
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Hikss Hikss Hikss
Tangisan ibu Marni terdengar pilu bagi siapapun yang mendengarnya. Ibu Marni menangis seorang diri di dalam kamar, dia baru saja melayani tamunya. Dia sudah lelah dengan kehidupannya yang justru semakin menyiksa jiwa dan batinnya. Setiap hari, setiap malam dia jiadikan mesin penghasil uang oleh Yanto.
Ibu Marni ingin mengakhiri penderitaannya, tapi dia takut Yanto akan semakin menyakitinya. Yanto sudah tidak sebaik dulu yang selalu memperlakukannya dengan lembut dan penuh kasih sayang seperti awal-awal saat mereka baru dekat.
Meskipun ibu Marni sangat mencintai Yanto, tapi dia juga semakin tidak sanggup hidup penuh tekanan dari Yanto.
" Hikss.. Hikss.. Aku harus mengakhiri semua ini. Lebih baik aku hidup susah daripada terus menjadi budak *3** para pria hidunh b3l4ng. Yanto sudah mendapatkan uang banyak dari hasil kerjaku, sudah lebih dari cukup untuk membayar hutang biaya rumah sakit yang tidak sampai 10 juta itu."Ucap ibu Marni bicara pada dirinya sendiri.
Ibu Marni mengusap air matanya lalu dia turun dari ranjang dan masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai bersih-bersih, Ibu Marni mengganti pakaiannya dengan yang baru. Baju yang dia pakai tadi sudah sobek-sobek karena ulah pelanggannya yang sangat agresif.
" Sudah jam 1 malam, Yanto juga belum pulang. Kalau aku pergi dari rumah ini, aku mau tinggal di mana? Hemm.. Yanto tidak mungkin bisa berubah, dia semakin seenaknya menjadikan aku sumber penghasil uangnya. Aku harus bisa keluar dari rumah ini, sebelumnya aku akan mencari barang-barang berharga yang bisa aku jual dan uangnya bisa untuk modal hidup di luar kota."Ucap ibu Marni mulai merencanakan sesuatu.
Ibu Marni mulai mencari sesuatu di dalam lemari Yanto, dia mencari apa saja yang bisa dia jadikan uang. Semoga saja Yanto menyimpan banyak uang di dalam lemarinya, apa lagi Yanto sudah menjual rumah yang pernah di tempati Rani. Dan uangnya ibu Marni sama sekali tidak tahu wujudnya.
Ibu Marni terus membongkar lemari Yanto, secara kebetulan kunci lemari Yanto ada di atas lemari sehingga ibu Marni dengan mudah untuk menemukannya.
" Kenapa tidak ada uang ataupun barang-barang berharg yang bisa aku jadikan uang. Jika aku keluar dari rumah ini butuh uang yang banyak untuk biaya hidup di tempat yang baru. Tabunganku mungkin tidak lebih dari 15 juta, selama ini Yanto sudah mencurangi komisi untukku. Sebenarnya aku menikmati juga pekerjaan dari Yanto, tapi lama-lama tubuhku tidak sanggup dan batinku pun tersiksa."Ucap ibu Marni terus menggerutu dengan tangan yang tetap bekerja mencari sesuatu dari dalam lemari Yanto.
Tiba-tiba pergerakan tangan ibu Marni terhenti saat tangannya menyentuh sesuatu. Ibu Marni segera mengambil kotak kecil itu dan mengeluarkan isinya. Ternyata dalam kotak kecil itu ada kalung emas lengkap dengan suratnya, berat kalung itu 20 gram, seketika senyum ibu Marni melebar sempurna.
__ADS_1
" Aku bisa menjual kalung ini, dasar Yanto bodoh !! Surat kalungnya pun ada juga, hemm ternyata kalung ini dibeli sekitar 4 bulan yang lalu. Itu tandanya dibeli saat aku dan Yanto sudah mulai dekat, apa mungkin kalung ini dulunya dibeli untukku. Lebih baik aku amankan kalung ini, bisa aku jual saat aku membutuhkan uang."Ucap ibu Marni lalu menyimpan kalung itu di tempat yang aman yang tidak mungkin diketahui oleh Yanto.
Ibu Marni kembali merapikan susunan pakaian Yanto seperti semula agar Yanto tidak menaruh curiga. Uang tidak didapatkan, tapi kalung emas yang dia dapatkan sudah lebih dari cukup. Setelah susunan baju sudah rapi, ibu Marni kembali mengunci pintu lemarinya dan meletakkan kuncinya pada tempatnya lagi.
Ceklekk...
Pintu kamar terbuka, ibu Marni terkejut saat mendapati Yanto yang masuk ke kamar. Dia tidak menyangka jika Yanto selarut itu akan pulang juga.
" Yanto !! Kok kamu pulang?." Tanya ibu Marni dengan wajah cemas.
" Kenapa? Ini kan rumahku?." Seru Yanto dengan ketus.
" Bukan begitu, bukannya kamu kalau malam jarang pulang. Oh pasti kamu sudah lelah dan mengantuk, kamu tidurlah."Ucap ibu Marni bersikap manis dengan Yanto.
" Awas sana kamu, aku mau tidur. Jangan ganggu tidurku. Kalau kamu mengganggu lebih baik kamu tidur di lantai saja atau tidur di kamar lain."Ucap Yanto menggeser tubuh ibu Marni.
******
Bima disibukkan dengan pekerjaannya di kantor, sampai dia lupa dengana makan siangnya. Arya yang memang ada perlu dengan Bima, dia menghampiri Bima di ruangannya untuk di ajak makan siang di luar kantor.
" Mas, ini sudah waktunya makan siang. Kok masih kerja saja sih?."Tanya Arya saat sudah berada di ruangan Bima.
" Ehh Arya, iya ini sedikit lagi selesai. Memangnya sudah jam istirahat ya?."Tanya balik Bima tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.
" Iya sudah jam 12 siang nih, sudah kerjakan nanti lagi mas. Sekarang lebih baik kita makan siang dulu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama mas Bima."Ucap Arya menghentikan jari-jari Bima yang tengah mengetik di atas keybord laptopnya.
Melihat Arya yang berbicara dengan serius, Bima segera mematikan laptopnya dan menutupnya. Jika sudah seperti ini pasti ada hal yang serius yang ingin dibicarakan oleh Arya.
" Baiklah. Ayo kita makan siang."Seru Bima lalu bangkit dari kursi kerjanya.
__ADS_1
Arya dan Bima berjalan beriringan menuju parkiran mobil. Mereka makan siang di restoran yang tidak jauh dari perusahaan dengan mengendarai mobil Arya. Setelah 10 menit, mobil Arya sudah sampai di tempat tujuan.
" Apa yang ingin kamu bicarakan, Arya?."Tanya Bima saat mereka sudah memesan makanan.
" Ini soal rumah dan Bapak, mas."Jawab Arya singkat.
" Ada apa dengan rumah dan bapak? Apa ada masalah?."Tanya Bima dengan wajah yang terlihat khawatir.
Sudah seminggu ini dia memang tidak mengunjungi rumah dan pak Santo. Bukan tanpa alasan, akhir-akhir ini Bima sibuk dengan pekerjaan dan Karina yang sedang hamil muda juga akhir-akhir ini terlihat lebih senang bermalas-malasan.
" Bapak tidak apa-apa mas. Begini mas, soal rumah itukan memang peninggalan almarhum ibu kandungku. Tapi Aku, mas Bima dan Serli juga sama-sama anak bapak. Aku tidak mau menguasai rumah itu sendiri mas, justru aku akan menyerahkan rumah itu kepada mas Bima dan Serli. Tapi aku tidak mau jika rumah itu dijual, daripada mas Bima tinggal di kontrakan bagaimana kalau mas tinggal sama bapak dan Serli juga."Ucap Arya dengan jelas.
Bima menggelengkan kepalanya, sebab dia merasa tidak punya hak atas rumah itu. Dia bukan anak pak Santo dan bukan anak kandung almarhum ibunya Arya, dia hanya anak tiri pak Santo saja. Dia anak ibu Marni dengan pernikahannya sebelum dengan pak Santo.
Bima pun sudah memutuskan untuk hidup dengan mandiri, dia tidak mau menyusahkan keluarganya lagi. Bahkan tawaran rumah dari orang tua Karina saja tidak dia terima.
" Mas tidak berhak dengan rumah itu, Arya. Mas bukan siapa-siapa di rumah itu, bukan mas tidak mau tapi mas memang tidak berhak. Biar Serli saja yang tinggal di rumah itu dan merawat rumah itu, karena dia yang ada keturunan darah dengan kamu dan bapak."Ucap Bima dengan bijaknya.
" Baiklah kalau begitu mas. Yang penting sudah jelas dan tidak akan ada kesalahpahaman lagi. Aku bicara seperti ini tidak ada maksud apa-apa ya mas, tidak untuk menyinggung mas yang masih mengontrak."Ucap Arya takut Bima tersinggung.
" Santai saja Arya, mas tidak akan tersinggung. Lebay amat tersinggung."Seru Bima lalu terkekeh pelan.
" Mas, bapak mau aku ajak tinggal denganku mas, tapi bapak tidak mau. Dia lebih nyaman dengan rumah itu, rumah yang banyak menyimpan kenangan dalam hidupnya. Menurut mas Bima, jika kita sebagai anak laki-laki tua apa tidak apa-apa membiarkan bapak tinggal dengan adik perempuan kita? Sedangkan secara financial kita bisa dibilang lebih dari Serli."Tanya Arya meminta pendapat Bima.
" Kalau itu sudah menjadi pilihan bapak ya tidak apa-apa Arya, kita bisa datang kapan saja untuk bertemu bapak. Jarak rumah kita juga tidak jauh-jauh amat, Serli juga pasti akan merawat bapak dengan baik. "Ucap Bima menyakinkan Arya.
Arya mengangguk paham apa yang dikatakan oleh Bima barusan. Obrolan mereka berhenti karena makanan dan minuman yang mereka pesan sudah datang. Merekapun makan lebih dulu baru nanti mereka akan berbincang lagi.
**********
__ADS_1