
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Serli menangis dan mengurung diri di kamarnya, pak Santo sebagai seorang ayah tentunya sangat khawatir dengan keadaan Serli. Sudah dua malam pak Santo melihat Serli pulang tengah malam terus, dan saat di rumah selalu mengunci diri di kamarnya.
" Bu, coba dilihat itu Serli. Bapak perhatikan kok dia itu sekarang sering mengurung diri di kamar. Dan sudah dua malam , bapak lihat dua pulang tengah malam terus. Jangan di biasakan pulang tengah malam bu, tidak enak kalau dilihat tetangga."Ucap pak Santo meminta istrinya untuk menasehati Serli.
" Serli itu kerja pak,makanya dia sering pulang tengah malam. Bapak sih tidak bisa memberikan uang yang banyak, makanya Serli sampai kerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri."Cibir ibu Marni.
" Kenapa ibu bicara seperti itu? Meskipun sedikit bapak ini setiap minggu selalu memberi Serli uang jajan. Uang kuliah juga masih bapak bantu, biasanya dari Arya juga dia dapat. Serlinya saja yang boros dan bergaya tidak sesuai dengan keuangannya."Ucap pak Santo.
Huuuhhhhh
Ibu Marni mendengus dengan kesal. Berdebat dengan suaminya memang tidak ada gunanya. Saat mereka sedang membicarakan Serli, Bima keluar dari kamar dan ikut bergabung dengan mereka. Hari ini memang weekend sehingga Bima tidak bekerja.
" Kenapa kamu, Bim?."Tanya ibu Marni melihat wajah Bima seperti tidak bersemangat.
" Tidak apa-apa, Bu." Jawab Bima dengan malas.
Bagaimana dia tidak kesal, Rani sudah tahu dia yang salah justru dia yang mendiam kan Bima. Namun Bima juga mendiamkan Rani, bicara seperlu nya saja.
" Bim, kamu jangan marah sama Rani. Maafkan saja dia, ingat kita ini punya hutang budi sama orang tua Rani. Masalah uang kamu itu, sudah anggap saja sebagai balas budi. Lagi pula ada rumah ini yang bisa kalian tempati, untuk Serli pasti nanti kalau menikah ya ikut sama suaminya."Ucap ibu Marni seenaknya saja dan terus membela Rani dan menganggap balas budi terus menerus.
" Jangan pernah bahas itu lagi bu, balas budi kita sudah cukup. Kita itu tidak minta, tapi berhutang dan sudah kita bayar. Lagi pula ibu memintaku tinggal disini, memang ini rumah siapa bu? Ini rumah Arya, dan aku tidak mau tinggal berlama-lama di rumah ini. Aku ingin belajar mandiri Bu."Seru Bima menolak dengan tegas.
" Bima !! Sejak kapan kamu membantah perintah ibu mu? Lagi pula Arya itu sudah punya rumah sendiri, rumah dia lebih bagus dari rumah ini. Rumah ini akan di wariskan sama kamu, karena kamu anak tertua."Seru ibu marni tetap bersikukuh mengatakan rumah milik Bima.
__ADS_1
Pak Santo bingung, disisi lain dia tahu jika rumah ini memang sudah atas nama Arya dan Arya lebih berhak atas rumah nya. Namun, dia juga kasihan dengan Bima yang uang untuk membeli rumah sudah tidak ada lagi. Mungkin jika untuk tinggal sementara, pak Santo pun tetap mengizinkan karena bagaimanapun dan biarpun Bima anak tirinya, pak Santo juga menyayanginya dengan tulus.
" Rumah ini memang milik Arya, tapi jika kamu mau tinggal disini tidak apa-apa. Daripada uangnya untuk mengontrak, lebih baik kamu mulai tabung saja lagi. Arya pasti paham kok."Ucap pak Santo bicara dengan cukup bijaksana.
" Kok bapak begitu sih? Pilih kasih, tidak adil. Rumah ini seharusnya rumah ini itu untuk Bima. Karena Arya sudah beli rumah yang besar dan mewah. Pokoknya ibu tidak mau tahu, rumah ini harus untuk Bima.!!."Seru ibu Marni.
" Tidak bisa bu, rumah ini milik Arya dan surat rumah ini juga sudah atas nama Arya. Ini adalah rumah ibu kandungnya Arya, dan Arya yang berhak atas rumah ini. Bapak saja tidak berhak apalagi, Bima."Seru pak Santo mempertahankan haknya Arya.
*Huhhh... Menyebalkan. Kenapa juga rumah ini atas nama Arya. Jika Arya dapat rumah ini, terus Serli dan Bima akan dapat apa?.*Gumam ibu Marni dalam hatinya.
Ceklekkk
Pintu kamar Serli terbuka dan Serlipun keluar dengan pakaian yang terlihat rapi dan mek up nya pun terlalu tebal. Semua mata memandang ke arah Serli, pak Santo merasa risih dengan pakaian yang dipakai Serli yang serba ketat dan mencetak bentuk tubuhnya itu.
" Kamu mau kemana, Serli?." Tanya pak Santo.
" Mau keluar, bosan di rumah cuma bisa dengerin kalian ribut terus menerus. Lama-lama telinga ku juga panas kalau di rumah terus."Seru Serli dengan berani.
" Kelamaan."Seru Serli lalu pergi begitu saja tanpa peduli dengan ucapan pak Santo.
Serli terus melangkah keluar, hari ini dia ingin menemui Harsa kembali dan meminta pertanggung jawaban Harsa. Dia sengaja mencari hari libur, agar bisa bertemu dengan istri Harsa.
*******
Serli sudah sampai di kediaman Harsa, namun satpam menahannya. Karena setiap hari libur keluarga Harsa menghabiskan waktu bersama dengan keluarga dan tidak sembarang orang bisa bertamu.
" Pak, saya ini ada perlu dengan Harsa dan istrinya. Bisa bapak buka pintu gerbangnya, jangan sampai saya buat onar disini."Seru Serli mengancam Satpam yang ada di rumah Harsa.
" Maaf mbak, Tuan dan Nyonya sedang tidak bisa di ganggu. Jadi mbak lebih baik pergi saja dari sini, percuma mbak marah tetap tidak akan saya buka pintu gerbang ini."Ucap Satpam bicara dengan tegas.
" Satpam saja belagu ya kamu, lihat saja kalau aku sudah menikah dengan Tuan kamu, kamulah orang pertama yang akan aku pecat."Seru Serli dengan kesal.
__ADS_1
Serli mengambil ponsel dalam tasnya lalu menghubungi Harsa, sampai 3 kali panggilan telepon dari Serli tidak di angkat juga. Serli mengirim pesan dan berharap di baca oleh Harsa.
[ Aku sudah ada di depan rumah mu, cepat temui aku atau aku akan memaksa masuk dan merusak kebahagiaanmu dan istrimu.]
[ Aku tidak main-main, Harsa !!]
Dua pesan sudah Serli kirimkan, dan benar saja pesan itu langsung centang dua biru. Serli tersenyum sinis, saat tahu Harsa sudah membaca pesannya.
Hanya butuh waktu 3 menit, Harsa telihat keluar rumah dengan tergesa-gesa menghampiri Serli yang ada di luar pagar.
" Buka gerbangnya pak."Seru Harsa singkat.
Setelah pintu gerbang di buka, Harsa keluar dan menarik Serli menjauh dari pintu gerbang.
" Kamu sudah gila !! Kenapa kamu datang kesini? Karena sampai kapanpun aku tidak akan menikah dengan p3l4cur sepertimu, Serli. Kamu itu hanya seorang p3l4cur dan tidak harga dirinya sama sekali."Seru Harsa memaki Serli.
Pllakk
Serli menampar Harsa, dia marah karena Harsa sudah menghinanya. Mata Harsa membulat sempurna, dia tidak terima Serli menamparnya.
" Kamu berani menamparku? Jangan buat aku bersikap kasar, Serli. Ingat kamu itu hanya wanita murahan yang mau tidur dengan siapa pun, kamu hamil itu urusan kamu bukan urusanku. Kamu lupa jika aku selalu membayarmu saat aku memakai jasamu."Seru Harsa dengan tangan menarik rambut Serli sampai Serli mendongak kan kepalanya.
" Lepaskan, ini sakit Harsa."Seru Serli.
" Aku tidak akan melepaskan nya sebelum kamu berjanji untuk segera pergi dari sini. Kamu yang sudah mencari perkara denganku, Serli."Ucap Harsa dengan wajah memerah.
Serli sepertinya salah strategi, Harsa bukanlah pria yang mudah ditaklukan. Percuma melawan Harsa, Serli pun memutuskan untuk pergi dari rumah Harsa dan akan memikirkan cara lain untuk menemui istri Harsa.
" Baik, aku akan pergi."Seru Serli.
***********
__ADS_1