
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
" Alhamdulillah, bayi nya laki-laki dan sehat tanpa kurang suatu apapun mbak."Ucap bidan Ria memberitahu Rani lalu meletakkan bayi di atas tubuh Rani.
Nafas Rani masih belum stabil, tubuhnya pun basah karena keringat yang membanjiri tubuhnya. Perjuangan selama hampir 1 jam akhirnya berhasil juga, bayi mungil berjenis kelamin laki-laki berhasil dilahirkan dengan selamat.
" Terima kasih bu."Jawab Rani sambil mengusap bayi yang ada di atas tubuhnya.
Bayi itu masih banyak d4r4h, dan dia juga menangis. Tanpa terasa air mata Rani juga ikut membasahi pipinya, tidak menyangka dia bisa melewati proses melahirkan yang menguras tenaganya.
" Bayi di bersihkan dulu ya mbak, nanti setelah dibersihkan akan diantar lagi. Mbak Rani juga akan di pindahkan ke kamar rawat inap ya."Ucap bidan Ria dengan ramah dan lembut.
Meski hanya bidan desa, bidan Ria mempunyai fasilitas yang cukup lengkap untuk menangani pasien, terutama untuk ibu melahirkan. Bidan Ria juga membuka praktek 24 jam, para penduduk setempatpun jika berobat tidak perlu jauh-jauh ke kota. Terkecuali memang sudah harus di rujuk ke rumah sakit besar dan bidan Ria akan memberikan rujukan untuk ke Rumah sakit. Suami bidan Ria sendiri juga seorang dokter umum.
" Iya bu."Jawab Rani masih dengan lemas.
Bayi Rani di bawa perawat untuk di bersihkan,sedangkan Rani di pindahkan ke kamar rawat inap oleh bidan Ria sendiri. Rani bari ingat jika anaknya perlu untuk di adzankan, tapi siapa pria yang akan mengadzankan anaknya.
" Ibu saya kemana, bu?."Tanya Rani menanyakan keberadaan ibu Darti yang memang sedari tadi tidak kelihatan.
" Oh ibu Darti? Beliau sedang pulang untuk mengambil keperluan mbak Rani sambil menutup warung. Sebentar lagi pasti datang ke sini, soalnya sudah dari tadi."Jawab bidan Ria jujur.
* Kenapa ibu malah tidak mau menemaniku di dalam, saat tadi aku melahirkan? Justru dia malah pulang, apa ibu tidak mau melihat cucunya?.*Tanya Rani dalam hatinya sindiri.
Bidan Ria meninggalkan Rani sendirian, dia masih ada pasien lain yang harus dia tangani. Sebentar lagi ada suster yang akan membantu Rani. Ibu bidan Ria mempunyai 3 perawat yang membantunya buka praktek di rumah. Bisa dibilang rumah bidan Ria sudah seperti klinik.
" Rani. Maaf tadi ibu tinggal pulang, soalnya rumah dan warung dalam keadaan terbuka semua. Ibu juga mengambil beberapa keperluan kamu dan anak kamu, mana sekarang anak kamu?."Tanya ibu Darti yang baru saja datang.
" Masih dibersihkan bu. Kenapa tadi ibu tidak menemani Rani saat Rani melahirkan? Apa ibu tidak menginginkan anak Rani?."Tanya Rani dengan fikiran negatifnya.
" Bukan begitu Rani. Ibu tadi bingung, karena rumah dan warung masih kebuka semua. Ibu sayang kok sama anak kamu, lagi pula kamu juga tahu kan kalau ibu ini phobia sama d4r4h. Jadi mana sanggup ibu menemani kamu saat melahirkan."Ucap ibu Darti menjelaskan.
Rani pun baru ingat jika ibunya memang phobia dengan d4r4h. Tidak mungkin juga jika harus di paksakan yang ada justru ibunya akan mual dan muntah-muntah. Rani tadinya sudah berfikir negatif lebih dulu kepada ibunya.
__ADS_1
" Bu, tolong ambilkan air minum."Ucap Rani dengan menunjuk ke arah meja samping tempatnya berbaring.
" Ibu bantu kamu duduk dulu ya."Seru ibu Darti lalu membantu Rani duduk agar dia bisa minum.
Setelah Rsni duduk ibu Darti mengambilkan air minum dan meminumkannya dengan pelan-pelan. Saat Rani sedang minum, pintu kamarnya terbuka dan masuklah perawat dengan menggendong bayi.
" Mbak Rani, ini bayinya. Bayinya belum di adzanin ya mbak."Ucap perawat mengingatkan Rani, lalu menyerahkan bayi dalam pangkuan Rani.
Rani dan ibu Darti saling beradu pandangan, mereka berdua belum tahu siapa yang akan mengadzankan anaknya. Rani suami tidak punya? Yanto pun tidak mungkin? Rani sudah tidak mau lagi berurusan apapun dengan Yanto. Bahkan dia tidak akan mengenalkan anaknya siapa ayah kandungnya. Rani akan menutup komunikasi antara Yanto dan anaknya.
" Biar saya yang mengadzani."Ucap seseorang yang baru saja masuk.
Haaahhh...
Andi ? Ya, orang yang baru saja masuk adalah Andi adik angkat Rani. Andi sengaja pulang cepat hanya untuk bisa melihat keponakannya.
" Andi ? Kok kamu sudah pulang, dek? Ini baru jam berapa?."Tanya Rani heran.
Andi bekerja di pabrik dan dia akan pulang jam 4 sore, sedangkan sekarang baru jam 11 siang. Rani tidak mau Andi kebanyakan izin dan akan berdampak buruk kepada pekerjaannya. Apalagi saat Rani pindahan, Andi sudah mengambil libur 2 hari untuk membantu Rani.
" Aku izin sebentar mbak, nanti akan balik lagi ke pabrik. Mana keponakan ku? Sini biar aku yang mengadzani."Ucap Andi terlihat sangat tulus menyayangi keponakannya.
" Terima kasih ya dek."Ucap Rani saat Andi sudah selesai.
" Sama-sama mbak. Oh iya, bayinya mau dikasih nama siapa mbak? Apa mbak sudah menyiapkan nama?."Tanya Andi.
Rani menggelengkan kepalanya, sebab dia memang belum menyiapkan nama untuk anaknya. Dia juga bingung akan memberi nama siapa untuk anaknya.
" Kalau Andi yang kasih nama, mbak Rani sama ibu keberatan apa tidak?."Tanya Andi meminta persetujuan lebih dulu.
" Memangnya mau kamu kasih nama siapa?."Tanya ibu Darti.
" Tegar Prasetio, supaya dia bisa menjadi pribadi yang lebih tegar dan kuat dalam menjalani kehidupannya."Ucap Andi dengan yakin.
" Nama yang bagus, mbak setuju dengan nama yang kamu berikan. Tegar ? Kelak dia akan menjadi anak yang selalu tegar."Ucap Rani menyetujui nama yang diberikan oleh Andi.
Ibu Darti hanya mengangguk setuju, dia tidak memprotes nama yang diberikan Andi untuk cucu pertamanya itu. Dia sendiri juga tidak menyiapkan nama untuk cucunya, beruntung ada Andi yang sudah menyiapkan nama untuk keponakannya.
" Andi, nanti kamu coba hubungi Fina. Kalau dia senggang suruh dia datang kesini menemani mbak mu. Ibu tidak bisa menemani mbak mu terus, ibu harus pulang untuk menyiapkan keperluan menyambut Tegar pulang. Kalau bisa saat Tegar di bawa pulang, kita langsung adakan syukuran kecil-kecilan biar cepat beres."Ucap ibu Darti meminta Andi untuk menghubungi pacarnya, Fina.
__ADS_1
" Iya bu, nanti sore Fina akan datang. Tadi sebelum Andi ke sini, Andi sudah memberitahu Fina kalau mbak Rani melahirkan."Jawab Andi dengan sopan.
" Ibu minta bantuan salah satu tetangga juga ya bu, ibu jangan belanja sendiri. Nanti ibu kecapean dan tensi ibu akan naik. Acaranya cukup syukuran pemberian nama, tidak perlu mengundang banyak orang. Kita sesuaikan sama dananya juga bu."Ucap Rani mengingatkan ibu Darti.
Ibu Darti mengangguk paham, hanya sekitar 20 orang saja kemungkinan yang akan di undang. Dia juga tidak akan membebani Rani, masih banyak kebutuhan yang harus Rani tanggung untuk membesarkan Tegar seorang diri.
******
Tok
Tok
Tok
Yanto mengetuk pintu dengan terburu-buru, sebab saat ini Yanto dalam kejaran polisi. Transaksinya malam ini gagal total, ada orang yang sudah membocorkan informasi kepada polisi.
" Marni !! Cepat buka pintunya."Ucap Yanto tetap dengan waspada dengan terus mengamati sekitarnya.
Yanto terus mengetuk pintu sampai ibu Marni membukakan pintu. Setelah menunggu hampir 5 menit, akhirnya pintu terbuka juga.
" Kemana saja sih, lama banget."Seru Yanto dengan marah.
" Aku tidur, Yanto. Ini juga sudah malam banget, kamu kenapa keringatan dan ngos-ngosan begitu?."Tanya ibu Marni.
" Cepat tutup lagi pintunya, dan jangan lupa di kunci."Seru Yanto masih terlihat jelas jika dia ketakutan.
Ibu Marni hanya mengangguk patuh, dia tidak banyak bertanya yang justru akan menimbulkan banyak pertanyaan.
" Kalau ada polisi, jangan dibukakan pintu. Atau kalau terpaksa di buka, bilang saja kamu tidak mengenal ku. Aku ini lagi di kejar polisi, transaksi ku malam ini gagal total. Aku rugi besar, mana barangnya tertingkal di TKP."Seru Yanto dengan geram.
" Polisi ? Jadi kamu dikejar polisi? Cepat masuk kamar dan bersembunyilah di sana. Aku juga tidak mau berurusan dengan polisi, aku sudah kapok berurusan dengan polisi. Aku tidak mau sampai ikut terseret dengan masalah mu, Yanto."Ucap ibu Marni juga nampak ketakutan sekali.
Pernah mendekam dalam penjara selama 2 bulan sudah membuatnya jera dan tidak mau jika harus kembali lagi dalam jeruji besi.
" Jangan banyak b4cot kamu, Marni !."Seru Yanto dengan kasar.
" Cepat ambilkan aku minum."Seru Yanto lagi.
Ibu Marni bergegas ke dapur mengambilkan Yanto minum. Sepertinya bukan saat yang tepat untuk mengajak Yanto berdebat. Yanto sedang dalam masalah besar, bisa-bisa Yanto akan menyiksanya jika terus dibuat marah.
__ADS_1
**************