
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Rombongan Ratu dan yang lainnya saat ini dalam perjalanan menuju kampung halaman mama Dinda. Serli ada satu mobil dengan Bima dan Karina, mereka akhirnya berangkat setelah lepas sholat magrib. Sepanjang perjalanan, Serli hanya diam saja membuat Karina dan Bima merasa heran.
Serli yang biasanya banyak bicara dan dia sebelumnya juga sangat bersemangat untuk ikut ke kampung. Namun tiba-tiba saat berangkat dia menjadi lebih pendiam, Serli masih saja memikirkan ucapan dan hinaan dari ibu Marni tadi siang.
" Kamu kenapa diam saja, Serli?."Tanya Karin sambil melihat ke arah Serli duduk.
Serli duduk di kursi belakang sendirian sembari menyandarkan tubuhnya. Raut wajahnya kelihatan sekali jika dia sangat murung dan bersedih. Sehingga membuat Bima juga ikut menanyakan keadaannya.
" Ada apa Serli? Kamu sakit?."Tanya Bima ikut bertanya juga.
" Tidak ada apa-apa kak. Hanya sedikit lelah dan mengantuk saja."Jawab Serli sengaja berbohong agar Bima dan Karina tidak ikut bersedih atas apa yang saat ini dia rasakan.
Serli masih tetap teringat dengan penghinaan ibunya tadi siang. Betapa teganya sang ibu menghina dan merendahkannya, tidak ada sedikitpun rasa iba ataupun rasa kasihan kepada anaknya sendiri. Ibunya lebih memilih mantan menantunya, daripada darah dagingnya.
Serli sadar, dia memang sudah tidak bisa di banggakan lagi. Kuliah putus di tengah jalan, pekerjaan pun hanya membantu bapaknya di toko. Wajah sudah tidak semulus dulu lagi, pria pun pasti enggan untuk mendekatinya. Benar-benar tidak ada yang dapat dibanggakan oleh ibunya.
* Pasti ada sesuatu yang sedang Serli fikirkan. Kata bapak, Serli tadi siang menemui ibu. Apa mungkin dia bertemu dengan Yanto? Atau dia di marah sama ibu? Lebih baik besok saja aku tanyakan disaat keadaan sudah lebih memungkinkan.*Gumam Bima dalam hatinya.
Sementara itu di mobil lain, Ratu dan Arya sedang bersenandung mengikuti irama musik yang mereka putar di mobilnya. Dinda hanya senyum-senyum melihat kebahagiaan dan keharmonisan anak dan menantunya. Menjadi mengingatkan saat dia dan suaminya muda dulu.
" Mama ikutan nyanyi dong, jangan cuma senyum-senyum saja Ma. Biar semakin seru, kita nyanyi bareng-bareng Ma."Seru Ratu mengajak mamanya untuk menyanyi.
" Kalian berdua saja yang menyanyi, mama cukup mendengarkan saja. Lagian mama juga tidak tahu lagu yang kalian nyanyikan itu, tapi enak juga musik dan liriknya."Jawab Dinda sambil terkekeh.
" Duh mama, ini lagu lagi viral loh Ma. Masa iya mama tidak tahu? Fenomenal Ma, Rungkad."Seru Ratu kembali bersenandung sambil mengayunkan tangannya untuk berjoged.
Haha hahaa hahaa....
Arya dan Ratu tiba-tiba tertawa berdua. Mereka menertawakan kelakuan aneh mereka sendiri.
" Kenapa kalian ini? Tadi sama-sama bernyanyi, sekarang kok tiba-tiba tertawa begini? Arya, ingat sedang menyetir loh, tetap fokus."Seru Dinda mengingatkan.
" Iya ma."Jawab Arya langsung terdiam.
Dia merasa tidak enak dengan Mama mertuanya. Suasana nya pun sunyi, hanya alunan musik yang masih terdengar. Sayup-sayup terdengar dengkuran pelan dari samping Arya, ternyata Ratu sudah tertidur. Arya mematikan musik, agar tidak mengganggu tidur sang istri.
" Baru juga 5 menit yang lalu tertawa ngakak, kok ini sudah molor. Hemm... Dasar tukang tidur."Ucap Dinda sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Sepertinya Ratu kelelahan, Ma. Sedari tadi dia bernyanyi terus, dia terlalu semangat."Seru Arya sambil mengusap lembut kepala Ratu dengan tangan kirinya.
Setelah menempuh perjalanan 2 jam lebih, mobil Arya dan Bima beriringan memasuki halaman rumah pak Karim. Kedatangan mereka sudah di tunggu-tunggu oleh sang tuan rumah, namun Ratu masih saja tidur dengan nyenyaknya. Sehingga Arya tidak tega membangunkannya. Arya mengangkat tubuh Ratu dan membawanya langsung menuju kamar yang sudah disiapkan nenek Rahayu.
" Mas, sepertinya Serli sedang ada masalah. Coba besok jika memang keadaannya sudah memungkinkan, Mas Bima tanyakan dia ada masalah apa."Seru Karina saat sudah beristirahat di kamar.
" Iya, Rin. Apa mungkin dia tadi ribut sama ibu? Soalnya bapak sebelum kita berangkat tadi dia bilang kalau siang tadi Serli menemui ibu. Pasti karena ibu, siapa lagi kalau bukan ibu. Jiwa Serli dia buat down begitu."Seru Bima yakin jika Ibu Marni yang sudah membuat Serli murung.
" Hati Serli itu rapuh mas, dia masih butuh suport dan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Jangan sampai rasa percaya dirinya hilang seperti dulu."Ucap Karina takut jika adik iparnya down dan rasa percaya dirinya hilang.
Bima mengangguk paham lalu memeluk Karina. Ternyata karena sangat perhatian dan peduli dengan keadaan Serli. Karina dan Ratu sama-sama menyayangi Serli seperti saudara kandungnya sendiri.
*****
" Ini surat dari pengadilan? Milik siapa, Ran?."Tanya Yanto dengan raut wajah bingung.
Sebab yang Yanto tahu, Bima dan Rani sudah lama sah bercerai. Tapi kenapa baru ada surat panggilan sidang dari kantor pengadilan agama.
" Oh itu milik ibu Marni, kemarin siang surat itu datang. Ibu Marni kan sedang proses cerai makanya dia itu tidak punya tempat tinggal. Mau tinggal dengan anaknya dia pun tidak mau karena anaknya tinggal di rumah kontrakan."Seru Rani dengan santainya sembari menikmati buah mangga yang tadi dia beli.
Yanto nampak tersenyum tipis, dengan ibu Marni terus tinggal di rumahnya dia akan semakin mudah untuk menggarap ibu Marni setiap hari. Dan untuk Rani saat ini hanya karena anak dalam kandungannya saja yang membuat dia mempertahankan Rani di rumah itu.
Ibu Marni keluar dari kamarnya dengan memakai daster khas ibu-ibu rumahan. Dia ikut bergabung bersama Rani dan Yanto, Ibu Marni sendiri tidak sungkan duduk di sebelah Yanto.
" Bu, tolong buatkan aku susu dong."Seru Rani dengan cepat padahal ibu Marni baru saja duduk.
" Boleh."Jawab Yanto singkat.
Sebenarnya Ibu Marni kesal karena baru saja duduk, Rani sudah memintanya untuk membuatkan susu. Kalau bukan karena masih ingin bertahan di rumah itu, Ibu Marni sudah malas disuruh-suruh oleh Rani. Ibu Marni bangkit dan pergi ke dapur, dia membuatkan susu untuk Rani dan kopi hitam pahit manis untuk Yantk.
Sampai detik ini Rani belum menaruh curiga apapun terhadap ibu Marni dan Yanto. Padahal setiap malam Yanto akan selalu pindah ke kamar Ibu Marni. Akan tetapi Rani sama sekali tidak mengetahuinya, sebab dia tidak pernah bangun malam.
" Silahkan diminum."Seru Ibu Marni meletakkan susu dan kopi di atas meja.
Hemmmm...
Yanto hanya berdehem sembari memainkan ponselnya. Sedangkan Rani sibuk menonton televisi sambil makan buah mangga yang sudah dia potong-potong.
Tring
Bunyi notifikasi ponsel ibu Marni, sudah bisa ditebak siapa yang mengiriminya pesan. Siapa lagi kalau bukan Yanto.
[ Jangan lupa nanti pakai lingerie hitam yang tadi aku belikan. Pintu kamar jangan di kunci.] Pesan dari Yanto.
[ Iya sayang. Emmmuachh....] Balas ibu Marni.
__ADS_1
[ Duhh... Sudah mulai menggoda ku ya. Apa mau sekarang, sudah tidak tahan ya?]
[ Kamu pasti yang tidak tahan .]
Ibu Marni berkirim pesan sambil senyum-senyum sendiri. Membuat Rani mengerutkan keningnya, dia heran dengan ibu Marni yang setiap hari sering menghabiskan waktu dengan ponselnya dan senyum-senyum sendiri.
Rani pun baru menyadari jika ponsel ibu Marni baru, dan itu ponsel mahal. Harganya bisa sampai puluhan juta.
" Bu, ponsel ibu baru?."Seru Rani menatap tajam ibu Marni.
" Iya, kenapa Ran? Sudah 2 hari ini loh ponsel ibu baru, masa iya kamu baru tahu. Ibu dapat pembagian gono gini dari mantan suami ibu, makanya ibu bisa beli barang-barang mahal."Jawab ibu Marni dengan berbohong.
" Cerai saja baru mau sidang pertama bu, masa iya bapak sudah bagi gono gini?."Tanya Rani lagi semakin heran.
" Karena dia sadar diri, sebelum aku menuntut pembagian harta dia sudah membagi lebih dulu. Inikah hasil jual toko, meskipun tokonya tidak seberapa. Tanahnya kan luas, lumayan kan kalau dibagi dua."Seru ibu Marni dengan seenaknya saja dia terus berkata bohong.
Jawaban ibu Marni masuk akal juga, sehingga Rani percaya begitu saja tanpa menaruh sedikitpun rasa curiga. Yanto nampak mengulas senyum tipis, dia mengakui jika ibu Marni itu sudah pintar berakting. Padahal, ponsel itu baru dia belikan sore tadi. Yanto membelikan beberapa lingerie dan ponsel baru untuk ibu Marni.
Tidak tahu setan darimana yang merasuki Yanto dan ibu Marni, hubungan mereka semakin lengket. Yanto sendiri juga tidak bisa semalam saja membiarkan ibu Marni tidur dengan nyenyak. Bahkan sudah lama Yanto tidak menyentuh Rani, dia tidak b3rgrir4h saat sama Rani. Yang dia inginkan hanya dengan ibu Marni, bahkan di luaran sana dia juga tidak lagi bermain dengan wanita.
" Kamu belum mengantuk Ran? Tidak baik loh wanita hamil tidur malam-malam, ini sudah jam 9 malam lebih baik kamu tidur. Kalau pagi usahakan bangun pagi-pagi terus jalan-jalan pagi agar saat lahiran nanti mudah."Seru ibu Marni sok menasehati Rani agar dianggap peduli dengan Rani.
" Iya bu, cuma aku ini malas banget kalau mau bangun pagi-pagi. Oh iya Yan, kalau aku panggil ibu ku untuk datang kesini bagaimana? Saat lahiran nanti aku membutuhkan dia."Seru Rani meminta izin untuk memanggil ibunya.
Tidak bisa dibiarkan, Jika Rani memanggil ibunya untuk tinggal dengan mereka yang ada dia akan susah untuk bisa berduaan dengan ibu Marni. Tentu saja Yanto tidak akan mengizinkannya.
" Tidak !! Kamu kira rumah ku ini panti sosial? Di sini sudah ada ibu Marni, jadi untuk apa kamu panggil ibumu? Lagian kamu juga masih lama kan melahirkan?."Seru Yanto langsung tegas menolak.
" Iya sih di sini ada ibu Marni. Tapi kalau ibu ku datang, biar ibu Marni saja yang keluar dari rumah ini. Biar dia tinggal di kontrakan saja, aku lebih nyaman dibantu ibu ku, Yanto."Seru Rani tetap mau dengan ibunya saja.
Ibu Marni nampak kesal dan mengepalkan tangan kanannya. Jika dia tidak tinggal dengan Rani, bagaimana dengan tambang emas dan uangnya? Jika tinggal di kontrakan juga beresiko, takut-takut jika saat Yanto menginap akan di g3r3b3k oleh warga.
" Tidak !! Kalau kamu mau memanggil ibu kamu lebih baik kamu keluar saja dari rumah ini !!."Jawab tegas Yanto.
" Kok malah kamu lebih memihak ibu Marni sih? Yang ibuku itu ibu Darti loh bukan ibu Marni?."Seru Rani terlihat kesal.
" Karena ibu Marni itu bisa di andalkan !! Selama dia tinggal disini, meja makan selalu ada makanan. Rumah bersih, bajupun bersih. Itu tandanya dia lebih tahu pekerjaan daripada ibu kamu yang pemalas itu."Seru Yanto beralasan.
Sudah pasti ibua Marni yang akan dia pertahankan untuk tinggal di rumah itu. Selain membereskan rumah dan memasak untuk mengenyangkan perutnya, Ibu Marni juga pandai mengenyangkan bagian bawah perut sana yang selalu li4r saat dia kelaparan.
" Bu, apa ibu mau membantu merawat ku saat aku lahiran nanti."Seru Rani bertanya kepada ibu Marni.
" Emm... Iya,nanti biar ibu yang membantu kamu."Jawab ibu Marni terpaksa dengan senyum palsunya.
Jika boleh jujur, saat ini ibu Marni ingin memaki Yanto. Karena Yanto sudah memberikan ide, agar dia yang akan membantu Rani. Padahal bisa ambil orang lain, yang datang pagi dan sore pulang untuk membantu Rani.
__ADS_1
************