
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Sepulangnya dari bekerja, Bima datang ke rumah Rani untuk mencari tahu keberadaan ibu Marni. Bima tidak percaya, jika Rani tidak mengetahui tempat tinggal ibu nya sehingga Bima memutuskan mendatangi rumah Rani.
Rani yang sedang duduk santai di teras rumah, dikagetkan dengan kedatangan Bima. Rani tidak menyangka jika Bima akan datang ke rumahnya. Senyuman sinis terukir di bibir Rani, dia akan menggunakan kesempatan ini untuk merayu dan menggoda Bima.
" Kamu datang mas?."Seru Rani menyambut kedatangan Bima dengan hangat.
" Aku ingin tahu dimana alamat ibuku? Kamu pasti tahu alamat ibu jadi aku minta cepat katakan, Rani !."Seru Bima tetap tidak percaya jika Rani tidak mengetahui rumah ibu Marni.
" Oh soal itu, aku memang tidak tahu mas Bima sayang. Tapi itu soal mudah, aku akan mencaritahunya dari Yanto. Bukannya mas punya nomor ponsel Yanto, kenapa tidak bertanya langsung sama dia?."Seru Rani masih tersenyum menggoda Bima.
" Kalau nomor Yanto dan ibu aktif, aku pasti akan langsung bertanya sama mereka. Tidak perlu aku capek-capek datang ke rumah mu ini. Bukannya kamu itu mantan menantu kesayangan ibu, bahkan ibu lebih menyayangi kamu ketimbang anaknya sendiri. Kamu pasti berbohong, kamu sengaja merahasiakan alamat rumah ibuku tinggal !."Seru Bima mulai meninggikan suaranya.
Huuuhhh...
Rani menghela nafas dengan kasar, dia tidak berbohong. Dia memang tidak tahu dimana rumah atau tempat tinggal ibu Marni yang baru. Mereka merahasiakan itu semua dari Rani, sengaja agar Rani tidak bisa mengganggunya lagi.
" Nanti aku tanyakan sama Yanto, sebentar lagi dia pulang kesini. Kalau tidak nanti kamu yang tanyakan langsung sama Yanto. Tunggu didalam saja yuk mas, sambil minum kopi. Sudah lama kita tidak ngobrol santai bareng, kita ngobrol sambil mengingat masa-masa indah kita dulu."Seru Rani mulai melancarkan aksinya menggoda Bima.
* Ayuk dong mas mau masuk dan minum kopi, lihat saja nanti kopinya akan aku kasih obat p3r4ngs4ng biar dia tidur dengan ku lagi. Dan aku bisa mengambil foto dan videonya, dengan begitu aku bisa mengancam mas Bima.*Gumam Rani dalam hatinya sudah merencanakan hal yang licik.
__ADS_1
Sepertinya Bima tidak tetgiur dengan tawaran Rani. Bima tidak mungkin berduaan dengan Rani , sedikit banyak Bima sudah tahu bagaimana Rani.
" Tidak perlu, aku akan pulang saja. Jika Yanto sudah pulang kamu tanyakan saja keberadaan ibuku. Nanti kamu bisa kasih tahu aku lewat pesan singkat. Aku mau pulang, sebab istri tercintaku sudah menunggu kepulanganku. Oh iya satu lagi, jangan bermimpi untuk bisa bersamaku lagi. Kamu itu mur4h4n !! Mur4h4n tetap saja mur4h4n!."Seru Bima dengan tegas.
" Cihh.. Sombong banget sih, padahal dulu kamu sangat menyukai permainanku."Cibir Rani dengan ketus..
Bima sudah tidak mau berlama-lama di rumah Rani, tanpa pamit Bima pun meninggalkan rumah Rani dengan mengendarai motornya. Meskipun Karina punya mobil, dia tidak mau memakai mobil itu terkecuali saat dia pergi dengan Karina.
Rani memandang kepergian Bima dengan perasaan kesal. Bima sama sekali sudah tidak mau dengannya lagi.
" Bima sekarang semakin tampan dan berwibawa. Badannya pun semakin berisi, kenapa dulu saat masih bersamaku penampilannya biasa saja. Sedangkan sekarang saat sudah berpisah dia semakin rapi, tampan dan menarik."Ucap Rani bicara pada dirinya sendiri.
Setelah 5 menit Bima pergi, Yanto datang dengan mengendarai mobil barunya. Rani tidak menyangka jika sore itu Yanto akan pulang ke rumahnya, setelah 1 minggu full Yanto berada di rumah ibu Marni.
" Hai sayang, kok tumben pulang ke sini?."Seru Rani berpura-pura manis didepan Yanto.
" Isshh... Datang-datang malah bikin repot saja. Tahu begini mendingan dia tidak usah pulang. Tidak pulang yang penting uangnya mengalir saja sudah cukup."Seru Rani kesal dengan Yanto. Pulang-pulang bukannya bermanja-manja malah di suruh buat kopi.
Rani berjalan menuju dapur sambil menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil yang ngambek tidak diberi uang jajan. Dengan sangat terpaksa Rani membuatkan Yanto kopi.
Sudah lama sekali Rani tidak di sentuh oleh Yanto dan tidak mendapatkan nafkah batin dari pria manapun. Sehingga dengan cara liciknya Rani memasukan obat ke dalam kopi Yanto.
" Meskipun aku dan Yanto bukan sepasang suami istri, tapi aku tidak rela jika dia hanya memberikan nafkah batinnya kepada ibu Marni. Aku pun berhak mendapatkannya, jika Yanto tahu kalau aku memasukkan obat dalam kopinya tidak masalah. Lagipula bukan r4cun yang aku masukkan."Ucap Rani sambil mengaduk kopi untuk Yanto.
Rani membawa secangkir kopi itu ke ruang keluarga dimana saat ini Yanto duduk di sana sambil memijit pelipisnya. Nampaknya Yanto sedang ada masalah, sehingga dia lebih memilih pulang ke rumah Rani.
" Sayang ini kopinya. Emm.. Kamu kenapa sayang, apa ada masalah?."Tanya Rani bicara dengan lembut.
__ADS_1
" Aku sedang pusing Ran. Tadi malam temanku tertangkap polisi, dan aku takut dia akan buka mulut. Sampai itu semua terjadi bisa habislah aku, aku pasti akan menjadi buronan polisi dan bisa jadi aku juga akan mendekam di penjara."Ucap Yanto sepertinya saat ini dia memang bicara jujur dengan Rani.
* Yes, sepertinya ini kesempatan ku untuk mengambil hatinya Yanto. Dengan begitu aku akan menang dari wanita tua itu.*Gumam Rani dalam hatinya.
Rani memegang punggung Yanto lalu memijatnya dengan lembut. Yanto membiarkan apa yang dilakukan Rani, lama-lama Yanto pun menikmati pijatan yang diberikan oleh Rani.
" Kamu jangan takut sayang, aku yakin teman kamu itu tidak akan semudah itu buka mulut. Dia pasti akan melindungi kamu, kalau dia buka mulut sama saja dia gali kuburnya sendiri. Kamu yang rileks dan santai sambil menikmati pijitan yang aku berikan ini."Ucap Rani dengan tangan masih tetap memijit punggung Yanto.
* Rani benar juga, aku tidak perlu takut begini. Bukannya selama ini beberapa temanku juga sudah ada yang tertangkap dan dia tidak buka mulut. Heemmm.. Ternyata pulang ketempat Rani adalah pilihan yang tepat. Marni ku sayang, malam ini kita libur dulu ya. Karena aku mau menginap disini untuk menenangkan fikiranku.*Gumam Yanto dalam hatinya.
Yanto mengambil cangkir kopinya dan mulai meminum kopi buatan Rani. Belum juga kopi itu habis, kepala Yanto terasa pusing dan tiba-tiba tubuhnya terasa panas.
* Hahh.. Dasar wanita si4l4n !! Pasti dia sudah mencampurkan obat dalam kopiku ini, padahal kalau dia minta secara terus terang aku tidak akan menolaknya sebab disini juga hanya ada dia.*Gumam Yanto dalam hatinya.
Rani tersenyum pu4s saat melihat obat itu sudah mulai bereaksi. Dengan cepat Rani mengajak Yanto masuk ke kamarnya, dan tidak menunggu lama akhirnya pertempuran pun dimulai. Suara-suara aneh mulai keluar dan terdengar dengan jelas, beruntung di rumah itu hanya ada Rani dan Yanto saja.
" Ahhh... Marni sayang, kamu sungguh hebat."Seru Yanto meracau menyebut nama Marni saat sedang bermain dengan Rani.
Wajah Rani yang tadinya berbinar bahagia, seketika itu langsung berubah masam. Dia kesal karena yang disebut Yanto bukanlah namanya, melainkan nama ibu Marni.
" Marni, kamu semakin hari semakin lincah dan gesit saja. Ini yang aku suka dari kamu Marni."Seru Yanto lagi-lagi nama ibu Marni yang dia sebut.
* Kurangajar !! Kenapa malah nama ibu Marni yang dia sebut sih, apa dia sedang menghayalkan bermain dengan ibu Marni. Awas saja kamu si ibu Marni yang tidak tahu diri.*Gumam Rani dalam hatinya.
Meskipun sedang kesal dan marah, Rani tetap berpacu dan tidak berhenti sampai apa yang diharapkannya berhasil. Rani dan Yanto bermain cukup lama, hampir 2 jam Rani dan Yanto berolah raga.
***************
__ADS_1