Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Pria yang aneh


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


Rani sudah memutuskan pulang ke kampung, dia sudah tidak mau lagi berurusan dengan Yanto. Dia akan melupakan semua kehidupannya yang pernah terjadi di kota. Rani akan memulai kehidupan barunya di kampung dan merawat anaknya disana.


Rani sendiri tidak akan pernah meminta Yanto untuk memberikan nafkah untuk anaknya. Sebisa mungkin dia akan memutus hubungan dengan Yanto agar masalalunya yang kelam bisa dia lupakan.


" Sayang hari ini kita pulang ke kampung ya, kita mulai hidup baru di sana. Maafkan mama ya jika sayang, kamu lahir nanti tidak ada ayah yang menemanimu."Ucap Rani sembari mengusap perut buncitnya.


Saat ini Rani ada di depan rumah yang pernah dia tempati, dia menunggu taksi online yang dia pesan. Dia tidak di izinkan Yanto untuk menunggu di teras rumah, sehingga Rani membawa kopernya di pinggir jalan depan rumah.


Sudah 15 menit Rani menunggu, akan tetapi taksi yang dia pesan tak kunjung datang. Rani sudah kepanasan, mobil tak kunjung datang juga.


" Kemana juga taksi ini tidak datang juga."Ucap Rani sambil sesekali melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.


Sepertinya Rani sudah tidak nyaman berada di pinggir jalan, apalagi mata Yanto sedari tadi mengawasinya dari rumah. Yanto dan ibu Marni saat ini sudah berada di rumah yang ditempati Rani untuk membereskan barang-barang Yanto yang masih tertinggal.


Rani pun menarik kopernya menjauh dari rumah Yanto. Dia berjalan menyusuri jalan dengan perut besar yang semakin membuat dia kesusahan saat berjalan.


Tin Tin Tin


Suara klakson mobil mengagetkan Rani. Nampak seseorang turun dari mobil dan menghampiri Rani. Rani mengira jika orang itu adalah sopir taksi yang dia pesan, namun setelah memperhatikan mobil dan plat mobilnya ternyata bukan.


" Mbak mau kemana? Panas-panas begini dan perut besar begitu? Apa mbak sedang bertengkar dengan suami mbak dan mbak di usir?."Tanya pria itu seakan dia mengenal dekat Rani.

__ADS_1


" Kamu siapa? Memangnya kita pernah kenal?."Tanya Rani balik tanpa menjawab pertanyaan pria tadi.


" Oh maaf mbak, bukan saya mau ikut campur dengan urusan mbaknya. Saya tadi itu kebetulan lewat sini dan melihat mbak berjalan dengan menarik koper sebesar ini dan perut juga besar. Jadi saya kasihan sama mbak, mbak mau kemana? Biar saya antarkan."Ucap pria tersebut menawarkan bantuan untuk Rani.


" Tidak perlu ! Terima kasih."Jawab Rani sedikit ketus, lalu Rani melanjutkan langkah kakinya menuju persimpangan untuk mencari angkutan umum.


Pria itu hanya menggelengkan kepalanya saat Rani menolak bantuannya. Padahal dia sudah berbaik hati akan tetapi justru tidak di anggap. Pria tadi memandangi tubuh Rani yang semakin jauh menghilang didepannya sana. Dia pun kembali masuk mobil dan melajukan mobilnya lagi.


" Mbak, ini sangat panas. Lebih baik mbak ikut mobil saya saja, biar saya antarkan. Mbak mau ke terminal? Bandara atau mau ke stasiun? Biar saya antarkan saja, mbak lagi hamil besar loh. Awas nanti lahiran di jalan."Ucap pria itu semakin membuat Rani kesal.


" Sudah sana jangan ganggu aku! Kenal juga tidak, maksa banget sih."Ucap Rani tetap tidak mau.


Rani tidak mau menerima kebaikan orang asing, apa lagi dari seorang pria yang memang belum dia kenal. Rani trauma dan masih menutup hatinya untuk laki-laki.


" Tenang saja mbak, aku ini bukan orang jahat kok. Aku orang baik-baik, mana ada penjahat setampan aku begini."Ucap pria tadi dengan percaya diri.


" Terlalu percaya diri sekali anda."Seru Rani lagi dengan ketus.


" Kenapa sih orang ini kok tidak pergi juga, mana angkot atau taksi tidak ada yang lewata. Jangan-jangan laki-laki ini temannya Yanto ? Dan dia akan menyakutiku? Tapi kalau dari tampangnya sih memang tampan, tapi apa tampang bisa menjamin dia orang baik?."Ucap Rani bicara pada dirinya sendiri.


" Mbak, kalau jam segini jarang ada taksi atau angkot yang lewat. Lebih baik mbak saya antar saja yuk, mbak sepertinya sudah kelelahan sekali."Ucap pria tadi kasihan melihat Rani yang terlihat kelelahan.


" Emm.. Kamu bukan mau mencelakaiku kan? Aku itu tidak mengenal kamu, tapi kok kamu sepertinya peduli denganku?."Tanya Rani akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


" Saya bukan orang jahat mbak. Kita memang tidak saling kenal, tapi aku beberapa kali melihat mbak. Rumah saya hanya berjarak 5 rumah dari rumah mbak."Ucap pria itu yang ternyata tetangga Rani.


Rani tidak hafal siapa-siapa saja yang menjadi tetangganya, karena memang dia tidak bersosialisasi dengan para tetangga. Yang dia tahu hanya pak Rt dan keluarganya saja.


" Baiklah, tolong antarkan aku ke terminal."Seru Rani akhirnya dia setuju dengan penawaran dari pria tersebut.

__ADS_1


" Memang mbak mau kemana?."Tanya pria itu lagi.


" Mau pulang ke kampung A."Jawab Rani singkat.


Pria itupun mengangguk lalu dia membantu Rani memasukkan kopernya ke mobil. Setelah Rani masuk mobil, pria itupun melajukan mobilnya. Baru 5 menit dalam perjalanan, Rani sudah tertidur pulas. Sepertinya dia sangat lelah sudah berjalan lumayan jauh dengan keadaan perut yang membesar.


* Kasihan sekali wanita ini. Hemm pasti dia di sia-siakan suaminya, mana perutnya besar lagi. Sepertinya kampung dia tidak terlalu jauh, hanya sekitar 2 jam saja perjalanan. Lebih baik aku antarkan saja langsung ke kampungnya, tidak tega kalau membiarkan dia naik bus.*Gumam sang pria dalam hati.


*****


Ratu sudah tidak ke butik dan sudah tidak di izinkan pergi jauh-jauh. Kali ini Ratu meminta bik Siti untuk membuatkan kue bolu jadul, tiba-tiba saja Ratu menginginkan makan bolu itu hanya gara-gara dia melihat iklan di televisi.


" Ini bolu jadulnya mbak, masih hangat diminum sama teh manis tambah enak."Seru bik Siti meletakkan satu piring bolu dan secangkir teh hangat di atas meja.


" Alhamdulillah, terima kasih bik Siti. Bibik memang paling the best, tahu saja yang Ratu mau. Oh iya, pak Mail sudah di antarkan bolunya belum?."Tanya Ratu tetap tidak lupa berbagi dengan para pekerjanya.


" Sudah mbak, tadi pas bapak selesai sholat langsung saya suruh bawa sekalian sama satu teko es tehnya."Jawab bik Siti.


Bik Siti memanggil pak Mail dengan sebutan bapak, karena pak Mail memang suaminya.


" Bik Siti ikut makan bolunya juga, sini duduk sampingku. Tidak enak kalau makan sendirian begini."Seru Ratu sambil menepuk sofa di sampingnya.


Bik Siti tidak menolak, dia menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengiyakan perintah dari Ratu. Ratu sendiri memang tidak pernah membeda-bedakan orang, meskipun bik Siti ART nya dia tetap memperlakukannya dengan sopan dan menghormati bik Siti sebagai orang yang lebih tua.


" Non, kok ibu nya pak Arya sudah tidak pernah datang lagi kesini? Semenjak cerai sama bapak mertua mbak, sepertinya tidak ada kabarnya?."Tanya bik Siti penasaran.


" Ada kok bik. Dia tinggalnya memang lumayan jauh dari sini, dia sudah menikah lagi. "Jawab Ratu sedikit berbohong.


Ratu sendiri memang tidak mau mengumbar aib mantan ibu mertuanya. Meskipun mantan ibu mertuanya dulu sangatlah jahat kepada dirinya.

__ADS_1


*********


__ADS_2