
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Serli dan Yusuf sendiri sudaj pulang dari Bali, untuk sementara mereka akan tinggal bersama pak Santo. Sebab Serli tidak mungkin untuk meninggalkan pak Santo di rumah itu sendirian, apa lagi dengan usia pak Santo yang sudah tidak muda lagi. Beruntungnya, Yusuf laki-laki yang baik sehingga dia sendiri juga tidak keberatan tinggal di rumah mertuanya.
Sementara itu, siang itu Serli mendapat pesan singkat dari Ibu Marni. Ibu Marni tetap saja memarahi Serli karena menikah tanpa meminta restu darinya lebih dulu. Serli mencoba mengabaikan pesan dari ibunya, dia tidak mau rumah tangganya ada bayang-bayang dari sang ibu yang sudah tidak memperdulikannya lagi.
[ Dasar anak durhaka kamu, Serli !! Menikah tanpa memberitahu ibu, aku ini masih ibu kandungmu. Meminta restuku pun tidak !! Apa begini caramu menghormati ibu mu? Sudah pulangkan dari Balinya? Temui ibu jika kamu masih mau di anggap anak!.]
Hhhuuuffff
Serli membuang nafas dengan kasar, untuk saat ini dia tidak mau menemui ibunya. Serli malu dengan kelakuan ibunya, apa lagi kabar kehamilan ibunya sudah tersebar. Banyak para tetangga yang membicarakan soal ibunya, terlebih hamilnya dengan mantan pacar Serli dan tanpa ada ikatan pernikahan. Usia nya juga terpaut cukup jauh, hal itu juga yang membuat Serli lebih memilih menjauh dari ibu nya.
" Maafkan Serli bu, bukan maksud Serli mau menjadi anak durhaka bu. Serli hanya mengikuti apa kata ibu saja, bukannya ibu sendiri yang sudah tidak mau menganggap Serli sebagai anak lagi?."Ucap Serli pada dirinya sendiri.
Serli melupakan pesan dari ibunya tadi dan tidak berniat untuk membalasnya. Justru dia memblokir kontak telepon ibunya, mungkin dengan tidak berkomunikasi akan lebih baik dan tidak membuat dirinya terus memikirkan kelakuan ibunya yang memalukan.
" Lebih baik aku mengantar makan siang untuk bapak dan mas Yusuf."Ucap Serli lalu menyiapkan makanan untuk pak Santo dan Yusuf.
Pak Santo dan Yusuf saat ini sudah membuka toko kembali. Toko juga saat ini memang sudah di serahkan kepada Serli, namun Serli masih tetap meminta pak Santo saja yang mengelolanya bersama Yusuf. Pak Santo tidak keberatan, dengan berdiam diri di rumah justru akan membuatnya capek dan badan mudah lelah. Sehingga tidak ada salahnya dia tetap membantu di toko.
Setelah makanan siap, Serli mengantarkan makanan ke toko dengan mengendarai motor. Makanan yang di bawa Serli hasil dari masakannya sendiri, meskipun tidak seenak masakan ibunya, Yusuf selalu memakan makanan yang di masak Serli dengan lahap.
Tidak menunggu lama, Serli sudah sampai di toko dan dia memarkirkan motornya di samping toko yang memang dijadikan tempat parkir.
" Assalamualaikum. Pak, Mas Yusuf makan sianh dulu."Seru Serli masuk ke toko.
__ADS_1
" Waalaikumsalam. Iya, sebentar lagi."Jawab Yusuf sambil memeriksa nota pembelian.
Pak Santo sendiri ada di belakang toko, dia sedang beristirahat dibawah balai-balai bambu yang diletakkan di bawah pohon. Serli berjalan kebelakang menghampiri pak Santo sembari membawa rantang makanan.
******
Sore hari sepulangnya dari kantor, Bima di sambut dengan senyum menawan dari sang istri tercintanya, Karina. Bima merasa ada yang aneh dengan Karina karena sore ini Karina nampak berbeda. Tidak seperti biasanya, bahkan Karina sudah menyiapkan makanan di atas meja.
" Sayang, kamu sudah memasak? Kok tidak menunggu ku sih? Biasanya untuk makan malam kita kan akan masak sama-sama. Ada apa ini? Kok kelihatannya lagi bahagia banget sih?."Tanya Bima dengan ekspressi wajah herannya.
" Iya dong, tadi aku sengaja memasak untuk menyambut suamiku pulang."Jawab Karina dengan senyuman sumringahnya.
" Tumben, ada apa ini ?."Tanya Bima dengan penasaran.
Karina mengajak Bima untuk duduk lebih dulu baru dia akan memberikan kejutan nya yang sesungguhnya. Bima hanya menurut saja dengan Karina, kini dia sudah duduk di kursi makan dan di depannya ada tudung kecil mungil yang menutupi sesuatu.
" Apa ini sayang?."Seru Bima menunjuk ke arah tudung kecil yang ada di hadapannya.
" Hadiah? Perasaan ulang tahunku masih 3 bulan lagi deh, kok sudah dikasih hadiah?."Ucap Bima lagi.
Bima penasaran dan dengan hati-hati dia membuka tudung kecil yang ada di hadapannya. Begitu terbuka, matanya terbelalak lebar saat mendapati ada foto USG dan tespek yang sudah bergaris dua. Bima mengambil kedua benda itu dengan haru.
" Kamu hamil sayang?."Tanya Bima lalu memeluk Karina, tanpa menunggu jawaban darinya lebih dulu.
" Iya mas."Jawab Karina cepat dan membalas pelukan Bima.
" Alhamdulillah. Terima kasih sayang , akhirnya aku akan menjadi seorang ayah."Seru Bima penuh rasa syukur.
Penantiannya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Dari pernikahannya yang pertama Bima sudah sangat mendambakan seorang anak di tengah-tengah rumah tangganya. Dan baru dipernikahan nya yang ke dua ini Allah memberikan kepercayaan.
******
__ADS_1
Seminggu berlalu, Arya menemani Ratu untuk cek kandungan. Hari perkiraan lahiran Ratu masih ada sekitar 3 minggu lagi, Ratu sendiri sampai sekarang Ratu dan Arya belum menyiapkan nama sama sekali.
Pemeriksaan nya kali ini, Ratu tetap saja bertemu dengan Rani. Jadwal pemeriksaan kandungan mereka memang sama, saat melihat Rani datang sendirian ada rasa kasihan dalam hati Ratu. Namun Ratu tidak mau Rani mengetahui jika dia kasihan dengan keadaan nya.
" Ratu, Arya. Apa aku boleh duduk di sini?."Seru Rani menunjuk bangku kosong di samping Ratu.
" Boleh mbak, silahkan."Jawab Ratu singkat.
Rani mengangguk lalu dia duduk di samping Ratu. Ratu sedikit heran dengan sikap Rani yang terlihat lebih baik dari biasanya. Bahkan dia meminta izin lebih dulu sebelum dia duduk di bangku sampingnya.
Arya juga berfikiran sama dengan Ratu, dia merasa ada yang aneh dengan perubahan sikap Rani. Mantan kakak iparnya itu nampak lebih ramah dan tidak barbar seperti hari biasanya saat mereka bertemu.
" Sudah berapa bulan?."Tanya Rani dengan pelan.
Meskipun pelan Ratu tahu jika pertanyaan itu di tujukan kepadanya.
" Sudah masuk 9 bulan mbak. Perkiraan sekitar 3 minggu lagi lahiran, mbak juga sama kan? Sepertinya usia kandungan kita ini sama, jadwal pemeriksaan kita juga sama."Ucap Ratu lalu tersenyum ramah.
" Iya kamu benar. Emm.. Ratu, Arya ! Maafkan aku ya, kalau dulu aku ini sudah jahat sama kalian terutama kamu, Ratu. Maaf kan semua kesalahan ku dimasalalu."Seru Rani sambil menangkupkan kedua tangannya di depan.
Ratu dan Arya saling beradu pandangan, mereka tidak menyangka jika Rani memberanikan diri meminta maaf di depan umum seperti ini. Terlebih saat ini memang ada di rumah sakit, dab ibu-ibu juga banyak yang menunggu antrian. Ratu dan Arya melihat sorot mata keseriusan dalam mata Rani.
" Jauh sebelum mbak Rani meminta maaf, aku sudah memaafkan mbak Rani."Jawab Ratu sambil menggenggam tangan Rani.
" Iya mbak, kami sudah memaafkan mbak Rani. Semoga setelah ini, hubungan kita semakin baik dan kita sama-sama perbaiki hubungan kekeluargaan yang sudah retak ini. Mbak Rani dulu pernah menjadi bagian dari keluarga ku, tidak ada salahnya kita tetap menjalin silahturahmi dengan baik."Jawab Arya bicara cukup bijaksana.
" Alhamdulillah, terima kasih Ratu Arya. Kalian memang orang yang baik. Hatimu seperti malaikat."Ucap Rani lalu dia memberanikan diri memeluk Ratu.
Cukup lama Ratu dan Rani berpelukan, dan akhirnya pelukan itu harus di lepaskan karena sekarang giliran Ratu yang masuk ke ruangan dokter.
Hati Rani sendiri sekarang sudah merasa lega sudah meminta maaf kepada Arya dan Ratu. Ternyata Arya dan Ratu memang berhati seperti malaikat, dengan begitu mudahnya dia memaafkan Rani tanpa ada syarat yang mereka ajukan. Rani semakin terharu dengan kebaikan mantan adik iparnya itu.
__ADS_1
************