
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Setelah 3 hari di rumah sakit, hari ini akhirnya Ratu sudah di izinkan pulang. Kedua anak kembarnya juga bisa langsung dibawa pulang. Arya siang ini datang menjemput istri dan kedua anaknya, si kembar ada dalam gendongan Satria dan Dinda.
Saat mereka berjalan melewati lorong rumah sakit, mereka bertemu dengan Ibu Marni dan Yanto yang juga akan pulang. Ibu Marni juga sudah diizinkan pulang, Yanto membantu membawa barang-barangnya.
" Ibu."Seru Ratu dan Arya bersamaaan.
Deggghhhh
J4ntung ibu Marni hampir saja copot, dia tidak menyangka bisa bertemu dengan Arya dan mertua serta istrinya di rumah sakit. Mata ibu Marni melirik kedua mantan besannya di mana dalam gendongan mereka masing-masing menggendong bayi.
Ibu Marni sangat malu bertemu dengan mantan besannya itu. Dan Yanto sendiri panik saat mengetahui jika yang ada di dekatnya adalah Satria. Seorang pengusaha yang sangat dia takuti dan dia hindari. Meskipun sudah berumur, tatapan mata Satria masih tajam dan menakutkan.
* Ini kan Tuan Satria? Meskipun aku belum pernah bertemu dengan nya secara langsung, aku tahu jika ini Tuan Satria. Aku pernah melihat fotonya di majalah Bisnis beberapa tahun yang lalu. Lihatlah, sorot matanya sangat tajam dan menakutkan. Hemm aku harus berpura-pura manis dengan Marni, agar si Arya itu tidak membongkar tentang usaha h4r4mku.*Gumam Yanto dalam hatinya.
" Ibu apa kabar? Oh iya ibu sakit ya? Sakit apa?."Tanya Dinda mencoba mencairkan suasana.
" Emmm.. Sakit, sakit. Bukan sakit apa-apa, hanya terjatuh saja di kamar mandi dan diharuskan rawat ini. Ini sudah baikan dan bisa pulang."Jawab ibu Marni terbata-bata dan berbohong.
Dia tidak mungkin bicara jujur jika dia masuk rumah sakit karena keguguran, yang ada dia akan semakin malu dengan mantan besannya itu.
" Bu, sekarang Arya sudah menjadi Ayah dan ini kedua anak Arya dan Ratu. Anak kami kembar bu, jika ibu berkenan datanglah ke rumah kami untuk melihat cucu-cucu ibu."Ucap Arya berbicara dengan nada yang datar.
" Iya bu, kami tunggu kedatangan ibu di rumah."Tambah Ratu ikut berbicara.
" Iya."Jawab ibu Marni dengan singkat.
__ADS_1
Tidak tahu kenapa, ibu Marni masih saja tidak suka dengan Ratu. Setiap kali melihat Ratu yang ada bawaannya benci terus, apa lagi saat ingat dia masuk penjara juga karena berurusan dengan Ratu.
" Sayang, yuk kita langsung ke mobil saja. Kamu belum boleh banyak-banyak berdiri seperti ini."Ucap Yanto dengan lembut.
Kedua orang tua Ratu mengernyitkan keningnya dan saling beradu pandangan. Kini mereka pun tahu, jika pria muda yang ada di samping mantan besannya itu adalah pacarnya. Dinda pernah mendengar ceritanya dari Ratu beberapa bulan yang lalu.
* Pria ini bukan pria baik-baik, kenapa dia bisa bersama ibu tirinya Arya ? Hemm, biarkan saja mungkin memang mereka saling mencintai. Pasti anak-anaknya juga sudah mengingatkan, ibu Marni saja yang keras kepala.*Gumam Satria dalam hatinya.
" Iya Yanto sayang, aku sudah lelah berdiri terus."Jawab Ibu Marni dengan suara manjanya.
Hooeekkk
Dinda dan Ratu rasanya ingin muntah melihat kemesraan wanita tua yang tidak sadar dengan umurnya itu. Yanto lebih pantas menjadi anaknya daripada menjadi pacarnya.
" Kami permisi, mari pak Arya. Yuk sayang."Seru Yanto memperlakukan ibu Marni dengan lembut.
Mereka berempat hanya menganggukkan kepalanya. Arya kembali mendorong kursi roda Ratu dan diikuti kedua mertuanya yang menggendong Devan dan Revan. Barang-barang Ratu sendiri sudah ada di mobil, Arya yang sudah membawanya lebih dulu baru dia membawa Ratu.
" Mas, sepertinya ibu tadi berbohong deh. Dia tidak jatuh di kamar mandi. Mas lihatkan sedari kita ngobrol tadi, ibu terus memegangi perutnya dan perut ibu pun rata. Tidak ada tanda-tanda hamilnya, apa mungkin ibu k3guguran ya mas?."Tanya Ratu dengan pelan namun Arya masih bisa mendengarnya.
" Hehee.. Iya papa nya anak-anak."Jawab Ratu sambil terkekeh.
Arya dan yang lainnya sudah sampai di parkiran. Dengan pelan dan hati-hati, Arya membantu Ratu turun dari kursi roda dan masuk ke mobil. Ratu memilih duduk di kursi belakang bersama mamanya. Sedangkan papanya duduk di kursi depan bersama Arya, Arya sendiri yang mengemudikan setirnya.
Ditempat lain, Rani sudah beberapa ini ada di kampung. Dia juga sudah bertukar nomor telepon dengan Agung, pria mengantarkannya pulang. Namun , Rani tidak lagi seperti dulu yang silau akan harta. Kini Rani lebih memperbaiki dirinya. Usia kehamilan Rani dan Ratu hanya selisih 1 minggu saja, dengan kata lain usia kandungan mereka tidak beda jauh.
Namun Rani belum melahirkan, kini Rani menjalani kehidupan barunya di kampung. Orang-orang kampung sudah tahu jika Rani dan Bima sudah bercerai. Mereka tahu nya Rani juga sudah menikah lagi, dan diceraikan suaminya karena hanya menjadi istri kedua saja. Rani membiarkan gosip itu berkembang dikalangan para tetangga. Mungkin itu lebih baik daripada mereka tahu cerita yang sebenarnya. Yang nantinya juga akan berdampak buruk untuk pertumbuhan anaknya.
" Memangnya si Yanto itu tidak kasih kamu uang untuk biaya hidup kamu di kampung? Meskipun dia tidak mau tanggung jawab, setidaknya dia kasih uang untuk kompensasinya. Yanto itu memang kurangajar."Seru ibu Darti dengan kesal.
Ibu Darti sendiri belum tahu jika Yanto saat ini lebih memilih ibu Marni. Mungkin jika ibu Darti tahu dia tidak akan tinggal diam, dia akan datang dan memberi pelajaran mantan besannya itu. Rani sengaja tidak memberitahu ibunya, agar tidak terjadi keributan.
" Tidak ada bu. Tapi aku punya tabungan yang cukup untuk biaya lahiran. Dan ada sisanya juga untuk buka warung didepan kontrakan ini. Itu semua uang dari Yanto juga sih, uang yang dia beri setiap bulannya dan aku tabung sebagian."Ucap Rani bicara dengan jujur.
__ADS_1
Beruntung Rani dulu tidak membelanjakan semua uang dari Yanto. Seperti sudah mempunyai firasat, dia menabungkan sebagian uang bulanan dari Yanto. Saat itu Yanto memang memberinya uang bulanan yang besar, hanya saat sudah bersama ibu Marni saja dia memangkas uang bulanan Rani.
" Kamu yakin mau buka warung? Memang sih di sekitar sini warung jauh, coba nanti kamu bicarakan sama adikmu."Seru ibu Darti.
" Andi sudah setuju bu, dan dia yang akan membantu aku mencari kontrakan yang strategis dan cocok untuk aku buka usaha."Seru Rani sambil mengusap perutnya yang sudah semakin besar.
" Kontrakan? Memangnya kamu mau pindah dari kontrakan ini? ."Tanya ibu Darti dengan wajah keheranan.
" Iya bu. Aku tidak mungkin tinggal di kontrakan Andi terus bu. Aku tidak mau timbul fitnah, Ibu pasti paham kan apa maksud Rani. Makanya Rani meminta Andi untuk mencarikan kontrakan, dan kalau ada sih yang halamannya cukup luas. Nanti Rani bisa bangun warung kecil-kecilan di halaman itu."Ucap Rani berbicara dengan serius.
Sudah pasti ibu Darti paham maksud Rani, Andi memang bukan adik kandung Rani. Dia hanya anak angkat, yang memang di asuh ibu Darti dari masih bayi. Rani sekarang pemikirannya lebih luas dan lebih terbuka, ibu Darti sendiri sedikit heran dengan perubahan Rani yang sekarang.
" Mbak Rani."Seru Andi memanggil Rani dari depan kamarnya.
Rani dan ibu Darti pun bangkit, Rani membuka pintu kamar dan menemui adiknya.
" Iya, ada apa dek?."Tanya Rani dengan lembut.
" Rumah kontrakannya sudah dapat mbak, tidak jauh kok dari sini. Ituloh rumah anaknya pak Sarmin, karena anaknya mau pindah ke kota jadi rumahnya mau di kontrakan sama isi rumahnya juga. Di depan rumah nya juga ada bangunan bekas counter pulsa, bisa mbak jadikan warung. Tapi pak Sarmin minta 5 juta pertahunnya mbak. Apa mbak Rani sanggup?."Tanya Andi.
" Insya Allah mbak sanggup Ndi. Jadi mbak tidak perlu bangun warung lagi, mungkin tinggal beli etalase sama rak-rakannya saja. Mbak ada uang sekitar 40 juta, yang 10 juta untuk persiapan lahiran dan 5 juta untuk bayar kontrakannya. Nanti tang 20 juta untuk warung. Yang 5 juta buat pegangan kalau ada keperluan mendadak, kira-kira 20 juta untuk warung cukup tidak ya Ndi?."Tanya Rani meminta persetujuan adik angkatnya.
Padahal dulu Rani dan Andi tidak seberapa dekat, karena dulu almarhum ayah Rani terlalu menyayangi Andi dan itu semua membuat Rani merasa diabaikan. Andi pemuda yang baik, meskipun Rani dulunya suka sinis dan ketus, Andi tetap menghormati Rani sebagai kakaknya.
" Insya Allah cukup mbak. Andi punya sedikit tabungan, nanti bisa mbak Rani pakai."Ucap Andi serius.
" Tidak usah, Andi. Uang kamu, kamu tabung saja untuk masa depan kamu. Tentunya kamu juga ingin berumah tanggakan? Menikah itu perlu modal, jadi kamu harus rajin menabung dari sekarang."Ucap Rani sembari menepuk punggung Andi.
" Iya mbak, terima kasih atas nasehatnya. Andi ke rumah pak Salim dulu ya mbak, bu. Mau memberitahu jika mbak Rani jadi mengontrak rumahnya."Seru Andi terlihat begitu tulus menolong Rani.
" Oh iya, sekalian bawa uangnya untuk bayar sewa selama 1 tahun dulu ya, Ndi. Jangan lupa minta kwitansi nya untuk bukti jika kita sudah bayar. Agar tidak ada kesalah pahaman dikemudian hari."Ucap Rani mengingatkan.
Rani masuk ke kamarnya untuk mengambil uang dan tidak lama dia sudah kembali dan menyerahkan uang sebanyak 5 juta kepada Andi untuk membayar sewa rumah.
__ADS_1
Sementara itu, sedari tadi ibu Darti hanya diam menyimak obrolan Rani dan Andi. Dia setuju-setuju saja dengan niat Rani membuka warung, lagi pula jika tidak ada usaha dari mana Rani akan mendapatkan uang untuk menghidupi anaknya.
*************