
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Keesokan harinya, Ratu tidak pergi ke butik, dia memilih beristirahat di rumah saja sembari menyiapkan apa saja yang nanti akan dia bawa ke kampung halaman. Tentunya Ratu pun dibantu oleh sang mama tercinta, Dinda.
Mama Ratu juga akan ikut berkunjung ke kampung halaman. Meskipun dia sudah sering kesana tetap saja dia juga merindukan kedua orang tuanya.
" Jadi nanti Serli, Bima dan Istrinya mau ikutan juga ke rumah kakek kamu?."Tanya Dinda sambil membantu Ratu memasukan pakaian ke koper.
" Iya Ma, mereka ingin tahu kampung halaman mama. Ratu juga sudah mengabari kakek dan nenek kalau ipar Ratu mau pada ikut. Ratu senang ma bisa pergi bersama-sama para ipar, kesannya kita akur dan rukun."Ucap Ratu terlihat senang.
Selama ini Ratu memang belum pernah yang namanya pergi ataupun jalan-jalan bareng bersama para iparnya. Hubungan Ratu dengan Serli dulu tidak seakrab ini, sama Rani pun dulu seperti musuh saja. Jadi tidak mungkin jika mereka akan pergi ataupun jalan-jalan bersama.
" Mama senang melihat hubungan baikmu dengan para ipar mu. Sekarang bagaimana kabar mantan ibu mertua kamu itu, dia tinggal dimana? Tidak mengacau rumah tangga anak-anaknya kan?."Tanya Dinda menanyakan keadaan mantan besannya.
" Kalau ibu sekarang tinggal sama mbak Rani, Ma. Dia tadinya mau ikut tinggal di rumah mas Bima, tapi mas Bima tidak mau karena ibu saja tidak setuju dengan pernikahan mas Bima dan mbak Karina. Kalau dia ikut tinggal disana yang ada rumah tangga mas Bima yang akan menjadi taruhannya. Ibu di kontrakkan sendiri pun dia tidak mau, lebih memilih tinggal dengan mantan menantunya."Seru Ratu bercerita tentang ibu mertuanya.
Heeemmm...
Dinda hanya berdehem sembari mengangguk-anggukan kepalanya. Sudah tidak bisa berkomentar lagi jika membicarakan mantan ibu mertua anaknya itu. Dinda hanya bersyukur, ibu Marni tidak merecoki rumah tangga anaknya lagi. Seandainya ibu Marni masih saja seperti dulu , tentunya dia akan menjadi garda tedepan untuk melindungi anaknya.
Ada sedikit rasa penyesalan, kenapa dulu Dinda meminta Arya untuk membebaskan ibu Marni. Seharusnya di penjara saja yang lama, sehingga kejadian fitnah itu tidak akan terjadi.
" Setelah kejadian fitnah itu, apa Rani pernah menemui kamu di luar rumah?."Tanya Dinda memastikan.
" Tidak ma, sepertinya dia sudah takut untuk kembali membuat masalah dengan ku. Sebenarnya mbak Rani itu orang yang baik loh Ma, hanya karena dulu dia selalu dinomor satukan dan dimanja sama ibu mertua makanya dia dulu sering cari-cari masalah sama Ratu. Sayangnya ibu Marni sama mbak Rani itu melebihi sayang sama anak-anaknya sendiri. Jika mbak Rani salah selalu di benarkan dan dibela, dan hal itu yang membuat mbak Rani merasa di nomor satukan dan akhirnya muncullah yang namanya penyakit hati."Ucap Ratu bicara banyak soal Rani.
Sebelum Ratu menikah dengan Arya, dan pertama kali Arya mengajaknya ke rumah orang tuanya untuk dikenalkan keluarganya. Rani masih bersikap biasa saja, dia menyapa dan mengajak ngobrol Ratu dengan ramah. Namun setelah 2 kali Arya mengajak Ratu ke rumahnya, sikap Rani mulai berubah. Rani terlihat sinis dan tidak ramah lagi.
" Ma, kalau Ratu lahiran di kampung bagaimana?."Tanya Ratu meminta persetujuan mamanya.
" Kamu jangan tanya mama sayang, tanyakan sama suami kamu. Tapi kalau menurut mama lebih baik jangan di kampung deh, kasihan suami kamu kalau harus bolak balik kampung ke kota. Kalau mama kasih saran sih jangan, bukan mama tidak percaya dengan Arya. Yang namanya suami kalau hidup berjauhan dengan istrinya itu banyak resikonya. Apa lagi kamu baru melahirkan seperti itu, jangan sampai suami kamu di embat sama wanita penggoda."Seru Dinda menolak Ratu lahiran di kampung.
__ADS_1
" Idih... Amit-amit, jangan sampai mas Arya seperti itu Ma."Seru Ratu bergerdik ngeri.
Sebagai seorang mama yang sudah lebih lama menjalani biduk rumah tangga tentunya Dinda tahu bagaimana yang baik untuk rumah tangga anaknya. Bukan dia tidak percaya dengan anak menantunya, tapi siapa yang bisa menjamin jika mereka LDR tidak akan ada wanita penggoda yang masuk dalam kehidupan Arya. Sebelum hal itu terjadi, lebih baik mencegah lebih dulu.
" Kamu istirahat saja sana. Ini juga sudah selesai, istirahat yang cukup agar nanti saat di jalan tidak kelelahan."Seru Dinda meminta Ratu untuk istirahat.
" Iya, ini Ratu juga sudah ngantuk dan lelah."Seru Ratu.
" Ya sudah, mama juga mau ke kamar mama dulu. Mau telepon ayang mbeb mama dulu, heheee."Seru Dinda sambil terkekeh.
" Ciee.. Baru juga tiga hari ditinggal pulang, kok sudah kangen aja sih."Seru Ratu menggoda mamanya.
Meskipun sudah berumur, Dinda dan Satria tetap romantis. Mereka menjaga komunikasi dengan baik dan saling percaya satu sama lain. Itulah kunci keharmonisan mereka, sehingga sampai usia pernikahan 28 tahun tetap harmonis.
Ratu kagum dengan mama dan papanya, yang mana dia tidak pernah melihat orang tuanya bertengkar ataupun saling melempar kata-kata kasar. Dia menjadikan papa dan mamanya sebagai panutan. Ratu juga tahu bagaimana perjalanan awal rumah tangga papa dan mamanya dulu. Dulu papanya yang direndahkan oleh keluarga mamanya, dan berbanding dengan Ratu. Justru Ratu yang di rendahkan oleh keluarga suaminya sendiri.
*******
Serli datang ke rumah Rani untuk menemui ibu Marni. Sebagai seorang anak tentunya dia punya rasa kangen dengan ibunya. Serli juga akan memberikan sedikit uang untuk pegangan ibunya. Beruntung saat Serli datang, Yanto sedang tidak ada di rumah. Padahal Serli sudah menyiapkan dirinya jika dia bertemu dengan Yanto, apapun itu akan Serli hadapi.
" Serli ? Emm.. Mma,,mau apa kamu datang ke rumah ku?."Tanya Rani terbata-bata.
" Kenapa mbak? Takut ya kalau aku datang membawa polisi? Tenang saja mbak, aku datang tidak membawa polisi. Aku kesini untuk bertemu dengan ibu ku,mbak."Seru Serli dengan tersenyum kecut.
" Maksud kamu apa? Aku takut, takut kenapa?."Tanya Rani masih terlihat gugup.
" Sudahlah mbak, jangan berpura-pura bodoh. Aku sudah tahu jika mbak yang sudah mencelakai ku dengan 4ir keras kan? Jangan mengelak mbak, aku tidak akan melaporkan mbak ke polisi. Sebab aku kasihan, wanita hamil seperti mbak harus mendekam di penjara. Lebih tepatnya aku kasihan dengan anak dalam kandunganmu itu mbak. Akan tetapi aku yakin, jika Allah pasti sudah menyiapkan balasan yang setimpal untukmu mbak."Seru Serli menatap sinis Rani.
Deegghh
Rani tertegun dengan penuturan Serli, ternyata Serli sudah tahu jika dialah pelaku yang sudah mencelakai Serli. Namun Serli tidak melaporkannya ke polisi, Rani merasa jika Serli mulai berubah.
Mendengar ada orang yang sedang berdebat didepan, ibu Marni pun mencari tahu ada apa didepan sana.
" Serli ? Kamu kok datang kesini, ada apa?."Tanya ibu Marni seakan tidak suka melihat kedatangan Serli.
" Ibu apa kabar?."Seru Serli sambil meraih tangan ibu Marni untuk menyalaminya.
__ADS_1
Ibu Marni membiarkan Serli mencium tangannya. Yang penting Serli tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Namun tiba-tiba Ibu Marni teringat jika Serli dulu pernah menjalin hubungan dengan Yanto. Sehingga ibu Marni pun mulai takut, takut jika Yanto pulang dan melihat keberadaan Serli. Jika Yanto tahu Serli adalah anak ibu Marni, dia takut Yanto akan meninggalkannya dan mesin uangnya akan hilang.
" Kabar ibu baik. Sudah kan? Sudah tahu kabar ibu, lebih baik sekarang kamu pulang dan jangan pernah datang ke rumah ini lagi. Kamu jangan mengganggu hidup ibu lagi."Seru ibu Marni mengusir Serli.
" Bu, aku ini baru datang kok main di usir saja? Apa ibu tidak kangen dengan, Serli. Oh iya, apa Serli boleh masuk? Kita ngobrol di dalam ya bu."Seru Serli mencoba berbesar hati menghadapi ibu Marni.
" Tidak boleh !!."Seru ibu Marni dan Rani secara bersamaan.
" Kamu tahu kan ini rumahnya Rani, Rani juga tidak membolehkan kamu untuk masuk rumahnya. Cepat pergi sebelum Yanto pulang! Kalau Yanto tahu ada kamu di sini, nanti dia bisa marah sama Rani. Dia itu sudah jijik sama kamu, wajah kamu itu mengerikan."Seru ibu Marni dengan tega menghina darah dagingnya sendiri
Padahal wajah Serli tidak semengerikan itu, hati Serli sakit di perlakukan seperti itu oleh ibu kandungnya sendiri. Padahal dia datang untuk melepas rasa rindunya, namun penghinaan dari ibu kandungnya yang dia dapatkan. Serli menginginkan hubungan dengan ibunya bisa seperti dulu lagi, namun sepertinya itu hanya angan-angan Serli saja. Semenjak wajah Serli rusak, ibu Marni sudah mengabaikannya dan tidak perduli dengannya.
" Tega ibu bicara seperti itu sama Serli? Sebenarnya yang anak ibu itu Serli atau mbak Rani? Bu, Serli itu datang kesini karena Serli kangen sama ibu dan Serli juga ada sedikit rezeki untuk ibu. Apa salah Serli bu? Sehingga ibu bersikap seperti ini, apa ibu lupa jika Serli ini darah daging ibu?"Seru Serli sambil menangis.
" Salahnya kamu itu sekarang menjijikan dan tidak bisa aku banggakan lagi. Aku tidak sudi menerima uang recehan dari kamu !! Uang ku sudah banyak, hidupku pun di sini terjamin dengan baik. Sudah sana pergi dan jangan pernah datang lagi."Seru Ibu Marni dengan tega mengusir Serli.
" Heeh.. Bu, kok tidak mau sih dikasih uang? Kan lumayan untuk membeli keperluan ibu, agar tidak menggunakan uang ku terus. Lagian ibu dapat uang darimana kok bilang uang ibu banyak?."Tanya Rani menatap curiga ibu Marni.
Ibu Marni seakan terjebak dengan perkataan dia sendiri. Dia mencoba mencari alasan yang tepat agar Rani tidak mencurigainya, bisa gawat kalau Rani tahu dia dapat duit dari hasil m3ngoy4ng Yanto.
Hiikss Hiikks Hiikss
Serli menangis sesunggukan, bahkan kini mereka masih tetap berada di depan pintu dan sama-sama berdiri depan pintu. Ibu Marni menjadikan Serli sebagai alasan agar tidak menjawab pertanyaan Rani tadi.
" Sudah jangan menangis disini kamu Serli. Rani, lebih baik kamu usir saja itu Serli, kalau Yanto melihat keberadaannya pasti akan jadi masalah. Kamu tidak mau kan kalau Yanto kembali tergoda sama dia."Ucap Ibu Marni menggunakan kesempatan dengan baik.
" Ibu benar, kalau dia terus disini nanti Yanto pulang bisa gawat. Serli, sana pergi kamu dari rumah ku dan jangan pernah datang ke sini lagi. Kamu tenang saja, ibumu di sini hidupnya itu terjamin dan tidak bakal kekurangan. Cepat Pergi !!!."Teriak Rani dengan lantang mengusir keberadaan Serli.
" Bu, jika suatu hari nanti terjadi sesuatu dengan ibu dan ibu membutuhkan pertolongan. Jangan pernah ibu datang mencari anak-anak mu, Bu. Anggap saja kami ini bukan siapa-siapa ibu, bagi Serli ibu itu sudah mati !!."Seru Serli dengan air mata terus mengalir.
Jjddeerrr
Hati ibu Marni terasa sesak, kata-kata Serli tadi seakan menghujam tubuhnya. Meskipun begitu, dia tetap mencoba untuk tidak perduli dengan Serli. Dengan tidak berhubungan dengan anak-anaknya, menurutnya itu akan menjadi lebih baik.
" Permisi."Seru Serli melangkah meninggalkan rumah Rani.
" Jangan pernah kembali kesini lagi !!."Teriak ibu Marni dengan suara lantang.
__ADS_1
Tidak dapat di pungkiri jika hatinya saat ini juga terasa sakit. Apa yang dia ucapkan seakan berbanding terbalik dengan isi hatinya saat ini. Rani tersenyum senang sudah berhasil mengusir Serli, yang membuatnya lebih senang adalah ibu Marni lebih memilih nya daripada darah dagingnya sendiri.
***********