Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Mantan suami belanja


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


Seharian ini Karina hanya di rumah saja, dia merasakan perutnya yang sebentar-sebentar sakit dan sebentar-sebentar hilang. Sebagai wanita yang baru hamil pertama kalinya, dia belum paham betul apa yang terjadi dengannya. Dia hanya mengira jika dia saat ini sedang mengalami kontraksi palsu.


Karina tetap beraktifitas seperti biasanya, dia mengerjakan pekerjaan rumah sampai selesai. Namun saat hendak makan siang, perutnya terasa mulas dan sakit yang teramat sangat. Karina sampai keluar keringat dingin sekujur tubuhnya.


" Apakah ini juga kontraksi palsu? Tapi biasanya tidak seperti ini sakitnya? Atau aku mau melahirkan? Tapi HPL nya masih minggu depan?."Karina terus bertanya pada dirinya sendiri.


Aduuhhhh....


Karina semakin mengaduh kesakitan, perutnya semakin sakit.


" Ya Allah, apa benar aku mau melahirkan?."Tanya Karina pada dirinya sendiri.


Karina meraih ponsel yang ada di atas meja, dan mencari kontak suaminya. Karina menghubungi Bima, namun sampai 2 kali panggilan Bima tidak mengangkat panggilan teleponnya. Karina semakin merasakan sakit di bagian perutnya, dia pun berjalan mendekati pintu utama rumahnya untuk meminta bantuan tetangga yang lewat.


" Kenapa tidak ada orang yang lewat satupun."Seru Karina sambil mengusap perutnya.


Karina duduk di teras rumah sembari mencoba menghubungi Bima kembali tapi hasilnya tetap nihil.


" Sepertinya mas Bima sedang sibuk."Ucap Karina pada dirinya sendiri.


Brrrumm Brruumm Brruumm


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Terlihat mobil Ratu memasuki halaman rumah Karina, Karina nampak berbinar setelah melihat Ratu turun dari mobilnya.


" Ratu tolong aku."Seru Karina langsung meminta tolong.


" Mbak, mbak Karina kenapa? Ya Allah, mbak mau melahirkan lihat ketubannya sudah pecah."Seru Ratu dengan panik. Apa lagi Ratu melihat ketuban Karina juga sudah pecah.


" Iya Ratu, ini sakit sekali. Tolong antarkan aku ke rumah sakit. Aduhh... Hhhuuu."Seru Karina dengan suara merintih kesakitan.


" Iya mbak, kita ke rumah sakit sekarang."Ucap Ratu bergegas membawa Karina ke rumah sakit.


Tanpa fikir panjang, Ratu mengunci pintu rumah Karina dan segera membawa Karina masuk ke mobilnya untuk dibawa ke rumah sakit. Ratu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tidak berani melaju dengan cepat sebab jalanan di siang hari lumayan ramai.


" Sabar ya mbak, kita sebentar lagi sampai rumah sakit. Mbak sudah menghubungi mas Bima?."Tanya Ratu sembari melirik Karina yang duduk di kursi belakang.

__ADS_1


" Huuuhhh.. Mas Bima sepertinya sibuk, aku sudah menghubunginya tapi tidak diangkat juga."Jawab Karina.


" Hemm.. Nanti kalau sudah di rumah sakit biar aku yang menghubungi mas Bima atau mas Arya, biar mas Arya yang menyampaikannya kepada mas Bima."Ucap Ratu tetap fokus dengan kemudi setirnya.


Setelah 30 menit, mobil yang dikendarai Ratu sudah sampai di depan loby rumah sakit. Ratu pun turun dan meminta tolong kepada pegawai rumah sakit untuk membantunya menurunkan Karina.


Saat ini Karina sudah berada di ruangan bersalin, dokter sudah menanganinya. Sedangkan Ratu menunggu di luar dengan harap-harap cemas.


" Semoga ibu dan bayinya semuanya sehat. Oh iya aku harus menghubungi mas Bima."Ucap Ratu.


Ratu mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi Bima.


" Kenapa mas Bima tidak mengangkat teleponnya? Hemm.. Aku telepon mas Arya saja dan biar mas Arya yang menyampaikannya kepada mas Bima."Ucap Ratu akhirnya memutuskan untuk menghubungi Arya.


Hanya dengan satu kali panggilan, Arya langsung mengangkat teleponnya.


[ Hallo, Assalamualaikum dek? Tumben telepon siang-siang begini? Kangen ya?] Seru Arya menggoda istrinya.


[ Waalaikumsalam, mas. Aku lagi tidak mau bercanda suamiku sayang. Oh iya dimana mas Bima? Aku tadi menghubunginya tapi dia tidak mengangkatnya?] Ratu langsung menanyakan keberadaan Bima.


[ Kenapa kamu menanyakan mas Bima?]


[ Mbak Karina mau melahirkan mas, dan sekarang sudah berada di rumah sakit. Mas Bima ditelponin tidak diangkat juga, beruntung tadi aku ke rumah mbak Karina.]


[ Ohh pantas saja susah dihubungi, rumah sakit XX]


[ Ok mas sekarang kasih tahu mas Bima, Assalamualaikum.]


[ Waalaikumsalam ]


Sementara itu, Serli yang sedang menunggu toko sendirian dikejutkan dengan kedatangan pria yang sangat dia kenali.


" Serli, hemm... Jadi toko ini masih punya orang tua kamu? Aku kira sudah ganti pemiliknya, soalnya tokonya terlihat lebih besar dan banyak barang yang dijual."Ucap Harsa.


Pria yang datang ke toko untuk berbelanja adalah Harsa, mantan suami pertama Serli. Orang yang sudah dia lupakan sekarang berdiri tepat dihadapannya.


" Iya Om, ini masih punya bapak. Maaf, om tadi mau beli apa?."Tanya Serli mencoba untuk bersikap biasa saja.


" Mau cari etalase sama kursi-kursi plastik yang biasa untuk berjualan. Apa ada?."Tanya Harsa lebih terlihat ramah dari biasanya.


" Ada Om, tapi tunggu Suami saya dan karyawan dulu ya. Nanti biar mereka yang mengantarkan melihat-lihat etalasenya dibagian belakang. Maaf, aku tidak bisa mengantarkan takut nanti timbul fitnah dan suamiku salah paham."Ucap Serli menyampaikan alasannya.


" Iya tidak apa-apa, kalau begitu aku tunggu di luar saja ya."Seru Harsa nampak mengerti maksud Serli.

__ADS_1


Serli hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia melihat perubahan sikap Harsa, Harsa yang sekarang lebih sopan dan menghargainya. Harsa berjalan keluar toko dan dia duduk di kursi yang ada di luar toko.


" Sepertinya Serli sudah tidak seperti dulu lagi. Dia sudah berubah dan sudah menjadi istri orang lain. Aku ikut senang melihat perubahan Serli."Ucap Harsa dengan pandangannya mengarah kedalam toko.


Setelah menunggu 5 menit, Yusuf dan ke 3 karyawannya pun pulang dari masjid. Yusuf melihat ada seseorang pria paruh baya yang tidak asing dimatanya, dia mengerutkan keningnya saat menyadari jika pria itu adalah mantan suami Serli.


Yusuf pun menghampirinya dan bicara dengan baik-baik.


" Maaf pak, ada yang bisa saya bantu?."Tanya Yusuf bersikap dengan ramah.


" Mas suami yang punya toko ini? Saya mau mencari etalase sama kursi-kursi plastik yang biasa untuk jualan bakso itu mas. Apakah ada? Tadi saya sudah bertanya sama Mbak yang di dalam tapi katanya tunggu suaminya pulang."Ucap Harsa dengan ramah.


" Iya benar pak, saya suami mbak yang ada di dalam sana. Mari saya antar melihat-lihat etalasenya, ada di bagian belakang sana."Seru Yusuf sambil menunjuk ke arah belakang.


Yusuf dan Harsa pun berjalan beriringan, mereka lewat samping toko dan menuju ke belakang dimana para etalase, lemari dan barang-barang besar yang lainnya berada. Yusuf melayani pelanggannya dengan baik, dia sama sekali tidak mempermasalahkan siapa pelanggannya itu.


" Mau yang mana pak? Atau mau pesan yang model lain atau bahan lebih bagus juga bisa."Seru Yusuf.


" Yang ini saja mas, sama kursi plastiknya 2 kodi ya mas. Kursinya minta warna biru sama merah saja."Jawab Harsa sambil memegang etalase yang sudah menjadi pilihannya.


" Oh iya pak, mari kita ke dalam untuk melakukan pembayarannya. Nanti barangnya akan kami antarkan, bapak tinggalkan alamatnya saja."Ucap Yusuf lagi.


Harsa mengikuti langkah kaki Yusuf, Yusuf menuju meja kasir dan disana juga masih ada Serli. Serli tadinya akan pulang, tapi dia ingat jika Yusuf nanti akan mengantarkannya pulang sehingga dia mengurungkan niatnya.


" Dek, kamu tidak apa?."Tanya Yusuf dengan pelan.


" Aku tidak apa-apa mas."Jawab Serli menyakinkan Yusuf dan tersenyum dengan manis.


* Sepertinya Serli bahagia dengan pernikahannya yang sekarang. Meskipun aku dan Serli pernah punya masalalu, dan saat itu hubungan kami atas dasar saling membutuhkan hingga terjadinya pernikahan yang tidak kami inginkan. Aku merasa bersalah kepada Serli, sebab aku dulu juga yang sudah membuat Serli menderita.*Gumam Harsa dalam hatinya.


Proses jual beli sudah selesai, Harsa pun sudah meninggalkan alamat tempat barang yang akan diantarkan tadi. Kini tinggallah Serli dan Yusuf yang ada di meja kasir.


" Mas tidak marah?."Tanya Serli.


" Marah ? Kenapa harus marah dek, pak Harsa itukan masalalu jadi tidak mungkin dong mas marah. Kecuali jika kamu mau lagi sama dia, baru mas marah."Seru Yusuf menggoda Serli.


" Iihh mas Yusuf ini apaan sih, mana mungkin aku mau sama dia. Sekarang kan aku sudah ada mas Yusuf."Seru Serli lalu mencubit kecil pinggang Yusuf.


Adduuhhh..


Yusuf mengaduh kesakitan sambil terkekeh kecil. Dia sengaja bicara seperti tadi agar Serli tidak terlalu serius membicarakan soal masalalunya.


************

__ADS_1


__ADS_2