Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Pesan baju pengantin


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


Ibu Marni sudah mulai menjalankan pekerjaan barunya, dia banyak menarik para wanita-wanita muda yang membutuhkan uang cepat. Untuk sementara dia hanya menerima pesanan dari pelanggan, dan akan mengirim wanita ke tempat pelanggan yang sudah di sepakati.


Yanto cukup pu4s dengan cara kerja ibu Marni, dalam semalam ibu Marni bisa mengirim 4 sampai 5 wanita. Dengan begitu Yanto tinggal bersantai di rumah dan menerima pembayaran yang lumayan besar.


" Kapan mau bikin cafe di rumah ? Biar keuntungan kita 2 kali lipat dan para pelanggan pun tidak perlu sewa tempat lagi. Rumah ini kamar ada 4 dan bangunan samping juga kosong."Ucap ibu Marni menagih janji Yanto yang akan membuat usaha cafe plus plus.


" Sabar dulu , semua itu perlu proses dan butuh biaya juga. Jangan terburu-buru, aku sudah memikirkan semuanya, Marni. Kamu benar, jika kita buka cafe plus keuntungan kita akan lebih banyak. Mungkin bulan depan kita akan memulainya."Jawab Yanto sambil menghitung uang lembaran merah yang ada di atas meja.


" Terserah kamu saja, Yanto. Aku mau istirahat, dan bangunkan aku jam 5 sore. Ada pelanggan yang meminta gadis bersegel dan aku sudah menemukannya, tapi aku harus mengantarkannya ke hotel."Ucap ibu Marni.


" Kamu tarif berapa?."Tanya Yanto dengan mata berbinar.


" Pelanggan menawar 100 juta, tapi aku minta 50 juta. Wanita itu butuh uang 50 juta untuk membayar hutang, jadi kita dapat bagian 100 juta. Kenapa? Apa masih kurang?."Tanya Ibu Marni lagi.


" Kerja bagus, istirahatlah."Seru Yanto kembali sibuk menghitung uang yang ada di atas meja.


Ibu Marni melangkah meninggalkan Yanto. Dia masuk kamar untuk beristirahat, pekerjaan barunya sudah memberikannya kemudahan. Tidak perlu capek-capek melayani pelanggan dia sudah bisa mendapatkan uang yang banyak. Akan tetapi ibu Marni tidak tahu jika resiko besar pasti akan dia hadapi.


Ibu Marni mengambil perhiasan milik Yanto yang pernah dia curi. Ibu Marni kini sudah bisa keluar rumah, jadi dia akan menjual perhiasan itu agar aman. Saat Yanto menanyakannya dia akan bilang tidak tahu, dan Yanto tidak akan tahu kalau perhiasan itu sudah dijual.


" Aku harus cepat menjual perhiasan ini. Jangan sampai Yanto ingat perhiasan ini dan perhiasan masih ada padaku. Aku harus menjualnya untuk menghilangkan jejak."Ucap ibu Marni menggenggam perhiasan yang dia curi.


Sementara itu, di ruang tengah Yanto sudah selesai menghitung uang-uangnya. Dia menghubungi seseorang untuk segera membereskan bangunan samping rumahnya untuk dijadikan cafe plus-plus.


[ Aku mau dalam seminggu semuanya beres.] Ucap Yanto.


[ Siap, kamu terima beres. Yang penting bayarannya jangan lupa ditransfer setengahnya dulu.]

__ADS_1


[ Itu bisa di atur.]


[ Ok, aku tunggu transferannya]


Klik


Yanto mematikan sambungan teleponnya dan membuka aplikasi bank onlinenya. Dan mengirimkan sejumlah uang untuk bayaran orang suruhannya.


" Enak juga hidup seperti ini. Tinggal duduk manis uang terus mengalir dan tidak perlu kucing-kucingan dengan polisi lagi. Marni memang bisa diandalkan. Bisnisku jalan, bisnis Marni juga jalan. Hahahaaa... "Seru Yanto tertawa dengan lepas.


*****


[ Assalamualaikum, Ratu. Maaf jika aku menggangu waktumu.] Ucap Rani menyapa Ratu.


Untuk pertama kalinya, semenjak Rani pindah ke kampung dia menghubungi Ratu. Rani ada perlu dengan Ratu, soal baju pengantin yang akan dia kenakan. Rani mau memesan baju pengantin di butik Ratu yang memang sudah terkenal kualitasnya.


[ Waalaikumsalam, mbak Rani apa kabar? Mbak Rani sama sekali tidak mengganggu kok. Ini sikembar juga baru saja pada tidur.] Ucap Ratu menyapa Rani dengan baik.


[ Anak kamu kembar? Waahh selamat ya, pasti lucu-lucu. Aku juga sudah melahirkan, sekarang sudah berusia 2 bulan setengah.]


Ratu merasa ada sesuatu yang penting yang ingin Rani sampaikan sampai Rani menyempatkan diri menghubunginya. Semenjak Rani meminta maaf, Ratu memang belum pernah bertemu dengan Rani lagi.


[ Emm.. Aku mau pesan baju kebaya pengantin sama baju pengantin untuk pestanya.]


Haahhh...


Baju pengantin? Ratu kaget saat Rani memesan dua baju pengantin. Untuk siapa kira-kira baju pengantin itu. Daripada Ratu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, lebih baik dia bertanya langsung sama Rani.


[ Mbak Rani mau menikah?] Tanya Ratu.


[ Iya Ran, dan aku mau kebaya saat akad dan baju untuk pesta pesan sama kamu. Apa kamu bisa?].


[ Untuk kapan mbak? Kok mendadak begini sih?.]


[ Masih sekitar 1 bulan lagi Ratu, bagaimana apa bisa?]

__ADS_1


[ Insya Allah kalau 1 bulan bisa mbak. Mbak bisa langsung ke butik untuk melakukan pengukuran. Nanti contoh-contoh kebaya dan bajunya aku kirim fotonya.]


[ Mbak terima jadi saja bisa kan , Ratu. Ukuran badan kita sama kok, standar saja. Soalnya aku kan punya bayi dan tidak mungkin aku tinggal ke kota. Kalaupun di bawa, pasti juga kasihan.]


[ Ohh begitu. Nanti mbak Rani kirim ukurannya saja bisa kan? Kalau pakai ukuranku takutnya tidak sesuai.]


[ Itu juga ide yang bagus. Baiklah nanti aku ukur dulu, terima kasih ya Ratu. Assalamualaikum.]


[ Sama-sama mbak, waalaikumsalam.]


Sambungan telepon pun terputus, Ratu segera mengirim contoh-contoh kebaya dan baju pengantin kepada Rani. Kebetulan Ratu banyak desain baru, meskipun hanya di rumah saja Ratu masih menyempatkan diri untuk mendisain kebaya dan baju pengantin. Sebab dia masih punya kerja sama dengan beberapa wedding organizer.


" Mbak Rani mau menikah? Hemm.. Sepertinya suami mbak Rani kali ini bukan orang sembarangan. Karena mbak Rani langsung pesan 2 baju sekigus, yang mana harganya sudah tentu tidaklah murah."Ucap Ratu pada dirinya sendiri.


Tringgg


[ Untuk kebayanya aku mau yang model ini saja Ratu, dan warnanya putih polos. Dan untuk baju untuk resepsinya yang ini saja, warnanya hijau sage.]


Rani mengirimkan foto baju pilihannya, dan ada sedikit tambahan yang Rani minta. Ratu pun menyetujui permintaan Rani, ternyata selera Rani bagus juga. Tidak salah jika dulu dia pernah bekerja di butiknya selama 3 tahun.


Tanpa Ratu tahu, jika yang akan menjadi suami Rani adalah Agung. Agung sendiri sudah memesan baju pengantin juga dari butiknya. Agung sengaja tidak mengajak Rani pesan secara bersama, karena dia ingin membebaskan Rani dengan pilihannya sendiri. Yang terpenting warna dan corak baju mereka senada.


" Kok pesanan mbak Rani ini ada kemiripan dengan pesanan baju nya kak Agung ya. Dia juga kemarin minta begini begitu, meskipun baju laki begitu-gitu saja sih. Tapi dia bilang jika istrinya akan memakai kebaya putih polos dan resepsi warna hijau sage. Atau jangan-jangan calon istri kak Agung itu mbak Rani, aku harus tanyakan sama kak Agung atau mbak Rani. Aku sangat penasaran."Ucap Ratu bicara pada dirinya sendiri.


Dinda menghampiri Ratu sambil membawa dua cangkir teh panas dan brownis kukus yang masih panas.


" Ngeteh dulu yuk, mumpung Devan sama Revan masih tidur."Seru Dinda meletakkan teh dan brownis di atas meja.


" Terima kasih mama. Oh mama bikin brownis ya, pantas saja sedari tadi baunya harum banget. Ternyata oh ternyata mama bikin brownis, mama tahu saja sih kalau anak perempuan mama ini sudah lama tidak makan brownis."Ucap Ratu langsung mengambil satu potong brownis yang masih panas.


" Masih panas, jangan asal masuk mulut saja Ratu."Ucap Dinda mengingatkan.


" Iya ma."Jawab Ratu dengan cepat.


Ratu menceritakan kepada mamanya, jika Rani tadi menghubunginya untuk memesan baju pengantin. Dinda ikut senang dengan kabar rencana pernikah Rani, meskipun Rani pernah melakukan kesalahan, Dinda sama sekali tidak membenci Rani.

__ADS_1


************


__ADS_2