
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Tika menarik tangan Mita keluar dari butik, Mita tidak menolak saat Tika menariknya keluar. Sampai dia sudah berada di mobilpun Mita masih saja diam. Sepertinya dia masih syok dengan fakta baru yang dia ketahui. Bagaimana bisa orang yang dia rendahkan dan yang dia anggap tidak selevel dengannya, ternyata anak seorang sultan. Bahkan tempatnya mengais rezeki adalah milik dari orang tua wanita yang sudah dia hina.
Tika yang mengambil alih kendali mobil masih mendiamkan Mita. Membiarkannya dia meratapi kebodohannya, akibat kesombongan dan kebodohannya dia sudah kehilangan pekerjaan dan tidak gampang untuk mencari pekerjaan baru diluaran sana.
" Tik, benarkah wanita itu adik dari pak Raja? Anak dari pemilik perusahaan tempat kita bekerja?."Tanya Mita saat dia sudah sadar dari lamunannya.
" Kamu sudah tahu sendirikan tadi kenyataan atau faktanya. Lagi pula kamu juga yang salah, jangan terlalu sombong jadi orang. Sekarang kamu kena batunya kan."Ucap Tika menasehati Mita yang memang menurutnya terlalu menyombongkan diri.
Akibat kesombongannya itu jugalah yang menyusahkan dirinya.
" Aku harus bagaimana ya, Tik?." Tanya Mita meminta solusi dari Tika.
" Mana aku tahu. Tapi saranku sih, besok kamu temui Bu Rata dan pak Raja saja. Minta maaf sama mereka berdua. Lagian kamu juga sih yang keterlaluan, gara-gara ulah kamu aku gagal membeli baju yang tadi."Seru Tika lagi-lagi menyalahkan Mita.
Hhhuuuffff
Mita nampak murung, bagaimana dia mau meminta maaf. Sudah pasti dia malu, dan merasa harga dirinya turun. Padahal sudah berbangga diri jika dirinya merasa lebih tinggi dari Ratu. Ternyata dengan tiba-tiba Ratu menghempaskan rasa percaya diri Mita.
Mobil yang dikendarai Tika sudah sampai di depan rumah Tika, Tika turun dan Mita bergantian mengambil alih kemudi setirnya lalu dia melaju meninggalkan rumah Tika.
Sementara itu, di rumah pak Santo saat ini Serli dan ibu Marni sedang membicarakan rencananya untuk datang kerumah pria yang sudah menghamilinya.
" Bu, Serli takut jika Mas Harsa marah karena kita datang kesana. Mas Harsa itu sudah tidak mau tahu soal Serli dan kehamilan Serli ini bu, pokoknya Serli tidak mau kesana."Seru Serli kekeh tidak mau datang kerumah Harsa.
Serli hanya takut jika Harsa mengatakan kalau mereka tidak pacaran dan melakukannya karena memang dia seorang p3l4cur. Dan dia mendapatkan uang dari Harsa. Serli mengatakan kepada keluarganya jika dia dan Harsa pacaran sudah 2 bulan.
" Kamu jangan bodoh, Serli !! Kalau kamu tidak mau menemui pacar kamu, lantas siapa yang akan menikah dengan kamu? Kamu itu jangan bodoh, perut kamu itu tidak akan selama nya kempes begitu. Perut itu akan membesar, Serli."Seru ibu Marni dengan kesal.
" Tapi mas Harsa sudah punya istri bu."Seru Serli dengan pelan.
" Tidak ada kata tapi tapian ! Ayo sekarang kita kesana, mumpung masih sore. Pasti sekarang dia sudah di rumah, kalau orang kantoran kan jam segini sudan pulang. "Seru ibu Marni tetap meminta datang kerumah Harsa.
__ADS_1
Serli tidak bisa lagi menolak ajakan ibunya, dan akhirnya diapun mau pergi ke rumah Harsa. Mereka hanya datang berdua, pak Santo sendiri sampai saat ini masih berada di rumah Ratu. Ibu Marni tidak perduli dengan suaminya, yang penting suaminya tidak mengganggu rencananya.
" Mau kemana bu?." Tanya Rani yang baru saja keluar dari kamarnya.
Rani dan ibu Darti belum tahu jika Serli saat ini sedang hamil. Mereka tidak mau tahu dan tidak pernah mau mencari tahu, bahkan saat Serli masuk rumah sakitpun mereka tidak ada yang datang menjenguk Serli.
" Mau keluar sebentar, ibu dan Serli ada urusan."Jawab Ibu Marni sengaja berbohong agar dia tidak malu dengan besannya.
" Ibu Marni sama Serli pasti mau jalan-jalan, ikut dong."Seru ibu Darti.
" Jalan-jalan apaan sih bu, aku dan ibu itu mau ketemu sama teman ibu. Dan ibu minta antar aku, ayok bu keburu magrib."Seru Serli lalu menarik tangan ibunya agar ibu Darti tidak banyak bertanya.
Rani dan ibu Darti merasa aneh dengan Serli dan ibu Marni. Mereka sudah mulai curiga jika ada sesuatu yang saat ini sedang mereka sembunyikan dari mereka
" Sepertinya ada yang sedang disembunyikan ibu mertuamu dari kita, Ran. Tapi apa ya , Ran?."Tanya ibu Darti.
" Iya bu. Rani juga merasakan hal yang sama bu. Tapi apa ya? Hemm sudahlah bu, nanti juga kita bakalan tahu apa yang mereka sembunyikan. Sekarang sudah sore bu, kita malam nanti mau makan apa? Masa iya sih kita mau masak lagi, capek tahu bu masak terus."Seru Rani dengan kesal.
" Kalau tidak masak mau makan apa kita? Mau beli juga boros, suami kamu juga pasti tidak memberikan uang untuk beli makanan. Lebih baik kita masak saja, apalagi disini Bima yang cari uang kita harus nurut apa kata dia. Ingat kalau kamu itu sudah ketahuan bohong, jadi sekarang kamu harus pintar-pintar cari cara agar suami kamu mau royal sama kamu."Ucap ibu Darti mencoba menasehati Rani.
*********
" Maaf anda siapa ya?."Tanya seorang perempuan yang diperkirakan usianya tidak jauh beda dari ibu Marni.
" Saya Marni dan ini anak saya Serli, kami datang kesini untuk bertemu dengan Harsa. Apakah Harsanya ada bu?."Tanya ibu Marni memperkenalkan dirinya dan Serli dengan ramah.
" Ada perlu apa anda dengan Harsa?."Tanya perempuan itu.
" Saya datang kesini untuk meminta Harsa bertanggung jawab atas kehamilan anak saya, Serli. Saat ini Serli sedang hamil 1 bulan, dan anak yang dia kandung anak Harsa. Apakah Harsanya ada bu?."Seru ibu Marni.
Perempuan yang bernama Wida itu pun terperanjat kaget saat mendengar penuturan dari ibu Marni.
" Apa? Mas Harsa menghamili anak ibu? Ibu yakin itu anak mas Harsa?."Tanya Wida dengan aneh.
" Maksud ibu apa? Harsa itu sudah berpacaran dengan anak saya, dan saat ini anak saya sedang hamil. Ibu tolong panggillan anak ibu agar dia mau datang kesini."Seru ibu Marni yang belum tahu jika orang yang ada dihadapannya adalah istri sah Harsa.
" Saya Wida, istri sah mas Harsa. Jadi kamu sudah tidur dengan suamiku? Dasar p3l4cur cilik, apa kamu tidak malu tidur dengan pria yang lebih pantas kamu panggil Papa? Pasti hanya karena uang kamu mau tidur dengan suamiku, jadi untuk apa kamu mau minta tanggung jawab suamiku. Kamu kan dibayar?."Tanya Wida tetap mencoba bersikap tenang dan santai.
Wida sudah tahu bagaimana sifat suaminya yang memang suka jajan di luaran sana. Bukan Wida tidak tahu, selama ini dia hanya diam dan pura-pura tidak tahu.Wida malas ribut dengan suaminya, malu dengan anak-anaknya yang sudah besar.
__ADS_1
" Maksud anda apa? Jadi anda ini istri Harsa?." Tanya ibu Marni.
" Serli."Seru seseorang dari ambang pintu.
Belum sempat ibu Wida menjawab, tiba-tiba Harsa sudah berada di di ambang pintu. Dia hanya tersenyum sinis melihat suaminya yang terlihat syok dengan kedatangan Serli.
" Mas duduk."Seru Wida dengan tegas..
Harsa mengangguk patuh, dengan wajah yang terlihat lebih pucat, Harsa duduk di samping istrinya.
" Kamu kenal dengan wanita muda itu mas? Katanya dia hamil anak kamu, apa benar itu mas?."Tanya Wida dengan tenang namun tegas.
" Iya aku mengenalnya. Dia memang sedang hamil tapi aku tidak tahu itu anak siapa. Karena saat tidur denganku, dia sudah banyak tidur dengan pria."Jawab Harsa tanpa filter.
" Apa maksud kamu? Kamu sudah menghamili anakku, tapi kamu malah menghina dan beralasan yang tidak masuk akal. Anak ku itu wanita baik-baik, dia seorang dokter dan bukan wanita seperti yang kamu katakan tadi. Aku tidak mau tahu pokoknya kamu harus menikahi anakku."Seru ibu Marni dengan lantang.
Serli hanya menundukkan kepalanya, dia tidak berani berbuat apa-apa. Apa yang dikatakan Harsa memang benar adanya, jika dia susah tidur dengan banyak pria.
" Asal ibu tahu, anak ibu itu p3l4cur !! Aku tidur dengannya pun selalu membayarnya, dan dia itu sudah banyak tidur dengan pria. Saat tidur denganku pun dia itu sudah tidak p3r4wan lagi. Apa itu yang ibu maksud wanita baik-baik ?."Tanya Harsa dengan tegas.
Deeegghhh
Jantung ibu Marni tiba-tiba berdetak semakin kencang. Dia syok dengan penjelasan Harsa, mana mungkin anak gadis kebanggaannya seperti itu. Rasanya itu tidak mungkin, tidak mungkin Serli seperti itu.
" Tapi bukannya kalian itu pacaran?." Tanya ibu Marni dengan suara yang sudah mulai pelan.
" Pacaran? Aku dan Serli tidak pacaran, aku dan Serli hanya bertemu saat aku membutuhkannya dan itupun aku selalu membayar Serli. Bukannya begitu Serli?."Tanya Harsa menatap Serli yang sedari tadi diam.
Serli hanya bisa mengangguk dengan pelan. Dia membenarkan semua yang dikatakan oleh Harsa.
" Serli."Seru ibu Marni.
" Maaf bu. Tapi anak ini benar anaknya mas Harsa, sebab setelah aku mengenal dan bersama mas Harsa aku tidak pernah lagi main dengan yang lainnya."Jawab Serli jujur.
Plaakk
Plaakk
**************
__ADS_1