Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Hamil diusia tidak lagi muda


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


Sudah 4 hari Ratu dan yang lainnya berada di kampung dan siang ini akan kembali ke kota lagi. Sebenarnya Ratu masih ingin tinggal lebih lama di kampung, akan tetapi pekerjaan suaminya yang tidak bisa di tinggal terlalu lama. Ratu juga teringat nasehat dari mamanya, jika tidak baik meninggalkan suami nya di kota khawatir ada perempuan yang akan memanfaatkan keadaan tersebut.


Mama Ratu untuk sementara tinggal dulu di kampung, mengingat saat ini kondisi kesehatan Ayahnya, alias kakek Karim sedang kurang baik. Dia akan kembali ke kota saat Ratu sudah mendekati lahiran saja, dan Ratu pun tidak mempermasalahkan hal itu.


Setelah makan siang, Ratu dan rombongan berangkat pulang. Seperti saat berangkat, Serli naik mobil bersama Bima dan Karina dan Ratu hanya berdua saja dengan Arya. Bima sendiri sampai sekarang belum menanyakan soal Serli yang murung saat berangkat waktu itu. Karena dia tidak mau merusak mood Serli saat liburan di kampung.


" Kamu tidak kangen sama ibu, Ser?."Tanya Bima mulai membuka pertanyaan.


" Tidak."Jawab Serli dengan singkat dan cepat.


" Kenapa?."Tanya Bima sambil mengerutkan keningnya tanda keheranannya.


Padahal setahunya, Serli dekat dengan ibu Marni dan dia juga anak yang di manja oleh ibu Marni. Terlebih Serli anak yang dia bangga-banggakan, anak wanita satu-satunya. Bima mengira jika ibu Marni sudah bisa menerima keadaan Serli yang sekarang.


" Jangan bahas wanita itu lagi mas. Aku tidak mau membahas dia, aku sudah menganggap dia mati !."Seru Serli mulai terlihat kesal.


Deeghhh


Secara spontan Bima langsung menghentikan laju mobilnya. Dia benar-benar kaget dengan yang di ucapkan Serli, bukan hanya Bima saja yang kaget akan tetapi Karina juga kaget. Kenapa Serli bisa bicara seperti itu, sudah pasti ada sebab dan akibatnya.


" Serli kenapa kamu bicara seperti itu?."Tanya Bima tidak suka Serli bicara kasar seperti tadi.


" Ada apa Serli? Kenapa kamu bisa sampai bicara seperti itu? Apa yang membuat kamu sampai seperti ini?."Seru Karina sambil mengusap lengan Serli.


Kebetulan Karina memang duduk di bangku belakang bersama Serli. Karina dan Bima ingin tahu alasan Serli yang menganggap ibunya sudah mati.


" Ibu sudah bukan ibu ku lagi mas, mbak. Dia sudah tidak menyayangiku, saat ini yang ada di fikirannya hanya mbak Rani. Dia sama sekali tidak menghiraukan aku, bahkan cacian dan hinaan dari ibu sangat menyakitkanku lagi. Dan ibu sendiri yang memang sudah tidak mengakui aku lagi. Tolong jangan bahas soal ibu lagi mas, please."Seru Serli sembari mengatubkan kedua tangannya.


Ada yang aneh dengan Serli, dia sama sekali tidak mengeluarkan air matanya. Sedih memang sedih, tapi tidak ada air mata nya yang keluar. Bima dan Karina terdiam, mungkin Serli memang perlu waktu untuk bisa menguasai emosinya.


Bima kembali melajukan mobilnya, mobil Arya dan Ratu sudah jauh tidak terlihat. Sementara ini Bima akan diam saja, namun jika waktunya sudah tepat dia akan menemui ibunya dan membicarakan masalah Serli dan ibunya. Seburuk-buruk nya seorang ibu dan anak, tidak sewajarnya jika saling membenci.


Mobil yang di kendarai Bima terus melaju membelah jalanan, menyusul mobil Arya yang sudah berada jauh di depan sana.


" Mas, kok mobil mas Bima tidak kelihatan?."Tanya Ratu sambil melihat kearah belakang untuk melihat mobil Bima.


" Iya juga ya dek. Mungkin mas Bima mampir mini market dulu untuk membeli sesuatu, makanya mobilnya tidak kelihatan. Coba kamu chatt mbak Karina atau Serli."Seru Arya.


Heeemmm...


Seru Ratu lalu mengambil ponselnya dan membuka aplikasi hijau untuk menghubungi Karina.


[ Mbak, kalian berhenti ya? Kok mobil kalian tidak terlihat?] Tulis Ratu dan segera dia kirim ke Karina.


Tidak berselang lama, Karina juga membalas pesannya.


[ Iya tadi berhenti sebentar, ini sudah jalan lagi kok. ] Balas Karina.

__ADS_1


[ Oh ya sudah, tapi aman kan?]


[ Aman, sudah tenang saja.]


Ratu tidak membalas lagi pesan Karina, dia kembali menyimpan ponselnya dalam tas kecil yang selalu dia bawa saat bepergian.


" Iya mas, tadi mereka berhenti dulu tapi tidak tahu berhenti dimana dan karena apa."Ucap Ratu memberitahu.


" Oh ya sudah."Jawab Arya sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah dua jam perjalanan, mobil Arya dan Bima sudah sampai di kediaman masing-masing. Serli masih ikut pulang ke rumah kontrakan Bima, dia ingin beristirahat dulu baru dia akan pulang ke rumah pak Santo.


" Istirahatlah di kamar tamu, nanti kalau mau pulang biar di antar mas Bima."Seru Karina meminta Serli untuk istirahat lebih dulu.


" Iya mbak, terima kasih. Serli masuk kamar dulu ya mbak."Seru Serli lalu masuk ke kamar tamu yang sudah di tunjukkan Karina.


" Iya, istirahatlah."Seru Karina.


Meskipun belum lama mengenal Serli, Karina sudah menyayangi Serli sebagai adiknya sendiri. Karina sudah tahu masalalu Serli, dia tetap menyayangi Serli tanpa memandang masalalunya.


*****


Merasa tubuhnya sudah beberapa hari ini merasa tidak enak, Ibu Marni memutuskan untuk ke rumah sakit. Dia ingin memeriksakannya, dia ke rumah sakit tanpa di temani Rani. Dia beralasan, jika dia ingin bertemu dengan temannya sehingga tidak mengajak Rani.


" Usia ibu Marni berapa?."Tanya dokter ingin tahu.


" Sudah 60 tahun dok, memang nya ada apa ya dok? Kenapa tanya umur saya segala."Tanya ibu Marni balik.


Dokter hanya tersenyum saja, lalu dia melanjutkan memeriksa ibu Marni. Setelah selesai memeriksa ibu Marni, dokter meminta ibu Marni untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya.


" Ibu Marni di usia 60 tahun masih produktif juga ya. Berarti suami ibu juga masih tokcer, sama-sama tokcer."Seru dokter semakin membuat ibu Marni penasaran.


" Haahhh.. Maksud dokter ini bagaimana sih? Kenapa bawa-bawa suami saya segala? Memangnya ada apa dengan saya? Jangan buat sayapenasaran dokter."Seru Ibu Marni dengan pertanyaannya yang beruntun.


" Selamat ya bu, saat ini ibu sedang hamil. Usia kandungan ibu baru 3 minggu. Baru kali ini saya menangani wanita hamil yang sudah berusia 60 tahu. Ibu dan suami ibu benar-benar reproduksinya bagus dan subur."Seru dokter memberikan selamat.


Jjddeeerrrr....


Bagaikan disambar petir di siang bolong, wajah ibu Marni seketika memanas. Kabar kehamilan yang disampaikan dokter benar-benar membuatnya syok. Bagaimana dia bisa hamil ? Dan bagaimana dia akan memberitahu Yanto jika saat ini dia sedang hamil. Dan bagaimana jika Rani mengetahui kehamilannya?


Kepala ibu Marni rasanya berputar-putar, dia pusing dengan kehamilannya. Terlebih saat ini usianya sudah lanjut usia, tidak muda lagi. Bagaimana dia akan menjalani kesehariannya dengan kehamilan yang tidak dia inginkan.


" Saya hamil? Dokter serius? Bagaimana bisa saya hamil di usia yang sudah lanjut?."Seru ibu Marni seakan tidak percaya jika dia sedang hamil.


" Ibu memang sedang hamil. Semua ini kuasa dari Allah, tidak ada yang tidak mungkin bu. Saya sarankan, ibu perbanyak istirahat dan minum vitamin yang saya resepkan ini serta makan-makanan yang bergizi. Jangan terlalu capek, karena kondisi usia ibu yang memang sudah lanjut. Jika terlalu capek bisa membahayakan janinnya."Seru dokter menasehati ibu Marni.


Ibu Marni sama sekali tidak bahagia dengan kabar kehamilannya. Kehamilan yang sama sekali tidak dia harapkan.


" Tapi saya sudah tua dokter."Seru ibu Marni lagi.


" Iya bu. Yang penting ibu selalu jaga kesehatan saja ya."Seru dokter.


Sudah tidak banyak pertanyaan lagi, ibu Marni pun segera keluar dari ruangan dokter. Saat ini yang ada difikirannya hanya bagaimana cara dia memberitahu Yanto dan Yanto mau bertanggung jawab dengan kehamilannya itu.


* Bagaimana jika Yanto tidak mau bertanggung jawab? Sedangkan Rani hamil saja dia abaikan, tidak dia nikahi. Aku tidak mau hamil tanpa suami. Bagaimana ini?.*Gumam Ibu Marni dalam hatinya.

__ADS_1


" Sayang."Seru Yanto tiba-tiba datang mengagetkan ibu Marni.


Ibu Marni tadi memang memberitahu Yanto jika dia hendak pergi ke rumah sakit. Dan Yanto berjanji akan menjemputnya.


" Yanto, kamu menjemputku?."Seru ibu Marni.


" Iya dong sayang, bukannya aku memang sudah berjanji akan menjemputmu. Kalau begitu mari kita pulang, eh kita makan siang dulu ya."Seru Yanto meraih tangan ibu Marni dan membawanya masuk ke mobil.


Kini Ibu Marni dan Yanto sudah berada dalam mobil. Ibu Marni duduk di samping Yanto, wajahnya nampak kebingungan. Dia akan memberitahu Yanto, jika saat ini dia sedang hamil.


" Bagaimana hasil pemeriksaannya ? Kamu sakit apa sayang? Tidak ada yang membahayakan kan?." Tanya Yanto sebelum dia menghidupkan mesin mobilnya.


" Aku hamil."Jawab Ibu Marni singkat.


Yanto tidak jadi menghidupkan mesin mobilnya, secara tiba-tiba dia langsung memandang wajah ibu Marni dengan lekat.


" Kamu serius? Kamu sudah berumur, sayang. Kenapa bisa hamil? Berarti aku dan kamu ini kesuburannya bagus."Seru Yanto dengan heran.


" Apa kamu marah dengan kehamilanku ini? Apa kamu tidak mau bertanggung jawab?."Tanya Ibu Marni.


" Kita bicarakan nanti ya sayang. Emm.. Sekarang kita pergi dulu dari parkiran rumah sakit ini. Kita cari tempat makan yang nyaman untuk tempat kita bicara."Seru Yanto sambil memegang kedua pipi Ibu Marni lalu m3ncium sekilas b!b!r ibu Marni.


Ibu Marni nampak malu-malu kucing saat Yanto memperlakukannya dengan lembut. Dia hanya bisa menganggukkan kepalanya saja. Yanto melajukan mobil meninggalkan parkiran rumah sakit menuju salah satu restoran yang sudah sering dia datangi.


Hanya butuh waktu 10 menit saja mobil yang dikendarai Yanto sudah sampai di restoran mewah yang menjadi pilihan Yanto. Yanto membawa ibu Marni menuju private room, sepanjang jalan menuju private room Yanto menggandeng tangan ibu Marni tanpa dia lepaskan. Pengunjung restoran yang melihat mereka pasti mengira jika mereka itu ibu dan anak.


" Duduklah sayang dan biar aku yang pilih menu untuk mu. Menu yang cocok untuk ibu hamil sepertimu."Seru Yanto tetap memperlakukan Ibu Marni dengan baik dan lembut.


" Iya sayang."Jawab Ibu Marni dengan pelan.


Yanto memesankan makanan yang banyak untuk ibu Marni. Dia mau ibu Marni makan yang banyak agar tenaganya kuat. Sudah beberapa hari ini ibu Marni tidak memberikan pelayanan full untuk Yanto dikarenakan dia tidak cukup tenaga.


" Bagaimana jika Rani tahu aku hamil anak kamu, sayang?."Tanya ibu Marni mulai membuka pembicaraan yang serius.


" Soal itu jangan kamu fikirkan. Nanti aku akan meminta Rani pindah dari rumah itu dan aku akan mencarikan dia kontrakan saja. Jadi kamu dan aku yang akan tinggal di rumah itu."Seru Yanto seenaknya saja tanpa memikirkan perasaan Rani.


" Aku tidak mau jika kamu mengusir Rani dari rumah itu. Tidak !! Jangan sampai kamu mengusi Rani dan mempertahankan Aku di rumah itu. Biar aku saja yang tinggal di rumah kontrakan dan kamu bisa datang kapanpun saat kamu mau dan aku minta kamu yang mencukupi semua kebutuhanku. Lantas apa kamu tidak mau menikahiku?."Seru ibu Marni lagi.


Dari zaman dulu Yanto memang tidak mau terikat dengan yang namanya pernikahan. Dia belum menikah, dia punya banyak uang dan bisa menghidupi wanita manapun tanpa harus menikahinya. Saat ini dia memang sedang tergila-gila dengan ibu Marni, namun tetap dia belum mau menikah.


" Soal pernikahan aku tidak bisa. Kamu tidak perlu khawatir, meskipun aku tidak menikahimu, kamu akan tetap menjadi nomor satu. Aku akan sering bersama kamu dan menghabiskan waktu dengan mu. Soal uang kamu tidak perlu takut, aku akan memberikan kamu uang belanja seminggu sekali. Seminggu 20 juta cukup tidak?."Tanya Yanto menjanjikan uang belanja yang besar untuk ibu Marni.


Siapapun pasti akan tergiur dengan uang belanja seminggu sekali 20 juta. Begitupun ibu Marni, dia sudah pasti menerima penawaran dari Yanto tadi. Kapan lagi dia dapat uang 20 juta seminggu kalau bukan dari si Yanto.


" Baiklah, tapi aku mau secepatnya pindah dari rumah yang di tempati Rani. Aku mau rumah yang sama-sama besar, aku juga mau ada pembantu. Karena aku tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, apalagi aku sedang hamil begini."Seru Ibu Marni bersikap manja dengan Yanto.


" Iya Marni sayang. Setelah makan, kita langsung cari rumah untuk kamu. Bila perlu yang jauh dari rumah yang sekarang agar Rani tidak curiga. Hemm sebenarnya Rani tahu juga tidak nasalah, hanya saja memang kamu yang tidak mau Rani tahu hubungan kita ini kan?."Seru Yanto sembari membelai pipi ibu Marni.


Pelayan yang mengantarkan makanan pun datang, dua pelayan itu merasa risih melihat kedekatan ibu Marni dan Yanto yang tidak lazim. Tadinya dua pelayan itu mengira jika Yanto dan ibu Marni adalah ibu dan anak. Ternyata mereka salah, Yanto dan ibu Marni sepasang kekasih yang usianya terpaut cukup jauh.


Saat ini ibu Marni berusia 60 tahun dan Yanto 32 tahun. Jarak usia yang sangat jauh, jarak 28 tahun tidak menjadi penghalang bagi sepasang kekasih berbeda usia itu.


Ibu Marni dan Yanto pun makan siang bersama, sesekali mereka saling suap-suapan. Ibu Marni benar-benar sedang di mabuk cintanya Yanto. Yanto juga tetap memperlakukan ibu Marni dengan manis, sehingga ibu Marni merasa nyaman berada di dekat Yanto.


************

__ADS_1


__ADS_2