dan Yusuf saling pandang, Yusuf menggenggam erat tangan Serli.


" Serli !!."Seru ibu Marni saat pintu terbuka.


Serli tercengang melihat pakaian yang dikenakan ibunya. Lingerie yang tidak pantas untuk dipakai menyambut tamu seperti ini. Yusuf langsung mengalihkan pandangannya, dia malu sendiri melihat pakaian yang dipakai oleh ibu mertuanya.


" Bu, pakaian ibu ini tidak sopan."Seru Serli memberitahu.


" Terserah saya dong, ini kan rumah saya. Lagi pula Yanto memang senang melihat aku memakai baju seperti ini. Baju-baju ini juga Yanto yang beliin, bukannya dulu kamu juga sering pakai baju seperti ini saat bersama Yanto? Jadi jangan mun4fik deh."Ucap ibu Marni sama sekali tidak memikirkan perasaan Serli.


" Tolong jangan ungkit masalalu Serli bu. Serli datang ke sini untuk bertemu ibu dan melihat keadaan ibu. Apa ibu baik-baik saja? Kok perut ibu kempes?."Seru Serli melirik perut ibunya yang tidak ada tanda-tanda kehamilan.


" Aku sudah keguguran. Kalian mau apa datang kesini? Aku baik-baik saja dan aku juga bahagia hidup dengan Yanto. Yanto memperlakukan aku dengan baik, dia sangat memanjakan aku."Ucap ibu Marni dengan berbohong.


Dia malu jika Serli ataupun anak-anaknya tahu jika kehidupannya dengan Yanto saat ini tidaklah seperti yang baru saja dia ucapkan. Yanto sudah tidak seperti 3 bulan yang lalu, Yanto yang sekarang kasar.


" Siapa tamunya, Marni?."Tanya Yanto yang baru saja keluar dari kamar dengan b3rt3l4nj4ng d4d4.


Degghhh


Mendengar suara Yanto langsung membuat Serli tidak nyaman. Ternyata Yanto ada di rumah, melihat penampilan Yanto dan ibu Marni, Serli sudah bisa menebak jika mereka baru saja bertempur.


" Ini sayang, Serli dan suaminya."Jawab ibu Marni dengan suara manja.


" Serli anakmu yang wajahnya buruk itu?."Tanya Yanto.


" Iya sayang."Jawab ibu Marni dengan singkat.


Ibu Marni tidak mempersilahkan Serli dan Yusuf untuk masuk ke rumah. Tetap membiarkan mereka berdiri di depan pintu, sementara Yusuf sedari tadi sudah mengalihkan pandangannya. Ibu Marni tersenyum kecut melihat kelakuan Yusuf. Sebagai orang tua, ibu Marni sama sekali tidak malu berpakain yang tidak sopan di depan menantunya. Nampak ibu Marni yang biasa saja, seakan memang sudah terbiasa dengan pakaian yang dia kenakan.


" Mas, kita pulang saja."Seru Serli memilih mengajak suaminya pulang.


Serli tahu jika suaminya itu tidak nyaman dengan pakaian yang di kenakan ibu Marni. Sehingga dia memilih pulang saja, lagi pula sedari tadi mereka juga tidak di persilahkan masuk.


" Iya dek."Jawab Yusuf dengan cepat.


" Kenapa cepat-cepat pulang sih Serli? Tidak mau mengobrol dulu dengan ku?."Tanya Yanto dengan tatapan mata yang menjijikan.


Meskipun pipi Serli tidak semulus dulu, namun aura cantik Serli masih terpancar. Yanto masih mengagumi kecantikan Serli.


" Maaf aku buru-buru. Oh iya bu, lain kali kalau mau buka pintu untuk tamu pakailah baju yang sopan. Setidaknya ibu tidak menambah dosa."Ucap Serli lagi.


" Tidak perlu mengguruiku. Sudah sana cepat pergi dan jangan datang lagi ke rumahku !."Ucap ibu Marni mengusir Serli.


Tanpa mengucapkan kata - kata lagi, Serli meninggalkan ibu Marni dan Yanto yang berdiri di ambang pintu. Sedangkan Yusuf sudah menunggunya di atas motor. Setelah Serli naik motor pun melamu meninggalkan pekarangan rumah ibu Marni. Kedatangan mereka sia-sia, namun setidaknya Serli sudah bertemu dengan ibu Marni dan bisa melihat keadaan ibunya.

__ADS_1


**********


__ADS_2