
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Empat bulan berlalu, usia kandungan Serli sudah masuk 7 bulan. Serli menikmati masa kehamilannya dengan kasih sayang dan kenyamanan penuh yang diberikan oleh sang suaminya. Yusuf berusaha menjadi suami yang selalu ada dan siaga untuk Serli, dia sering bergadang menemani Serli yang sering terbangun karena lapar.
Jam 1 malam, Serli terbangun dan menginginkan makan nasi goreng dan membangunkan Yusuf yang terlelap. Tanpa menolak Yusuf bangun lalu turun dari ranjang dan beranjak ke dapur untuk membuatkan nasi goreng yang diminta oleh Serli.
" Yusuf, jam satu malam kok kamu masih belum tidur?."Tanya pak Santo yang hendak mengambil air wudhu untuk sholat malam.
" Ehhh bapak, mau ambil wudhu ya pak? Iya ini lagi masak nasi goreng untuk Serli pak, biasa Serli kalau malam pasti lapar."Jawab Yusuf jujur.
" Serli, Serli. Hemm ada saja permintaan anak itu. Padahal kamu juga capek loh Suf, kamu seharian sudah mengurus toko dan masih membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Apa lebih baik kamu cari orang saja untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah? Serli juga perutnya semakin besar, bapak kasihan sama kamu kalau harus menghandel urusan toko dan rumah."Seru pak Santo sebenarnya tidak mau jika anak menantunya itu kelelahan dan jatuh sakit.
" Baik pak, nanti Yusuf bicarakan dulu sama Serli. Oh iya, bapak mau nasi goreng? Biar Yusuf masak sekalian."Tanya Yusuf sopan.
" Tidak perlu Suf, bapak tidak lapar. Ya sudah bapak mau ambil wudhu dulu, kamu jangan lupa untuk sholat juga dan kembalilah istirahat."Seru pak Santo sembari menepuk punggung Yusuf.
" Iya pak."Jawab Yusuf singkat.
Yusuf kembali berkutat dengan bumbu-bumbu nasi goreng, dengan lihai Yusuf mengulek bumbu itu secara manual menggunakan cobek. Hanya butuh waktu 15 menit, satu piring nasi goreng dan telur mata sapi sudah selesai Yusuf masak. Yusuf langsung membawanya ke kamar dan memberikan kepada sang istri yang sudah menunggunya.
" Kok lama mas?."Tanya Serli.
" Oh tadi ada bapak mau ambil wudhu dan sempat mengobrol menawari bapak nasi goreng juga. Ternyata bapak tidak mau, ya sudah buat untuk istriku tercinta saja. Mau disuapin apa makan sendiri?."Tanya Yusuf.
" Makan sendiri saja mas, terima kasih ya mas sudah mau aku repotkan. Dan aku minta maaf kalau tiap malam aku sering membangunkanmu untuk membuatkan aku makanana. Sehingga tidurmu pun terganggu."Ucap Serli yang sebenarnya merasa tidak enak dengan Yusuf karena tidur malamnya selalu terganggu.
__ADS_1
" Istriku tidak perlu meminta maaf dan merasa tidak enak. Ini semua sudah menjadi kewajiban mas sebagai seorang suami, mas ini kan suami siaga."Ucap Yusuf sambil tertawa kecil.
" Iya mas, ya sudah mas Yusuf sholat malam saja dulu. Nanti setelah makan aku juga akan sholat."Ucap Serli meminta Yusuf untuk sholat malam lebih dulu.
Yusuf mengangguk pelan, dia pun keluar kamar dan lebih memilih mengambil wudhu di dapur dan sholat di ruang sholat. Sebenarnya di dalam kamar sudah ada kamar mandi masing-masing , namun Yusuf lebih senang wudhu di luar dan sholat di ruang sholat yang ada di rumah itu.
Saat Yusuf datang, pak Santo sudah selesai sholat dan hendak kembali ke kamar. Dia ingin melanjutkan istirahatnya, tubuh tuanya sudah tidak mampu untuk berlama-lama terkena udara malam.
" Bapak duluan ke kamar ya, Suf."Seru pak Santo.
" Iya pak, silahkan."Jawab Yusuf.
Yusuf pun sholat sendirian, setelah selesai dia kembali ke kamarnya. Saat sampai kamar dia mendapati piring Serli sudah kosong dan Serli kembali terlelap.
" Sepertinya dia sangat lelah, apa dia sudah sholat? Kasihan sekali istriku."Ucap Yusuf sembari mengusap pipi Serli.
Yusuf memindahkan piring dan gelas kotor ke atas meja yang ada di dalam kamarnya. Setelah itu dia kembali naik ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping sang istri tercintanya.
" Selamat malam calon anak Ayah dan Bunda, sekarang waktunya istirahat ya."Ucap Yusuf menyempatkan diri mengusap perut Serli lebih dulu.
*****
Selama 4 bulan terakhir ini, keadaan ibu Marni mengalami peningkatan yang baik. Daya ingatnya juga sudah bagus, saat diajak bicarapun sudah nyambung dengan baik.
" Ibu akan tinggal dengan mas Bima, Dek. Karena mas Bima itu anak laki-laki kandungnya dan dia lebih berhak atas ibu."Jawab Arya.
" Mas sudah membicarakan masalah ini sama mas Bima?."Tanya Ratu sepertinya dia ketinggalan informasi.
" Iya sudah, baru kemarin siang saat makan siang di kantor. Semalam sih mas mau memberitahu kamu, tapi karena kamu sudah tidur duluan ya tidak jadi."Jawab Arya sembari meletakkan cangkir tehnya.
Hhhuufffff
__ADS_1
Ratu mend3s4h pelan sembari menyuapi Devan dan Revan. Bocah kecil itu saat ini sudah berusia 12 bulan dan keduanya sudah bisa berjalan. Anak kembar itu tergolong cepat jalan, dan sudah bisa memahami apa yang di ucapkan oleh orang di sekitarnya.
" Ma udah."Seru Revan meminta makannya sudah.
" Sudah, memang sudah kenyang?."Tanya Ratu dengan lembut.
" Iya."Jawab Revan dan Devan secara bersamaan.
" Ya sudah, sekarang minum dulu ya. Setelah ini boleh main sama mbak, tapi ingat kalau habis main, mainannya harus dibereskan."Seru Ratu terus mengajarkan kedua anaknya tanggung jawab sejak dini.
Revan dan Devan secara serempak menganggukkan kepalanya. Anak kembar itu pun secara perlahan turun dari tempat duduknya dengan dibantu Ratu dan Arya.
" Mas, Revan dan Devan ini seperti anak yang sudah berusia 2 apa 3 tahun saja loh. Badannya bongsor banget, dan mereka juga dengan mudah cepat memahami apa yang kita ucapkan dan mereka akan selalu mengingatnya. Aku takut mereka dewasa belum waktunya mas."Seru Ratu merasa takut jika pertumbuhan anaknya tidak sesuai dengan usianya.
" Tidak apa-apa sayang, bukannya dokternya saja sudah bilang jika itu hal yang biasa terjadi pada anak-anak. Setiap tumbuh kembang anak itu beda-beda sayang dan sikembar termasuk cepat pertumbuhannya. Lihat saja, mereka main masih seperti anak seusianya. Hanya saja daya tangkapnya yang cepat."Ucap Arya menyakinkan Ratu agar tidak terlalu khawatir dengan pertumbuhan Devan dan Revan.
" Iya juga sih, Mas. Mas, sudah selesai sarapannya? Apa hari ini tidak ke kantor? Kok mas masih belum siap-siap?."Tanya Ratu beruntun.
" Ini sepertinya mamanya Revan sama Devan yang perlu ditakutkan. Sepertinya sudah mulai pikun, masa iya hari minggu mas harus ngantor sih?."Ucap Arya lalu tertawa.
Haaahhhh...
Hari minggu? Ratu benar-benar lupa jika hari ini adalah hari minggu. Sepertinya dia memang yang harus dikhawatirkan, masih muda sudah mulai lupa. Dan tak jarang Ratu sering lupa seperti itu, bahkan saat meletakkan barangpun dia sering lupa.
" Lupa mas. Kalau begitu bagaimana kalau hari ini kita ajak anak-anak jalan-jalan. Tanpa bawa mbaknya, kita berempat saja. Kita jarangkan mas jalan berempat sama anak-anak ?."Seru Ratu.
" Boleh, mau kemana?."Tanya Arya setuju dengan Ratu.
" Ke tempat yang dekat saja mas, tidak perlu jauh-jauh. Ke arena bermain anak-anak atau taman bermain saja, di sana kan banyak anak kecil pasti Devan dan Revan senang kalau banyak teman. Devan Revan kan tidak punya banyak teman, hanya Tegar saja teman mainnya sehari-hari."Ucap Ratu memilih tempat yang ramai dengan anak-anak agar anaknya bisa berinteraksi dengan banyak anak seusianya.
" Ok jam 10 nanti kita berangkat." Ucap Arya lagi.
__ADS_1
Arya setuju dengan usul sang istri. Sebelum berangkat, Ratu menyiapkan keperluan kedua anaknya lebih dulu. Sengaja tidak membawa pengasuh, karena ingin menghabiskan waktu dengan keluarga kecilnya.
***************