
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Pak Santo di tinggal liburan anak dan menantunya, namun dia tetap membuka toko nya. Dan hanya berdua saja dengan Ucup satu-satunya karyawan yang dimiliki oleh Pak Santo. Si Ucup sebenarnya sudah lama ikut dengan Pak Santo, dari beberapa tahun yang lalu saat toko Pak Santo masih ramai dengan memproduksi sendiri. Namun saat toko mulai sepi dan produksi Pak Santo berkurang, Ucup terpaksa diberhentikan. Dan baru beberapa bulan ini, Ucup bekerja kembali di toko Pak Santo.
Ucup usianya saat ini sudah 28 tahun, namun dia belum juga menikah. Dia hanya mempunyai ibu saja, sedang ayahnya sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Ucup mempunyai adik perempuan yang saat ini baru duduk di bangku SMP, kelas 3.
" Cup, kamu tidak mau melanjutkan kuliah kamu sampai S1, cup?."Tanya pak Santo saat mereka sedang istirahat makan siang.
" Tidak pak, sekarang ucup fokus bekerja saja dan menabung untuk membantu biaya kuliah adek Ucup nanti. Ibu sih bisa biayain adek Ucup, tapi Ucup sebagai anak laki-laki juga punya kewajiban untuk menafkahi ibu dan adik ucup pak. Makanya Ucup dari semenjak masih sekolah dulu sudah bekerja ikut bapak. Apalagi sekarang ayah Ucup juga sudah tidak ada, jadi tanggung jawab Ucup besar pak."Seru Ucup mengutarakan alasannya kenapa dia tidak mau melanjutkan kuliahnya.
Ucup dulu pernah kuliah sampai 2 semester saja, karena ada sesuatu hal akhirnya dia tidak mau melanjutkan kuliahnya. Ucup sekarang memilih bekerja, dia tetap setia bekerja dengan pak Santo. Meskipun gaji tidak terlalu besar, akan tetapi bekerja dengan pak Santo dia merasa di hargai dan tidak di anggap remeh.
" Kamu belum mau menikah?."Tanya pak Santo lagi.
" Mau sih pak, tapi Ucup belum ada calonnya pak. Kira-kira apa ya ada wanita yang mau sama Ucup yang hanya pekerja toko seperti ini. Ada seseorang perempuan yang sudah 1 tahun ini Ucup sukai, tapi tidak tahu dia suka tidak sama Ucup."Ucap Ucup bercerita sambil malu-malu kucing.
" Siapa? Apa bapak kenal wanita itu? Kalau memang wanitanya masih sendiri, ya kamu kejsr terus saja. Jangan lama-lama, cepat ungkapkan isi hati kamu. Nanti keburu di ambil sama orang lain."Seru pak Santo menasehati Ucup.
Ucup tersenyum sambil menganggukkan kepalanya saja. Sebenarnya nama Ucup adalah, Yusuf irawan namun orang-orang memanggilnya dengan panggilan Ucup jadi pak Santo pun ikut memanggilnya Ucup.
Setelah makan siang, Ucup dan pak Santo secara bergantian sholat dzuhur. Pak Santo tidak ke masjid, karena hari ini Serli tidak membantu di toko jadi pak Santo lebih memilih sholat di toko saja. Serli sendiri akan pulang besok lusa bersama para kakak dan iparnya.
Selesai sholat pak Santo menggantikan Ucup menunggu toko, hari ini barang stok akan datang. Sehingga pak Santo akan membuka toko sampai sore sambil menunggu barang yang akan datang dari kota.
" Apa Ucup mau ya kalau aku jodohkan dengan Serli? Ucup itu pria yang baik, sabar dan bertanggung jawab. Tapi Ucup bilang dia sudah menyukai seseorang. Kalau Ucup yang menjadi suaminya Serli, aku akan pensiun menjaga toko. Biar di urus Ucup sama Serli saja, Ucup juga sudah tahu semua tentang toko ini."Ucap pak Santo bicara pada dirinya sendiri.
Pak Santo sedang sibuk dengan fikirannya sendiri, sebagai seorang Ayah tentunya dia ingin Serli mendapatkan suami yang baik dan bertanggung jawab serta menerima segala kekurangan Serli.
" Anak-anak bapak kapan pulang dari kampungnya?."Tanya Ucup menghampiri pak Santo.
" Mungkin besok lusa Cup."Jawab pak Santo cepat.
Ucup mulai menyibukkan dirinya dengan membereskan barang-barang yang ada di bagian depan toko. Dan pelanggan pun sudah ada yang datang, semenjak toko menjual barang furniture yang lengkap toko semakin ramai.
Sementara itu, saat ini ibu Marni sedang makan siang bersama Rani. Kali ini Yanto juga ada di rumah dan dia ikut makan siang dengan kedua wanitanya.
" Kenapa bu? Kok makanan cuma di aduk-aduk begitu?."Tanya Rani dengan keningnya berkerut.
__ADS_1
" Tidak nafsu makan, padahal ibu ini lapar loh Ran tapi kenapa tiba-tiba nafsu makan jadi hilang seperti ini."Jawab ibu Marni dengan malas sambil mengaduk-aduk makanan dalam piringnya yang masih utuh.
Rani heran dengan perubahan sikap ibu Marni. Namun Rani tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan ibu Marni. Yanto sama sekali tidak terganggu dengan obrolan Rani dan ibu Marni, dia tetap fokus pada makanan nya.
Ibu Marni mendorong kursinya lalu dia bangkit dan meninggalkan meja makan. Dia lebih memilih keluar rumah dan duduk di teras rumah. Rani dan Yanto hanya makan berdua saja, dengan cepat Yanto menghabiskan makanannya karena dia ingin segera menghampiri pujaan hatinya yang sedang tidak bersemangat itu.
Uhuukkk Uhhuukk Uhuukk
Karena makan terburu-buru Yanto jadi tersedak makanan. Rani sigap memberikan air minum kepada Yanto.
" Makan kok buru-buru, memangnya mau kemana sih?."Tanya Rani.
" Tidak kemana-mana, lagi pula bukan urusan kamu jika pun aku akan pergi."Jawab Yanto ketus.
" Yanto, bisa tidak sih kamu itu kalau bicara denganku itu lembutkan sedikit suara kamu. Dan sedikit lebih peduli denganku, setidaknya sama anak dalam kandunganku ini karena ini darah daging kamu. Yanto, aku sudah diam dan sudah menerima kamu tidak mau menikahi ku, tapi setidaknya tolong sedikit perlakukan aku dengan baik."Seru Rani meminta Yanto agar dia bisa memperlakukannya dengan baik.
Praaangggg.....
Gelas kosong yang ada di hadapannya langsung Yanto banting begitu saja. Dia tidak perduli jika pecahan gelas itu berantakan kemana-mana. Mendengar suara benda yang pecah, ibu Marni dengan buru-buru masuk kembali ke ruang makan. Dilihatnya Yanto sudah memiting leh3r Rani, Rani berusaha melepaskan tangan Yanto namun tenaga Rani kalah dengan Yanto.
" Jangan mengaturku, Rani !! Aku paling tidak suka jika ada yang mengatur-atur hidup ku. Dikasih hati lama-lama meminta jantung juga kamu, mau kalau kamu aku usir dari sini?."Tanya Yanto dengan menatap tajam wajah Rani.
" Emmh... Emh, tolong lepaskan Yanto."Seru Rani dengan terbata-bata.
Melihat Rani yang kesusahan untuk bernafas, ibu Marni pun merasa kasihan dengan Rani. Seandainya terjadi apa-apa dengan Rani juga akan membahayakan anak dalam kandungan Rani. Ibu Marni mendekati Yanto dan mencoba bicara dengan lembut kepada Yanto.
Yanto menurut dengan perkataan ibu Marni tadi, dia pun melepaskan tangan nya. Rani langsung bisa bernafas dengan lega dan dia pun mengusap - usap lehernya yang masih terasa sakit.
" Dia sudah membuat aku marah bu. Lama-lama aku juga malas tinggal satu atap dengan perempuan tidak tahu di untung ini. Sebenarnya hanya karena anak dalam kandungannya saja aku masih mengizinkan dia tinggal di rumahku ini. Kalau bukan karena anak, sudah dari kemarin-kemarin aku mengusirnya."Seru Yanto masih dengan amarahnya.
" Rani, kamu juga jangan cari-cari masalah begini. Kalau kamu di usir kamu juga yang rugi dan kamu mau tinggal dimana?."Tanya Ibu Marni mencoba menasehati Rani.
" Maaf Yanto, aku tidak akan mengulangi nya lagi. Aku mohon jangan usir aku dari rumah ini."Seru Rani mencari aman dengan meminta maaf lebih dulu kepada Yanto.
Yanto hanya tersenyum kecut saja, ibu Marni menarik Yanto untuk duduk dan dengan cekatan ibu Marni mengambilkan air minum dan memberikannya kepada Yanto. Dengan lembut Yanto menerimanya sembari tersenyum kearah ibu Marni.
Melihat sikap Yanto dan ibu Marni yang seperti saling mengulas senyum membuat Rani merasa curiga. Merasa ada yang aneh dengan sikap keduanya, apalagi Yanto bisa tersenyum lembut begitu dengan ibu Marni. Dengan dirinya saja sudah tidak pernah menunjukan senyumannya itu.
" Terima kasih, bu."Seru Yanto sambil memberikan gelas nya yang sudah kosong.
" Sama-sama Yanto. Sekarang mau lanjut makan atau mau istirahat?."Tanya ibu Marni dengan lembut.
" Ibu sendiri juga belum makan, lebih baik ibu makan saja dulu. Nanti sakit malah bikin repot loh."Seru Yanto perhatian dengan ibu Marni.
__ADS_1
* Kenapa Yanto dan ibu Marni seakan-akan mereka mempunyai hubungan khusus. Perlakuan Yanto kepada Ibu benar-benar berbeda saat dengan ku, dia lebih lembut dan mau bersikap manis bahkan senyumnya sedari tadi aku perhatikan tidak pudar dari bibirnya. Sebenarnya ada apa di antara mereka berdua ini? Apa ada sesuatu yang aku tidak ketahui?.*Gumam Eani dalam hatinya.
Rani terus memperhatikan interaksi dan obrolan antara Yanto dan ibu Marni. Ibu Marni seakan sudah kenal cukup dekat dengan Yanto, mereka duduk dengan bersebelahan dan nampak akrab. Seakan melupakan keberadaan Rani diantara mereka.
" Aku tidak nafsu makan, Yanto. Tapi kok tiba-tiba aku ingin makan bakso. Apa kamu mau membelikan bakso untukku.?"Tanya ibu Marni sedikit manja.
" Ibu !!."Seru Rani dengan lantang.
Rani tidak menyangka jika ibu Marni bisa seg4njen dan keg4tel4n begitu dengan Yanto. Padahal saat ini Rani masih ada di hadapan mereka, tapi seolah tidak dianggap ada. Mereka sibuk dengan obrolan mereka sendiri.
" Kok ibu ini seperti cari perhatian begini sih sama Yanto. Bicaranya juga g4nj3n begitu? Sebenarnya ada hubungan apa kalian ini?."Seru Rani mulai merasa aneh dengan kedekatan ibu Marni dan Yanto.
* Looh, bukannya Rani bilang dia sudah tahu jika aku ada hubungan dengan Yanto? Kenapa dia kelihatannya begitu kaget saat aku bersikap manja kepada Yanto? Atau jangan-jangan dia memang belum tahu, dan kemarin itu dia hanya tahu kalau aku sedang bersama seorang laki-laki. Akan tetapi dia belum tahu kalau laki-laki itu adalah Yanto.*Gumam ibu Marni dalam hatinya.
Ibu Marni nampak salah tingkah, dia kembali khawatir dan takut jika Rani mengetahui hubungannya dengan Yanto. Ternyata Rani memang belum tahu jika pria yang bersamanya malam itu adalah Yanto.
" Kamu ini bicara apa sih Ran? Wajar dong kalau ibu Marni bersikap seperti itu kepadaku? Dia ini orang tua, sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri. Jadi apa ada yang salah?."Seru Yanto berbohong.
" Nak Yanto, maaf ya kalau tadi permintaan ibu sudah membuat Rani salah sangka."Ucap Ibu Marni berpura-pura sedih.
" Sudah tidak apa-apa bu. Ya sudah, ibu tunggu saja di rumah. Aku akan belikan bakso untuk ibu."Seru Yanto kembali bicara dengan lembut dengan ibu Marni.
Ibu Marni hanya menganggukkan kepalanya dengan senang. Dia senang karena Yanto mau memenuhi permintaannya, rasa senangnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Saat Yanto sedang keluar membeli bakso, Rani meminta ibu Marni untuk membereskan meja makan. Rani juga sudah kehilangan selera makannya gara-gara ribut dengan Yanto tadi.
" Bantuin dong Ran."Seru ibu Marni dengan malas-malasan membereskan meja makan.
" Ogah !! Ibu saja, disini ibu juga cuma numpang. Apalagi ini tadi makanan kan bukan masakkan ibu, ini semua beli. Jadi ibu saja yang membereskan sendiri."Seru Rani masih nampak kesal dengan ibu Marni.
Hhuuuffff
Ibu Marni membuang nafas dengan kasar. Tidak tahu kenapa hari ini dia malas sekali untuk beraktifitas. Saat sedang membereskan meja makan, tiba-tiba dalam perutnya ada yang bergejolak dan ibu Marni pun lari ke wastafel yang dekat dengan kompor.
Hooeekk Hoeek Hoeekk
Tiba-tiba saja perut ibu Marni mual dan dia memuntahkan isi dalam perutnya. Ibu Marni nampak lemas dan keluar keringat dingin.
" Ibu kenapa?."Tanya Rani.
" Mungkin ibu masuk angin karena sedari pagi ibu memang belum makan. Asam lambung ibu pasti naik."Seru ibu Marni.
" Makan tinggal makan saja kok susah amat sih bu. Kalau ibu sakit siapa juga yang repot? Pokoknya aku tidak mau di repotkan, urus diri ibu sendiri."Seru Rani dengan ketus.
__ADS_1
Rani meninggalkan ibu Marni yang masih berdiri didepan wastafel. Ibu Marni kembali muntah, sampai hanya cairan bening saja yang dia muntahkan.
***************