Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Mengagumi diam-diam


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


Rani sedikit gugup saat melihat Yanto tiba-tiba sudah berada di dalam rumah. Dia sama sekali tidak mendengar suara mobil Yanto.


" Kamu pulang Yan? Sudah berapa lama kamu tidak pulang?."Tanya Rani sedikit gugup.


Rani tidak memberitahu Yanto jika sekarang ibu Marni tinggal dengannya. Rani takut jika Yanto marah dan akan mengusir ibu Marni dan dirinya juga karena sudah membawa ibu Marni tinggal dengannya. Terlebih ibu Marni adalah mantan ibu mertuanya, ibu dari Bima.


" Kenapa aku tidak boleh pulang di rumahku sendiri? Bukannya ini rumah ku? Kamu disini cuma numpang saja, kalau bukan karena anak dalam kandunganmu itu aku pastikan kamu sudah aku depak keluar dari rumah ini."Seru Yanto kesal karena pulang-pulang dibuat kesal oleh Rani.


" Maaf, aku tidak bermaksud membuat kamu kesal. Aku.. Emm. Aku hanya heran karena kamu sudah ada berminggu-minggu tidak pulang. Aku kira kamu sudah lupa jalan pulangnya."Seru Rani lagi.


Aarrrggghhh...


Prraaangggg


Yanto berteriak lalu dia menyambar vas bunga yang ada di atas meja dan membantingnya tepat dibawah Rani berdiri. Yanto sedang ada masalah dengan bisnisnya, sehingga dia saat ini sedang banyak fikiran dan tentunya tidak mau berdebat dengan Rani. Namum pulang-pulang dia dibuat kesal oleh Rani yang banyak pertanyaa.


" Rani, kamu tidak apa-apa?."Tanya ibu Marni yang baru saja pulang dari menemui pak Santo.


Ibu Marni yang baru turun dari motor ojek online, dibuat kaget oleh seseorang yang sedang marah dan memecahkan sesuatu. Dia khawatir dengan Rani yang sedang hamil, takut terjadi apa-apa dengan Rani.


" Siapa dia? Kenapa dia bisa masuk rumahku seenaknya?."Tanya Yanto dengan mata menatap tajam Rani.


Rani menunduk tidak berani memandang wajah Yanto. Dia sangat takut sekali jika Yanto akan marah dan menghajarnya lagi, yang tentunya akan membahayakan kandungannya yang semakin hari perutnya pun semakin besar.


Yanto bergantiam memandang ke arah ibu Marni, matanya memindai penampilan ibu Marni dari atas sampai bawah. Meskipun sudah berumur penampilan ibu Marni masih seperti anak muda. Bahkan saat ini dia mengenakan dress sebatas lutut saja. Melihat Yanto yang memperhatikannya seperti itu membuat ibu Marni risih. Apalagi mata Yanto seperti mata harimau yang akan menerkam mangsanya.


" Siapa kamu? Seenaknya saja masuk ke rumahku tanpa permisi dulu dengan pemilik rumah?."Tanya Yanto dengan tegas.


" Emm.. Yanto, dia ini ibu Marni."Jawab Rani terbata-bata.

__ADS_1


" Siapa ibu Marni? Saudara kamu, atau adik ibu kamu? Karena aku perhatikan dia lebih muda dari ibu kamu."Ucap Yanto lagi dengan mata tetap memandang ke arah ibu Marni.


* Ohh. Ini yang namanya Yanto. Tampan dan gagah juga sih orang nya, pantas saja Rani berselingkuh dari Bima. Kira-kira kalau dia tahu aku ini ibunya Bima dia marah tidak ya? Apa dia akan mengusirku?.*Gumam Ibu Marni dalam hatinya.


" Dia tinggal disini?."Tanya Yanto lagi.


Rani hanya mengangguk dengan pelan saja. Dia tidak berani menjawab karena takut Yanto akan marah. Apalagi ibu Marni ini orang asing bagi Yanto.


" Ohh.. Tidak masalah dia ikut tinggal disini. Hitung-hitung menemani kamu, tapi dia juga harus tahu diri. Jangan cuma bisa makan tidur saja, suruh dia membereskan rumah dan memasak. Aku perhatikan biarpun sudah berumur tubuhnya masih segar, pasti bisa dong kalau cuma membereskan rumah. Di dunia ini tidak ada yang gratis."Seru Yanto lagi membuat mata ibu Marni membulat sempurna.


Setelah bicara seperti itu Yanto masuk ke kamar, meninggalkan Rani dan ibu Marni yang masih tetap setia berdiri di ruang keluarga. Setelah Yanto masuk kamar, Ibu Marni mendekati Rani dan menanyakan soal Yanto.


" Itu yang namanya Yanto? Yang membuat kamu selingkuh dari Bima? Hemm... Pantas saja, Yanto memang tampan dan gagah, serta kaya makanya kamu selingkuh dari Bima. Tapi kelihatannya dia pemarah dan kasar ya?."Seru ibu Marni.


" Sudah bu jangan bahas soal Yanto. Kalau dia dengar dia bisa marah dan akan mengusir ibu. Kalau ibu tidak tinggal di sini ibu mau tinggal dimana? Katanya ibu mau ke rumah Bima?"Seru Rani meminta ibu Marni tidak usah membicarakan soal Yanto lagi.


" Bima tidak membolehkan ibu tinggal sama dia, dia mau mencarikan ibu rumah kontrakan saja."Jawab ibu Marni dengan malas.


Sampai sekarang ibu Marni belum ke rumah Bima, padahal dia sudah merencanakan akan ikut tinggal dengan Bima. Tapi belum apa-apa Bima sudah menolaknya dan akan mencarikan ibu Marni rumah kontrakan saja agar tidak tinggal dengannya. Tentu saja ibu Marni tidak mau, dan lebih memilih tinggal dengan Rani di rumah mewah Rani yang lebih nyaman.


" Selama di rumah ada Yanto, jangan bahas soal Bima dulu bu. Kalau dia dengar bisa gawat, meskipun dia tidak perduli dengan ku tapi jika tahu aku mendekati Bima lagi dia tidak akan memberikan uang bulanan lagi. Semua yang aku miliki akan dia tarik lagi, dan ibu jangan bilang kalau ibu itu orang tuanya Bima. Paham kan bu?."Seru Rani sedikit berbisik di telinga ibu Marni agar tidak terdengar Yanto.


Rani pun masuk ke kamar, dimana di dalam kamar itu juga ada Yanto. Di sini ibu Marni mulai bingung, Rani masih berhubungan dengan Yanto tapi dia juga mengharapkan bisa kembali dan rujuk dengan Bima. Dan Rani juga takut jika Yanto menarik semua fasilitas yang dia nikmati.


* Kenapa malah Rani seperti ini? Sebenarnya dia itu beneran mau kembali sama Bima atau tidak sih? Sedangkan dia saja masih berhubungan dengan Yanto, kalau dilihat-lihat apa sih kurangnya si Yanto? Sudah kaya, tampang juga oke, duit banyak kalau aku masih muda tidak mungkin aku tinggalkan si Yanto itu. Bima anakku juga tampang Oke tapi dompet tipis. Kalau aku jadi Rani tidak mungkin melepaskan Yanto demi Bima.*Gumam ibu Marni diam-diam dia mengagumi Yanto.


*******


Bima dan Karina memang sudah pindah ke rumah kontrakan nya yang baru. Sebenarnya Bima takut jika Karina tidak nyaman tinggal di rumah kontrakan, karena sedari kecil Karina sudah tinggal di rumah yang cukup besar dan semua fasilitas ada.


" Karina, kamu tidak masalah kan tinggal di rumah kontrakan ini?."Tanya Bima entah sudah yang keberapa kalinya.


" Mas Bima, sudah berapa kali mas bertanya seperti itu? Dari awal memutuskan menikah denganmu aku sudah pernah mengatakan jika aku tidak akan pernah memprotes dimanapun kamu membawaku untuk berteduh. Rumah mewah, besar tidak ada gunanya jika di dalamnya hampa dan tidak ada cinta. Aku lebih suka tinggal di rumah seperti ini asalkan di dalamnya penuh dengan cinta mas."Seru Karina menerima segala kekurangan Bima.


" Terima kasih Karina istriku sayang."Seru Bima membawa Karina dalam pelukannya.


Karina sangat berbeda dengan Rina, meskipun Karina mempunyai penghasilan lebih banyak dia tetap menghargai Bima. Apapun yang ingin dia lakukan dia akan bertanya ataupun izin dengan Bima. Dengan Karina lah Bima merasa di hargai dan merasakan rumah tangga yang sesungguhnya. Saling melengkapi kekurangan masing-masing, Karina juga melayani semua kebutuhannya dengan baik.

__ADS_1


" Karina kalau mas meminta kamu tidak menunda kehamilan kamu tidak marah kan? Mas sangat ingin segera mempunyai momongan,Rin."Seru Bima.


" Mas, aku pun sudah berumur loh. Tentunya aku juga tidak akan menunda-nunda momongan. Kita memang belum membicarakan masalah ini, tapi mas perlu tahu jika aku juga ingin segera mempunyai momongan mas. Mas, kalau misal nanti kita sudah punya momongan mas mau tidak mengelola cafe?."Seru Karina bicara dengan yakin.


" Lalu pekerjaan mas bagaimana, Rin? Mas tidak bisa melepaskan pekerjaan mas begitu saja. Usaha cafe itu milik kamu, mas tidak mau dibilang hanya numpang hidup sama kamu. Sejatinya seorang laki-laki dan suami itu bekerja, menafkahi anak istrinya."Jawab Bima sepertinya dia menolak permintaan Karina tadi.


Bima hanya tidak mau jika ada keluarga Karina yang mengatakan jika Bima hanya menumpang hidup dari usaha istrinya saja. Bima tidak mau sampai ada yang beranggapan seperti itu, sebelumnya memang Karina sudah meminta Bima untuk berhenti bekerja dan dia bisa mengelola cafe bersama-sama dengannya. Bima pun tetap menolaknya.


" Baiklah mas, aku hargai keputusan mas Bima. Oh iya mas, bagaimana kalau kita ehem - ehem yuk biar di dalam sini cepat terisi."Seru Karina sambil mengusap perutnya yang rata.


Seketika wajah Bima berbinar saat Karina mengajaknya lebih dulu. Tidak mau menyia-nyiakan waktu lagi, Bima langsung menggendong Karina masuk ke kamarnya dan melakukan apa yang sudah semestinya di lakukan oleh sepasang suami istri.


******


Ibu Marni bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan untuk semuanya. Biasanya dia akan bangun sesuka hatinya , dan untuk makan akan beli bersama Rani. Ibu Marni teringat ucapan Yanto kemarin sore, yang mana Yanto bilang jika dia harus ikut bantu-bantu pekerjaan rumah.


Jam setengah 6 ibu Marni keluar dari kamarnya, dia langsung menuju dapur dan membuka kulkas mencari bahan makanan. Di dalam kulkas hanya ada telor dan ayam saja, akhirnya ibu Marni memutuskan untuk memasak nasi goreng dan ayam goreng saja biar cepat.


Ibu Marni melihat nasi dalam magic com masih banyak. Memang biasanya mereka hanya masak nasi dan untuk lauknya beli, terkadang meski sudah ada nasi Rani tetap membeli makanan lengkap pakai nasi.


Ehheemm Eheemm Ehheemm


Ibu Marni di kagetkan dengan deheman seseorang yang berdiri dibelakangnya. Seketika itu Ibu Marni langsung melihat kearah sumber suara, ternyata di belakangnya ada Yanto yang hanya mengenakan celana pendek saja tanpa memakai baju.


" Ehh Yanto, mau minum?."Seru ibu Marni.


" Iya. Mau apa kamu pagi-pagi sudah ada di dapur?."Tanya Yanto dengan pandangan yang sulit di artikan.


* Duhh kenapa aku bisa lupa tidak ganti baju dulu. *Gumam ibu Marni.


Saat ini ibu Marni hanya mengenakan celana kain tipis setengah paha dan baju seperti singlet yang membuat bagian atas tubuhnya sedikit terekspose. Begitulah pakaian ibu Marni jika dia tidur.


" Emm.. Ini mau masak untuk sarapan. Nak Yanto mau minum kopi?."Tanya ibu Marni.


" Hemmm... Buatkan aku kopi hitam. Gulanya 1 sendok dan kopinya 2 sendok, aku tidak suka kopi yang manis."Jawab Yanto lalu dia menarik kursi dan duduk disana.


Dengan cepat ibu Marni merebus air lebih dulu untuk membuatkan Yanto kopi sesuai dengan permintaannya tadi. Sedangkan Yanto terus memperhatikan ibu Marni dari belakang, sesekali Yanto menelan salivanya sendiri saat melihat lekuk tubuh wanita paruh baya itu.

__ADS_1


* Hemm.. Seumur-umur aku belum pernah main sama wanita yang sudah berumur. Seandainya aku main sama wanita berumur seperti ibu Marni ini apa ya rasanya? Tapi sepertinya wanita yang sudah berumur itu tidak bisa tahan lama, ujung-ujungnya aku yang akan bekerja sendiri.*Gumam Yanto sambil terus menelisik penampilan ibu Marni dari atas sampai bawah.


*************


__ADS_2