Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Mengantar Serli pulang


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


Setelah dua minggu Serli dirawat di rumah sakit, siang hari ini Serli sudah di izinkan pulang. Serli pulang dengan dijemput oleh Ratu dan Karina. Kedua wanita itu saat ini yang terus memberi dukungan Serli, sehingga Serli punya semangat lagi untuk menjalani hari-harinya.


Perban di wajah dan tangan Serli sudah di buka, meskipun wajahnya tidak semulus dulu dan secantik dulu lagi, Serli tetap bersyukur masih diberikan kesehatan. Tangan kirinya pun sudah tidak sempurna lagi, luka yang diakibatkan 4ir ker4s itu membuat bentuk tangannya berbeda dengan tangan kanannya.


" Jangan berkecil hati, diluaran sana ada orang yang tidak seberuntung kamu. Kamu tetap cantik kok, tangan kamu juga masih bisa untuk aktifitas meskipun terbatas. Nanti kalau kamu mau kamu bisa operasi ke luar negeri biar wajah kamu kembali lagi."Seru Ratu dengan lembut.


" Aku tidak mau operasi plastik mbak, tentunya biaya yang dibutuhkan tidak sedikit. Lagipula aku sudah merasa nyaman dengan wajahku yang sekarang, cantik tidak harus wajahnya kan mbak? Cantik itu juga ada dalam hati kita."Seru Serli sambil tersenyum tulus.


" Hemmm... Adik mbak sudah bener-bener berubah."Ucap Ratu mengusap lembut rambut Serli.


Karina yang menyetir mobil hanya ikut tersenyum saja. Dia lebih fokus dengan jalanan, sebab saat ini dia membawa orang yang baru keluar dari rumah sakit dan membawa ibu hamil juga jadi harus ekstra hati-hati.


Mobil yang dikendarai Karina membelah jalanan yang cukup lenggang. Bima dan Arya tidak ikut menjemput Serli karena mereka sedang di sibukkan dengan pekerjaannya di kantor.


" Rumahnya masih jauh?."Tanya Karina yang memang belum tahu rumah calon mertuanya.


" Tidak mbak, itu pertigaan kedua nanti belok kiri."Jawab Serli.


Hemmm...


Karina menganggukkan kepalanya sambil berdehem. Setelah cukup lama di perjalanan akhirnya mobil yang dikendarai Karina berbelok kerumah yang sudah ditunjuk oleh Serli. Rumah dalam keadaan sepi, akan tetapi pintu rumah terbuka. Karina turun lebih dulu, dan membantu Serli turun dari mobil sedangkan Ratu membawakan tas yang berisi barang-barang Serli.

__ADS_1


" Ibu kemana ya kok sepi? Tapi pintu terbuka?."Tanya Serli dan tidak mendapat jawaban dari Ratu maupun Karina karena memang mereka tidak tahu.


Karina sendiri juga belum pernah bertemu dengan calon ibu mertuanya itu. Sebenarnya saat ini j4ntungnya tidak aman, mengingat cerita dari Bima dan Serli jika calon ibu mertuanya itu orang yang cerewet, judes dan suka nyinyirin orang. Membuat Karina jadi takut untuk bertemu dengan calon ibu mertuanya.


Sementara itu, saat mendengar ada mobil dihalaman rumahnya, ibu Harti yang sedang bersantai sambil memainkan ponselnya bergegas mengintip dari jendela. Dia menyunggingkan senyumnya saat tahu yang datang Serli dan Ratu, serta wanita yanb belum dia kenal.


" Oh kamu hari ini sudah boleh pulang? Hemm bagus dong jadi orang-orang di rumah ini tidak sibuk di rumah sakit terus."Seru ibu Marni menyambut kepulangan Serli.


Baru juga pulang bahkan saat ini Serli masih di teras rumah, belum masuk kerumah. Mulut ibunya sudah menyambutnya dengan pedas seperti itu. Bukannya pelukan hangat yang dia dapatkan, justru sebuah ucapan pedas dan menyakitkan yang dia dapatkan.


" Maaf bu, lebih baik Serli kita bawa masuk dulu. Soalnya wajahnya masih belum bisa terkena sinar matahari terlalu lama."Ucap Ratu mencoba mengajak masuk ke rumah.


" Oh ya silahkan saja, bukannya di rumah ini tetap kamu yang berkuasa karena rumah ini atas nama suami kamu. Hemm... Aku disinikan cuma numpang."Ucap ibu Marni membuat Ratu jadi tidak enak hati, terlebih kepada Karina yang baru pertama kali datang.


Ratu tidak menjawab apapun, dia segera membawa Serli masuk rumah begitupun dengan Karina yang tangannya tetap setia memapah tangan Serli. Serli langsung meminta diantar kekamarnya saja, kepala dia sedikit pusing sehingga dia ingin rebahan di kamar.


" Tidak mbak. Terima kasih ya mbak kalian berdua sudah mengantar aku pulang. Maaf jika selama di rumah sakit aku sudah merepotkan kalian."Seru Serli merasa tidak enak dengan Ratu dan Karina, apalagi status Karina belum resmi menjadi iparnya.


" Siapa dia?."Tanya ibu Marni menunjuk langsung ke arah Karina.


Tidak tahu siapa yang dia ajak bicara, yang penting dia menunjuk tangannya ke arah Karina duduk. Karina dan Ratu sama-sama duduk di pinggiran ranjang Serli.


" Oh ini mbak Karina bu, calon istrinya mas Bima."Jawab Ratu.


Mata ibu Marni langsung membulat sempurna, ternyata wanita yang saat ini ada di hadapannya adalah calon istri Bima yang berarti juga akan menjadi menantunya. Ibu Marni memandangi penampilan Karina dari atas sampai bawah, cantik dan elegant. Akan tetapi tidak tahu kenapa dia merasa tidak cocok dengan Karina.


" Kamu calon istrinya Bima?."Tanya ibu Marni dengan gaya angkuh sambil bersedekap tangan.


" Emm.. Iya bu, nama saya Karina. Senang bisa bertemu dengan ibu."Jawab Karina sambil mengulurkan tangannya namun ibu Harti mengacuhkannya.

__ADS_1


Ibu Harti menarik sudut bibirnya dengan sinis, dia sama sekali tidak menyukai Karina. Dia berkeyakinan jika Karina tidak jauh beda dengan Ratu, tidak akan pernah mau mendengar ucapannya dan tidak mau patuh dengannya.


" Bu, tolong jangan buat masalah. Aku baru pulang dari rumah sakit dan aku butuh istirahat, mbak Karina dan mbak Ratu ada disini karena merekalah yang peduli denganku. Aku punya ibu tapi srperti tidak punya ibu, karena ibuku tidak peduli."Seru Serli membuat ibu Marni marah.


" Sudah berani kamu membantah dan tidak patuh sama ibumu Serli. Ohh.. Mungkin kedua wanita ini yang sudah mencuci fikiran kamu. Apa yang sudah kalian lakukan dengan anakku?."Seru ibu Marni membentak Ratu dan Karina secara bersamaan.


Ibu Marni memandang wajah Ratu dan Karina secara bergantian. Bibirnya komat kamit dengan nafas yang memburu menahan gejolak amarahnya.


" Bu, jangan pernah membentakku dan cari masalah denganku. Apa ibu lupa dengan surat perjanjian itu? Hemmm... ?." Tanya Ratu dengan serius.


Ratu punya cara untuk membuat ibu mertuanya itu langsung terdiam. Dengan membahas masalah surat perjanjian, sudah membuat ibu Marni mendengus kesal dan memandang kecut Ratu.


* Si4l !! Kenapa aku bisa melupakan isi perjanjian itu, hemm.. Baiklah, lebih baik sekarang aku menghindar saja. Daripada aku di penjara, aku tidak mau masuk pencara lagi.*Gumam ibu Marni dalam hatinya.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ibu Marni keluar dari kamar Serli. Dia duduk di ruang tengah sambil menajamkan pendengarannya, ingin tahu apa yang dibicarakan ke tiga wanita yang ada didalam sana.


" Maaf ya mbak, watak ibu memang seperti itu."Ucap Serli merasa tidak enak dengan Karina.


" Iya tidak apa-apa, nanti lama-lama kan akan terbiasa. Mas Bima juga sudah memberitahu bagaimana ibu, jadi aku sudah tidak kaget lagi. Ibu memang unik ya, heheeeee."Jawab Karina sambil cengengesan.


" Ya begitulah ibu mbak, dulu selama 6 bulan aku serumah dengan ibu jadi sudah kebal dengan cacian dari mulut pedas ibu. Ya, meskipun terkadang sakit hati juga sih dengan cacian yang ibu lontarkan. Oh iya, Mbak Karina mau langsung pulang apa ke Cafe? Nanti biar saya antar, jangan naik taksi."Tanya Ratu mengganti topik pembicaraan mereka.


" Ke Cafe saja, tapi benar nih tidak merepotkan kalau nganter ke cafe?."Tanya Karina menyakinkan.


" Beneran dong, tadi mbak kan sudah nyupirin kami ber dua jadi sebagai gantinya aku antar mbak pulang atau ke cafe."Jawab Ratu yakin.


Ketiga wanita itu cukup lama berbincang didalam kamar. Canda tawa menghiasi obrolan mereka, sampai Serli sendiri lupa jika tadi dia sakit kepala dan ingin beristirahat.


**************

__ADS_1


__ADS_2