Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Rani tahu semuanya


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


" Apa? Ibu mau pindah? Mau pindah kemana bu?."Seru Rani kaget saat tahu ibu Marni hendak pindah.


Yanto sudah menemukan rumah yang cocok untuk ibu Marni dan tentunya rumah itu jauh dari Rani. Akan semakin aman jika mereka tinggal terpisah dan berjauhan.


" Ibu sudah dapat rumah kontrakan dan pekerjaan jadi lebih baik ibu tinggal di rumah yang dekat dengan tempat kerja ibu."Seru ibu Marni beralasan.


" Tapi bu..."


" Biarkan saja dia pindah Ran."Seru Yanto ikut berkomentar sehingga Rani langsung terdiam.


Rani tidak banyak bertanya lagi, sebab Yanto sendiri sudah mengeluarkan ultimatume nya. Di rumah ini tetap Yanto yang berkuasa, dia berhak menentukan siapa saja yang tinggal di rumahnya. Apa lagi ibu Marni bukan siapa-siapa nya, sudah pasti dia merasa tidak enak dengan Yanto jika terus menumpang.


* Padahal aku masih ingin menyelidiki ibu dan Yanto, aku curiga mereka ada hubungan yang lebih intens. Apa mungkin ibu Marni tidak enak dengan Yanto kalau terus-terusan tinggal disini?.*Gumam Rani dalam hatinya.


Ibu Marni saat ini sedang duduk di sofa dan bersebelahan dengan Rani. Sedangkan Yanto duduk di sofa yang ada di seberang mereka. Ibu Marni meletakkan tasnya di antara dia dan Rani, mata Rani melihat ada sebuah amplop yang menyumbul dari dalam tas ibu Marni. Karena penasaran, tanpa meminta izin Rani pun mengambil amplop itu.


" Amplop dari rumah sakit? Punya siapa ini bu? Ibu sakit apa?."Tanya Rani secara beruntun.


Haahhhh


Wajah ibu Marni langsung pucat pasi saat melihat amplop hasil pemeriksaan dari rumah sakit ada di tangan Rani. Begitupun dengan Yanto, tapi dia tidak begitu takut. Jikapun Rani tahu tentang kehamilan ibu Marni itu tidak menjadi masalah untuknya.


" Kenapa tangan kamu lancang Rani !! Kembalikan amplop itu !!."Teriak ibu Marni dengan marah.


Rani semakin yakin jika ada sesuatu yang ibu Marni sembunyikan. Dengan cepat dia membuka amplop itu dan membacanya, betapa terkejutnya dia saat membaca isi amplop itu yang ternyata ibu Marni saat ini sedang hamil.


Rani memandang ibu Marni dan Yanto secara bergantian. Yanto nampak cuek, namun ibu Marni terlihat jelas jika dia ketakutan sehingga dia mengalihkannya dengan memarahi Rani.


" Kurangajar kamu, Rani !!."Seru ibu Marni marah.


" Hamil ? Kamu hamil bu? Dengan siapa? Apa ibu hamil dengan teman kencanmu yang setiap malam bertempur dengan mu itu bu? Tapi tunggu dulu, kenapa kalian ini tadi bisa pulang bersama? Atau jangan-jangan kalian tadi ke rumah sakit bersama, dan anak dalam kandungan ibu ini anak Yanto?."Seru Rani ot4knya langsung bekerja dengan baik.


" Kamu benar. Anak yang di kandung Marni ku sayang adalah anakku? Kenapa? Kamu mau protes? Kamu mau marah? Kamu tidak berhak mengatur hidupku Rani, siapapun wanita yang akan bermain denganku itu adalah pilihanku sendiri."Seru Yanto dengan mata menatap tajam Rani.


Rani menggelengkan kepalanya, dia tidak habis fikir dengan Ibu Mari. Begitu teganya dia menusuknya dari belakang, padahal Rani sudah berbaik hati untuk menerima dia tinggal bersamanya.


" Bu, tega kamu bu. Apa ibu tidak sadar diri? Umur ibu ini sudah tua bu, sudah 60 tahun seharusnya ibu itu tobat dan perbanyak ibadah. Bukannya main sama laki-laki yang lebih muda seperti ini. Kalau pun mau bermain sama pria, kenapa harus Yanto bu? Apa tidak ada pria lain bu?."Seru Rani dengan geram dia memarahi ibu Marni.


Pintar sekali Rani menasehati ibu Marni untuk tobat dan perbanyak ibadah. Padahal sampai sekarang dirinya juga masih melakukan dosa. Akan tetapi apa yang dikatakan Rani ada benarnya juga, jika pun ibu Marni mau dengan pria tidak semestinya Yanto yang dia ambil.


" Maaf Ran, ibu khilaf. Sekarang aku juga sudah hamil, jadi mau bagaimana lagi kita ini tetap hamil anaknya Yanto. Makanya ibu minta tinggal terpisah saja, agar terhindar keributan diantara kita."Seru ibu Marni bicara dengan seenaknya saja.

__ADS_1


" Dasar p3l4cur tua !!."Seru Rani dengan marah.


Ppllaakk


Ppllaakk


Tangan Yanto langsung memberikan dua hadiah di pipi Rani. Dua buah tamparan berhasil membungkam mulut Rani yang tadi sudah menghina ibu Marni. Yanto tidak terima ibu Marni di hina oleh Rani, meskipun Yanto tidak mau menikahi ibu Marni tapi dia peduli dengan wanita tua itu. Jika di suruh memilih antara Rani dan ibu Marni, pasti Yanto akan lebih memilih ibu Marni.


" Jangan pernah menghina Marni ku, Rani. Jika kamu masih berulah, aku akan mengusir mu dari rumah ini dan aku akan stop uang bulanan kamu. Camkan itu !!."Seru Yanto dengan tegas.


Yanto bangkit dan menarik tangan ibu Marni, mereka berjalan menuju kamar yang di tempati ibu Marni. Ibu Marni hanya menundukkan kepalanya saja, dia tidak berani menatap wajah Rani dan Yanto. Rani menatap sinis kepergian Yanto dan ibu Marni, dia tidak boleh gegabah. Jika dia mengikuti egonya, itu akan merugikan dirinya sendiri.


Setelah cukup lama ibu Marni dan Yanto di dalam kamar, mereka akhirnya keluar dengan membawa satu koper yang berisi pakaian dan barang-barang ibu Marni.


" Ibu pamit Ran. Kamu jaga kesehatan ya, nanti ibu pasti akan main-main kesini."Seru Ibu Marni berpamitan.


" Tadi bilangnya pindah karena sudah bekerja, nyatanya pindah karena hamil dengan pria ku juga."Seru Rani dengan sinis.


" Tutup mulutmu Rani !! Asal kamu tahu ya, aku lebih memilih Marni daripada kamu ! Kalau bukan anak dalam kandunganmu itu, aku sudah melemparmu kejalanan !!."Seru Yanto tegas.


Setelah bicara seperti itu, Yanto membawa keluar koper ibu Marni lebih dulu. Sementara itu ibu Marni masih tetap berdiri di depan Rani. Tidak tahu kenapa tiba-tiba dia merasa bangga dan bahagia saat Yanto membelanya di depan Rani. Secara terang-terangan Yanto mengungkapkan jika dia lebih memilih dirinya daripada Rani.


" Kamu sudah mendengarnya sendirikan jika Yanto itu lebih memilihku daripada kamu. Jadi kamu jangan main-main, aku bisa saja meminta Yanto untuk melemparmu ke jalanan kapan saja. Tapi aku masih punya belas kasihan, dulu aku memang sangat menyayangimu melebihi anakku sendiri tapi sekarang rasa sayang itu mulai hilang. Kita bersaing secara sehat untuk mendapatkan hati Yanto, makanya goyangan kamu itu lebih yahut dong masa iya kalah sama yang sudah tua."Seru ibu Marni dengan sengaja mengejek Rani.


" Tua b4ngk4 tidak tahu diri !! Lihat saja aku akan memberitahu anak-anak mu bagaimana kelakuan ibunya selama hidup numpang."Seru Rani geram.


" Sayang ayok cepat."Seru Yanto memanggil ibu Marni dari luar.


Ibu Marni tersenyum sinis sambil melambaikan tangannya ke arah Rani. Kehidupan memang berputar, dulu mereka saling menyayangi kini mereka saling berlomba-lomba untuk mendapatkan hati dan perhatian laki-laki yang sama.


******


Jam makan siang, Ratu datang ke kantor dengan membawakan makan siang Arya. Dia datang tanpa memberitahu Arya, sebenarnya dia tadi tidak ada rencana untuk datang ke kantor. Namun saat di cafe tiba-tiba dia ingin makan siang bareng Arya, sehingga dia membeli makanan dan di bungkus.


" Pak Arya nya ada?."Tanya Ratu dengan sopan kepada sekretaris Arya.


" Eh bu Ratu. Emm.. Pak Arya ada kok bu, tapi masih ada tamu. Ibu mau menunggu di sini apa mau masuk? Masuk saja tidak apa-apa bu, mungkin juga pembahasan kerja samanya sudah selesai. Soalnya ini juga sudah jam makan siang."Seru sekretaris Arya dengan ramah dan sopan.


" Tamunya laki-laki apa perempuan?."Tanya Ratu penuh selidik.


" Laki-laki bu, beliau dari PT Agung Anugerah."Jawab sekretaris Arya dengan santun.


Hhhuuuhhh


Ratu tadi sudah mengira jika tamu Arya perempuan sehingga Arya dan tamunya betah berada di dalam sana. Jika tamunya seorang pria, Ratu memilih menunggu di ruangan sekretaris Arya saja. Siapa tahu Arya dan tamunya memang masih membicarakan masalah yang serius dan Ratu tidak mau mengganggunya.


" Saya tunggu di sini saja. Kamu kok belum makan siang, apa belum lapar?."Tanya Ratu.


" Emm.. Iya bu. Nanti saya makan , saya bawa bekal makan siang dari rumah kok bu."Jawabnya dengan senyum sungkan.

__ADS_1


Pintu ruangan Arya terbuka, nampak Arya dan seorang pria berjabat tangan lebih dulu sebelum pria itu meninggalkan ruangan Arya.


" Senang bekerja sama dengan anda, kalau begitu saya permisi."Ucap sang tamu.


" Iya pak, semoga kerja sama kita ini berjalan dengan lancar."Jawab Arya dengan menyambut uluran tangan tamunya.


Ratu memperhatikan tamu Arya, dia merasa tidak asing dengan pria itu dan dia merasa sudah pernah bertemu dengan pria tersebut. Ratu mencoba mengingat-ingatnya lebih dulu.


* Bukannya itu kak Agung? Kak Agung kakak kelas ku dulu? Kenapa aku bisa lupa, bukannya orang tuanya memang pemilik PT Agung Anugerah. Jadi yang bekerja sama dengan mas Arya itu kak Agung kakak kelas ku saat SMA dulu.*Gumam Ratu dalam hatinya.


Agung pun pergi meninggalkan ruangan Arya, saat Arya hendak masuk ke ruanganya Ratu langsung memanggilnya.


" Mas Arya."Seru Ratu memanggil Arya.


" Dek, kamu disini? Sejak kapan?."Tanta Arya heran.


" Sudah sekitar 15 menit yang lalu mas, aku menunggu di ruangan sekretaris mu. Tadi masih ada tamu, jadi aku tidak enak kalau asal masuk saja. Nanti mengganggu pembicaraan kalian, oh iya mas. Itu tadi Agung anak dari pemilik PT Agung Anugerah kan? Kalau tidak salah dia itu namanya, Agung Sanjaya."Seru Ratu yang ternyata masih ingat dengan nama panjang Agung.


Arya mengerutkan keningnya, darimana istrinya tahu soal kliennya barusan. Bahkan nama panjangnya pun Ratu tahu.


" Kamu kenal sama klien mas tadi dek?."Tanya Arya.


" Kenal, dia itu dulu kakak kelasku saat masih SMA mas. Dia itu dulu banyak di sukai para cewek-cewek, mungkin karena dia tampan dan tajir ya makanya digandrungi banyak cewek."Seru Ratu membuat Arya kesal.


" Ingat perut sudah besar, jangan memuji laki-laki lain."Seru Arya nampak kesal.


Arya masuk ruangannya lebih dulu, dia kesal karena Ratu memuji pria lain di hadapannya langsung. Padahal Ratu hanya sedikit bercerita saja, kenapa justru Arya ngambek. Apakah Arya sedang cemburu? Selama ini belum pernahkan baca part Arya yang cemburu.


" Mas Arya cemburu ya?."Seru Ratu justru menggoda suaminya.


" Tidak, siapa yang cemburu."Jawab Arya cepat.


" Yakin tidak cemburu. Lihat tuh hidungnya mekar seperti itu, pasti sedang cemburu. Hayo mengaku saja mas."Seru Ratu lagi.


" Memangnya tidak boleh cemburu dengan istri sendiri? Mas tidak suka ya kalau kamu mumuji atau membanggakan laki-laki lain seperti tadi. Mana bicara langsung didepan mas lagi. "Seru Arya akhirnya mengaku jika dia memang cemburu.


Hahahahaaa...


Ratu menertawakan ekspresi wajah Arya yang sedang cemburu. Wajah Arya cemberut dan terlihat menggemaskan, ingin rasanya Ratu mencubit pipi suaminya.


" Mas, Arya ku sayang. Kenapa harus cemburu? Dihatiku ini hanya ada kamu seorang, kalau mau mah sudah dari dulu aku bersama kak Agung. Tapi nyatanya aku tidak bersama dia kan? Karena saat ini aku tidak mau berpacaran. Heheee."Seru Ratu lagi.


" Jadi kalian dulu pernah pacaran?."Tanya Arya dengan d4d4 bergemuruh.


" Tidak, dulu sih kak Agung pernah menyatakan cintanya sama aku, tapi aku menolaknya. Sejak saat itu dia tidak pernah mau menyapaku lagi, mungkin dia marah. Bahkan aku sempat di marah sama wanita-wanita yang menyukai kak Agung, katanya aku ini tidak pantas dan wanita miskin sepertiku bukan level kak Agung. Tapi nyatanya kak Agung duluan yang mendekati aku."Seru Ratu dengan sengaja menceritakan masalalu nya saat sekolah dulu.


Arya benar-benar kesal dan dia pun cemburu berat. Tanpa bicara apapun Arya langsung menarik Ratu dan membawa nya masuk ke dalam kamar yang biasa dia pakai untuk beristirahat. Di kamar itu Arya menghukum Ratu, tentunya bukan hukuman yang menyakitkan tapi hukuman yang menyenangkan.


Pasti para pembaca sudah tahu dong, hukuman yang Author maksud.

__ADS_1


*************


__ADS_2