
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
" Mas tumben datang ke butik? Ada apa?."Tanya Ratu sepertinya dia sudah lupa dengan kekesalannya.
Arya mengambil ponsel Ratu yang ada di atas meja, ternyata ponsel Ratu mati. Arya mencoba menghidupkannya, setelah hidup Arya hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
" Kenapa ponselnya dimatiin, dek? Tadi kamu telepon ya? Mas coba telepon balik tapi sudah tidak aktif. Tadi ponsel mas itu ketinggalan di ruangan mas, sedangkan mas lagi menemui klien di ruang meeting membicarakan masalah kerja sama."Ucap Arya menjelaskan kenapa tadi dia tidak mengangkat teleponnya.
Tiba-tiba Ratu langsung memasang wajah cemberut. Dia baru ingat lagi, jika tadi dia menelpon Arya tapi sampai 2 kali panggilan Arya mengabaikannya. Melihat perubahan wajah istrinya, Arya sendiri menjadi heran.
" Ada apa si dek ? Kok tiba-tiba wajahnya cemberut gitu?."Tanya Arya dengan lembut.
" Tahu ah !! Aku kesal karena mas tadi mengabaikan teleponku, padahal mas ada di kantor kan? Atau jangan-jangan mas lagi sama Anne ya, makanya sampai tidak mengangkat teleponku."Ucap Ratu dengan cemberut dan bibir mengerucut.
" Loh kok cemberut sih, dek ? Mas tidak sama Anne dek, mas tadi kan sudah bilang kalau mas menemui klien di ruangan meeting. Sedangkan Hp mas ada di ruangan mas, mas hanya bawa Hp satunya yang khusus untuk bekerja."Ucap Arya kembali menjelaskan.
Ratu hanya mendengus dengan kesal, dia melirim tajam suaminya. Melihat tingkah aneh istrinya pun membuat Arya heran serta bingung , padahal Ratu tidak pernah seperti ini dan dia selalu tahu kesibukannya. Arya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, baru kali ini dia bingung mau ngapain.
Menghadapi wanita yang sedang marah dan ngambek memang serba salah. Kita salah bicara saja pasti akan semakin marah.
" Aku lapar."Seru Ratu tiba-tiba mengatakan jika dia lapar.
" Kamu belum makan, dek?."Tanya Arya.
Ratu hanya menggelengkan kepalanya saja, dia memang belum makan siang. Arya pun ingin memesan makanan lewat aplikasi online, namun Ratu melarangnya. Ratu ingin makan di luar saja, tapi belum tahu makanan apa yang akan dia makan.
" Mau makan dimana?."Tanya Arya dengan lembut.
" Tidak tahu mas, yang penting kita jalan saja dulu. Siapa tahu nanti di jalan ada penjual makanan yang enak, aku tidak sedang ingin makan apapun tapi perutku sudah terasa lapar."Ucap Ratu membuat Arya kebingungan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tanpa menunggu lama, Arya dan Ratu kini sudah ada dalam mobil. Arya mengendarai mobilnya menyusuri jalanan, dan dia juga sudah menawarkan beberapa tempat makan namun Ratu tetap menolaknya. Arya mengikuti apa yang diinginkan istrinya, dia tetap melajukan mobil sampai pada akhirnya Ratu memintanya berhenti.
" Mas berhenti, itu ada penjual ketoprak."Seru Ratu menunjuk kearah penjual ketoprak yang mangkal di depan gedung ruko.
" Mau makan ketoprak?."Tanya Arya memastikan.
" Iya mas, masa iya mau makan bakso. Itukan pedagang ketoprak, aneh banget sih."Seru Ratu mendengus kesal.
" Salah lagi."Ucap Arya pelan.
Arya membelokkan mobilnya menuju pedagang ketoprak berada. Setelah mobil berhenti Ratu segera turun dan memesan dua porsi ketoprak yang pedas.
" Dek, mau minum apa? Mas belikan minuman dulu di minimarket?."Tanya Arya sambil menunjuk ke arah mini market.
" Ini ada air putih mas. Ehh.. Tapi tidak apa-apa juga sih kalau mas mau beliin minuman. Tolong beliin minuman yang dingin dan segar ya mas, yang rasa mangga."Ucap Ratu lagi.
__ADS_1
" Iya, kamu tunggu disini saja ya." Ucap Arya memberitahu.
" Iya mas, jangan ganjen-ganjen sama kasirnya."Ucap Ratu mengingatkan.
Hhuuffff
Arya hanya mengangguk saja, sambil m3nd3s4h pelan. Dia heran kenapa istrinya hari ini sangat-sangat aneh dan berbeda. Tumben sekali dia cemburu dan cerewet.
Setelah menunggu 10 menit akhirnya ketoprak pesanan Ratu sudah jadi. Arya juga sudah kembali dengan membawa dua botol minuman rasa mangga sesuai dengan permintaan sang istrinya.
" Enak mas?."Tanya Ratu.
" Enak sayang, ini enak banget."Jawab Arya jujur. Arya begitu sangat lahap makan ketopraknya sampai punya dia sudah hampir habis.
Ratu memperhatikan suaminya yang makan dengan sangat lahapnya. Sampai-sampai Ratu menggelengkan kepala keheranan melihat Arya makan.
" Mas, bukannya mas Arya ini tidak suka ketoprak ya? Tapi kok mas makan lahap banget?."Tanya Ratu.
" Iya dek, tidak tahu kenapa kok tiba-tiba jadi suka begini. Mungkin karena makannya bareng istri tercinta."Jawab Arya dengan santainya.
" Kalau masih kurang ini punya ku mas makan saja. Porsinya terlalu banyak, jadi aku tidak habis. Atau mau pesan yang baru saja?."Tawar Ratu merasa tidak enak memberikan makanan sisanya untuk Arya.
" Tidak usah dek, sudah ini saja. Sayang kalau tidak dimakan, ketoprak seenak ini."Jawab Arya lalu menggeser piring ketoprak Ratu dan memakannya.
Ratu meminum minuman yang tadi dibelikan Arya sambil terus memperhatikan suaminya yang makan dengan lahapnya.
Sementara itu, saat ini Serli ada di salah satu cafe sedang menunggu teman onlinenya. Siang ini dia dan teman onlinenya yang bernama Anto itu akan bertemu. Serli sudah dandan dengan cantik dan memakai pakaian yang tidak terlalu ketat agar perutnya yang sedikit membuncit tidak kelihatan. Usia kandungan Serli saat ini sudah 10 bulan dan perut Serli sudah mulai membuncit sedikit padat.
" Hai .. Kamu Serli kan? Sudah lama ya? Maaf ya aku sedikit terlambat, maklum tadi ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dulu."Ucap pria yang bernama Anto menghampiri Serli.
* Waahh.. Ternyata Anto lebih tampan dan lebih keren aslinya ketimbang dalam foto. Pokoknya aku harus bisa menggaetnya, jangan sampai dia lolos begitu saja.*Gumam Serli dalam hatinnya.
Serli masih saja terus memandangi pria tampan yang ada dihadapannya. Pria yang seminggu ini dia kenal lewat sosial media aplikasi biru. Ternyata lebih tampan aslinya daripada di foto.
" Hai.. Kamu benar Serli kan? Kok bengong?." Tanya Anto sambil melambaikan tangannya di depan wajah Serli.
" Ehh.. Em..Iya saya Serli mas Anto."Jawab Serli terbata-bata.
" Kok gugup sih? Memang aku menakutkan ya?."Tanya Anto dengan senyum menggoda.
" Bukan begitu, mas Anto lebih ganteng aslinya daripada di foto. Mas Anto, katanya habis dari luar kota kok tiba-tiba kirim pesan mengajak ketemu? Memangnya tidak capek, atau tidak mau istirahat dulu."Seru Serli dengan malu-malu.
Anto hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari Serli. Dia suka dengan wanita seperti Serli, wanita yang cantik, putih, tinggi dan nampak malu-malu saat berbicara. Sangat berbeda dengan wanitanya yang saat ini ada dirumahnya.
Anto dan Serli memesan makanan, Anto sudah sangat lapar sebab tadi dia tidak jadi makan di rumah.
" Serli kuliah kebidanan ya?."Tanya Anto di sela-sela makannya.
" Iya mas, tapi itu dulu. Sekarang sudah tidak lagi, tidak ada biaya untuk melanjutkannya."Jawab Serli sengaja berbohong.
" Kenapa? Apa tidak sayang? Kalau kamu mau, Mas bisa bantu biaya kuliahnya. Apa kamu mau?."Tanya Anto.
__ADS_1
" Tidak perlu mas, nanti merepotkan mas Anto."Jawab Serli.
Hemmmmm
Anto hanya berdehem sambil mengunyah makanannya.
Di tempat lain, Rani yang baru saja bangun tidur mencari keberadaan Yanto. Namun dia tidak menemukan Yanto, Rani membersihkan dirinya lalu segera dia keluar kamar untuk mencari Yanto.
" Bu lihat Yanto tidak?."Tanya Rani menghampiri ibunya yang sedang menonton televisi.
" Oh Yanto, tadi dia keluar. Katanya sudah ada janji sama orang gitu, tapi ibu tidak tahu orang siapa yang dia maksud. Eh Ran, sepertinya Yanto tidak suka loh dengan keberadaan ibu disini. Tadi dia sepertinya kaget saat melihat ibu, sampai dia mau makan saja tidak jadi."Ucap ibu Darti menyampaikan apa yang dia rasakan kepada Rani.
" Masa sih bu? Tapi kalau memang Yanto tidak suka dengan keberadaan ibu dirumahnya, ibu pulang ke kampung saja sih, lagian ibu disini memang mengganggu waktu ku dan Yanto. Disanakan ada anak angkat ibu si Andi itu yang akan merawat dan menjaga ibu. Buat apa dia ibu besarkan kalau tidak mau gantian merawat ibu. Tenang saja, masalah uang bulanan nanti pasti bakal Rani kirim setiap bulannya. Ibu lihatkan kalau Yanto ini sekarang sudah kaya raya begini."Seru Rani dengan mudahnya dia meminta ibunya pulang jika Yanto tidak nyaman.
Deggghh
Hati ibu Darti terasa sakit saat Rani mengatakan seperti itu. Padahal dia itu ibu kandungnya, ibu yang sudah melahirkannya. Hanya demi seorang pria, Rani tega bicara seperti itu dengan ibunya. Ibu Darti memandang aneh kearah Rani, namun Rani seakan tidak merasa bersalah dan ucapannya biasa saja.
" Kamu tega mengusir ibumu, Rani?."Tanya ibu Darti sambil menggelengkan kepalanya.
" Rani tidak mengusir bu, tapi lebih tepatnya ibu tahu diri saja. Ibu tadikan bilang kalau Yanto tidak suka dengan kehadiran ibu di rumahnya, daripada nanti aku dan Yanto ribut gara-gara ibu. Lebih baik ibu pulang saja, aku tidak mau gara-gara ibu juga aku gagal menikah dengan Yanto. Rumah tanggaku dan mas Bima berantakan juga semua itu berawal dari ibu kan? Tolong lah bu, jangan buat Rani dan Yanto ribut hanya gara-gara ibu." Ucap Rani semakin berani dan menyalahkan ibunya atas kegagalan rumah tangganya dengan Bima.
Plaakkk
Untuk pertama kalinya ibu Darti menampar Rani. Dia tidak bermaksud untuk menampar Rani, tapi gerakan tangannya seakan-akan refleks begitu saja. Setelah menampar Rani, ibu Darti menyesal dan terus melihat tangannya yang dia gunakan menampar Rani. Sejahat-jahatnya ibu Darti dia tidak pernah main tangan dengan anaknya sendiri, apalagi Rani adalah anak kandungnya dan anak kesayangannya.
" Ibu sudah berani menampar Rani?." Tanya Rani dengan mata membola dengan nafasnya yang sudah memburu menahan emosinya.
" Maaf Rani, ibu tidak bermaksud untuk menampar kamu. Ibu hanya refleks begitu saja, ibu tidak terima kamu menyalahkan ibu atas gagalnya rumah tanggamu dengan Bima. Bukannya itu semua karena ulahmu sendiri, ulahmu yang sudah berselingkuh dengan Yanto. Tapi kenapa kamu menyalahkan ibu?." Ucap ibu Darti memberikan pembelaan untuk dirinya sendiri.
" Tapi semua itu berawal dari ibu !! Uang mas Bima kan habis karena ibu, untuk biaya hidup ibu, untuk beli motor, renovasi rumah !! Tapi apa semua itu disita rentenir karena ulah ibu, sampai bapak meninggal juga karena ulah ibu. Dan sejak mas Bima tahu semuanya, dia sudah tidak mempercayakan uangnya sama Rani lagi. Semua itu gara-gara ibu !! Gara-gara ibu hidup Rani seperti ini !! "Seru Rani bicara dengan lantang kepada ibunya.
" Rani !!." Seru ibu Darti dengan lantang.
Ibu Darti berteriak menyebut anak perempuan nya itu yang saat ini sedang diliputi amarah. Baru kali ini Rani bicara dengan kasar dan menyalahkan ibunya atas apa yang sudah terjadi. Tentu saja itu membuat ibu Darti marah dan tidak terima atas tuduhan Rani.
" Ibu lebih baik pulang saja lah , Rani takut ibu disini bawa sial saja untuk Rani."Seru Rani dengan ketus.
Teess
Tanpa terasa air mata ibu Darti menetes dan membasahi pipinya. Ternyata sakit jika tidak dihargai dan diinginkan oleh anak kandung sendiri. Hanya Rani anak kandungnya, tapi seolah Rani tidak mengharapkan kehadirannya. Justru menganggapnya sebagai pembawa sial.
" Apa kamu serius meminta ibu untuk pulang, Rani ?."Tanya ibu Darti ingin lebih menyakinkan.
" Serius bu. Rani takut kalau ibu terus disini, Yanto akan terganggu dan dia bisa-bisa gagal menikahi Rani. Ibu kapan mau pulang? Nanti Rani pesankan taksi yang bisa mengantar ibu sampai rumah, atau mau minta jemput Andi?." Tanya Rani membuat ibu Darti semakin sakit hati.
" Besok ibu akan pulang."Jawab ibu Darti singkat.
Ibu Darti pun berjalan meninggalkan Rani, dia masuk ke kamarnya dan dia menumpahkan tangisnya didalam kamar.
**************
__ADS_1