
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Seminggu sudah baby twin lahir ke dunia, hari ini acara aqiqah pun sudah selesai digelar. Tidak banyak yang Arya dan Ratu undang, hanya tetangga dan para anak Yatim. Pak Santo dan anak serta menantunya juga datang menghadiri Aqiqah Revan dan Devan.
" Mbak Ratu apa aku boleh gendong baby nya?."Tanya Serli saat yang lainnya sedang sibuk dengan obrolannya masing-masing.
" Boleh, memang kamu belum pernah menggendong Devan ataupun Revan?."Tanya Ratu sambil mengernyitkan keningnya.
Seketika itu Serli pun langsung menggelengkan kepalanya. Dia memang belum pernah menggendong keponakanannya, bukan karena tidak mau. Akan tetapi karena dia yang memang belum berani dan takut untuk menggendong bayi yang masih merah.
" Kenapa?."Tanya Ratu lagi dengan rasa penasarannya.
" Takut jatuh mbak, mereka masih terlalu kecil dan aku tidak berani menggendongnya."Jawab Serli sambil mengulas senyum canggungnya.
Hemmm...
Ratu berdehem sembari menggelengkan kepalanya, dan sambil senyum-senyum memandang adik iparnya, Serli. Ratu bisa menerima alasan Serli, dia juga bisa memakluminya. Serli belum pernah mempunyai bayi, meskipun dulu pernah hamil tapi anak itu pergi lebih dulu.
" Ini coba kamu gendong Revan. Pelan-pelan dan usahakan posisinya yang nyaman, jika sudah aman dan si bayinya juga nyaman pasti dia akan anteng."Ucap Ratu sambil memberikan Revan kepangkuan Serli.
Dengan pelan dan penuh kehati-hatian Serli menerima Revan. Dia mulai memposisikan Revan senyaman mungkin dalam gendongannya. Bayi yang baru berumur 7 hari itu, terlihat nyaman dan tidak menangis padahal Revan termasuk bayi yang lebih aktif daripada kembarannya, Devan.
" Mbak, Revan anteng. Dia tidak menangis, ternyata aku bisa menggendong bayi."Ucap Serli dengan senangnya.
" Nah kalau sudah bisa menggendong bayi, ayok geh buruan di programkan. Tante doa kan semoga kamu dan Yusuf disegerakan punya momongan. Jangan menunda-nunda, mumpung masih muda."Ucap Dinda tiba-tiba menghampiri Ratu dan Serli.
" Aamiin. Kami tidak menundanya kok tante, semoga sajs disegerakan. Kalau bisa kembar sekalian kayak mbak Ratu ini, pasti bahagianya dobel ya."Ucap Serli lalu mengusap pipi Revan dengan lembut.
__ADS_1
" Kalau mau kembar, tanyakan saja resepnya sama mbak mu ini."Ucap Dinda sambil melirik Ratu sambil tertawa kecil.
" Mama ini bicara apaan sih? Tidak ada resep apa-apa juga ma, yang namanya kembar atau tidak itu sudah rahasia Allah. Malah Ratu ini sempat lupa loh kalau hamil anak kembar, karena waktu itu tidak seberapa memperhatikan ucapan dokter dan aku mengira itu bercanda. Ternyata beneran kembar, dan aku menyadarinya sudah usia kandungan 6 atau 7 bulan kemarin itu sedikit lupa juga."Ucap Ratu menceritakan kejadian dimana dia yang lupa soal kehamilan kembaranya.
Hahaaa Haahaaa Hahaaa
Serli dan Dinda secara bersamaan menertawakan Ratu. Bisa-bisanya Ratu tidak ingat bahkan tidak tahu kalau dia hamil kembar. Dari dulu Ratu memang suka lupa, meskipun begitu dia itu pandai sehingga saat sekolah dia dapat peringkat terus dan kuliahpun menjadi lulusan terbaik.
" Ada apa ini? Kok aku tidak diajak ketawa sih?."Seru Karina menghampiri mereka.
" Ini loh mbak. Masa iya mbak Ratu ini lupa dan tidak sadar kalau waktu itu hamil kembar, padahal dokter sudah memberitahunya. Aneh kan?."Seru Serli masih saja tertawa.
" Oh soal itu, Ratu itu memang rada-rada pikun. Jangan-jangan sekarang dia pun tidak bisa membedakan anaknya. Mana yang Revan dan mana yang Devan, anaknya laki atau perempuan pun mungkin dia lupa."Seru Karina ikut tertawa.
" Kalau sampai seperti itu, sepertinya tante perlu membawanya berobat, Rin."Ucap Dinda sambil tertawa.
" Idih, tidak segitunya juga Ma, Mbak. Masa iya sama anaknya sendiri tidak bisa membedakan. Kalian ini terlalu meremehkan aku."Ucap Ratu membela diri.
Hahaaa Haaaaa..
Sepertinya Dinda dan kedua ipar Ratu sengaja menggoda Ratu dan mengajak Ratu untuk bercanda agar Ratu tidak stress dan tidak mengalami baby blues. Mengurus 1 bayi saja sudah pasti repot, apa lagi mengurus bayi kembar. Istirahat Ratu pun sudah pasti berkurang, terlebih kedua bayinya minum Asi semua.
Dengan diajak bercanda, diberikan dukungan dari orang-orang terdekatnya akan mengurangi tingkat stress ibu-ibu yang baru saja melahirkan. Di luaran sana ada beberapa ibu yang mengalami baby blues, itu karena tidak adanya dukungan atau suport dari orang-orang terdekatnya. Tidak ada yang membantunya, bahkan kebanyakan ada yang menyalahkan jika melahirkan dengan cara operasi sesar. Mereka beralasan jika melahirkan sesar belum bisa menjadi ibu yang sesungguhnya. Pemikiran seperti itu sudah tentu salah dan bisa melukai hati dan mental seorang ibu.
Baik normal ataupun operasi sesar itu sama saja, sama-sama sakit dan sama-sama berjuang mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan buah hatinya. Dan sama-sama menjadi seorang ibu seutuhnya, tidak ada bedanya.
" Terima kasih, berkat kalian aku jadi happy."Seru Ratu bersungguh-sungguh.
" Menjadi seorang ibu itu hal yang tidak mudah, tapi juga tidaklah sulit. Tenangkan fikiran, rileks dan jika sudah lelah beristirahatlah, jangan memaksakan untuk tetap mengurus anak-anak. Seorang ibu juga butuh ketenangan, jika anak rewel atau menangis jangan ikut panik. Harus tetap berfikir positif."Ucap Dinda sudah kesekian kalinya dia menasehati Ratu.
" Iya Ma. Ratu sudah paham dan mengerti, mama mungkin dulu juga seperti ini. Apa lagi jarak Ratu dan kak Raja tidaklah jauh, terima kasih ya ma atas waktu dan kasih sayang mama yang sudah mama curahkan untuk Ratu dan kak Raja."Ucap Ratu lalu dia memeluk erat mamanya.
Karina dan Serli terharu melihat kedekatan Ratu dan mamanya. Serli pun teringat dengan ibunya, jika saja dia bisa sedekat itu dengan ibunya mungkin kehidupannya semakin bahagia.
__ADS_1
* Tante Dinda sosok orang tua yang dekat dengan anak-anaknya. Beliau juga baik, humbel dan penyayang. Ibu ? Kapan ibu bisa memelukku seperti tante Dinda memeluk Mbak Ratu.*Gumam Serli hanya bisa bicara di dalam hatinya saja.
" Jangan sedih, pasti ingat ibu kan? Doa kan saja semoga ibu kebuka hati dan fikirannya." Ucap Karina menguap punggung Serli dengan lembut.
" Iya mbak, aku tidak sedih kok. Hanya saja ingat dengan ibu saja."Jawab Serli tetap mengulas senyumannya.
" Hemm.. Ada mbak dan Ratu dan yang lainnya yang akan selalu membantu dan mendukungmu. Apa lagi si Yusuf, dia kelihatan sangat menyayangi kamu dan mencintai kamu. Kamu wanita betuntung, bisa mendapatkan Yusuf yang baik dan sholeh."Ucap Karina lagi.
" Iya mbak. Aku sangat beruntung mempunyai suami seperti mas Yusuf."Serli membenarkan ucapan Karina.
Emm.. Ekk
Tiba-tiba Revan mengeluarkan suaranya, dia sepertinya haus dan ingin minum Asi.
" Revan haus ini."Seru Karina.
" Iya mbak."Jawab Serli.
Serli pun mendekati Ratu dan memberikan Revan kepada Ratu untuk segera diberikan Asi. Devan sendiri saat ini ada di bok bayinya sedang tertidur.
Sementara itu di tempat lain, Ibu Marni di rumah sendirian dan pintu rumah pun terkunci semua. Yanto sengaja mengunci rumah agar ibu Marni tidak bisa bebas keluar rumah. Semenjak sehabis keguguran seminggu yang lalu, keadaan ibu Marni belum juga kembali normal. Justru dia sering sakit-sakitan, tubuhnya lemas dan kepalanya sering pusing.
" Kenapa aku sekarang sering lemas dan pusing begini. Aku seakan tidak punya tenaga untuk beraktifitas, Yanto pun tidak ada perdulinya sama sekali. Sudah tahu aku sakit begini dia malah pergi dan rumah dikunci, apa dia kira aku ini tahanan."Ucap ibu Marni menggerutu dengan dirinya sendiri.
Ibu Marni meraih ponsel yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya. Dia akan menghubungi Yanto, agar Yanto bisa pulang dan membelikan dia obat serta makan siang untuknya.
" Kemana juga Yanto ini? Kenapa teleponku tidak di angkat juga, pasti sedang nongkrong dengan teman-temannya atau sedang bersama wanitany."Ibu Marni bicara pada dirinya sendiri.
Tutttt Tutttt Tuttt
Ibu Marni kembali menghubungi Yanto namun tetap saja tidak diangkat oleh Yanto. Ibu Marni nampak kesal sekali dengan sikap Yanto. Pilihan yang sulit bagi ibu Marni, dia kabur pun hidupnya akan susah dan tidak tahu harus tinggal dimana. Dia tetap bertahan di rumah Yanto, nantinya akan tetap di jadikan mesin penghasil uang. Terlebih dia punya hutang untuk biaya rumah sakit kemarin, di sisi lain ibu Marni juga masih mencintai Yanto dan berharap bisa bahagia bersama Yanto.
" Yanto, meskipun kamu sudah menjadikan ku wanita mur4h4n tapi kenapa rasa cinta ku masih saja ada?."Ucap ibu Marni bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
***********