
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Plaakk
Plaakk
Tamparan demi tamparan mendarat di wajah ibu Marni, bahkan bukan hanya tamparan saja. Akan tetapi pukulan di bagian tubuh yang lainpun dia terima.
Yanto memergoki pakaian ibu Marni yang ada di dalam koper yang dia simpan di bawah ranjang tempat ibu Marni tidur. Saat tahu jika koper itu berisi barang-barang ibu Marni, Yanto langsung menyeret koper dan ibu Marni ke ruang tengah lalu menghajar ibu Marni.
Hikkss Hikkss Hikkkss
Tangisan ibu Marni terdengar sangat pilu, tentu dia kesakitan. Yanto memukulinya tanpa ampun, sedikitpun tidak ada rasa iba.
" Kamu sudah merencanakan untuk kabur? Haahh... !! Jangan harap kamu bisa kabur dari sini, sampai lobang semutpun aku akan mendapatkan mu lagi, Marni !!."Ucap Yanto dengan lantang.
" Yanto, aku minta maaf. Aku terpaksa karena aku tidak sanggup lagi melayani para tamu kamu. Tolong biarkan aku pergi dari sini Yanto, aku akan tutup mulut dan tidak akan melaporkan kepada polisi apapun yang sudah aku ketahui. Tapi tolong lepaskan aku dari sini."Ucap Ibu Marni dengan memohon.
Plaakkk
Tamparan kembali Yanto layangkan, kali ini tamparan itu lebih sakit dan terasa panas. Ibu Marni kembali menangis sesunggukan, dia meratapi nasibnya yang menyedihkan.
" Kamu bisa bicara baik-baik, bukan diam-diam merencanakan untuk kabur begini, Marni."Ucap Yanto mulai memelankan suaranya.
" Maaf, selama ini aku sudah bilang jika aku sudah tidak kuat begini terus dan ingin keluar dari rumah ini tapi kamu selalu melarangnya."Ucap Ibu Marni membela dirinya.
Hhhaaahhhh
Yanto membuang nafas dengan kasar, dia tidak bisa melepaskan ibu Marni begitu saja. Saat ini ibu Marni adalah sumber keuangannya, bisnis n4rkob4nya juga saat ini sudah tidak seperti dulu lagi. Yanto juga sudah tidak seleluasa dulu lagi bergerak, pergerakannya terhambat karena polisi terus mengincarnya.
" Aku punya solusinya, tapi apa kamu bisa melakukannya?."Tanya Yanto.
__ADS_1
" Cara apa?."Ibu Marni balik bertanya.
" Kamu bisa terlepas dari pekerjaanmu melayani para tamu. Tapi kamu harus bisa mengganti dengan pekerjaan yang lainnya, kamu harus mencari wanita pengganti kamu. Dengan kata lain kamu cari wanita-wanita yang mau bekerja seperti yang sudah kamu lakukan itu. Terserah kamu, mau wanita seumuran kamu ataupun wanita muda dan para gadis. Bagaimana? Apa kamu bisa?."Seru Yanto sambil memainkan matanya.
Ibu Marni mencoba memikirkan tawaran dari Yanto. Sebenarnya tawaran Yanto juga menguntungkan untuk ibu Marni, tapi ibu Marni masih ragu dan bingung menjalaninya. Apa lagi dia tidak mempunyai koneksi di luaran sana.
" Bagaimana Marni? Kamu masih tetap mendapatkan bagianmu tanpa kamu bersusah payah untuk melayani pelanggan. Kamu cari wanita sebanyak-banyaknya agar kita bisa meraup untung yang lebih banyak. Apa lagi lingkungan tempat kita tinggal ini strategis, kita bisa buka usaha cafe untuk mengalihkan perhatian warga. Cafe plus tempat yang bisa membuat para pelanggan balik lagi. Lagi pula bagunan samping itu kosong, bisa kita jadikan cafe."Ucap Yanto yang ternyata sudah punya rencana yang matang.
" Hemm.. Baiklah aku setuju, yang penting aku sudah bisa terbebas dari pekerjaan yang membuat tubuhku tidak berdaya itu. Dan yang penting aku masih tetap punya penghasilan, aku akan tunjukan kepada anak-anakku yang sombong itu jika aku juga bisa kaya tanpa bantuan mereka."Seru ibu Marni dengan senyuman sinisnya.
* Bagus, dasar bodoh !! Marni marni, meskipun kamu sudah tidak bekerja seperti dulu lagi tapi kali ini pekerjaan mu lebih beresiko. Aku tidak perduli, yang penting aku masih tetap bisa punya uang.*Gumam Yanto dalam hatinya.
Ibu Marni membawa kopernya ke dalam kamar, koper yang sempat di banting Yanto tadi ternyata masih utuh. Tidak ada yang rusak ataupun pecah, ibu Marni kembali menyusun pakaiannya ke dalam lemari.
" Semoga saja aku bisa menghasilkan banyak uang dan bisa beli rumah mewah, barang branded dan jalan-jalan keliling dunia. Memangnya hanya Ratu saja yang bisa punya uang banyak. Kalau ingat Ratu, apa kabar ya menantu durhaka ku itu? Bukannya dia punya anak kembar ?."Seru Ibu Marni teringat dengan pertemuan Ratu saat dia baru keluar dari rumah sakit beberapa bulan yang lalu.
Sementara itu di tempat lain, Agung berkunjung ke rumah Arya untuk bertemu dengan anak-anak Arya. Dia merasa tidak enak hati belum sempat menjenguk anak Arya dan Ratu, apa lagi dia juga teman dari Ratu.
" Kenapa datang tidak kasih kabar dulu, pak Agung? Pakai bawa-bawa barang begini?."Tanya Arya.
" Wahh.. kamu sudah mau menikah? Dengan wanita yang pernah kamu ceritakan dulu?."Tanya Arya ikut bahagia mendengar kabar rencana pernikahan Agung.
Agung menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dia merasa dengan Arya sudah seperti orang yang kenal lama, padahal kenal juga karena pekerjaan. Arya yang pandai menyesuaikan diri atau Agung yang memang nyaman dengan kebaikan Arya.
" Silahkan di minum pak"Ucap bik Siti meletakkan dua cangkir kopi dan kue di atas meja.
" Terima kasih bik."Jawab Arya dan Agung bersamaan.
" Ratu sama anak kembar kalian mana? Kok tidak kelihatan, padahal aku datang kesini itu mau melihat sikembar."Ucap Agung.
" Masih ada di kamar, sebentar lagi pasti keluar juga. Oh iya, kapan pernikahannya? Tidak ada rencana untuk mengundangku?."Tanya Arya sambil senyum-senyum sendiri.
" Masih 2 bulan lagi, baru juga kemarin lusa aku melamarnya. Nanti acaranya akan dilaksanakan di kampung calon istriku. Tapi akan tetap digelar pesta yang mewah."Ucap Agung masih saja dengan kesombongannya yang belum luntur secara sempurna.
Saat mereka sedang berbincang, Ratu dan Dinda datang dengan masing-masing menggendong Devan dan Revan. Melihat itu, Arya bangkit dan segera mengambil Revan dari gendongan mama mertuanya.
" Kalian ngobrol saja ya. Mama mau temani papa yang ada di teras belakang."Ucap Dinda tidak mau ikut bergabung.
__ADS_1
" Iya Ma."Jawab Ratu dan Arya bersamaan.
Dinda melangkah menuju teras belakang dimana suaminya berada.
Ratu duduk di samping Arya sambil memangku Devan. Melihat ada bayi, Agung teringat dengan Tegar anak Rani yang sebentar lagi akan menjadi anaknya juga.
" Boleh aku menggendongnya?."Tanya Agung meminta izin ingin menggendong salah satu dari Revan dan Devan.
" Boleh kak."Jawab Ratu dengan ramah.
Ratu memberikan Devan ke tangan Agung, Agung menerimanya dengan hati-hati. Usia sikembar tidak jauh beda dengan anak Rani, hanya selisih beberapa minggu lagi.
" Makanya nikah kak, biar cepat punya anak."Ucap Ratu sambil terkekeh.
" Sebentar lagi dia menikah sayang. Dan yang dia nikahi itu seorang janda dan sudah punya anak yang tidak jauh usianya dari Sikembar. Mau janda atau gadis sama saja kan dek, yang penting dia baik dan bisa menjadi istri yang baik juga."Ucap Arya memberitahu Ratu.
" Hemm.. Jangan-jangan wanita yang anaknya pernah kak Agung jenguk itu ya? Yang pernah ketemu aku di minimarket dan minta tolong untuk cari perlengkapan bayi? Selamat ya kak, jangan lupa nanti undang-undang kami ya."Ucap Ratu juga ikut senang saat tahu Agung sudah ingin menikah.
" Heheee... Iya kamu benar. Pasti kalian nanti aku undang."Jawab Agung nampak malu-malu.
Agung di rumah Arya sampai selesai makan siang, sebenarnya dia sudah ingin pulang dari tadi namun Arya dan Ratu melarangnya. Mereka akan menjamu Agung dengan mengajaknya makan siang lebih dulu dan Ratu juga mengenalkan kedua orang tuanya kepada Agung. Apa lagi orang tua Agung juga sama-sama pengusaha, pastinya mengenal kedua orang tua Ratu juga.
" Jadi nak Agung ini anaknya pak Tirta?."Tanya Satria disela makan siangnya.
" Benar Tuan."Jawab Agung agak sungkan sehingga memanggil Satria dengan panggilan Tuan.
" Kenapa jadi memanggil Tuan? Panggil saja pak atau Om, papa ku ini bukanlah Tuan besar."Seru Ratu memprotes Agung.
" Iya Ratu, aku panggil Om saja ya."Jawab Agung lebih memilih memanggil Satria dengan panggilan Om.
Heeemmm...
Ratu mengangguk menyetujui panggilan dari Agung. Acara makan siang berlanjut, mereka menikmati makanan dalam piringnya masing-masing. Selesai makan siang, Agung segera berpamitan pulang. Ada pekerjaan lain yang ingin segera dia kerjakan, tentunya berkaitan dengan hari pernikahannya dengan Rani.
" Kedua orang tua Ratu baik banget, mereka terlihat sederhana dan bersahaja. Meskipun orang kaya, penampilannya tidak berlebihan. Pantas saja dulu Ratu menyembunyikan statusnya, ternyata orang tuanya juga mengajarkan kesederhanaan."Ucap Agung bicara pada dirinya sendiri.
**********
__ADS_1