Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Menantu sultan


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Keluarga Satria sudah pulang ke rumahnya dengan perasaan yang tidak bisa di utarakan dengan kata-kata. Sudah pasti saat ini ibu Marni sangat kesal dan marah karena berhasil di usir oleh Arya.


" Kalian darimana?." Tanya Bima saat mendapati istrinya baru pulang.


Hari memang sudah menunjukan pukul 7 malam, dirumah juga tidak ada makanan apa-apa sedangkan makan malam pun sudah tiba. Serli tidak mau menjawab pertanyaan Bima, dia pun langsung masuk kamar dan mengunci kamarnya.


" Kami dari rumah Arya, tapi disana malah kami tadi di perlakukan tidak baik. Mana orang tua Ratu juga datang, itu orang tua Ratu songong dan sok kaya. Orang kampung saja belagunya kebangetan. Arya sampai mengusir kami dan memilih mertuanya untuk tetap disana."Ucap Rani dengan kesal sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi ruang televisi.


" Apa? Ada orang tuanya Ratu? Kamu yakin orang tua Ratu hanya orang kampung dan miskin?." Tanya Bima dengan kaget.


" Kamu kenapa, Bim? Kok kayak orang kaget begitu? Di rumah Arya memang ada orang tuanya si menantu miskin itu, mereka bilang kalau mereka itu orang kaya dan punya perusahaan tapi ibu yakin itu cuma hayalan mereka saja."Ucap ibu Marni tetap tidak percaya jika orang tua Ratu adalah orang kaya.


Plaaakkk


Bima menepuk keningnya sendiri, dia menyesali perbuatan bodoh ibu dan istrinya. Jika sampai orang tua Ratu marah, dan Arya juga marah sudah pasti Bima akan kehilangan pekerjaan. Sebab, Rani sudah cari masalah dengan orang tua Ratu.


Tadi seiang setelah Arya memberitahu siapa pemilik perusahaab, Bima juga mencari tahu kebenarannya. Dia mencari tahu wajah pemilik perusahaan tempatnya bekerja dari karyawan kantor. Sebab di sosial media hanya ada nama tapi tidak ada foto, dan betapa kagetnya Bima saat tahu wajah asli pemilik perusahaan yang ternyata memang papa dari Ratu.


" Bodoh !! Ibu sama Rani itu memang bodoh !! Asal ibu tahu, Papa Ratu itu Pemilik perusahaan tempat ku bekerja. Dia itu memang orang kaya bu, Satria Perkasa Wardoyo pemilik perusahaan STR Group." Seru Bima membuat Rani dan ibu Marni seketika jantungnya nya berdetak lebih kuat.

__ADS_1


" Apa ? Jadi semua yang dikatakan orang tua Ratu itu benar? Mereka orang kaya raya, berarti menantuku sultan?." Tanya ibu Marni dengan mata melotot sempurna.


" Ratu benar-benar orang kaya?." Seru Rani juga tidak kalah kagetnya.


" Iya, aku baru tahu tadi siang dari Arya. Dan setelah aku cari tahu memang benar, papanya Ratu pemilik STR Group tempat aku dan Arya bekerja. Kalian tadi pasti sudah buat masalah kan? Makanya ibu ini jangan terlalu sombong dan memandang rendah Ratu, kalau sudah seperti ini juga kita yang repot. Bima takut kalau nanti Bima di pecat."Seru Bima dengan kesal.


* Mas Bima tidak boleh dipecat, kalau dia di pecat terus kebutuhan orang tua ku bagaimana? Mereka sekarang kan mengandalkan uang gajinya mas Bima, dan jangan sampai mas Bima tahu hal itu.*Gumam Rani mulai gusar.


Rani semakin merasa terkalahkan oleh Ratu, dia khawatir jika ibu Marni akan beralih menyayangi Ratu. Dia tidak mau hal itu terjadi, jadi dia akan tetap mera4cuni fikiran ibu mertuanya agar membenci Ratu.


" Jadi Ratu benar-benar menantu sultan. Bagaimana ini Bim, ibu tadi sudah marah-marah dan ribut dengan orang tuanya Ratu. Ternyata Ratu kaya raya, kalau ibu tahu dari dulu pasti saat ini ibu sudah bisa menikmati kekayaan Ratu."Seru ibu Marni dengan percaya dirinya.


" Bu, sepertinya kita harus merencanakan sesuatu untuk bisa ikut menikmati harta yang dimiliki Ratu. Sebenarnya apa yang dimiliki Ratu itu juga milik Arya loh bu, jadi ibu ya tetap bisa meminta hak ibu. Kalau Ratu tidak mau memberikannya itu namanya dzolim dan serakah. Ingat bu, harta istri itu juga harta suami."Seru Rani mulai melancarkan aksinya mempengaruhi ibu mertuanya.


Bima mengerutkan keningnya, apa yang di ucapkan istrinya itu tidaklah benar. Mana ada harta istri juga harta suami, yang ada justru sebaliknya. Rani semakin lama, semakin membuat Bima tidak nyaman dengan kelakuannya.


" Rani, mana ada seperti itu? Kamu itu jangan ngawor kalau bicara. Memangnya kamu mau kalau harta kamu itu juga aku anggap hartaku? Tidak kan?." Tanya Bima membuat Rani terpojok dengan pertanyaan Bima.


" Kalau cara berfikir ibu seperti itu, berarti semua karyawan yang bekerja di perusahaan itu juga berhak dong atas harta yang dimiliki Ratu?." Tanya Bima membuat ibu Marni dan Rani mendengus kesal.


Bicara dengan ibu dan istrinya membuat Bima kesal dan rasa laparnya pun tidak bisa di tunda-tunda lagi. Malam ini untuk pertama kalinya Bima keluar dan makan di luar tanpa Rani.


" Mau kemana mas?." Tanya Rani sedikit berteriak saat Bima mengeluarkan motornya.


" Mau cari makan."Jawab Bima tanpa menawari atau mengajak Rani.


Bima langsung melajukan motornya dan tidak menghiraukan Rani yang berteriak-teriak mau ikut. Kali ini dia ingin sendiri, dan juga ingin bersikap tegas kepada istrinya itu agar tidak di kendalikan Rani terus menerus.

__ADS_1


********


Hari berganti pagi, setelah selesai mandi dan sudah siap untuk berangkat ke kantor, Bima mengajak Rani untuk bicara serius terlebih dahulu.


" Tabungan kita sudah ada berapa, Ran?." Tanya Bima dengan serius.


Deggghhh


Rani kaget saat Bima menanyakan soal tabungan. Selama 3 tahun ini Bima sama sekali tidak pernah menanyakan soal tabungan. Tentu saja hal ini membuat Rani kaget dan bingung, sebab uang itu tidak terkumpul. Hanya ada beberapa belas juta saja di rekeningnya.


" Emm aku belum mengeceknya mas, memang ada apa mas? Tumben kamu menanyakan soal tabungan?."Tanya Rani dengan gugup.


" Begini Ran, sepertinya kita harus segera pindah dari rumah ini. Aku ingin kita mandiri dan menyelesaikan segala urusan rumah tangga kita sendiri. Lagipula ini juga bukan rumah ku, aku malu dengan bapak terus menerus tinggal disini. Lagi pula uang tabungan ku sepertinya sudah cukup untuk membeli rumah, tidak perlu mewah yang penting kita punya rumah sendiri."Seru Bima membuat Rani terkejut dan hanya bisa menelan salivanya sendiri.


Uang tabungan yang dimaksud Bima tidaklah sebanyak yang dia fikirkan. Rani terlihat gugup dan bingung harus memberikan alasan apa.


"Tapi mas, uang kita mungkin hanya cukup untuk beli rumah kecil."Jawab Rani beralasan.


" Tidak apa-apa, selama 3 tahun ini 4 juta gajiku selalu aku serahkan padamu untuk kamu tabung. Selama ini juga makan minum kita tidak keluar uang, uang gajimu kamu pakai untuk kebutuhan kamu sendiri. Masa iya 3 tahun menabung tidak cukup, Ran? Selama 3 tahun itu sudah lumayan, 36 × 4 sudah 144 juta cukup untuk beli rumah sederhana."Ucapan Bima semakin membuat Rani kebingungan.


Bima melihat gelagat aneh dari sang istri, Rani nampak gugup dan wajahnya pun pucat seperti orang yang ketakutan. Bima masih belum menyadari jika dari gelagat istrinya itu sudah pasti karena panik, panik karena uang di tabungannya tidak ada.


" Mana ATM tabungannya, sini aku bawa. Hari ini juga aku mau lihat-lihat rumah yang cocok dengan jumlah dana kita."Ucap Bima lagi.


" Mas, emm..nanti biar aku saja yang lihat-lihat rumahnya. Mas kan kerja dan aku cuma dirumah saja. Jadi biar aku saja, jadi mas fokus kerja saja."Ucap Rani beralasan.


" Oh baiklah, kamu cari yang sesuai dengan dana tabungan kita saja. Biar kecil tidak masalah, yang penting rumah kita sendiri. Sekiranya dana kurang 10 sampai 20 juta insya Allah mas nanti yang nambahin."Seru Bima.

__ADS_1


Rani hanya mengangguk pasrah saja, dia tidak mau banyak bertanya dapat uang darimana suaminya bisa menambahi sampai 20 juta. Rani cari aman dulu, membiarkan suaminya berangkat kerja dan akan memikirkan solusinya nanti.


************


__ADS_2