
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Suasana rumah Ratu terasa tegang dan tidak kondusif. Ketiga manusia tidak tahu malu itu datang untuk mengacaukan ketenangan Ratu. Ibu Darti juga ikut-ikutan memarahi Ratu, seakan dia tamu penting di rumah Ratu.
" Jika kalian bertamu hanya untuk membuat keributan, lebih baik kalian pergi dari rumahku. Jangan sampai aku berbuat nekat dan menyeret kalian bertiga dengan tanganku sendiri. Kalian baik, aku juga bisa jauh lebih baik kepada kalian. Ini rumah ku dan jangan membuat onar di rumahku."Ucap Ratu terdengar sangat tegas dan penuh penekanan.
Rani dan ibu nya saling melirik, sepertinya mereka mulai takut dengan ancaman Ratu. Terlebih ibu Marni juga sudah tidak membantah lagi, dia duduk di sofa yang ada disamping Ratu.
" Duduk saja bu."Seru Rani menarik tangan ibunya dan mengajaknya duduk.
Mereka bertiga sudah duduk di sofa yang sama. Ratu masih kesal sehingga tidak mau menjamu tamunya. Biarlah mereka minum air mineral kemasan botol kecil yang memang sudah ada di atas meja.
" Ratu, kamu kan sudah punya uang sendiri. Kenapa kamu masih meminta uang gaji Arya? Seharusnya kamu biarkan uang gaji Arya untuk ibu, untuk memenuhi kebutuhan rumah seperti dulu. Kamu jangan serakah dong Ratu, bagaimanapun ibu ini berhak atas uang Arya."Ucap ibu Marni pembahasannya masih sama tentang uang-uang dan uang terus menerus.
" Kamu juga harus bertanggung jawab atas Rani. Kamu sudah membuat anakku di pecat dari pekerjaannya. Sebagai gantinya kamu harus memberikan uang Rani sebesar gaji dia setiap bulannya. Itu sebagai konsekuensi kamu lantaran gara-gara kamu Rani di pecat."Ucap Ibu Darti tidak tahu malu.
Ratu hanya tersenyum miring saja mendengar apa saja yang dikatakan oleh para lintah darat yang ada di depannya. Memang nya siapa mereka? Kenapa harus Ratu dan Arya yang harus menanggung biaya hidupnya. Ratu bukanlah mesin ATM yang tinggal gesek akan keluar uang dengan sendirinya.
" Soal gaji mas Arya, aku sama sekali tidak menguasai nya. Mas Arya sendiri yang memberikannya kepadaku sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap istri. Uang itu juga aku tabung, bukan untuk foya-foya atau untuk menyenangkan keluargaku sendiri."Seru Ratu sambil melirik jahat kearah Rani.
__ADS_1
* Kurangajar !! Ratu sengaja menyinggungku, lihat saja kamu Ratu, aku akan membuat kamu menyesal sudah berani denganku. Pokoknya aku tidak mau tahu, Ratu harus memberikan uang bulanan untukku. Benar kata ibu, gara-gara dia aku dipecat dan tidak punya penghasilan. Hemm tapi apa benar, butik itu juga miliknya? Jangan-jangan dia cuma bohong.*Gumam Rani dalam hatinya.
" Terus soal mbak Rani yang di pecat itu sudah menjadi keputusanku. Butik itu tidak memerlukan pegawai yang tidak punya Attitude yang baik. Lama-lama bisa pergi semua pelanggan butik kalau dia masih bekerja disana. Cuma pegawai butik biasa saja sudah mengaku-ngaku sebagai menejer. Mana sombong nya tidak karuan, apa pantas orang seperti itu kerja di butik ternama?." Seru Ratu melotot kearah Rani.
Rani tidak mau kalah, dia juga menatap Ratu dengan tatapan tajam. Dia sama sekali tidak menghiraukan ucapan Ratu, sepertinya urat malunya sudah putus bahkan mungkin juga tidak punya urat malu lagi.
" Jaga ya bicara kamu, Ratu. Kalau bukan karena kamu itu istrinya Arya mungkin sudah aku rob3k itu mulut jahat mu. Rani ini lulusan D3 dan tentunya dia pantas bekerja di butik itu. Kamu pasti irikan sama Rani, karena Rani punya penghasilan dan bisa bekerja di butik besar itu? Memangnya kamu yang cuma pengangguran, bisanya ngabisin duit Suami saja."Seru ibu Darti terus menyudutkan Ratu.
" Daripada ibu, kerja kagak tapi menghabiskan gaji menantu. Kalau aku jadi mas Bima sudah aku ambil saja itu motor dan surat rumah. Renovasi rumah juga pakai uang mas Bima kan? Oh iya, ibu tadi bilang kalau saya iri sama Mbak Rani? Cihhh untuk apa aku iri bu, saya ini yang punya butiknya."Seru Ratu sambil terkekeh geli melihat reaksi wajah ibu Darti yang terlihat kaget dan syok mendengar penuturan dari Ratu.
Haaahhhh
Ibu Darti tidak menyangka jika Ratu bisa tahu semuanya. Rani memang tidak menceritakan jika keluarga semua sudah tahu tentang uang tabungan Bima yang mereka pakai. Rani hanya bilang jika Bima menanyakan uang tabungannya. Pernah di singgung, namun ibu Darti memang muka tembok. Sama sekali tidak mau tahu.
" Ratu, jaga sikap kamu. Kami bertiga ini tamu, kamu tahu kan kalau tamau itu harus di jamu dan dihargai dengan baik. Ini minum saja tidak kamu suguhkan, pelit banget sih kamu Ratu."Seru ibu Marni.
Ibu Marni pun tersenyum lebar, akhirnya Ratu menyerah juga. Dia beranggapan jika Arya nanti akan benar-benar mengikuti apa dia minta. Sudah bangga dan senang terlebih dahulu sebelum berperang kau bu, Marni.
" Kamu bilang tadi, kalau kamu pemilik butik itu? Kamu waras kan?." Tanya ibu Darti.
" Iya, memang aku pemiliknya. Kalau tidak percaya tanya saja sama anak kesayanganmu itu. Kalau masih tidak percaya, silahkan datang ke butik dan tanyakan kepada pegawai butik."Ucap Nia membungkam mulut ibu Darti.
Ketiga wanita berbeda usia itu kini saling diam. Mereka sibuk dengan fikirannya sendiri-sendiri. Niat ibu Darti mau mempermalukan dan menertawakan Ratu, justru dia sendiri yang dibuat terkejut dan malu.
Ibu Darti masih terus berfikir, apa benar jika Ratu itu pemilik butik tempat Rani bekerja. Setahu dia Ratu hanya tamatan SMP dan dari kampung, rasanya tidak mungkin bisa mempunyau usaha sekelas butik besar dan pakaian yang di jual pun mahal-mahal.
__ADS_1
*********
" Sudah mau pulang Arya?." Seru Mita menyapa Arya yang baru saja keluar dari lobby perusahaan.
Mobil Arya kali ini tidak di parkir di basemant khusus para petinggi perusahaan. Tapi di parkir di parkiran umum atau parkiran karyawan. Mita tidak malu selalu mencari cara untuk mendekati dan mencari perhatian Arya.
" Iya."Jawab Arya singkat.
" Emm.. Arya. Bagaimana kalau kita ngopi dulu di cafe seberang itu."Seru Mita sambil menunjuk cafe yang ada di seberang kantor.
" Terima kasih, di rumah istriku sudah menunggu ."Seru Arya menolak ajakan Mita.
Mita terlihat kesal, dari zaman sekolah susah sekali untuk mendekati Arya. Apalagi sekarang sudah mempunyai istri, membuat Mita semakin penasaran seperti apa istri dari Arya itu.
" Boleh aku berkenalan dengan istri kamu, Arya?."Tanya Mita lagi.
" Lain kali pasti akan aku kenalkan. Mari Mit, aku duluan ya."Seru Arya segera menuju mobilnya dan Mita hanya bisa mengangguk pasrah.
Mobil yang dikendarai Arya meninggalkan parkiran perusahaan. Sedangkan Mita masih diam terpaku menyaksikan kepergian Arya. Mita semakin kagum dengan Arya, sudah tampan, mempunyai jabatan yang bagus, dan mobilnya pun mobil mewah dan tentunya mahal.
" Seandainya aku bisa mendapatkan Arya, tentunya aku akan sangat bahagia. Hemm aku harus terus mendekati Arya, dijadikan untuk yang kedua pun aku tidak masalah. Yang penting aku menjadi istrinya Arya."Ucap Mita bermonolog pada dirinya sendiri.
Mita melirik jam yang melingkar di tangan kanannya, ternyata sudah semakin sore. Mita berjalan menghampiri mobilnya, lalu dia pun meninggalkan parkiran perusahaan.
* Besok aku akan cari tahu dimana tempat tinggal Arya. Siapa tahu aku bisa mencari celah untuk mendekati Arya.*Gumam Mita dengan tanggan fokus dengan serir mobilnya.
__ADS_1
**********