Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Belanja di Mall


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


Pov. Rani


Semenjak aku menikah dengan mas Agung, jujur aku merasa dicintai dan dihargai. Bukan berarti saat mas Bima aku tidak dicintai, tidak tahu kenapa dengan mas Agung ini aku menemukan arti sebuah rumah tangga yang sesungguhnya. Aku menjadi ibu rumah tangga yang seutuhnya, aku mendapat jatah bulanan yang cukup besar. Dan anakku Tegar juga mendapatkan biaya bulanannya sendiri.


Aku percaya mas Agung sangat mencintai ku dan dia menerima status jandaku. Namun ada rasa ketakutan tersendiri dalam diri ini, ini soal Tegar. Ya, aku takut mas Agung merasa terbebani dengan Tegar dan aku juga takut Tegar akan mendapat perlakuan tidak baik dari keluarga besar mas Agung. Kedua mertua ku orangnya sangat baik, tapi aku tidak tahu dengan keluarga yang lainnya.


Hari ini, mas Agung mengajak aku ibu serta Tegar untuk jalan-jalan. Karena besok ibu harus sudah pulang ke kampung, dan mas Agung mengajak jalan sekalian belanja oleh-oleh untuk ibu bawa pulang dan dibagikan kepada sanak saudara di sana.


Mas Agung sangat baik, dia begitu perhatian dengan keluargaku. Terlebih kepada Andi, adik angkatku. Andi diberi kepercayaan untuk mengelola pabrik air mineral milik mas Agung yang ada di kampung halamanku. Dengan begitu mas Agung mengangkat derajat adik angkatku.


" Mas, kenapa mengajak kami ke mall ini? Bukannya mas mau mengajak membeli oleh-oleh untuk ibu bawa pulang?."Tanya ku saat mobil mas Agung memasuki pelataran parkiran mall besar itu.


" Iya kita belanja di sini saja sayang, di sini lengkap mau cari apa aja ada kok."Jawab mas Agung membuat ku syok.


Bagaimana aku tidak syok, mas Agung mengajak kami belanja di mall. Tentunya barang-barang di mall ini harga bisa sampai 3 kali lipat di bandingkan di tempat lain.


" Memangnya mas mau belanja apa? Kalau untuk oleh-oleh nanti kita beli kue-kue saja di toko kue mas?."Tanyaku dengan penasaran.


" Sayang, aku mau membelikan sesuatu untuk ibu dan Andi. Sama kamu dan Tegar juga dong, ok kalau soal kue nanti kita beli di toko kue saja. Ya sudah yuk kita masuk, ibu yuk bu masuk."Seru mas Agung juga mengajak ibu masuk ke mall yang besar dan megah itu.


Aku dan ibu pun terpaksa mengikuti langkah mas Agung. Mas Agung jalan lebih dulu di depanku sembari mendorong kereta bayi Tegar. Tegar memang sudah mau 1 tahun, dan mulai belajar berjalan. Jika pergi-pergi seperti ini memang masih aku bawakan keretanya agar lebih simpel dan lebih nyaman saja.

__ADS_1


" Ibu pilih apa saja yang ibu mau, jangan sungkan."Ucap mas Agung saat kami sudah berada di dalam mall dan barang-barang mewah berjejer dengan rapi.


Ibu terlihat bingung apa yang akan dia beli, selama ini memang ibu mengimpikan bisa beli apa saja yang dia inginkan. Dulu memang aku sering mengajak ibu ke mall, dan tidak banyak yang kami beli. Hanya beli baju 1 stel saja sudah menguras dompetku.


Saat seperti ini aku pun teringat dengan mas Bima. Ya, aku ingat jika dulu aku sering menghabiskan uang gajinya untuk mentraktir ibu. Aku jadi merasa bersalah dengan mas Bima dan aku berencana ingin mengembalikan uang nya yang sudah aku manipulasi. Tapi apa mas Agung mau meminjamkan aku uang sebanyak itu ?


" Bu, kok bengong? Ayo pilih apa saja yang ibu mau, mumpung ibu masih di kota. Besok ibu kan sudah pulang."Ucap mas Agung kembali meminta ibu untuk memilih barang yang dia mau.


" Sayang, sana kamu belanja sama ibu. Biar Tegar sama mas, oh iya jangan lupa belikan untuk Andi sekalian ya. Mas mau pilihin untuk Andi tapi mas juga tidak tahu selera Andi, jadi kamu sama ibu yang pilih. Oh iya lupa, ini kamu pegang nanti bayar pakai ini saja. Pin nya tanggal pernikahan kita."Ucap mas Agung memberikan aku satu kartu ATM.


" Mas, ini tidak usah. Aku kan sudah mas kasih ATM juga, jadi pakai itu saja."Aku menolak kartu mas Agung, sebab mas Agung sudah memberiku kartu Atm juga.


Aku tidak mau mas Agung beranggapan jika aku ini matrealistis dan mau memanfaatkan uangnya. Uang bulanan yang diberikan mas Agung cukup banyak, bahkan jika aku gunakan untuk biaya hidup 3 bulan saja cukup. Untuk kebutuhan rumah, mas Agung memberikan jatah bulanan tersendiri.


" Itu kan uang kamu sayang, ini milik mas. Kalian belanja pakai uang mas, karena kan mas yang mau traktir. Masa iya mau pakai uang kamu, kan tidak lucu."Ucap mas Agung lagi.


" Sama sekali tidak keberatan, bu."Jawab mas Agung menyakinkan ibu.


Akhirnya aku dan ibu pun berbelanja dan mas Agung menjaga Tegar. Tidak lupa aku membelikan juga untuk Andi dan mas Agung. Meskipun mas Agung tidak memintanya, aku harus tetap membelikannya sebagai bukti jika aku juga mengutamakan dia.


Aku dan ibu memilih-milih baju yang akan kami beli, setelah menemukan yang cocok aku membawanya ke kasir untuk aku bayar.


" Bu, mau apalagi?."Tanyaku kepada ibu.


" Sudah Ran, ini sudah dua. Andi juga sudah, jangan boros-boros."Jawab ibuku memintaku untuk tidak boros.


" Oh ya sudah. Kalau begitu, kita ke tempat mas Agung. Dia tadi chatt kasih tahu kalau ada di tempat main anak-anak. "Aku mengajak ibu untuk menemui mas Agung dan Tegar.


Kami berdua mencari keberadaan mas Agung, namun tiba-tiba langkahku terhenti saat aku melihat mas Agung sedang bicara serius dengan seorang wanita yang penampilannya sangat cetar membahana. Aku penasaran siapa wanita itu dan sedang membicarakan apa mereka sampai mas Agung terlihat serius begitu.

__ADS_1


Aku pun melangkah mendekati mas Agung dan wanita itu.


" Mas." Aku memanggil mas Agung.


" Ehh sayang, sini aku kenalkan sama Yanti. Ini loh yang namanya Yanti, yang pernah mas ceritakan sama kamu."Ucap mas Agung memperkenalkan aku dengan perempuan yang bernama Yanti.


Dari sorot matanya, wanita yang bernama Yanti ini sama sekali tidak ada ramah-ramahnya. Tersenyum saja tidak, namun dia memandangku dengan tatapan sinis.


" Jadi ini istri kamu, Gung? Iidiih masih cantikan juga aku, kok mau sih kamu menikahi wanita janda beranak satu. Padahal kalau kamu mau, aku bisa menceraikan mas Firman dan menikah denganmu. Kamunya yang jual mahal sih, rugi bandar kamu Gung."Seru wanita bernama Yanti itu dengan ketus.


Mas Agung terlihat diam saja saat wanita itu menghinaku. Nah saat seperti inilah aku ingin tahu bagaimana tanggapan ataupun reaksi mas Agung saat orang menghinanya dengan menikahi wanita janda beranak satu. Apa yang akan dilakukan mas Agung, apa dia akan diam saja atau dia akan membelaku.


* Mengapa mas Agung diam? Apa jangan-jangan dia memang malu mempunyai istri seorang janda? Apa dia menyesal menikahiku?*Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri.


Ibu nampak mengambil kereta bayi yang masih dipegang oleh mas Agung. Ibu sedikit menjauh dari kami, agar Tegar tidak terusik tidurnya.


" Kamu jangan berfikir negatif dulu, Ran."Ucap ibuku sebelum ibu menjauh.


Mas Agung masih saja diam, aku tidak tahu apa yang saat ini dia fikirkan.


" Kamu diam Gung? Menyesalkan menikahi wanita janda? Agung, Agung aku ini sudah cantik kaya, kurang apalagi sih aku di mata kamu? Sebelum aku menikah, bahkan aku sempat mengajak kamu menikah tapi kamu masih saja jual mahal. Ujung-ujungnya menikah sama janda, kasihan banget nasib kamu Gung."Ucap wanita itu tetap merasa dirinya paling cantik dan benar.


" Tutup mulutmu, Yanti !."Seru mas Agung tiba-tiba dia mencengkram lengan Yanti.


" Biarpun Rani itu seorang janda, dia lebih baik dari kamu !! Sekali lagi kamu menghina istriku, aku akan m3rob3k mulut busukmu itu !."Seru mas Agung terlihat jelas kilat amarah di wajahnya.


Mas Agung menarik tanganku dan menjauh dari wanita itu. Aku belum berani mengajak bicara mas Agung, sepertinya dia sedang mencoba mereda emosinya.


***************

__ADS_1


__ADS_2