Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Ikut tinggal sama besan


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Selesai sudah proses pemakaman bapak Mamat, semua keluarga berkumpul di ruang tamu dan para tetangga sudah pulang kerumah nya masing-masing. Kini Rani dan ibu Darti sedang membicarakan soal rumah yang sudah di sita rentenir. Akan dikembalikan jika semua hutang dan bunganya dikembalikan.


" Setelah ini ibu harus tinggal dimana, Ran? Ibu sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu dan Andi. Ikut Andi juga tidak mungkin, ibu apa boleh ikut kamu Ran?."Tanta ibu Darti dengan terisak.


Sudah pasti dia lebih memilih ikut tinggal dengan Rani daripada dengan Andi. Jika dia ikut tinggal dengan Andi, dia akan tetap tinggal di desa dan tentunya di rumah kontrakan yang kecil. Karena gaji Andi tidak cukup untuk menyewa rumah yang besar.


" Rumah ibu beneran mau di sita?" Tanya Bima kaget.


" Iya mas, kalau mas punya uang mas tebus dong jadi rumah tidak jadi di sita."Jawab Rani dengan ketus.


" Emmm... Mana aku ada uang sebanyak itu Ran? Uang 100 juta lebih loh, mana aku ada uang sebanyak itu. Bukannya uang tabungan sudah kamu habiskan."Jawab Bima membuat Rani melengos dengan kesal.


" Kamu kan ada saudara kaya mas. Minta dia saja yang melunasi hutang ibu, buat apa punya saudara kaya kalau bantu saudara yang sedang kesusahan saja tidak mau."Seru Rani melirik Ratu yang duduk tidak jauh darinya.


Ratu pura-pura tidak mendengar, dia sibuk memainkan ponselnya. Padahal dia tahu semua apa yang dibicarakan oleh Rani dan Bima. Bima sendiri justru merasa malu dengan kelakuan sang istri, dengan mudahnya dia meminta Ratu untuk melunasi hutang-hutang orang tuanya.


" Iya Bima, bukannya adik ipar kamu itu katanya kaya. Pasti dia punya banyak uang untuk membantu membayar hutang ibu, uang segitu pasti dia punya."Ucap ibu Darti tanpa tahu malu. Padahal dia selama ini sering menghina dan merendahkan Ratu, namun disaat seperti ini mereka justru mengandalkan Ratu.


" Kalau mau minjam sama Ratu, memang kalian bisa mengembalikannya?." Tanya Bima penuh selidik.


" Ya mana bisa? Lagi pula sama saudara kok pakai di kembalikan sih? Uang ipar kamu itu banyak loh, masa iya segitu saja harus dikembalikan. Pelit amat hidupnya."Ucap ibu Darti seenaknya.

__ADS_1


Kali ini ibu Marni hanya diam saja dan tidak mau ikut campur jika sudah berurusan dengan uang. Apalagi untuk membayar hutang besannya, menurut ibu Marni, daripada untuk membayar hutang nya ibu Darti lebih baik untuk dirinya saja yang lebih berhak karena dia mertuanya Ratu.


" Dek, yuk kita pulang. Ini sudah semakin malam, besok Arya harus ke kantor. Mas Bima kalau masih mau disini tidak apa-apa. Bapak sama ibu mau ikut pulang tidak?." Seru Arya mengajak keluarganya pulang.


Malas berlama-lama dengan ibu Darti yang semakin kesini semakin tidak tahu diri. Dengan mudahnya mau pinjam uang tapi tidak mau bayar, apa dikira uang itu tinggal di cetak, dijemur terus kering begitu saja.


" Bapak ikut pulang."


" Ibu juga ikut pulang."


Ucap pak Santo dan ibu Marni hampir bersamaan. Mata ibu Darti dan Rani langsung melotot, mereka kesal dengan Arya yang justru akan pulang tanpa mau membantunya lebih dulu.


" Terus bagaimana dengan urusan kita, Arya?."Tanya Rani.


" Urusan apa mbak? Aku dan istriku tidak punya urusan apapun sama kamu mbak. Apa mbak kira aku dan Ratu mau membayarkan hutang secara cuma-cuma? Dikira uang itu tinggal mencetak ?." Seru Arya terlihat sekali jika dia marah.


" Tolong lah Arya, Ratu. Hanya kalian yang bisa menolong aku dan ibuku, kalau hutang itu tidak dibayar rumah ini akan disita Arya. Apa kamu sedikitpun tidak ada rasa kasihan kepada ibu ku. Kita ini keluarga Arya, harus saling tolong menolong."Ucap Rani tetap memohon kepada Arya dan Ratu.


" Pulang sekarang Arya."Ucap pak Santo mengajak Arya untuk segera pulang.


" Iya pak. Mas kami permisi dulu ya, mas libur saja tidak apa-apa. Nanti aku yang atur semuanya."Ucap Arya lagi.


Sebelum mereka semua pulang, Ratu menghampiri Rani dan memberikan amplop yang sudah Ratu isi dengan lembaran beberapa uang untuk membantu biaya tahlilan pak Mamat.


" Ini ada sedikig rezeki mbak."Seru Ratu sambil menyalami Rani.


" Kamu ini, apa kamu tetap tidak bisa membantu ibu ku, Ratu. Ini kok amplopnya tipis banget?." Tanya Rani masih sempat-sempatnya membahas tentang amplop dari Ratu.


Ratu memasukan uang 2 juta dalam amplop itu. Namun Rani seolah-olah tidak menghargai uang pemberian dari Ratu.

__ADS_1


" Mbak Rani ini apaan sih? Masih bagus mbak Ratu mau ngasih, kok malah protes."Ucap Andi menegur kelakuan Rani yang cukup memalukan dan tidak tahu diri.


Hhhuuufffff


Rani menghela nafas dengan kasar, adiknya itu dari dulu memang sok bijak. Padahal Ratu itu banyak uangnya jadi Rani akan memanfaatkan momen yang ada untuk mendapatkan uang dari Ratu.


Ratu dan rombongan pun pulang, Bima masih tinggal di sana. Dia sendiri bingung, bagaimana jika ibu mertuanya itu ikut tinggal dengannya. Padahal dia saja masih ikut numpang dengan orang tuanya. Dan tentunya pengeluaran akan semakin banyak dan uang darimana Bima untuk menutupi kebutuhan rumah.


*********


Tiga hari berlalu, Rani dan Bima hari ini akan kembali ke kota. Tentunya dengan ibu Darti yang tetap ikut, padahal ada Andi yang bersedia menjaganya. Andi juga sudah mendapat rumah kontrakan dengan dua kamar yang cukup bagus, hanya membayar 450 ribu untuk sebulannya.


" Bu, ibu disini saja sama Andi. Mbak Rani disana juga tinggal sama mertuanya bu, ibu meminta tinggal dengan mbak Rani iya kalau mertuanya setuju."Ucap Andi mencoba menasehati ibu Darti.


" Pokoknya ibu akan ikut Rani. Ibu tidak mau tinggal di desa lagi."Seru ibu Darti tetap ngeyel.


" Apa tidak menunggu sehabis 7 harian bapak saja ibu ikutnya. "Seru Bima yang sebenarnya juga tidak setuju jika ibu mertuanya ikut.


" Nanti 7 harian bapak bisa disana. Lagipula rumah ini juga harus sudah di kosongi."Jawab ibu Darti membuat Bima sudah tidak bisa lagi berkata-kata.


Akhirnya Bima pulang ke rumah orang tuanya dengan turut serta memboyong ibu mertuanya. Dia belum memberitahu pak Santo jika ibu mertuanya juga ikut pulang. Masalah setuju atau tidak bisa dibicarakan nanti, yang penting sekarang Bima pulang dulu.


" Saudara kamu itu memang pelit dan serakah, Bim. Cuma dimintain tolong bayar hutang saja tidak mau. Atau jangan-jangan mereka itu tidak kaya tapi pura-pura menjadi kaya."Seru ibu Darti.


" Wahhh bisa jadi itu bu."Jawab Rani setuju dengan apa yang dikatakan oleh ibunya.


" Hutang ibu itu banyak, punya uang pun Ratu pasti akan berfikir ulang untuk membayarkannya . Sudah sekarang jangan banyak bergosip dulu, ini lagi diperjalanan seharusnya perbanyak berdoa.


" Kamu ini kenapa sih mas? Kamu tidak suka ya kalau ibu ikut tinggal dengan kita?" Tanya Rani dengan kesal.

__ADS_1


Bima tidak menjawab, dia hanya melirik malas ke arah Rani. Ibu Darti sendiri tidak perduli, dia masa bodo dengan Bima. Yang penting dia ikut dengan Rani dan akan makan minum gratis disana tanpa susah-susah memikirkan uang.


********


__ADS_2