Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Tetap pada pendirian


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Cukup lama ibu Marni menunggu Arya pulang tapi Arya belum pulang-pulang juga. Padahal jarak rumah ke kantor tidaklah jauh, sudah jam 5 sore Arya belum pulang juga. Sebenarnya memang Ratu sengaja meminta Arya untuk mampir ke supermarket dulu untuk membeli seafood yang akan Ratu masak malam ini.


Bukan mampir supermarket, tapi judulnya laju ke supermarket karena supermarket tidak searah dengan jalan pulang. Ratu sengaja melakukan itu,agar Arya tidak bertemu dengan ibu Marni amd the gengnya. Pulang kerja pasti Arya capek, dan Ratu tidak mau semua itu memicu amarah Arya.


" Lebih baik kalian pulang saja, mas Arya malam ini sepertinya lembur. Jadi percuma kalian menunggu, besok biar mas Arya yang kerumah ibu. Ibu tidak perlu capek-capek kerumah ini. Dan untuk kamu mbak Rani, jika kamu masih mau bekerja di butikku, kamu harus merubah sikap kamu dan meminta maaf kepada Ibu Lisa dan para pegawai butik."Seru Ratu memberikan syarat.


" Tidak sudi aku bekerja di butik kamu."Seru Rani dengan ketus.


" Jadi butik itu benar milik kamu? Kamu berarti orang kaya dong? Wahh... Pintar juga ya kamu mengelola keuangan sampai sudah punya butik sebesar itu."Seru ibu Darti mulai kagum dengan Ratu.


" Jelas pintar dong. Dari zaman masih sekolah aku memang sudah pintar mengelola keuangan. Sampai aku punya butik sebesar itu. Tidak seperti mbak Rani, baru juga di percaya untuk menabungkan uang suaminya sudah habia begitu saja."Jawab Raru sedikit membanggakan dirinya sendiri.


* Jadi Ratu ini menantu kaya raya dong. Tapi kenapa dibilang menantu miskin? Hemmm mungkin bis kali ya kalau aku pinjam uang sama dia, 30 juta saja. Hemm aku pengen beli perhiasan agar bisa dipamerkan sama ibu-ibu di kampung. Tapi tidak sekarang, mungkin dalam waktu dekat ini aku akan meminjam uang Ratu.*Gumam ibu Darti dalam hatinya.


Yang di tunggu - tunggu tidak datang juga, akhirnya Rani capek dan dia pun mengajak pulang ibu mertua dan ibu kandungnya.


" Awas kamu, Ratu. Pulang yuk bu. Rani sudah capek, gerah pokoknya pulang dari sini Rani mau berendam agar tubuh Rani segar dan rilexs." Ucap Rani lalu dia bangkit dan keluar lebih dulu.


" Kalau Arya datang, ingat sampaikan permintaan saya tadi. Setidaknya setengah gajinya untuk ibu."Seru ibu Marni lalu dia juga bangkit dari duduknya.


" Ciihhh... Mentang-mentang kaya mau seenaknya saja sama mertua."Ucap ibu Darti lalu dia juga ikut keluar dari rumah.


Hhhuuufffff


Ratu mengusap d4d4nya mendengar ocehan dari dua ibu yang tidak tahu malu itu. Mereka sudah pulang semua, Ratu pun bisa bernafas dengan lega. Setelah 10 menit baru Arya pulang dan membawa apa yang diminta oleh Ratu.

__ADS_1


" Assalamualaikum, dek."Sapa Arya sembari melangkah masuk rumah.


" Waalaikumsalam Mas. Dapat yang Ratu minta tadi?."Tanya Ratu sembari menyambut sang suami.


" Ada dong, nih. Mas mau langsung mandi saja ya. Setelah mas mandi nanti mas bantuin kamu masak."Ucap Arya sambil menyerahkan kantong belanjaan.


" Iya mas. Pakaiannya sudah Ratu siapkan kok."Jawab Ratu.


Arya mengangguk, dia menaiki anak tangga menuju kamar. Sejauh ini urusan rumah masih di handel oleh Ratu sendiri. Dia belum mau memakai jasa asisten rumah tangga. Awalnya sudah mau memakai ART, tetapi tidak jadi karena Ratu masih mau mengerjakannya sendiri. Masalah bersih-bersih dalam rumah Ratu masih sanggup, untuk bagian luar ada tukang kebun yang membersihkannya.


Setelah 10 menit, Arya sudah ikut bergabung di dapur membantu Ratu menyiapkan makan malam.


" Mas, tadi ibu datang lagi."Ucap Ratu sambil menyiapkan bumbu.


" Mau ngapain lagi ibu, dek? Datang sama siapa dia?."Tanya Arya.


" Dia datang sama mbak Rani dan ibunya. biasalah mas, ibu mau meminta uang gajimu setengahnya mas. Mas, kalau memang mas mau memberikan uang gaji mu setengahnya aku tidak apa-apa mas. Aku ridho, insya Allah aku ikhlas. Uang itu juga untuk kebutuhan rumah, ada bapak juga dirumah itu."Ucap Ratu dengan tulus.


* Alhamdulillah, mas Arya tetap pada pendiriannya. Kalau pun dia mau memberikan untuk ibu setengah gajinya aku ikhlas.*Gumam Ratu dalam hatinya.


Mereka kembali melanjutkan aktifitas memasaknya. Sebelum adzan magrib berkumandang, masakan sudah selesai. Malam ini Ratu hanya memasak Seafood saus padang saja.


*********


Hooeekkk Hooeeek Hoeeek


Saat sedang makan malam, Serli tiba-tiba mual dan dia berlari ke wastafel yang ada di dapur untuk memuntahkan semua isi perutnya.


* Kalau aku terus seperti ini, lama-lama orang rumah bisa curiga dan mereka akan tahu jika aku hamil. Tidak, mereka tidak boleh tahu jika aku sedang hamil. Mungkin aku akan pilih kost saja, agar kehamilanku tidak di ketahui oleh keluargaku.*Gumam Serli bermonolog pada dirinya sendiri.


Melihat anak gadisnya yang sering muntah-muntah, membuat ibu Marni khawatir dan cemas. Dia pun menghampiri Serli ke dapur dan langsung mencecar Serli dengan banyak pertanyaan.


" Kamu kenapa sakit? Ibu perhatikan kamu itu sering banget muntah-muntah. Kamu sebenarnya kenapa? Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan dari ibu?." Tanya ibu Marni secara beruntun.

__ADS_1


" Serli tidak apa-apa bu. Serli memang akhir-akhir ini sering telat makan, karena pekerjaan di klinik banyak banget. Emm ibu tidak usah khawatir, setelah ini Serli minum obat."Ucap Serli tetap berbohong.


" Awas kalau sampai kamu bohong sama ibu. Kamu itu calon bidan, calon dokter sampai kamu macam-macam ibu akan menghajarmu. Kamu itu kelak harus menikah dengan pria kaya raya, agar hidup bisa terjamin dan bisa ibu banggakan. Jangan salah pergaulan kamu, Serli."Ucap ibu Marni lalu dia meninggalkan Serli dan kembali ke meja makan.


Ibu Marni berharap Serli menjadi bidan yang di segani, dan mempunyai suami pengusaha kaya raya agar bisa menjamin hidupnya juga. Sebenarnya ibu Marni selama ini tidak perduli dengan pergaulan Serli, tapi tidak tahu akhir-akhir ini dia merasa ada yang aneh dengan Serli.


" Kenapa Serli, Bu?."Tanya ibu Darti sambil mengunyah makanannya.


" Biasa ibu Darti, Serli itukan sudah bekerja di klinik. Sampai dia lupa makan, makanya perutnya perih dan mual begitu. Sudah bu, lanjutkan makan saja."Jawab Ibu Marni.


" Bu, kalau memang Serli sakit bawa saja ke dokter."Ucap pak Santo.


" Bapak ini bagaimana sih? Serli itu calon dokter, dia pasti sudah tahu dirinya kenapa dan obat apa yang harus dia minum. Lagi pula dia bekerja di klinik, jadi dia juga sudah pasti paham dan tidak perlu dibawa ke dokter."Seru ibu Marni.


Hhhufff


Pak Santo hanya menghela nafas dengan pelan. Dia pun meninggalkan meja makan, karena memang sudah selesai makan. Pak Santo makan malam memang tidak banyak, setiap siang Ratu masih selalu mengirim makan siang yang porsinya juga banyak, bahkan masih sisa jugq. Terkadang saat sebelum pulang, pak Santo memakan makanan yang masih ada itu.


Selesai makan malam, Bima duduk di teras dan diikuti oleh Rani. Ibu Marni dan ibu Darti sedang menonton televisi.


" Ibu kapan pulang? Ini sudah malam ke 3 ibu mu ada di rumah. Mas malu Ran sama bapak, karena rumah ini rumah bapak."Seru Bima bicara tanpa melihat kearah Rani.


" Ibu mau disini lama mas. Mungkin 1 bulan atau 2 bulan, lagi pula ibu tidak punya kegiatan di rumah. Terserah ibu dong mas mau disini atau tidak, lagipula ini juga rumah kamu mas."Jawab Rani membuat Bima semakin kesal.


" Ini rumah Arya, bukan rumah ku Rani. Ibumu itu bikin pusing saja, apa dia tidak kasihan sama bapak kamu. Disana dia tidak ada yang mengurus "Ucap Bima.


" Sudahlah mas. Oh iya, ibu minta uang bulanan seperti biasa, mana uangnya."Ucap Rani dengan santainya.


Bima mengepalkan tangannya sambil menatap tajam Rani. Ingin sekali dia menampar mulut Rani yang tidak menghargainya sebagai seorang suami. Uang apalagi yang dia minta? Bahkan uang tabungan saja sudah habis untuk kedua orang tuanya Rani.


Bima tidak mau lagi di bodoh-bodohi oleh Rani. Dia tidak mau memberikan uang yang diminta Rani, cukup uang tabungannya saja yang selama 3 tahun yang dinikmati mertuanya.


***********

__ADS_1


__ADS_2