
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Semenjak Bima tahu jika uang gajinya dihabiskan istrinya untuk menyenangkan orang tuanya. Bima sudah tidak lagi mempercayakan gajinya kepada Rani. Sudah 2 bulan ini Rani hanya diberi uang 2 juta saja, dan sisa gaji dipegang Bima.
Sudah seminggu ini mereka pindah di rumah kontrakan. Ibu Darti tetap ikut kemanapun Rani tinggal, sampai Bima merasa jika ibu mertuanya itu hanya menjadi bebannya saja. Setiap hari selalu meributkan uang, uang dan uang tanpa tahu bagaimana lelahnya Bima dikantor.
" Mas, mana jatah bulananku? Kemarin kamu sudah gajian kan?." Tanya Rani sambil menadahkan tangannya dihadapan Bima yang sedang memakai sepatu bersiap untuk berangkat kerja.
" Sabar."Seru Bima tanpa memandang kearah Rani.
Selesai memakai sepatunya, Bima membuka tas kerjanya dan menyerahkan amplop cokelat yang berisi uang kepada Rani. Dengan senang hati Rani menerima uang itu dan menghitungnya tepat dihadapan Bima.
" Kok tetap 2 juta sih mas? Skincare ku habis loh mas, tambahin lagi dong 1 juta. Belum lagi kebutuhan rumah. Mana cukup uang 2 juta ini mas?."Tanya Rani sambil mengibaskan uang dihadapan Bima.
" Cukup tidak cukup ya itu urusan kamu, untuk bahan makanan kemarin aku sudah beli. Ada beras, minyak, telor, mie instan dan untuk kebutuhan sumur pun aku sudah beli. Kamu dan ibu kalau lapar ya masak saja, uang 2 juta itu kamu gunakan untuk mengenyangkan perut kalian berdua. Mungkin cuma beli untuk sayuran dan lauknya saja, 30 ribu cukup untuk makan berdua. Itu kalau kalian mau masak, kalau mau beli online ya tidak cukup."Seru Bima sudah tidak mau lagi di manfaatkan oleh istrinya.
Bima bukan dia mau pelit dengan istrinya sendiri, dia tahu betul jika Rani adalah tanggung jawabnya. Namun kali ini Bima ingin Rani berubah dan bisa menghargai berapapun uang yang dia berikan. Bima juga butuh uang lebih untuk membayar uang kontrakan, untuk uang bensin dan makannya.
" Tapi mas, aku malas mau masak. Lebih praktis beli tinggal makan beres."Seru Rani tetap saja tidak mendengar ucapan Bima.
" Kalau itu ya terserah kamu, jadi kalau itu habis sebelum tanggal gajian ya terserah kamu. Tinggal masak saja kok tidak mau, bahan-bahan semua sudah ada hanya tinggal sayuran terus kalian olah saja. Sudah jangan ribut lagi soal uang, aku mau bekerja."Seru Bima lalu dia bangkit dan keluar rumah menghampiri motornya yang terparkir di depan rumah kontrakan.
Deru motor Bima sudah menjauh, Rani masih saja kesal dan cemberut. Terpaksa dia beli skincare pakai uang pribadinya sisa-sisa dari tabungannya.
Ibu Darti keluar dari kamarnya dengan muka bantal sembari tangan mengusap-usap perutnya. Sepertinya wanita paruh baya itu sedang lapar, dia berjalan kedapur mencari makanan namun tidak ada makanan diatas meja.
__ADS_1
" Ran, ibu lapar? Apa suami kamu tadi tidak buat sarapan? Biasa ada nasi goreng buatan suami kamu, kok ini tidak ada? Apa jangan-jangan sudah kamu habiskan?."Tanya ibu Darti membuat darah Rani naik seketika.
" Apaan sih bu? Aku juga belum sarapan !! Mas Bima tadi itu tidak masak sarapan dan mulai hari ini kita harus masak sarapan sendiri bu. Ibu buka saja kulkas, ada apa saja disana."Seru Rani dengan kesal.
Ibu Darti yang memang sudah sangat lapar, akhirnya mengikuti perintah Rani. Dia menuju kulkas dan membukanya, disana ada telor yang lumayan banyak. Ibu Darti mengambil 2 butir telor untuk dia goreng, namun saat dia melihat kearah megicom. Megicom itu dalam keadaan mati, yang pasti tidak ada nasi.
" Rani !! Mana nasinya? Masa ibu cuma mau makan telor saja."Seru Ibu Darti dengan tangan yang masih memegang 2 telor.
" Si4l !! Jadi mas Bima juga belum masak nasi ya? Masak saja bu, itu di dekat lemari sudah ada beras satu karung. Kalau tidak mau lama masak saja mie instan, itu dilemari makan ada mie instan. Sudah bu, jangan teriak-teriak aku pusing bu dengerinnya."Seru Rani sambil mengurut keningnya sendiri.
" Cuma mau makan saja susah, besok kalau Bima tidak masak sarapan kamu dong Ran yang masak. Atau beli kek sana di luar, di depan sana ada loh yang jual nasi uduk kalau pagi begini. Kamu ini jangan selalu mengandalkan Bima, lama-lama kalau kamu seperti ini Bima bisa meninggalkan kamu."Ucap ibu Darti tumben dia bicara dengan tingkat kewarasannya yang normal.
" Mas Bima tidak mungkin meninggalkan aku bu, dia itu sangat mencintaiku dan dia itu bucin banget sama Rani."Seru Rani dengan sangat percaya diri.
Ibu Darti sudah tidak bersuara lagi, sepertinya dia sedang sibuk memasak mie instannya. Dia memasak 2 bungkus mie instan rebus dan telorpun 2 sekaligus, benar-benar pemborosan.
Bau harum mie instan menyeruak di indra penciuman Rani, membuat cacing-cacing di perutnya mulai berjoget ria.
" Baunya enak sekali, perutku jadi lapar."Seru Rani sambil mengusap perutnya.
" Loh bu, kok cuma 1 mangkok? Punya Rani mana?." Tanya Rani sambil mengerutkan keningnya.
" Memang siapa yang memasak untuk kamu? Ibu masak untuk ibu sendiri, kalau kamu lapar ya masak sendiri. Lagian tadi kamu juga tidak bilang jika kamu mau juga."Jawab ibu Darti dengan santainya.
" Bener-bener ya ibu ini. Tapi kok ini banyak banget, memang ibu masak berapa?." Tanya Rani lagi.
" Masak 2 telor nya juga 2, jangan ganggu ibu makan. Jangan harap ibu akan membaginya untuk mu."Seru ibu Darti mulai menyendok mie yang masih panas itu lalu dia tiup-tiup agar bisa segera masuk ke mulutnya.
Rani mendengus kesal, dia bangkit lalu berjalan menuju dapur sambil menghentak-hentakkan kakinya. Ibu Darti tidak menghiraukan tingkah Rani, yang penting perutnya kenyang meskipun dia belum cuci muka.
********
__ADS_1
Saat makan siang, Bima makan siang bersama dua temannya di salah satu Cafe yang tidak jauh dari tempat nya bekerja. Bima ingat betul jika Cafe yang mereka datangi ini adalah Cafe dimana Karina bekerja.
" Kamu mau makan apa, Bim?." Tanya Eko teman kantor Bima.
" Iya nih kamu mau makan apa, ini kami sudah pesan tinggal kamu saja. Malah mata jelalatan, nyariin apa sih? Kasihan nih mbaknya nungguin kamu."Seru Toni ikut bersuara.
" Emm.. Tidak, tidak nyari siapa-siapa. Hanya lihat suasana nya saja. Oh iya mbak saya pesan ayam kalasan sama minumnya es jeruk saja."Ucap Bima sedikit gugup.
Pelayan itu sudah mencatat pesanan Bima, setelahnya dia pun meninggalkan meja tempat Bima dan dua temannya duduk. Bima sendiri masih sangat penasaran kenapa dia tidak melihat Karina, biasanya jam-jam seperti ini Karina sibuk melayani para pelanggan.
" Aku ke toilet dulu ya."Ucap Bima pamit kepada dua temannya.
" Iya. Jangan lama-lama, kita tinggalin kalau sampai 2 jam tidak kelar."Jawab Toni sambil terkekeh.
" Kamu kira aku mau ngapain saja selama itu di toilet."Seru Bima.
Hahaaaaaa Haaaaa
Kedua teman Bima hanya menjawabnya dengan tawa yang renyah. Bima pun berjalan menuju toilet, dia sebenarnya tidak benar-benar ingin ke toilet. Dia ingin mencari tahu keberadaan Karin yang sedari tadi tidak dia temui.
" Ehhhh mbak, maaf saya mau tanya. Kok Karin sedari tadi tidak kelihatan ya, apa dia tidak masuk?."Tanya Bima saat berpapasan dengan pelayan yang baru saja mengantarkan pesanan dimeja lain.
" Oh mbak Karin? Ada kok pak, mbak Karin belum lama datang mungkin saat ini masih ada di ruangannya. Maaf saya permisi mau lanjut kerja lagi."Seru pelayan itu dengan ramah dan sopan.
Bima masih belum paham dengan apa yang dikatakan oleh pelayan tadi.
" Ruangannya? Apa setiap karyawan punya ruangannya? Oh mungkin saja tadi Karin shiff siang jadi dia baru datang dan saat ini lagi di ruang ganti." Ucap Bima pada dirinya sendiri.
Bima melanjutkan langkahnya menuju toilet hanya untuk mencuci tangan saja. Setelahnya dia kembali menghampiri kedua temannya, ternyata pesanannya tadi sudah diantarkan dan sudah terhidang diatas meja.
****************
__ADS_1
Bab ini khusus Bima dan Rani ya ❤️❤️
Yuk klik Like, Komentar, Vote, Hadiahnya. Jangan lupa RATE BINTANG 5 NYA ya kak. Terima kasih 🙏🙏❤️❤️