
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Yanto dan ibu Marni masih saja ada di dapur. Yanto menikmati kopi buatan ibu Marni sembari terus memperhatikan ibu Marni dengan berimajinasi yang tidak-tidak. Yanto melirik pintu kamarnya, belum ada tanda-tanda Rani bangun dari tidurnya.
Yanto berdiri dan berjalan mendekati ibu Marni yang sedang menggoreng nasi. Tiba-tiba Yanto menepuk punggung ibu Marni sampai ibu Marni berjikrak kaget.
" Ada apa nak Yanto?."Tanya ibu Marni dengan kaget dan tidak berfikir yang macam-macam.
Yanto kini sudah berdiri tepat dihadapan ibu Marni, mata mereka saling memandang dan tanpa rasa malu Yanto melingkarkan kedua tangannya di pinggang ibu Marni.
" Ibu masih cantik dan kulitnya pun masih mulus dan kencang. Pastinya sering perawatan ya ?."Seru Yanto dengan tangan tetap melingkar.
Ibu Marni nampak kurang nyaman dengan perlakuan Yanto. Dia mencoba melepaskan tangan Yanto dari pinggangnya namun bukan nya Yanto melepaskan tangannya, justru Yanto semakin erat melingkarkan tangannya. Sehinggi kini tubuh mereka bersentuhan, nampak dengan jelas tatapan mata Yanto seperti orang yang hendak menerkam mangsanya. Dan ibu Marni juga bisa merasakan sesuatu milik Yanto sudah mengeras sempurna.
* Kenapa Yanto jadi begini sih, sepertinya dia sedang mengiginkan sesuatu. Kenapa dia tidak masuk kamar dan memintanya langsung sama Rani. Oh iya, bukannya Yanto ini dulu juga pacaran sama Serli? Hemm.. Iya aku baru ingat Bima pernah bercerita kalau Serli pacaran sama calon suami Rani. Pasti Yanto ini yang dimaksud Bima, huuhh.. Kenapa tidak sama Serli saja sih. Kalau dia menikah sama Serli sudah pasti aku juga bakal kecipratan, si Rani saja banyak dikasig uang. Sepertinya Yanto ini orangnya royal.*Gumam ibu Marni dalam hatinya.
" Tolong jangan begini ya, Yan. Tidak baik seperti ini, apa lagi kalau Rani melihatnya. Nanti dia bisa salah paham."Ucap ibu Marni dengan d4d4 berdebar-debar.
" Jangan sampai Rani tahu. Kalaupun Rani tahu tidak masalah, sebab aku dan Rani tidak ada hubungan apa-apa. Dulunya hanya sebatas saling membutuhkan saja, saya butuh tubuh Rani dan Rani butuh uang saya karena dia tidak tahan hidup dengan mantan suaminya yang miskin itu. Sekarang ini hanya karena anak yang di kandung Rani saja, makanya saya masih mengizinkan dia tinggal di rumah ini."Ucap Yanto dengan nafas yang semakin memburu karena dia sedang menahan sesuatu.
" Emm... Tapi ini tidak pantas Yanto."Seru ibu Marni tetap mencoba melepaskan tangan Santo.
" Aku menginginkan main denganmu. Tenang saja, setelah main aku akan memberikan kamu uang 5 juta. Bagaimana?."Seru Yanto mengiming-imingi imbalan uang 5 juta.
__ADS_1
Haahhh...? Uang 5 juta? Siapa yang tidak mau jika dikasih uang 5 juta hanya untuk menemani main di atas ranjang. Ibu Marni mencoba berfikir namun Yanto sepertinya sudah tidak sabar lagi sehingga dia segera mematikan kompor dan langsung menggendong ibu Marni menuju kamar tempat ibu Marni tidur.
Brruukkk
Sedikit kasar Yanto melemparkan ibu Marni di atas kasur. Ibu Marni mengaduh kesakitan tetapi Yanto seperti tidak perduli. Yanto cepat naik ke atas ranjang dan langsung ingin memulai permainannya.
" Tunggu, pintunya kunci dulu. Aku tidak mau Rani tahu jika kita sedang melakukannya. Pokoknya aku tidak mau jika Rani tahu soal ini "Seru ibu Marni.
Ciihhh...
Dengan malas Yanto turun dari ranjang dan mengunci pintu kamar sesuai dengan petmintaan ibu Marni.
" Sudah kan? Mau apa lagi? Sudah tua saja banyak permintaan, lagian aku ini akan memberimu uang 5 juta. Jika kamu tidak mau, kamu juga akan aku usir dari rumah ku ini."Seru Yanto dengan kesal dia mengancam ibu Marni.
" Aku taku Rani tahu. Nanti dia bisa marah dan hubunganku dengan Rani akan rusak, Yanto."Seru ibu Marni nampak bimbang antara iya atau tidak. Jika dia menolak uang 5 juta gagal dia miliki dan tentunya dia akan di usir dari rumah itu dan akan tinggal di rumah kontrakan kecil.
" Ahhh....Akhirnya aku bisa bermain dengan wanita yang sudah berumur. Dan ini adalah pengalaman pertamaku bermain dengan nenek-nenek. Hemmm... Hemmm...."Seru Yanto terus meracau dengan tubuhnya yang tetap bekerja memompa ban di bawahnya.
Ibu Marni saat ini cukup menikmati apa yang dilakukan oleh Yanto. Dia mulai merasakan sesuatu yang selama ini dia inginkan dari pak Santo. Sudah lama dia menginginkannya namun pak Santo tidak memberikannya, hampir 5 bulan Ibu Marni tidak mendapatkannya. Dari sebelum dia di penjara pak Santo memang sudah tidak menyentuhnya.
" Aoowwh.. Emmhh Yanto, ini sangat nikm4t sekali. "Seru ibu Marni tanpa dia sadari sudah meracau menikmati permainan Yanto.
" Kamu menikmatinya?."Tanya Yanto dengan senyum sumringah.
Sebuah tantangan tersendiri bagi Yanto bisa bermain dengan wanita paruh baya. Ternyata ibu Marni tidak kaku seperti yang dia fikirkan, ibu Marni bisa mengimbangi permainannya.
" Hee eemm. Aku sangat menikmati ini Yanto. Terus, semakin cepat Yanto. "Seru ibu Marni semakin meracau menikm4ti permainan Yanto.
Des4h4n mereka berdua saling bersahut-sahutan, mereka sudah melupakan perempuan yang tidur di kamar sampingnya. Rani jika tidur seperti orang yang m4ti, dia tidak akan bangun sebelum dia benar-benar sudah ingin bangun dari tidurnya.
__ADS_1
Sudah 1 jam pasangan beda usia itu bermain, akhirnya mereka menyudahi permainannya karena Yanto sudah kelaparan. Yanto cukup menikmati permainan ibu Marni dan begitupun sebaliknya.
" Kamu pandai juga bermain, padahal kamu sudah tua."Seru Yanto sambil mengusap pipi ibu Marni.
" Biarpun aku sudah berumur, selama ini aku merawat tubuhku dan asetku agar suamiku bisa pu4s dan betah. Tapi justru suamiku menceraikan aku, emm kamu janji ya jangan memberitahu Rani apa yang sudah terjadi pagi ini dengan kita."Seru ibu Marni lagi.
" Iya itu soal mudah. Ini yang pertama kali buat kita, tapi nanti pasti masih ada permainan berikutnya lagi. Aku pasti akan memakaimu lagi, karena ternyata milikmu masih sangat legit dan menggigit, Marni sayang."Seru Yanto dengan memainkan alisnya.
Ibu Marni nampak malu-malu kucing saat Yanto memanggilnya dengan panggilan Marni sayang. Seakan kembali lagi jiwa mudanya, sepertinya dia juga tidak akan menolak ajakan Yanto untuk hari-hari berikutnya.
Yanto keluar dari kamar lebih dulu, lalu dia menuju dapur untuk sarapan. Ayam goreng sudah terhidang di atas meja, sedangkan nasi gorengnya masih ada di atas kompor di dalam wajan. Yanto mengambil piring dan mengisinya dengan nasi goreng yang tadi di masak ibu Marni. Meskipun rasanya kurang enak, tetap Yanto makan karena dia sangat lapar.
Cekleekkk
Pintu kamar Rani terbuka, dan keluarlah Rani dengan penampilan yang sudah rapi. Sepertinya Rani sudah mandi karena tercium bau parfum yang semerbak.
" Tumben ada nasi goreng? Apa ibu Marni yang memasak? Mana dia sekarang?."Tanya Rani secara beruntun.
" Mana aku tahu. Mungkin ada di kamarnya, baguslah kalau dia mau memasak jadi tidak cuma mau menumpang saja."Jawab Yanto berbohong.
Sudah pasti saat ini ibu Marni masih kelelahan karena tadi selama 1 jam lamanya sudah dia garap lebih dulu.
" Kamu kok keringatan seperti itu? Mana tidak pakai baju?."Tanya Rani merasa heran dengan Yanto pagi-pagi sudah berkeringat. Dan tumben dia juga sudah bangun, biasanya jika sedang di rumah Yanto akan bangun jam 9 atau jam 10 pagi. Ini jam setengah 8 Yanto sudah bangun dan sarapan.
" Habis joging."Jawab Yanto.
Rani tidak percaya dengan jawaban Yanto, namun dia tidak mau dibuat pusing. Lagi pula dia memang sudah tidak peduli dengan Yanto, yang dia pedulikan saat ini hanya uang nya saja demi menyambung hidupnya. Yanto bermain dengan para wanita bahkan di depan mata Rani langsung bukanlah hal yang mengagetkan lagi. Tapi jika Rani tahu kalau ibu Marni juga menjadi salah satu wanitanya Yanto, kira-kira apa yang akan terjadi.
***************
__ADS_1