Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Pesan dari Agung


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


Setelah Serli dan Yusuf pulang, ibu Marni dan Yanto bertengkar dengan hebat. Ternyata ibu Marni cemburu, dia masih cemburu melihat tatapan mata Yanto terhadap Serli. Tatapan mata Yanto penuh nafsu dan itu membuat ibu Marni tidak terima.


" Jadi kamu masih menyimpan rasa untuk Serli? Kamu masih menginginkannya?."Seru ibu Marni penuh emosi.


" Iya !! Aku memang masih menginginkannya, tapi bukan berarti aku mencintainya. Saat melihat Serli tadi aku teringat lagi permainan panas yang sering kami lakukan dulu, asal kamu tahu, Marni !! Serli itu wanita yang paling spesial, dia cantik, energik dan tubuhnya juga sangat mengg4ir4hkan !! Tapi sayang, dulu aku menjauhinya karena Bima dan Arya yang mengancamku, kalau tidak mungkin sampai sekarang aku masih bersamanya. Wajahnya buruk pun tidak masalah, yang penting aku bisa pu4s dengan dia !!."Ucap Yanto berkata dengan jujur.


Perkataan dan pengakuan Yanto tadi sangat menyakitkan bagi ibu Marni. Dia bisa menerima jika Yanto masih sering bermain dengan wanita di luaran sana. Tapi ibu Marni tidak terima saat Yanto masih mempunyai keinginan bermain dengan Serli.


" Si4l4n kamu, Yanto ! Lantas aku ini kamu anggap apa kalau kamu masih menginginkan anakku? Serli itu sudah menikah dan pria yang bersamanya tadi itu suaminya."Ucap ibu Marni lagi.


" Kamu hanya pemu4s n4fsu saja kan? Bukannya itu sekarang sudah menjadi pekerjaanmu kan? Kalau aku masih berharap main sama anak mu itu hakku dong. Memang anakmu itu lebih segalanya daripada kamu. Masalah dia sudah bersama ya bodo amat, lagian aku juga hanya mempunyai keinginan saja. Asal kamu tahu, kamu itu bagiku sekarang ini cuma wanita pemu4s saja. Camkan itu !!."Seru Yanto dengan telunjuknya menunjuk tepat di wajah ibu Marni.


Brraaakkkk


Yanto masuk kamar dan membanting pintu kamar dengan kuat sehingga menimbulkan suara dentuman yang menyakitkan gendang telinga. Tidak sampai 5 menit, Yanto keluar kamar dan sudah berpenampilan dengan rapi. Dia sudah bersiap akan pergi, melihat Yanto yang sudah rapi membuat ibu Marni kesal dan geram. Jika sudah pergi, Yanto pasti akan menginap dan justru pria lain yang akan pulang dan harus dia layani dengan baik.


" Mau kemana kamu, Yanto?."Tanya ibu Marni.


" Bukan urusanmu. Jangan lupa, nanti malam ada tamu seperti biasa dan kamu harus memberikan pelayanan yang maksimal. Pelanggan kali ini dari luar negeri dan dia berani membayar mahal. Kamu akan mendapatkan bagian yang lumayan besar."Seru Yanto sebelum dia pergi.


" Aku tidak mau !! Aku sudah tidak mau lagi melayani para pelanggan, aku capek."Ucap ibu Marni membantah Yanto.

__ADS_1


" Jangan membantah Marni, atau kamu mau aku hajar seperti dulu?."Seru Yanto mengancam ibu Marni.


Wajah ibu Marni langsung berubah ketakutan, dia tidak mau jika Yanto menghajarnya seperti dulu. Sudah dihajar, badan sakit tapi tetap saja harus melayani pelanggan. Lebih baik ibu Marni diam dan tidak membantah.


" Jika kamu berani membantahku, aku akan menghajarmu. Dan aku pun bisa membawamu ke tempat dimana kamu akan dijadikan budak *3** oleh para pria-pria kesepian tanpa menerima bayaran sedikitpun. Kamu mau seperti itu?."Ucap Yanto berbisik di telinga ibu Marni.


Ibu Marni dengan cepat menggelengkan kepalanya. Dia tahu tempat seperti apa yang dimaksud oleh Yanto. Tempat dimana sangat terpencil dan penghuninya di sana 90 persen laki-laki. Dan sudah pasti wanita di sana hanya sedikit, dan dia akan dipermainkan oleh para pria di sana.


" Aku.. Aaa.. Aku tidak akan membantahmu."Ucap ibu Marni terbata-bata.


" Bagus, baik-baik di rumah. Ingat, jangan berani-berani kabur dari sini. Kemanapun kamu pergi aku bisa menemukanmu? Oh iya, ponselmu juga sudah aku sadap. Ok kan?."Seru Yanto sambil memainkan matanya.


* Aku tidak mungkin juga kabur dari sini, Yanto. Jika aku kabur, aku mau tinggal dimana? Aku malu jika harus datang kepada anak-anakku, sebab aku sesumbar jika selama ini aku sudah bahagia.*Gumam ibu Marni dalam hatinya.


********


[ Hai apa kabar?] Pesan singkat itu masuk ke ponsel Rani.


[ Kok kamu jarang balas pesan ku? Apa aku mengganggu kamu ya? Eh, apa jangan-jangan kamu sudah melahirkan dan kamu sibuk dengan anakmu? Wahh pasti anak kamu lucu banget ya? Aku bolehkan berkunjung untuk melihat anakmu?]. Agung tidak putus asa, dia tetap mengirimi Rani pesan meskipun tidak dibalas.


" Apaan sih ini Agung? Kenapa sekarang ini dia jadi rajin mengirimi ku pesan? Sudah tidak dibalaspun tetap saja, pakai mau main kesini juga. Aku tidak mau para tetangga memandang jelek, apa lagi dengan statusku yang janda begini."Ucap Rani menggerutu sembari memandangi ponselnya.


Rani mengetik pesan balasan untuk Agung, dia tidak mau jika Agung datang menemuinya. Jika tidak dibalas, pasti Agung akan datang.


[ Maaf aku repot pindahan dan buka usaha. Aku memang sudah melahirkan, tapi tolong kamu jangan datang kesini ya. Bukan aku tidak menghargai kebaikan kamu, tapi aku tidak mau para tetangga ku berfikiran yang tidak-tidak. Apa lagi statusku ini seorang janda, aku harap kamu bisa mengerti.] Balasan Rani cukup panjang lebar dan bahasa penolakannya pun sopan dan halus sehingga Agung tidak akan tersinggung.


[ Kalau tidak enak dengan tetangga, bagaimana kalau dienakin saja? Jadi para tetangga tidak akan berfikiran yang negatif].


Balasan Agung tidak dimengerti oleh Rani. Rani pun menggerutu sendiri.

__ADS_1


" Maksud nya apaan sih? Lama-lama tidak nyambung juga dia balasnya." Ucap Rani dengan kesal.


Oeeekk Oeeekkk Ooeekk


Tangisan Tegar mengagetkannya, dia pun meletakkan ponselnya dan segera memangku anaknya untuk diberi Asi. Rani masih di rumah bersalin bidan Ria, dan sore ini baru dia akan pulang. Menunggu Andi pulang kerja, meskipun jarak rumahnya dekat. Tidak memungkinkan untuk membawa bayinya berjalan kaki.


" Haus ya nak, maafkan mama ya tadi sempat melupakan keberadaanmu."Ucap Rani sambil mengusap pucuk kepala Tegar.


Rani memperhatikan wajah anaknya, tidak dapat dipungkiri jika wajah anaknya sangat mirip dengan ayahnya, Yanto. Jika mengingat Yanto, Rani sangat benci sekali terlebih kenapa anaknya sangat mirip dengan Yanto.


" Kenapa wajah kamu harus mirip sama laki-laki yang sangat mama benci, sayang. Apa ini hukuman bagi mama? Atas kesalahan-kesalahan mama? Terlalu banyak dosa yang sudah mama lakukan di masalalu. Kehadiranmu yang tidak adanya hubungan pernikahan sempat membuat mama frustasi, dimana saat itu pria br3ngs3k itu tidak mau menikahi mama. Mama berharap kelak kamu akan menjadi anak yang sholeh ya nak."Ucap Rani dengan mata berkaca-kaca lalu mencium kening Tegar.


Tegarpun sudah selesai minum Asi dan kembali tertidur. Rani meletakkan Tegar di sampingnya dengan hati-hati.


Ibu Darti saat ini di rumah sedang mempersiapkan untuk syukuran cucunya. Dia sudah meminta tolong beberapa tetangganya untuk membantunya memasak. Acara syukuran akan di adakan besok malam dan hari ini baru menyiapkan perbumbuannya.


" Rani dan anaknya dibawa pulang kapan bu?."Tanya salah satu tetangga.


" Nanti sore bu. Menunggu Andi pulang kerja biar bisa membantu Rani, sebenarnya kalau mau jalan sih bisa-bisa saja dekat ini. Tapi kasihan bayinya kalau di ajak jalan."Jawab ibu Darti yang saat ini sudah mulai berubah bertutur kata dengan sopan dan ramah.


Meskipun hanya berjarak 7 rumah, tapi lumayan juga jika haus jalan kaki sambil menggendong bayi. Apa lagi Rani baru melahirkan tentunya jalannya pun pelan-pelan.


" Mantan suaminya Rani tidak dikabari bu kalau Rani sudah melahirkan?."Tanya sang tetangga lagi.


" Emm.. Dikabari kok bu. Tapi mungkin saja tidak datang, karena mantan suami Rani sekarang ini sudah menikah lagi."Jawab ibu Darti dengan berbohong.


Ohhh....


Para tetangga hanya menjawab dengan ber oh ria saja. Mereka juga tidak mau bertanya lebih detail lagi, tahu mana batas-batasan mereka.

__ADS_1


**********


__ADS_2