Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Ayam goreng untuk ibu


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


Sesampainya di rumah, Serli langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia berdiri di dekat jendela kamar dan memamdang ke arah luar. Melihat istrinya yang termenung, Yusuf pun menghampirinya.


" Dek, ada apa?."Tanya Yusuf dengan lembut sembari memegang kedua bahu Serli.


Serli langsung memalingkan wajahnya ke arah Yusuf dan memandanginya dengan lekat. Serli tadi sudah berjanji pada Yusuf jika dia akan menceritakan saat sudah sampai rumah dan sekarang adalah saat yang tepat.


" Mas, aku tadi bertemu dengan Om Harsa."Seru Serli bicara dengan jujur.


" Harsa? Mantan suami kamu ? Bertemu di mana?."Tanya Yusuf.


Serli tidak menjawab, namun hanya memberikan jawaban lewat anggukan kepalanya saja. Serli takut jika Yusuf akan marah jika dia membicarakan soal Harsa.


" Mas Yusuf tidak marah kan?."Tanya Serli takut-takut.


" Untuk apa mas marah dek? Mas sama sekali tidak marah, itu semua kan masalalu dan sekarang masa depan mu ada sama mas. Masalalu biarlah berlalu, mas justru senang kamu sudah mau bicara jujur sama mas."Ucap Yusuf lalu membawa Serli dalam pelukannya.


Serli membalas pelukan Yusuf dengan erat, seakan tidak mau kehilangan Yusuf. Yusuf laki-laki pertama setelah ayahnya yang memberikan kasih sayang nya dengan tulus dan menerima segala kekurangannya. Serli tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidupnya jika Yusuf tidak menjadikannya istri. Mungkin bisa saja, Serli tidak akan pernah menikah lagi karena belum tentu ada yang mau menerima masalalunya.


" Sekarang istirahatlah, mas mau ke toko ya. Kasihan bapak kalau kelamaan di toko."Ucap Yusuf sambil melepaskan pelukannya.


" Oh iya, bapak sekarang lagi bantuin di toko ya mas. Ya sudah mas langsung ke toko saja dan suruh bapak untuk pulang, jangan lupa beli makan siang dulu mas, aku kan tadi belum masak. Mas juga belum makan kan?."Seru Serli seakan sudah melupakan pertemuannya dengan Harsa tadi.


" Iya dek, ya sudah mas berangkat ke toko dulu ya."Ucap Yusuf berpamitan, lalu mencium kening Serli dengan lembut.


" Assalamualaikum."

__ADS_1


" Waalaikumsallam."


Yusuf keluar kamar dan dia pun mengendarai motornya menuju toko meubel yang tidak terlalu jauh dari rumah. Sementara di rumah, Serli mengistirahatkan tubuhnya. Meskipun dia kembali teringat pertemuannya dengan Harsa tadi, Serli mencoba untuk menghilangkan ingatan tentang Harsa.


* Serli, jangan ingat-ingat lagi soal Harsa. Meskipun dulu kamu pernah menikah dengannya, tapi sekarang masa depanmu ada sama Yusuf. Sekarang Yusuf suamimu dan dia adalah pria yang sangat baik, mau menerima segala kekurangan kamu dan masalalu kamu.*Ucap Serli mengsugesti dirinya sendiri.


Di tempat lain, Bima dan Arya saat ini sedang berada di rumah sakit jiwa untuk melihat keadaan ibu Marni. Saat Bima dan Arya datang, ibu Marni seolah tidak mengenali mereka. Dia hanya bisa diam dan memandangi Arya dan Bima secara bergantian.


" Bu, ini Bima sama Arya bu. Apa ibu tidak mengingat kami?."Tanya Bima dengan lembut agar ibu Marni tidak mengamuk.


Menurut info dari petugas rumah sakit jiwa, ibu Marni sering marah dan mengamuk. Bahkan dia juga sering memukul dan menendang temannya tanpa sebab yang jelas. Sehingga petugas rumah sakit meminta mereka agar bisa menjaga suasana hati ibu Marni, agar tidak mengamuk.


" Iya bu, ini Arya. Apa ibu bisa mengingat kami?."Tanya Arya ikut bicara.


Ibu Marni tiba-tiba meneteskan air matanya dan hal itu membuat Bima dengan cepat langsung memeluk sang ibu dengan erat.


Brrruukk


Tiba-tiba ibu Marni mendorong Bima sampai Bima jatuh tersungkur. Melihat Bima yang terjatuh justru membuat ibu Marni tertawa terbahak-bahak. Padahal barusan dia terlihat sedih dengan mata yang berkaca-kaca.


Ibu Marni tertawa sambil lompat-lompat dan bertepuk tangan.


" Hore.. Hore.. Aku menang. Akhirnya aku bisa mengalahkan raja yang jahat. Horeeee."Seru ibu Marni bersorak gembira.


Hhhuuuffff


Bima dan Arya secara bersamaan membuang nafas dengan kasar. Mereka berdua tidak bisa berbuat banyak, membiarkan ibu Marni tertawa senang seperti itu lebih baik daripada dia mengamuk tidak jelas.


" Mas, jangan paksa ibu untuk bisa mengingat kita. Sepertinya kita harus exstra sabar dan memberikan perawatan dan pengobatan yang baik untuk ibu. Biarkan saja ibu tertawa, saat ini suasana hatinya pasti sedang bagus. Kita ajak bicara ibu secara perlahan-lahan, disamping usaha dari team dokter kita juga berusaha untuk membantu menyembuhkan ibu."Ucap Arya meminta Bima untuk tidak memaksa ibu Marni agar mengingat mereka.


" Aku sedih melihat ibu seperti ini Bim. Jika boleh memilih, aku malah lebih memilih ibu di penjara dalam keadaan dia sehat fikirannya daripada dia seperti ini. Hati anak mana yang tidak sedih melihat ibunya di rumah sakit jiwa begini."Seru Bima dengan wajah nya yang terlihat sedih.


" Sabar mas, aku sendiri juga sedih melihat keadaan ibu. Tapi mau bagaimana lagi? Kita hanya bisa membantu sebisanya saja, aku yakin ibu pasti akan segera sembuh."Ucap Arya sambil menepuk punggung Bima dengan pelan.

__ADS_1


" Lapar."Seru Ibu Marni dengan tiba-tiba.


Arya dan Bima bergegas membuka makanan yang tadi mereka bawakan. Ada banyak makanan yang mereka bawa, dan semua itu makanan kesukaan ibu Marni.


" Mau ayam goreng bu?."Tanya Bima lembut.


" Horeee ayam goreng."Seru ibu Marni berteriak dengan senang.


Tanpa menunggu lama, Ibu Marni langsung menyambar 1 kotak ayam goreng yang tadi ditawarkan Bima. Dia menikmati ayam goreng itu tanpa nasi, terlihat sekali cara makan ibu Marni yang tidak rapi. Dia makan dengan cepat dan berantakan di mana-mana.


" Pelan-pelan ya bu, ini masih banyak kok. Tidak akan ada yang memintanya, semua itu sengaja dibawa hanya untuk ibu. Ayam goreng itu semua untuk ibu dan hanya milik ibu. Mas Bima dan Arya tidak akan memintanya."Seru Arya dengan lembut saat bicara dengan ibu Marni.


Ibu Marni hanya memandang kedua anaknya itu sekilas saja, lalu dia kembali menikmati ayam gorengnya. Satu kotak ayam goreng sudah habis, kini ibu Marni mengambil makanan yang lainnya yang memang ada di hadapannya. Arya dan Bima hanya bisa membiarkannya saja, jika ibu Marni sudah kenyang pasti dia akan berhenti sendiri.


" Maaf pak, ini sudah waktunya ibu Marni minum obat dan harus istirahat."Ucap perawat datang menghampiri Bima dan Arya.


Secara tidak langsung perawat itu mengusir Arya dan Bima dengan cara halus. Sudah 1 jam lebih Bima dan Arya menjenguk ibu Marni, dan sepertinya memang ibunya juga butuh istirahat. Arya dan Bima tidak menghalanginya.


" Iya sus, terima kasih sudah mau dengan sabar merawat ibu kami. Kalau ada apa-apa dengan ibu kami, tolong segera hubungi kami ya sus."Ucap Arya.


" Sudah menjadi kewajiban kami untuk selalu sabar dalam mengurus pasien. Baiklah pak, kami pasti akan merawat ibu anda dengan baik dan akan selalu menginfokan perkembangan apa saja dari ibu Marni. Kalau begitu permisi, saya bawa ibu Marni ke dalam kamarnya lagi."Seru perawat itu dengan ramah dan sopan.


" Silahkan."Jawab Arya dan Bima bersamaan.


" Ibu, yuk ke kamar. Waktunya minum obat dan istirahat, nanti sore kita main di taman ini lagi. Makanannya kita bawa di kamar yuk."Seru perawat itu dengan sangat sabar mengajak ibu Marni masuk ke kamarnya.


Ibu Marni tidak menolak, dia mengikuti ucapan sang perawat tadi. Tidak lupa dia mengambil makanan yang ada di atas meja dan membawanya ke kamarnya. Perawat itupun membantu membawakan makanan milik ibu Marni.


Melihat ibunya yang sudah menjauh masuk ke kamarnya, Bima dan Arya pun meninggalkan rumah sakit. Mereka kembali lagi ke perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka di kantor. Banyak hal yang harus mereka fikirkan, keluarga, pekerjaan, dan sang ibu.


Apakah semua yang terjadi dengan ibu Marni adalah sebuah hukuman atau karma untuk ibu Marni? Apa kah ibu Marni akan segera kembali normal lagi dan menjalani masa hukumannya di dalam sel tahanan??


********

__ADS_1


***********


__ADS_2