
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
" Jadi Serli hamil?."Seru pak Santo.
Saat mereka baru turun dari mobil, Ratu langsung memberondong banyak pertanyaan kepada ibunya. Maklum, mereka semua tadinya sangat khawatir saat mamanya dan kedua nya tidak ada di rumah. Bahkan dihubungi pun tidak bisa, ponsel mereka ada di rumah semuanya.
Dinda pun memberitahu jika mereka baru saja dari puskesmas, memeriksakan Serli. Dan ternyata Serli positif hamil. Kabar itu Dinda sampaikan dihadapan semua keluarga.
" Iya pak, Serli hamil."Jawab Serli dengan senyum mengembang.
" Alhamdulillah, selamat ya nak. Kamu jaga kehamilanmu kali ini, jangan terlalu capek dan jangan mengerjakan pekerjaan yang berat."Seru Pak Santo mengingatkan Serli lalu membawanya kedalam pelukannya.
" Iya pak."Jawab Serli singkat dengan tangan membalas pelukan pak Santo.
Semuanya ikut bahagia dengan kabar kehamilan Serli. Dalam waktu dekat pak Santo akan menerima cucu lagi. Dari Karina sekitar 3 bulan lagi, dan bulan-bulan berikutnya dari Serli. Kebahagiaan pak Santo tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Anak-anaknya sudah bisa memberikannya cucu, Arya sendiri sudah memberikan dua cucu kembar yang tampan.
" Yusuf, ajak istrimu istirahat."Seru Ratu meminta Serli untuk istirahat saja.
" Iya mbak. Kami permisi ke kamar dulu."Ucap Yusuf dengan sopan.
Semua orang yang ada di ruangan itu menganggukkan kepalanya. Ratu yang sedang menggendong Devan juga ikut kembali ke kamarnya untuk menidurkan Devan yang sudah lelap tidur, Revan sendiri masih terlelap.
Revan dan Devan saat ini sudah berusia 5 bulan, waktu begitu cepat berlalu. Sikembar semakin aktif dan agresif saja, membuat Ratu dan pengasuhnya terkadang kualahan saat mengasuh sikembar yang sudah mulai tidak bisa diam. Sikembar sudah tengkurap dan suka berguling kekanan kiri.
" Kalian tidak istirahat lagi?."Tanya Dinda kepada Karina dan Bima.
" Tidak tante, sudah cukup juga istirahatnya. Kami mau menikmati udara yang sudah mulai beranjak sore ini tante."Jawab Karina.
" Oh ya sudah, kalian bisa jalan-jalan di seputaran persawahan. Tidak jauh kok dari sini, kalian pasti sudah tahu tempatnya. Kalian juga sudah pernah datang kesini, tapi tunggu agak sorean saja, biar tidak terlalu panas."Ucap Dinda memberitahu.
__ADS_1
" Iya tante, kami mau duduk-duduk di depan saja dulu sambil nunggu sore."Jawab Karina dengan sopan.
Karina mau membantu memasak pun pasti tidak diperbolehkan sebab di rumah itu sudah ada ART yang akan memasak. Dan biasanya akan dibantu Dinda, Karina tamu sehingga Dinda dan nenek Rahayu tidak memperbolehkannya bekerja didapur apa lagi Karina juga sedang hamil besar.
" Kalau mau ke persawahan nanti bareng-bareng saja mbak."Seru Ratu tiba-tiba saat dia keluar dari kamarnya.
" Iya biar ramai kalau bareng-bareng."Jawab Karina setuju dengan Ratu.
" Sekarangkan bukan musim padi lagi, padi kakek sudah panen. Sawah kakek katanya di tanami cabai dan terong dan juga sudah berbuah, nanti kita bisa bantu panen. Heheheee."Seru Ratu sambil terkekeh.
" Waah seru nih kalau kita bisa ikut memanen, ya sudah nanti kita ke sawah nya bareng-bareng saja. "Ucap Karina setuju dengan Ratu.
Ratu dan Karina bersantai di teras depan bersama Bima dan Arya. Sementara itu Serli baru bisa tidur setelah dia pulang dari Puskesmas tadi. Sudah tidak mual dan sudah tidak pusing juga.
**********
Rani dan Agung menikmati kebersamaan sebagai pengantin baru. Saat ini mereka masih tetap ada di kampung, dalam beberapa hari lagi mereka baru akan ke kota. Rani tetap harus ikut dengan Agung menetap di kota, bagaimanapun Agung saat ini sudah menjadi suaminya.
Agung juga sudah membeli rumah baru yang berada tepat di samping rumah Ratu. Rumah lamanya yang ada di dekat rumah Yanto sudah dia jual. Tidak mungkin Agung mengajak Rani tinggal di rumahnya yang berdekatan dengan masalalu Rani.
" Mas, ini kok kita ke sini?."Seru Rani dengan wajah keheranan.
" Agung kenapa kita ke rumah ini?."Tanya ibu Darti ikut penasaran.
" Bu, Rani. Emm.. Rumah ini sudah Agung beli lagi dari rentenir itu. Dan saat ini rumah ini sudah menjadi gak milik ibu, tapi bukan berarti Agung mau meminta ibu untuk tinggal di rumah ini dan kami ke kota. Ibu tetap boleh ikut dengan kami di kota, dan rumah ini bisa kita minta Andi untuk menempatinya. Jadi kalau suatu saat kita ingin datang kesini, tidak bingung cari tempat menginap."Ucap Agung bicara dengan sungguh-sungguh.
Deegghhh
Rani menatap manik suaminya, tidak ada kebohongan sama sekali. Agung terlihat bicara dengan serius dan jujur. Agung mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli rumah beserta isinya itu.
Rani tahu, rentenir itu tidak mungkin menjualnya dengan harga sesuai dengan saat dia mengambil rumah itu.
" Mas, kamu serius sudah membeli rumah ini?."Tanya Rani dengan mata berkaca-kaca karena bahagia.
" Iya sayang, mas serius dan tidak bohong."Jawab Agung lagi.
__ADS_1
Pluukkk
Rani langsung menghambur dalam pelukan Agung, dia memeluk Agung dengan erat dan akhirnya air matanya pun membasahi pipinya. Air mata kebahagiaan itu mengalir dengan sendirinya, Rani tidak menyangka jika Agung akan membeli kembali rumah orang tuanya.
" Jangan menangis sayang."Seru Agung mengusap air mata Rani dengan jempol tangan kanannya.
" Terima kasih, Mas."Seru Rani sampai tidak bisa berkata-kata lagi.
" Terima kasih nak Agung."Seru ibu Darti juga tidak lupa mengucapkan rasa terima kasihnya terhadap anak menantunya itu.
" Sama-sama bu,Ran. Ini semua sudah menjadi kewajibanku untuk memberikan yang terbaik untuk ibu dan istriku. Yuk kita masuk dulu, pasti kalian kangenkan sama rumah ini."Ucap Agung menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya masuk.
Rani, Agung dan Ibu Darti masuk kerumah itu dengan bersamaan. Keadaan rumah masih sama dengan dulu, barang-barangnya pun masih sama dan tertata dengan rapi.
" Ibu kangen dengan rumah ini. Nanti ibu tinggal di rumah ini saja dama Andi. Ibu juga mau memindahkan warung di halaman rumah ini saja. Ibu lebih nyaman tinggal di rumah ini daripada di kota."Seru ibu Darti lebih memilih tinggal di kampung untuk menghabiskan masa hari tuanya.
" Ibu yakin mau tetap tinggal di kampung? Tidak mau ikut Rani dan mas Agung?."Tanya Rani menyakinkan ibu Darti.
" Ibu yakin, Ran."Jawab ibu Darti singkat.
" Hemm. Baiklah, kalau itu memang yang menjadi keputusan ibu. Nanti Agung akan meminta tukang untuk membangun toko di halaman rumah, agar ibu bisa berdaganga seperti keinginan ibu."Ucap Agung akan mewujudkan keinginan ibu mertuanya.
Ibu Darti mengangguk dengan senyumannya yang mengembang. Dia juga merasa bersyukur mempunyai anak menantu sebaik dan sepengertian Agung. Bukan berarti Bima tidak baik, Bima juga dulu sudah menjadi menantu yang baik sampai Rani membohongi soal uangnya untuk merenovasi rumah.
" Apa malam ini kita sudah bisa menginap di sini mas?."Tanya Rani.
" Bisa dong, kan rumah ini sekarang sudah menjadi milik ibu lagi. Kapan pun kita bisa datang dan menginap di rumah ini. Apa nanti malam mau menginap di sini?."Tanya Agung.
" Iya mas."Jawab Rani dengan cepat sambil menganggukkan kepalanya.
* Terima kasih, Ya Allah. Engkau telah memberikan hamba suami yang baik dan berhati malaikat. Suami yang bisa menerima segala kekuranganku, masalaluku dan bisa menerima anakkku sebagai anaknya sendiri.*Gumam Rani dalam hatinya.
Eeerrgghhhh
Tegar yang berada dalam gendongan ibu Darti tiba-tiba terbangun dan merengek. Dengan sigap, Agung mengambil Tegar dari gendongan ibu mertuanya. Agung membawa Tegar duduk di ruang keluarga, di sana Agung merebahkan Tegar di atas sofa.
__ADS_1
" Anak papa bangun ya, pasti capek ya sedari tadi dalam gendongan nenek. Sekarang anak papa sudah berada di atas sofa, lebih lebar dan lebih lega."Seru Agung mengajak Tegar berbicara.
************