
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Ibu Marni berusaha untuk kabur, namun semua pintu tertutup dan terkunci. Tidak semudah yang ada difikiran ibu Marni, ibu Marni sudah membereskan barang-barangnya dan sudah dia masukkan ke koper semua.
" Kemana lagi aku harus mencari kunci cadangan pintunya. Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi aku bisa kabur."Ucap Ibu Marni pada dirinya sendiri.
Ibu Marni membongkar setiap laci yang ada di rumah, namun tak kunjug dia temukan juga.
Aarrrgghhhh...
Ibu Marni berteriak, dia kesal karena kunci tidak kunjung dia temukan.
" B4ngs4t !! Kemana si Yanto itu menyimpan kunci cadangannya, kalau seperti ini aku bagaimana mau keluar rumah."Ucap ibu Marni memaki Yanto.
Brruumm Brrumm Brruumm
Terdengar suara mobil Yanto memasuki pekarangan rumah. Ibu Marni ketakutan, dia segera berlari untuk menyembunyikan kopernya. Koper dia sembunyikan dibawah ranjang kamarnya.
" Kenapa juga Yanto itu pulang. Biasanya juga dia pergi seharian, dasar Yanto membuat aku susah saja. Ahhh... Menyebalkan."Seru ibu Marni lalu dia keluar kamar untuk menyambut kedatangan Yanto.
" Hai Yanto sayang, kamu sudah pulang?."Seru ibu Marni dengan manja dan suara mendayu untuk menggoda Yanto.
Ibu Marni sengaja bersikap manis agar Yanto tidak memperlakukan dengan kasar. Dan agar Yanto bisa dia taklukkan lagi dengan begitu dia akan lebih mudah untuk pergi dari rumah Yanto.
Mata Yanto memicing saat melihat penampilan ibu Marni yang sudah rapi dan nyentrik seperti orang yang hendak jalan-jalan.
" Mau kemana kamu? Mau pergi? Jangan harap aku mengizinkan kamu untuk jalan ataupun keluar rumah sendirian. Pokoknya kamu tidak boleh keluar rumah, masuk kamar dan ganti baju kamu."Seru Yanto meminta ibu Marni untuk berganti pakaian.
" Yanto sayang, aku sengaja dandan seperti ini untuk menyambut kepulangan kamu sayang. Aku ini juga ingin berpenampilan menarik didepanmu, agar kamu tidak bosan denganku. Bagaimana kalau kita jalan-jalan sayang, aku sudah lama banget tidak keluar rumah. Jika seperti ini terus aku juga akan stress dan aku tidak bisa dengan maksimal melayani para pelanggan."Ucap ibu Marni mulai merayu Yanto.
__ADS_1
" Tidak !! Aku tidak mengizinkan kamu keluar rumah, aku pun tidak sudi jalan-jalan denganmu. Sudah sana masuk kamar mu, aku capek dan aku mau istirahat. Aku itu pusing Marni, di luaran sana polisi masih mencariku justru kamu malah seenaknya mau mengajak ku jalan-jalan. Selama ini aku keluar juga secara sembunyi-sembunyi."Ucap Yanto menolak dengan keras ajakan Ibu Marni.
Hhhuuuhhhh
Ibu Marni mendengus dengan kesal, dia sudah kehabisan akal. Jalan satu-satunya ya mencaritahu dimana Yanto menyimpan kunci cadangan itu.
Yanto masuk ke kamar tamu dan lebih memilih beristirahat di sana daripada di kamar yang di tempati ibu Marni.
" Apa aku harus meminta bantuan polisi agar aku bisa keluar dari rumah ini? Tapi nanti Yanto pasti akan di penjara? Apa aku biarkan saja Yanto dipenjara, dengan begitu aku terbebas dari laki-laki br3ngs3k itu. Tapi aku mencintainya?."Ucap ibu Marni dengan bimbang.
Pada dasarnya ibu Marni itu memang bodoh, mau kabur saja masih memikirkan perasaannya kepada Yanto.
******
Serli menceritakan kepada Ratu dan Karina jika beberapa hari yang lalu dia datang ke rumah ibu Marni untuk menemuinya. Ratu dan Karina mendengarkan dengan seksama, dan pada akhirnya kedua ipar itu pun memeluk Serli untuk menguatkannya. Serli bercerita sambil menangis dan berurai air mata.
" Sabar ya, kamu doakan terus ibu. Siapa tahu ibu bisa sadar dan mendapatkan hidayah taubat dari Allah. Meskipun ibu dari dulu itu tidak menyukai mbak, sampai sekarang mbak selalu mendoakan yang terbaik untuk ibu."Ucap Ratu sembari melepaskan pelukannya.
" Yang dikatakan Ratu benar, semoga saja ibu bisa cepat kembali ke jalan yang benar. Hapus air mata kamu, kalau ada yang lihat nanti dikira kami ngapa-ngapain kamu. Jangan bersedih lagi, kita berkumpul di sini untuk bersenang-senang, yuk kita bantu yang lainnya. Kasihan tuh mereka bakar-bakar sendiri."Ucap Karina mengalihkan pembicaraan.
Ratu dan kedua iparnya pun mendekati para suami yang nampak kerepotan.
" Kalian dari mana saja? Masa kita suruh bakar beginian, mana pada gosong tuh gara-gara Yusuf telat membaliknya."Seru Bima menyalahkan Yusuf.
" Tapi ini juga masih enak kok mas. Tadi kan sudah aku cobain."Seru Yusuf membela diri.
" Halah kalian berdua ini sedari tadi cuma ribut saja, lihat nih bakaran ku semua bagus-bagus dan masih layak untuk dikonsumsi."Ucap Arya ikut berkomentar.
" Kamu sudah terlatih, makanya hasil bakaranmu bagus semua. Kalau aku sama Yusuf kan memang tidak biasa seperti ini. Iya kan Suf."Seru Bima meminta persetujuan Yusuf.
" Iya."Jawab Yusuf dengan pandangan tetap fokus kedaging yang sedang dia bakar.
Hahaa Haahaaa Haaahaaa
Secara tiba-tiba, Ratu dan kedua iparnya tertawa dengan renyahnya. Mereka terus menertawakan ketiga Pria yang sedang berdebat sampai perut mereka sakit dan matanya mengeluarkan air mata.
__ADS_1
" Aduh mbak, perutku sakit banget mbak. Sumpah ini sakit banget gara-gara menertawakan ketiga pria ini."Seru Serli sambil memegangi perutnya yang sakit.
" Hehh... Serli !! Dasar ya kalian ini, sudah tahu kami kesusahan seperti ini masih saja kalian tertawakan. Kalian ini memang istri-istri yang tidak berprikesuamian."Seru Bima menggerutu.
" Hahhh ? Memang ada gitu berprikesuamian, Mas? Ada-ada saja bahasa kamu, Mas."Seru Karina lalu kembali tertawa.
" Sudah jangan ditertawakan lagi, nanti pada gosong lagi itu daging sama udangnya. Sekarang lebih baik kita bantuin saja."Seru Ratu membuat Karina dan Serli yang masih tertawa seketika berhenti.
Mereka berdua langsung diam dan mengangguk setuju, Serli mulai mengambil alih peran Yusuf dan begitu juga Karina. Dia menggantikan tugas Bima, dan meminta Bima untuk duduk sambil minum.
" Mas, Arya ikut yang lainnya saja. Duduk sambil minum dulu sana, lihat nih keringatnya sudah bercucuran."Ucap Ratu sambil mengusap kening Arya yang basah karena keringat.
" Iya dek. Kalian lanjutkan ya, ini tinggal sedikit lagi kok."Ucap Arya lalu memberikan capitan daging kepada Ratu.
" Ok suamiku sayang, sun pipi dulu dong."Seru Ratu sambil menunjuk pipi kanannya.
Arya mengikuti apa yang dimau istrinya, kedua pipi Ratu sudah diberikan sun penuh kasih sayang dari Arya. Melihat kemesraan Ratu dan Arya, membuat Karina dan Serli menggelengkan kepalanya. Sempat-sempatnya disaat sedang bakar-bakar minta cium, dan Arya ikut saja apa kata istrinya.
" Ingat woi disini masih ada orang lain disinu. Serasa dunia milik berdua ya."Seru Serli sambil membalikkan udang yang dia bakar.
" Idih sirik, kalau pengen minta noh sama Yusuf."Seru Ratu sambil terkekeh.
" Yusuf mana mau seperti itu didepan orang, Ratu. Kamu kan tahu kalau Yusuf itu orangnya pemalu banget, tapi tidak tahu kalau sudah didalam kamar masih pemalu apa tidak dia, atau jangan-jangan dia malah garang."Seru Karina sambil melirik Serli.
" Kalau soal itu jangan ditanya lagi mbak, sudah pasti tidak malu dong. Justru dia yang strong dan benar garang loh."Ucap Serli memelankan suaranya agar tidak didengar oleh Yusuf.
Obrolan Ratu, Karina dan Serli semakin melebar kemana-mana. Para suami yang mendengar hanya bisa saling lirik dan tersenyum malu-malu. Bisa-bisanya istrinya membicarakan hal yang tidak semestinya.
" Lihat tu para istri kita, masa iya urusan seperti itu dijadikan bahan obrolan."Seru Bima.
" Sudah biarkan saja mas, yang penting tidak mendetail dan tidak ditempat umum. Mereka juga tahu batasannya, yang penting mereka happy."Ucap Arya berkomentar.
Heemmm...
Seketika Bima dan Yusuf secara bersamaan berdehem sambil menganggukkan kepalanya. Tidak menunggu lama, bakaran yang tadi di lanjutkan para istri sudah selesai dan kini mereka tinggal menikmatinya. Tidak lupa Ratu memanggil kedua orang tuanya dan pak Santo yang ada di ruang keluarga. Untuk sementara Revan dan Devan ditemani oleh bik Siti.
__ADS_1
**********