
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Tok
Tok
Tok
Pintu ruang depan diketuk dari luar, Bik Siti terburu-buru membukakan pintu untuk tamanunya. Hari ini juga hari libur, hari libur seperti ini digunakan Arya dan Ratu untuk bersantai dirumah. Karena terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sehingga membuat mereka memanfaatkan hari libur sebaik mungkin.
" Maaf cari siapa?." Tanya bik Siti menatap wanita cantik yang ada di hadapannya.
" Heehh.. Kamu pasti pembantukan? Saya Serli , adik dari Tuan mu, Arya. Mana kak Arya?."Seru Serli tanpa ada rasa sopan santunnya.
Bik Siti memperhatikan penampilan Serli dari atas sampai bawah. Wajah cantik, penampilan juga Ok tapi attitudenya tidak ada bagus-bagusnya sama sekali. Sifat dan sikap busuknya terbungkus dengan kecantikan wajahnya.
" Hehh.. Kenapa bengong?." Sentak Serli dengan kasar.
" Ehhh maaf mbak, itu pak Arya ada di teras belakang sama mbak Ratu."Jawab bik Siti sambil menunjuk kearah teras belakang.
" Bilang kek daritadi, pantesan bodoh makanya jadi pembantu."Seru Serli mencibir bik Siti.
Serli berjalan menuju teras belakang dimana Arya dan Ratu sedang bersantai. Serli datang menemui kakak dan iparnya itu untuk meminta uang, sebab saat ini dia sudah tidak pegang uang. Perceraiannya dengan Harsa membuat hidupnya semakin susah.
" Waahh wahh wahh.. Sedang bersantai nih? Sampai ada saudara datang saja tidak tahu, sebenarnya mungkin tahu tapi pura-pura tidak tahu."Seru Serli secara tiba-tiba sambil bersedekap tangan.
" Serli , kamu ini apa-apaan sih? Datang bukannya ngucapin salam, malah asal fitnah saja. Kalau kamu tidak sopan bisa aku usir kamu."Ucap Ratu yang sebenarnya kaget dengan kedatangan Serli yang secara tiba-tiba.
Ccciiiihhhh....
Serli mencebikkan bibirnya, lalu dia menarik kursi dan duduk bergabung dengan Arya dan Ratu. Dalam hati Serli, sebenarnya dia iri dengan Ratu. Wanita yang dulu dia dan keluarga hina ternyata sekarang hidupnya sudah enak dan tidak pernah kekurangan uang. Justru yang ada setiap hari uangnya selalu bertambah banyak.
" Mau apa kamu datang kesini? Kamu datang kesini apa sudah izin dengan suami mu ?."Tanya Arya penuh selidik.
" Aku mau kemana itu terserah aku kak, lagian ini rumah kak Arya kan? Jadi aku bebas dong datang kesini? Aku sudah bercerai dengan Harsa 3 hari yang lalu, dan sekarang aku sudah tinggal dengan ibu lagi."Ucap Serli dengan seenaknya sambil tangannya maju mengambil sepotong kue dan memasukkan ke mulutnya sampai penuh.
__ADS_1
Mendengar kata perceraian tentunya membuat Arya dan Ratu kaget, kenapa bisa Serli bercerai dengan Harsa. Dan saat ini juga Serli seakan biasa saja, nampak seperti tidak ada beban hidup. Padahal saat ini dia sedang hamil, yang tentunya juga membutuhkan biaya. Jika dia dan Harsa bercerai, lantas bagaimana kelanjutan hidupnya dan anak yang ada dalam kandungannya.
" Bercerai? Kok bisa?."Tanya Arya dan Ratu secara bersamaan.
" Kok bisa? Ya bisa lah, aku malas hidup sama pria miskin yang hanya mau dengan tubuhku saja tapi untuk urusan uang selalu kurang. Lagipula Harsa memang pria miskin yang pura-pura kaya dengan harta istrinya."Jawab Serli sengaja berbohong agar Arya tidak memarahi ibunya dan dirinya yang datang menuntut harta kerumah istri pertama Harsa yang berujung perceraian.
" Lantas bagaimana dengan hidup mu dan anakmu? Apa kamu tidak berfikir jika kehamilan kamu ini perlu biaya banyak? Untuk perlengkapannya, biaya persalinan. Kamu kira semua itu tidak sedikit? Pasti ada masalah lain yang membuat suamimu menceraikan kamu."Ucap Arya menatap curiga kearah Serli.
Serli nampak bodo amat dengan apa yang dikatakan oleh Arya. Justru dia sibuk dengan piring kue yang saat ini sudah berpindah dipangkuannya. Delapan 8 potong bolu kukus sudah berpindah diperut Serli.
" Kamu tidak dengar kakakmu berbicara, Ser?."Tanya Ratu pelan namun tegas.
" Dengar, lagipula soal uang aku tidak perlu pusing. Ada kak Arya yang pasti akan menjamin hidup ku dan anakku, kak Arya kan uangnya banyak."Ucap Serli dengan santainya.
Brrraakk
Arya langsung menggebrak meja dengan keras sampai Serli kaget dan diapun tersedak. Dengan buru-buru dia menyambar minuman yang ada di meja tanpa perduli minuman siapa yang dia minum.
" Kak Arya ini apa-apaan sih? Hampir saja aku mati tersedak karena kak Arya yang membuat aku kaget."Ucap Serli memarahi Arya.
" Heehh... Memangnya kamu siapa? Berani kamu memarahi ku, apa kamu kira aku ini ATM berjalanmu. Ingat ya Serli, aku sudah tidak sudi membiayai hidup kamu. Sudah cukup selama ini aku jadi sapi perah kalian, aku bela-belain biayain kamu kuliah tapi apa? Nyatanya cuma jadi p3l4cur !!."Seru Arya dengan emosi.
" Mas !! Kendalikan emosimu."Seru Ratu sambil mengusap lembut lengan Arya.
Arya membuang nafas dengan kasar, kedatangan Serli sudah merusak moodnya. Hari libur yang seharusnya dinikmati dengan indah namun semuanya tabur karena kedatangan Serli sang pengacau.
Arya sudah tidak mau lagi dijadikan mesin Atm berjalan untuk keluarganya. Sudah berapa puluh juta uang Arya habis untuk membiayai kuliah Serli. Tapi nyatanya Serli tidak jadi apa-apa dan kuliahpun tidak selesai.
" Serli, kamu jangan seenaknya begini. Apa kamu kira hidup kami ini cuma untuk menghidupi mu, kamu harus mempertanggungkan perbuatanmu. Sudah cukup selama ini kami membantu kamu. Sekarang bukan urusan kami lagi, silahkan sekarang kamu pergi dari rumahku. Jangan merusak suasana hari libur kami."Seru Ratu bicara dengan pelan namun terdengar tegas.
Ratu sengaja bicara dengan pelan karena dia menjaga mental Serli agar dia tidak stress. Meskipun dia belum pernah hamil, Ratu tahu jika wanita yang sedang hamil itu rentan stress jika dia banyak masalah. Ratu tidak mau terjadi sesuatu dengan kandungan Serli.
" Tapi mbak, kalau bukan Kak Arya siapa yang akan menolongku? Mas Bima? Tidak mungkin mas Bima mau menolongku, istrinya saja pelit nya tidak ketulungan. Pokoknya aku tidak mau tahu, kalian harus menanggung hidupku. Percuma punya saudara kaya kalau pelit, dulu kak Arya itu royal. Tapi semenjak dia pindah menjadi pelit, pasti itu gara-gara mbak Ratu yang sudah menghasut pikiran kak Arya."Ucap Serli masih saja bicara ketus dengan Ratu.
" Lebih baik kamu pulang Serli, sebelum aku menyeretmu."Ucap Arya penuh penekanan dengan sorot mata yang tajam.
Serli bergerdik ngeri melihat tatapan mata Arya yang memang sangat-sangat menakutkan. Serlipun bangkit dan segera melangkah dengan cepat meninggalkan rumah Ratu.
Sementara itu di tempat lain, Bima dan Karina sedang berada di cafe dimana Karina bekerja. Hubungan Bima dan Karina sekarang memang lebih dekat. Mereka sering bertemu walaupun hanya untuk sekedar bertukar pikiran.
" Jadi cafe ini milik kamu?."Tanya Bima yang baru tahu jika cafe itu milik Karina.
__ADS_1
" Alhamdulillah cafe ini memang milikku. Aku membuka usaha ini sudah 2 tahun berjalan. Mas Bima kenapa kok kaget?."Tanya Karina dengan mengulas senyumnya yang sangat manis.
" Oh tidak apa-apa kok. Emm.. Sejujurnya sih, aku mengira itu kamu disini bekerja. Tapi ternyata justru kamu pemiliknya, wah pokoknya aku salut deh sama kamu. Meskipun masih muda kamu sudah bisa mandiri dan mempunyai usaha yang sudah bisa dibilang besar ini."Ucap Bima benar-benar bangga dengan pencapaian Karina.
Karina tersipu malu-malu karena Bima terlalu menyanjungnya. Karina memang tergolong berasal dari keluarga berada, kedua orang tuanya adalah seorang pengusaha kuliner yang mempunyai restoran beberapa cabang di kota. Karina sendiri membuka usaha cafe ini dia bekerja keras sendiri, dia memodali usaha nya sendiri tanpa bantuan dari orang tuanya.
" Mas Bima bisa saja deh memujinya."Ucap Karina malu-malu.
* Ya Tuhan... Kenapa jantungku berdetak kencang begini, aku malu kalau sampai mas Bima mendengar detak jantungku ini. Hemm. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta dengan mas Bima. Apa mas Bima punya perasaan yang sama denganku? Apa mungkin mas Bima ini jodoh yang dikirimkan Tuhan untukku? Usiaku sudah 30 tahun, mama dan papa juga sudah menanyakan kapan aku mau menikah.*Gumam Karina dalam hatinya.
Karina tidak tahu jika Bima sudah beristri, karena memang Bima tidak memberitahunya. Bima hanya tidak mau, jika setelah Bima jujur Karina tidak mau dekat-dekat dengannya lagi. Bima akui, saat ini dia merasa nyaman dan cocok dengan Karina. Dia pun berniat untuk mendekati Karina lebih dekat lagi.
Pernikahannya dengan Rani sudah terasa hambar, setiap hari selalu ribut dan ribut. Sudah berapa lama Bima bersabar menghadapi Rani, tapi sampai detik ini Rani tidak berubah. Yang ada justru semakin menjadi.
Sebagai seorang suami, sudah pasti Bima ingin diperlakukan dengan baik. Dihargai dan di urus dengan baik, selama menikah dengan Rani dapat dihitung dengan jari Rani mau memasak untuknya.
" Karina, apa kamu sudah punya pacar?." Tanya Bima dengan sedikit gugup.
" Belum."Jawab Karina dengan cepat dan singkat.
" Apa kamu serius, belum punya pacar?."Tanya Bima lagi ingin semuanya lebih pasti.
" Aku serius mas, dulu memang aku sudah pernah punya pacar. Dua tahun pacaran , tapi nyatanya aku malah ditinggal menikah. Sekarang ini aku sudah semakin berumur, bukan pacar yang aku cari, tapi calon suami."Jawab Karina membuat Bima mengangguk setuju.
Tidak tahu dapat keberanian darimana, Bima tiba-tiba meraih tangan Karina dan menggenggamnya dengan lembut. Karina terlihat membiarkan Bima menggenggam tangannya berlama-lama.
" Karina apa aku ini masuk dalam kriteria calon suami untuk mu?." Tanya Bima sambil menggenggam tangan Karina.
" Mas Bima baik, penyayang dan sopan. Itu sudah termasuk kriteria calon suami yang aku cari."Jawab Karina serius.
Jawaban Karina membuat Bima semakin percaya diri. Sepertinya lampu hijau dari Karina pun sudah ada, tinggal Bima mengutarakan isi hatinya.
* Maafkan aku Rani, aku terpaksa mencari wanita yang bisa menghargaiku dan memahami ku. Aku seorang lelaki, aku seorang suami yang butuh dihargai. Aku selama ini sudah cukup mengalah dan bersabar, sepertinya kesabaranku saat ini sudah pada batasnya.*Gumam Bima teringat dengan Rani.
" Karina, apa kamu mau menjadi istriku?." Tanya Bima langsung pada sasaranya.
Ddeegghh
Karina menatap bola mata Bima, dalam sorot mata Bima menunjukkan keseriusan. Ternyata cinta Karina tidak bertepuk sebelah tangan, tanpa menunggu lama Karina pun menjawab permintaan hati Bima.
" Aku mau mas."Jawab Karina malu-malu.
__ADS_1
************