Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Revan menghilang


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


Yanti sudah berada di cafe, dan bertemu dengan orang suruhannya. Dia berani membayar mahal orang itu asal dia berhasil menjalankan rencana Yanti dengan baik.


" Itu soal mudah, asalkan kamu setuju dengan bayaran yang aku tentukan."Ucap pria yang bernama Rembo.


" Berapa yang kamu mau?."Tanya Yanti dengan cepat.


Pria yang bernama Riko itupun tertawa, dia cukup senang bisa bekerja sama dengan Yanti. Sebab Yanti selalu berani membayarnya mahal.


" Aku mau bayaran 150 juta, dan sekarang aku mau setengahnya dulu. Sisanya kamu harus membayarkan saat tugasku selesai. Bagaimana? Gampangkan?."Seru Rembo tersenyum sinis sembari memindai tubuh Yanti dari atas sampai bawah membuat Yanti risih dengan tatapan mata Rembo.


Heeemmm...


Yanti hanya berdehem sembari menganggukkan kepalanya. Dia setuju begitu saja saat Rembo meminta bayaran 150 juta. Uang 150 juta baginya saat ini masih terlalu mudah, sehingga dia masih bisa sesumbar.


" Lakukan tugasmu dengan baik, dan jangan sampai gagal !!."Ucap Yanti tegas.


" Tenang saja semuanya akan berjalan dengan lancar. Hari ini juga aku akan melancarkan aksiku."Seru Rembo.


" Bagus, aku tunggu kabar baiknya."Seru Yanti.


Setelah urusannya dengan Rembo selesai, Yanti pun meninggalkan cafe. Dia memilih untuk pulang karena suaminya saat ini sedang dalam perjalanan pulang. Kantor Firman bekerja cukup jauh, namun itu lebih baik untuknya daripada bekerja di kantor mertuanya. Yang membuat dia tidak nyaman dan akan selalu merasa hutang budi terus menerus.


Sementara itu, Rembo dan dua anak buahnya mulai mengintai rumah Ratu. Dia memindai orang-orang yang keluar masuk dari rumah Arya. Rembo dan dua anak buahnya terlalu mudah bisa masuk ke komplek perumahan itu. Sehingga satpam komplek tidak menaruh curiga sedikitpun terhadap Rembo dan temannya.


" Boss sepertinya itu anaknya. Apa mau kita culik keduanya atau salah satu saja?."Tanya anak buah Rembo.


" Kita ambil satu saja, kalau 2 terlalu beresiko. Heemm sepertinya pengasuhnya mau membawa anak-anak itu keluar, kita ikuti mereka."Jawab Rembo lalu meminta anak buahnya untuk menjalankan mobil kembali.


Pengasuh Revan dan Devan saat ini sedang membawa keduanya jalan-jalan sore ke taman yang ada di depan komplek. Lia sang pengasuh mendorong kereta bayi Devan, sedangkan Ratu mendorong kereta Revan. Ratu memang hanya mempunyai 1 pengasuh saja sebab dia juga masih tetap ikut mengurus anak-anaknya. Tidak sepenuhnya diurus oleh pengasuh.

__ADS_1


" Bu, tumben taman masih sepi. Biasanya jam segini sudah ramai para ibu-ibu ataupun Art membawa anak-anak bermain di sini. Apa mungkin karena bukan weekend ya bu jadi sepi."Seru Lia sembari terus mendorong kereta Devan mencari tempat untuk mereka duduk.


" Mungkin kita yang kecepatan datang, Lia. Masih jam setengah 5 juga ini. Itu sudah ada beberapa anak yang main bola, aku jadi tidak sabar ingin melihat Revan dan Devan tumbuh besar lalu main bola seperti itu."Ucap Ratu sembari memperhatikan anak Balita yang sedang bermain bola dengan temannya.


Ratu dan Lia duduk di kursi taman yang ada di bawah pohon. Revan dan Devan pun diturunkan dari kereta nya. Mereka berdua bermain dengan mainan bola-bola kecil yang sengaja dibawa daro rumah oleh Lia.


" Lia, awasi anak-anak ya jangan sampai mereka ke jalan, saya bantu awasi dari sini. Ehh itu mbak Rani, tahu begitu tadi kita berangkat bareng."Seru Ratu menunjuk kearah Rani yang sedang berjalan menuju taman.


" Iya bu."Jawab Lia singkat.


Anak-anak komplek yang lainnya pun mulai berdatangan. Dan sudah mulai bergabung bermain dengan sikembar. Melihat situasi taman yang sudah mulai ramai, membuat Rembo tersenyum senang. Sebab dia akan semakin mudah menyelinap untuk mengambil salah satu dari sikembar.


" Boss, sepertinya sudah bisa kita beraksi. Lihatlah anak kembar itu sedang bermain dengan anak-anak yang lain. Pengasuhnya bisa kita kecoh."Ucap anak buah Rembo.


" Kamu benar, kalian turunlah dan salah satu dari kalian pura-pura bertanya alamat atau apa sama pengasuh anak itu. Dan kamu ambil anak itu, ingat jangan sampai salah. Ambil anak yang berbaju merah saja, cepat turun mumpung ibu sianak itu sedang asik mengobrol sama temannya."Seru Rembo.


Jek dan Jon pun turun dari mobil, tampang mereka sama sekali tidak sangar. Sehingga tidak ada yang curiga jika mereka adalah orang jahat.


" Emm.. Mbak maaf mengganggu, saya mau numpang bertanya. Saya lagi cari alamat rumah teman saya, mbak tahu jalan Daun nomor 89 tidak?."Seru Jon bertanya kepada Lia.


Jon pun melirik Jek, terlihat Jek yang sudah berhasil menggendong Revan dengan menutup mulut Revan agar tidak menangis. Tidak ada orang dewasa yang tahu, mereka sibuk dengan obrolannya masing-masing. Hanya anak-anak saja yang tahu namun mereka tidak paham. Mereka mengira jika orang itu hanya mengajak Revan bermain saja.


Setelah melihat keadaan sudah aman dan Jek sudah berhasil membawa Revan masuk ke mobil, Jon pun pura-pura pamit hendak bertanya kepada Satpam.


" Oh begitu, kalau begitu terima kasih ya Mbak atas infonya. Biar saya tanyakan sama satpam komplek saja. Sekali lagi maaf sudah mengganggu waktunya, permisi."Seru Joni masih pura-pura ramah.


" Iya mas, tidak apa-apa."Jawab Lia sembari mengangguk.


Jon buru-buru menuju mobil dan masuk mobil setelah itu Rembo tancap gas meninggalkan taman.


" Loh Revan mana?."Seru Lia mencari keberadaan Revan.


Lia mencari Revan dengan memindai sekeliling taman, namun Revan tetap tidak ada. Lia juga melihat ke arah Ratu duduk, di sana juga tidak ada Revan. Lia semakin panik, takut sesuatu terjadi dengan Revan.


" Revan mana dek?."Tanya Lia kepada anak yang berusia 5 tahun yang tadi bermain dengan Revan dan Devan.


" Cana, tadi cama om macuk mobil, cus."Jawab anak itu dengan bahasa yang bisa dipahami Lia.

__ADS_1


Deegghhh


J4ntung Lia serasa berhenti berdetak, tentunya dia kaget dan takut. Siapa orang yang sudah membawa Revan pergi. Lia pun menggendong Devan lalu menghampiri Ratu.


" Loh mbak kok cuma Devan, Revan mana?."Tanya Ratu sembari melihat ke sekelilingnya.


" Maaf bu, Revan tidak ada."Jawab Lia ketakutan.


" Apa?."Seru Rati berteriak dengan lantang sampai menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di taman.


Lia menangis sembari menundukkan kepalanya. Dia merasa sangat bersalah sudah ceroboh saat mengawasi Revan dan Devan bermain. Sehingga menyebabkan Revan dibawa seseorang. Dia pun baru ingat jika tadi ada orang yang menanyakan alamat, dan dia yakin pasti itu sengaja untuk mengalihkan perhatiannya.


" Maaf bu, maafkan saya. Saya mengaku bersalah karena sudah ceroboh. Tadi ada orang menanyakan alamat sama saya, mungkin saat itu orang itu sengaja mengalihkan perhatian saya."Ucap Lia sembari menangis.


" Kamu ini bagaimana, Lia? Apa kamu tidak memperhatikan mereka saat bermain? Ya Allah, bagaimana ini mbak? Revan ada dimana?."Tanya Ratu secara beruntun.


" Kamu yang tenang, jangan panik begini. Kita cari Revan, siapa tahu Revan masih ada di sekitaran sini. Kita bisa minta tolong pak Satpam untuk mengecek CCTV taman."Seru Rani mencoba menenangkan Ratu.


Kabar hilangnya Revan pun sudah terdengar oleh orang-orang yang ada di taman. Mereka pun ikut membubarkan diri, takut anaknya ikut di culik juga. Ratu , Rani dan Lia kini sudah berada di post satpam untuk melihat CCTV. Sebelumnya Ratu juga sudah menghubungi Arya, Arya yang masih dalam perjalanan pulang pun memacu kendaraannya dengan cepat.


" Lihat ini bu, ada dua orang yang turun dari mobil. Satu menghampiri mbak Lia dan yang satu mendekati anak ibu. Sepertinya mereka sengaja mengecoh mbak Lia."Ucap pak Satpam menunjuk ke arah layar monitor.


" Jadi Revan diculik?."Seru Ratu dengan nada bergetar.


" Kemungkinan besar anak ibu Ratu memang menjadi korban penculikan."Ucap pak Satpam membuat Ratu semakin syok.


Tubuh Ratu lemas, kaki Ratu pun seakan tidak mempunyai tenaga lagi. Ratu menjatuh kan tubuhnya di lantai sembari menangis sesunggukan. Di sini dia tidak sepenuhnya menyalahkan Lia, sebab dia sebagai orang tua juga tidak mengawasi anaknya dengan benar. Sibuk dengan urusannya sendiri.


" Ratu, lebih baik sekarang kita pulang dulu. Tunggu Arya di rumah dan nanti kita cari solusinya, kita harus lapor polisi."Ucap Rani mengajak Ratu pulang.


" Mbak, Revan diculik. Anakku diculik mbak, kasihan Revan mbak. Pasti dia sekarang menangis dan ketakutan. Revan kamu di mana sayang."Ucap Ratu menangis sesunggukan.


Lia membawa Devan pulang lebih dulu, dia pun menangisi keteledorannya. Gara-gara dia Revan diculik.


" Revan, kamu di mana? Maafkan mbak Lia, Revan."Seru Lia terus menyalahkan dirinya sendiri.


***************

__ADS_1


__ADS_2