
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Semenjak melahirkan Ratu jarang sekali keluar rumah berdua dengan Arya, meskipun hanya untuk sekedar jalan ataupun makan di luar berdua. Sebagai seorang ibu muda, tentunya Ratu lebih banyak bersama kedua anak kembarnya. Hari-harinya dihabiskan mengurus Revan dan Devan. Melihat itu semua, Dinda merasa kasihan dengan Ratu. Pastinya Ratu juga butuh waktu berdua bersama suaminya, meskipun mengurus anak itu adalah kewajiban Ratu dan Arya.
Dinda hanya tidak mau jika Ratu akan stress dan mempengaruhi fikirannya. Sehingga Dinda meminta Arya untuk mengajak Ratu jalan-jalan.
" Ajaklah istrimu jalan-jalan atau nonton, Arya. Kasihan Ratu, semenjak dia melahirkan jarang sekali dia keluar rumah. Jangan sampai istri kamu jenuh dan stress dengan status barunya sebagai seorang ibu. Mengurus bayi itu tidak mudah, apalagi dua anak sekaligus. Meskipun ada mama yang membantunya, Ratu tetap menjalankan perannya sebagai seorang ibu."Ucap Dinda bicara dengan Arya.
" Iya ma, tapi bagaimana dengan Devan dan Revan kalau ditinggal? Kalau mereka haus bagaimana?."Tanya Arya tetap merasa tidak enak jika merepotkan mertuanya.
" Itu soal mudah, Ratu bisa pumping Asi nya dulu sebelum dia pergi. Sudah sekarang kamu minta Ratu untuk bersiap-siap, tadi mama sih sudah bicara sama dia tapi dia belum ada jawaban."Ucap Dinda bicara dengan bijak.
" Iya ma. Tapi tidak apa-apa kan kalau Revan dan Devan di tinggal sama mama dan papa? Mama tidak kerepotan? Atau secepatnya cari pengasuh saja Ma?."Tanya Arya tetap merasa tidak enak dengan kedua mertuanya.
" Cari pengasuh itu sudah pasti harus, tapi tidak sekarang. Tunggu sikembar usia 4 bulanan saja dulu, lagian masih ada mama dan mama tidak merasa direpotkan. Sudah sana siap-siap, nanti keburu magrib."Seru Dinda tetap memaksa Arya untuk pergi.
Arya mengangguk, lalu dia naik ke lantai dua menuju kamar pribadinya. Sementara itu, di kamar Ratu yang baru selesai mandi sedang memilih baju untuk dia pakai.
" Dek, kita jalan yuk? Makan malam atau nonton gitu, sudah hampir 2 bulan kita tidak quality time berdua. Bagaimana, mau tidak?."Tanya Arya sambil memeluk Ratu dari belakang.
" Isshh mas, jangan begini dong. Awas ada yang bangun, tidak jadi jalan dong."Ucap Ratu sambil terkekeh.
Saat ini Ratu masih mengenakan handuk saja, sebab dia baru selesai mandi. Arya segera melepaskan pelukannya dan membiarkan sang istri memakai baju lebih dulu.
__ADS_1
" Jadi bagaimana dek? Mau tidak?."Tanya Arya lagi.
" Iya mas aku mau, tadi mama juga sudah menyuruhku jalan sama mas. Dan ternyata suamiku ini juga setuju, jadi Ok deh kita jalan. Tapi pulang jangan lewat jam 9 malam ya, kita sudah punya Revan dan Devan. Kasihan mereka kalau kita tinggal lama-lama."Ucap Ratu tetap memikirkan sikembar.
" Ok siap, kalau begitu kita siap-siap."Seru Arya dengan semangat.
Arya dan Ratu sama-sama sedang bersiap, mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu yang diberikan oleh mama Dinda. Setelah bersiap-siap, Arya dan Ratu berpamitan kepada Dinda dan Satria. Mereka menitipkan kedua anaknya kepada orang tuanya.
* Alhamdulillah aku mempunyai mertua yang sangat baik dan pengertian. Padahal aku juga tak ubahnya numpang hidup dengan istriku dengan balasan aku bekerja di perusahaannya. Istriku, kakak iparku dan kedua mertuaku memperlakukan ku dengan baik, bahkan mereka mau direpotkan dengan mengurus kedua anakku.*Gumam Arya dalam hati dengan tangan tetap fokus dengan setir mobilnya.
" Kenapa mas? Kok senyum-senyum?."Tanya Ratu yang sedari tadi memperhatikan Arya yang senyum-senyum sendiri.
" Oh tidak apa-apa dek. Kita cari tempat untuk makan malam saja ya dek, setelah itu terserah mau kemana."Ucap Arya sambil senyum-senyum.
" Boleh, yang penting perut kita terisi dulu mas. Nanti kita bisa lanjut kemana saja. Bagaimana kalau nonton mas?."Seru Ratu memberikan saran.
" Ok."Jawab singkat Ratu.
Mobil yang dikendarai Arya sudah sampai di parkiran sebuah rumah makan yang sudah menjadi langganan mereka saat mereka makan di luar rumah. Ratu nampak senang saat tahu suaminya mengajak makan di tempat favoritenya.
" Pesan seperti biasa ya mas, aku mau ke toilet bentar."Ucap Ratu saat sudah berada dalam rumah makan.
" Iya dek."Jawab Arya singkat.
Arya mencari tempat dimana di lebih memilih tempat duduk yang lesehan saja. Beberapa menu dia pesan, tentunya menu kesukaan istrinya.
******
" Mbak kenapa? Kok melamun?."Tanya Andi yang malam itu datang berkunjung ke rumah kontrakan Rani.
__ADS_1
Rani sedang berada di ruang tengah sembari melipat pakaian. Sedangkan ibu Darti ada di dalam warung, sedang melayani pembeli yang sedang berbelanja.
" Ehh.. Andi. Sejak kapan kamu berdiri di situ? Sini duduk."Seru Rani kaget melihat Andi yang ternyata sudah berdiri di depannya.
Andi tidak menjawab, dia pun duduk tepat di seberang Rani. Rani masih tetap melanjutkan melipat pakaian, mumpung anaknya tidur.
" Mbak Rani sedang mikirin apa? Kata ibu, mas Agung tadi datang kesini ya? Dia ngapain mbak datang kesini? Ini kok ada kereta bayi? Apa ini dari mas Agung?."Tanya Andi secara beruntun sampai Rani bingung mau menjawabnya.
" Iya Agung tadi siang memang datang ke sini, dan dia yang membawakan kereta bayi ini dan mainan-mainan itu. Dia juga bawa kebutuhan bayi yang lainnya, mbak mau menolak tidak enak. Tapi mbak sudah bilang kalau dia tidak perlu repot-repot bawa barang seperti itu."Jawab Rani mulai bercerita kepada Andi.
" Kenapa di tolak mbak? Niat mas Agung itukan baik, lagi pula anggap saja itu rezeki untuk Tegar. Yang penting mbak tidak memintanya."Ucap Andi lagi.
" Tapi, Ndi. Mbak itu yakin jika ada maksud tertentu, Agung itu sepertinya mencoba mengambil hati mbak. Bukan mbak terlalu percaya diri, tapi dari sikap Agung dan pesan-pesan yang dia kirimkan itu menunjukan perhatian yang berlebihan. Mbak tidak mau memberikan dia harapan, Andi. Mbak masih ingin sendiri."Seru Rani mencurahkan apa yang sedari tadi dia fikirkan kepada adik angkatnya, Andi.
Hhhuuuffff
Andi membuang nafas dengan panjang, dia kasihan dengan kakaknya itu. Gara-gara pria seperti Yanto, Rani harus trauma untuk menjalin hubungan dengan pria lain. Kalau Andi nilai, Agung itu pria yang baik meskipun sedikit ngeselin karena terlalu percaya diri dengan ketampanannya.
" Selagi mas Agung belum mengucapkan kata cinta atau suka, mbak Rani bersikap biasa saja. Jika mas Agung sudah bicara jujur, baru mbak Rani mengambil keputusan. Lagian mas Agung juga tidak setiap hari datang ke sini mbak."Ucap Andi memberikan saran.
" Lah iya dong, mbak harus bersikap biasa saja. Masa iya mbak tiba-tiba menolak dia, padahal Agung sendiri belum bicara apa-apa."Seru Rani lalu tersenyum.
" Heheee.. Ya maksud Andi juga begitu mbak. Oh iya, Tegar sudah tidur ya mbak?."Tanya Andi mengalihkan pembicaraan.
" Iya, Tegar sudah tidur dari jam tujuh tadi. Seharian ini dia sama Agung, tidak rewel sama sekali. Nangis saat dia haus saja, jadi tadi mbak bisa jaga warung dan ibu belanja stok warung ke toko grosir."Ucap Rani lagi.
* Tegar saja sudah nyaman mbak sama mas Agung, masa sih mbak tidak bisa membuka hati untuk mas Agung.*Gumam Andi dalam hatinya.
************
__ADS_1