Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Keputusan pak Santo


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


Akhirnya setelah mendapat tamparan dari mamanya Ratu, nyali Rani mulai menciut dan akhirnya dia pergi meninggalkan rumah Ratu. Sedangkan di rumah Ratu, Dinda terus mengintrograsi Ratu. Dia tidak menyangka jika ibu mertuanya sampai sekarang masih saja tidak suka dengan Ratu. Padahal pejara 2 bulan sudah menjadi hukuman nya, akan tetapi sama sekali tidak berubah. Jika tahu seperti ini, tentunya mama Dinda tidak meminta Ratu dan Arya membebaskan ibu Marni.


Arya sebagai suami Ratu, tentunya dialah yang bertanggung jawab atas Ratu dan kenyamanan hidup Ratu. Apalagi orang yang sudah memfitnah Ratu adalah orang tuanya, meskipun ibu Marni bukan ibu kandungnya tetap saja Arya merasa tidak enak hati dengan mertuanya.


Arya seolah gagal melindungi istrinya, dia khawatir mertuanya tidak akan percaya lagi dengannya.


" Apa ibu mertua kamu sampai sekarang masih memusuhimu? Belum cukupkah penjara selama 2 bulan itu? Kamu kalau diperlakukan seperti ini jangan diam saja, Ratu. Apa memang kamu itu tidak mau melawan ibu mertua kamu yang semakin tidak waras itu?"Tanya mama Dinda dengan kesal.


" Ma, sudahlah jangan membuat Ratu ketakutan seperti itu. Tanpa Ratu jawab saja kita semua sudah tahu bagaimana kelakuan si ibu Marni itu. Sudah ma, jangan terus mendesak Ratu dengan pertanyaan-pertanyaan yang kita sudah tahu jawabannya." Seru Raja kasihan melihat adiknya yang sedari tadi didesak dan di huj4mi dengan berbagai pertanyaan dari mamanya.


" Ma, ini bukan salahnya Ratu. Ini salah Arya dan ibu, seandainya Arya bisa lebih tegas lagi mungkin ibu tidak akan seperti ini. Jangan memarahi Ratu, Ma."Ucap Arya menyalahkan dirinya sendiri.


Hhhuuuffff


Mama Dinda membuang nafasnya dengan kasar. Dia tidak bermaksud untuk memarahi Ratu ataupun menyalahkan Arya. Arya tidak salah, semua ini karena ibu nya saja yang memang sudah tidak waras lagi.


Dinda memeluk Ratu, dia menyesal sudah memberondong banyak pertanyaan sampai Ratu hanya bisa menundukkan kepalanya saja.


" Maafin mama sayang, mama tidak bermaksud membuat kamu takut. Mama hanya ingin kamu jangan cuma diam saja, ibu mertua kamu itu sesekali harus dilawan biar dia kapok. Kalau kamu cuma diam saja, dia akan semakin menginjak-injak harga diri kamu. Tentu saja mama tidak akan pernah terima. Dan untuk kamu Arya, mama rasa kamu susah tegas sampai kamu memenjarakannya."Seru mama Dinda lalu melepaskan pelukannya.


" Ratu itu sudah tegas Ma, hanya saja ibu memang sepertinya sudah tidak bisa berubah lagi. Emm.. Mama jangan marah-marah seperti tadi, Ratu takut melihat mata mama yang melotot seperti tadi."Seru Ratu dengan bibir mengerucut.


" Jadi kamu tadi takut melihat mata mama yang melotot?."Tanya mama Dinda dengan serius.

__ADS_1


Heeemmm


Jawab Ratu berdehem sambil menganggukkan kepalanya. Selama ini mamanya memang tidak pernah memarahinya seperti tadi, meskipun marah tidak sampai matanya melotot seperti itu. Ratu memang anak yang mandiri sedari kecil akan tetapi dia tidak pernah diperlakukan kasar oleh keluarganya. Ratu diperlakukan kasar dan mulai mendapat umpatan-umpatan kasar semenjak menikah dengan Arya dan tinggal dirumah mertuanya.


Pribadi Ratu yang tadinya lembut dan penyabar, bisa mulai berubah menjadi pribadi yang tegas. Sebenarnya ada sisi baiknya juga dia menghadapi ibu mertuanya, Ratu jadi bisa bersikap tegas dan bisa membalas perbuatan ibu mertuanya.


" Ya sudah sekarang kita kamu ke kamar saja istirahat. Arya, ajak istri kamu ke kamar biar dia istirahat."Seru mama Dinda meminta sang menantu membawa Ratu istirahat di kamar.


" Iya ma."Jawab Arya singkat.


*******


Hari pun sudah berganti, sudah 2 hari Bima dan Karina sah menjadi suami istri. Selama 2 hari ini Bima tinggal di rumah orang tua Karina, dan siang ini dia akan pindah ke rumah kontrakan yang sudah Bima siapkan. Meskipun hanya rumah kontrakan, Karina dan kedua orang tua Karina tidak mempermasalahkannya. Orang tua Karina pun tidak bisa memaksa mereka untuk tetap tinggal dengannya, sebagai anak yang sudah berumah tangga tentunya mereka ingin hidup mandiri.


Bima langsung mengajak Karina pindah ke kontrakan, tidak ke rumah orang tuanya lebih dulu. Bima tidak mau, Karina diperlakukan tidak baik oleh ibunya, dimana dulu ibunya juga memperlakukan Ratu sebagai pembantu nya.


" Mas, apa tidak ke rumah orang tua kamu dulu? Tinggal beberapa hari begitu, hemm aku ingin merasakan tinggal dengan mertua juga mas."Seru Karina.


" Baiklah, aku ikut apa kata suamiku saja."Jawab Karina sembari mengulas senyum manis.


Mereka kembali membereskan barang-barang yang akan dibawa pindahan ke rumah kontrakan yang baru. Rumah kontrakan yang Bima pilih cukup besar dan mempunyai 2 kamar dengan masing-masing ada kamar mandi di dalamnya. Letaknya juga strategis, tidak jauh dari kantor tempatnya bekerja dan tidak jauh dari cafe milik Karina.


******


"Apa yang sudah ibu katakan kepada Rani? Sampai Rani marah-marah di rumah Ratu, dan hari ini orang tua Ratu menggubungi bapak mengatakan jika ibu sudah memfitnah Ratu lewat Rani !!."Seru pak Santo dengan tegas memarahi ibu Marni.


Haahhh...


Orang tua Ratu ? Ibu Marni kaget saat tahu orang tua Ratu mengetahui apa yang dia lakukan.


" Orang tua Ratu ada di kota ini?."Tanya ibu Marni.

__ADS_1


" Iya, mereka ada di rumahnya Ratu. Bapak minta hari ini kita kesana dan ibu minta maaf sama Ratu. Jika ibu tidak mau meminta maaf bapak akan meminta Arya untuk menuntut ibu, bapak tidak perduli meskipun ibu itu istri bapak. Yang salah tetap saja salah, tidak bisa di benarkan. Apa mau masuk penjara lagi?."Seru pak Santo dengan tegas.


Ibu Marni dengan cepat, dia tidak mau di penjara lagi dan juga tidak mau meminta maaf kepada Ratu. Menurutnya Rani yang salah, karena yang marah-marah di rumah Ratu itu Rani dan dia yang berulah.


" Yang seharusnya meminta maaf itu Rani, dia kan yang sudah marah-marah sama Ratu pak. Ibu hanya bicara kalau Bima mengenal Karina itu dari Ratu jadi sudah pasti Ratu yang menjodohkan Bima dan Karina. Jadi yang dimaksud fitnah itu yang mana , pak?. Ibu tidak salah kok, Rani nya saja mungkin yang salah sangka."Seru ibu Marni mencoba untuk membela dirinya sendiri.


Sudah tahu salah masih saja tidak mau mengakui kesalahannya. Justru menyalahkan orang lain, orang lain tidak akan berbuat seperti itu jika ibu Marni bisa mengatur ucapannya. Pak Santo sudah benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi ibu Marni yang keras kepala dan tidak bisa dinasehati sama sekali. Sedikitpun Ibu Marni tidak bisa melembutkan hatinya, untuk bisa menerima dengan baik kedua menantunya.


" Bapak tidak mau tahu, ibu juga harus meminta maaf kepada Ratu."Seru pak Santo tegas.


" Tidak !! Ibu tidak salah, Rani yang seharusnya meminta maaf. Dia yang sudah marah-marah sama Ratu."Seru ibu Marni tetap pada pendiriannya dan keegoisannya yang hakiki.


" Kalau ibu tidak mau meminta maaf sama Ratu, lebih baik ibu pergi dari rumah ini. Aku tidak sudi rumah ini ditempati oleh manusia keras kepala seperti ibu. Bapak selama ini sudah berusaha sabar menghadapi ibu, tapi ibu selalu saja bersikap semau ibu. Bapak malu bu, malu sama anak-anak dan menantu kita."Seru pak Santo memelankan suaranya.


Iiisshhhh....


Ibu Marni hanya melengos dengan malas dan benar-benar tidak menganggap ucapan pak Santo. Pak Santo tegas saja tidak di hiraukannya apalagi pak Santo yang hanya diam.


" Aku ini istrimu, jadi aku berhak juga tinggal di rumah ini. Sudah kewajiban kamu memberikan tempat tinggal untuk ku."Seru ibu Marni lagi.


" Apa kamu mau aku lepaskan, sehingga kamu bukan tanggung jawabku lagi."Seru pak Santo tersenyum tipis.


" Maksud bapak?."Tanya ibu Marni dengan wajah yang mulai panik.


" Mulai hari ini Bapak ceraikan ibu !!"Seru Pak Santo.


Ddduuaaarrr....


Bagaikan di sambar petir, pak Santo menceraikan ibu Marni. Ibu Marni tidak pernah menyangka jika pak Santo yang terkenal sabar dan pendiam berani menceraikannya. Ibu Marni syok, dia terduduk lesu di lantai.


Pak Santo meninggalkan ibu Marni yang masih syok dengan keputusannya. Jujur, sudah dari lama pak Santo ingin bercerai karena dia sudah tidak sanggup lagi hidup dengan wanita yang tidak punya hati dan susah di atur seperti ibu Marni.

__ADS_1


*************


__ADS_2