Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Calon orang tua


__ADS_3

.


.


.


๐Ÿ’•๐Ÿ’• HAPPY READING ๐Ÿ’•๐Ÿ’•


Ibu Marni menjalani kehidupan barunya di dalam sel tahanan. Kesalahan yang dia perbuat tidak bisa di toleransi lagi, dia hanya pasrah menunggu keputusan dari pengadilan. Berapa tahun dia akan mendekam di dalam penjara. Menjalani hari-hari di penjara tidaklah mudah, ini juga bukan pertama kali baginya.


Menyesal?


Iya, sudah pasti ibu Marni menyesali perbuatannya. Seanadainya dia menuruti apa kata anak-anaknya mungkin dia tidak akan sampai masuk penjara lagi. Nasi sudah menjadi bubur, saat ini pun dia hanya bisa pasrah menunggu hukumannya.


Disaat seperti inilah, ibu Marni teringat dengan kesalahan kesalahannya. Di mana dulu dia sangat jahat dengan menantunya, Ratu. Dan dia juga memanfaatkan Arya, selalu ingin menguasai Arya dan menjadikan Arya sapi perahnya. Bayangan-bayangan masalalu terus berputar dalam ingatannya, dia menangisi semua yang sudah berlalu.


Hikkss Hikksss


Ibu Marni menangis diam dalam kesendiriannya. Sel ibu Marni di pisah dari tahanan yang lain, sebab ibu Marni selalu menjadi bulan-bulanan dari teman selnya. Teman selnya tidak terima dengan kasus yang ibu Marniโฐโฐษ“pfr lakukan, dengan menjual wanita kepada para pria hidung b3l4ng sama saja sudah merendahkan kaum para wanita.


" Hai ibu Marni, ini makan siang mu !!."Seru polisi wanita yang mengantarkan makan siang untuk ibu Marni.


Ibu Marni diam, sama sekali tidak menanggapi panggilan dari polisi itu. 00


" Kenapa lagi dengan ibu ini? Di panggil tidak menyahut juga."Seru polisi itu bicara sendiri.


" Bu, ibu Marni !! Apa kamu tidak mendengarku? Sudahi menangis mu itu, sekarang makanlah. Jangan sampai kamu sakit dan justru akan menyusahkan dirimu sendiri."Seru polisi wanita itu yang tetap berdiri di depan sel tahanan ibu Marni.


" Saya tidak lapar."Akhirnya ibu Marni mengeluarkan suaranya juga.


" Makanlah bu, kalau kamu tidak makan dan sakit bukan kamu sendiri saja yang susah. Kami pun ikut susah."Seru polisi wanita itu memaksa ibu Marni untuk tetap makan.


Ibu Marni tidak bergeming, tetap diam bersimpuh di lantai sambil memeluk kedua lututnya. Polisi itupun meninggalkan sel tahanan ibu Marni dan beralih ke sel tahanan yang lainnya.


Setelah polisi itu pergi, ibu Marni mengambil kotak makanannya. Dan hanya bisa menghela nafas dengan kasar saat tahu menu makanannya sama sekali tidak membuat nya n4fsu makan.


" Aku bosan makan makanan ini, sudah tidak lapar dan tidak berselera. Tapi kalau tidak makan aku pasti sakit, tapi lihat makannya seperti ini mana ada gizinya. "Ucap ibu Marni m3ndes4h dengan pasrah.


Aaarrrggghhhh....


" Aku benci dengan hidupku !!!."Teriak ibu Marni dengan lantang.


Hiiksss Hikkksss


Tangisannya pun kembali pecah, di saat seperti ini lah dia ingin sekali merasakan kehangatan dari keluarga terutama dari anak-anaknya. Ibu Marni menangis sendirian, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain menyesal dan menyesali pernbuatannya.

__ADS_1


" Anak-anakku sudah bahagia dengan keluarganya, bapak juga pasti lebih bahagia tanpa kehadiranku. Aku sekarang ini sudah tidak berguna hidup di dunia ini, aku tidak sanggup dengan semua ini."Ucap ibu Marni terus mengulangi kata penyesalannya.


Braaakk Braaak Braaakk


Ibu Marni memukuli tralis besi di depannya, dia pun berteriak memanggil-manggil polisi.


" Pak polisi !! Pak polisi keluarkan aku dari sini pak ! Pak polisi cepat eksekusi saya dengab hukuman m4ti saja pak."Teriak ibu Marni dengan lantang.


Haaaa haaa haaa


Namu secara tiba-tiba ibu Marni pun tertawa dengan keras. Seperti ada sesuatu yang lucu yang harus dia tertawakan.


" Hai bu, anda kenapa? Jangan berisik, mengganggu tahanan yang lainnya."Seru polisi menghampiri sel ibu Marni.


Haahaaa Haaahaaaa


Ibu Marni terus tertawa dan tidak menghiraukan peringatan dari polisi.


" Sepertinya dia sudah mulai tidak waras lagi."Seru polisi itu.


Dia meninggalkan ibu Marni dan memanggil rekannya yang bertugas sebagai tenaga kesehatan untuk membantunya memeriksa ibu Marni, apakah benar sudah tidak waras lagi atau memang hanya pura-pura tidak waras saja agar bisa keluar dari sel tahanan.


Di tempat lain, Ratu dan yang lainnya sudah sampai di rumah Pak Karim dari 2 jam yang lalu. Saat ini mereka semua sedang beristirahat. Serli benar-benar lemas dan mual nya belum juga hilang, meskipun tidak separah saat dalam perjalanan tadi.


" Kamu masih mual, dek?"Tanya Yusuf sambil memijit tengkuk Serli.


" Iya dek. Kamu tunggu di sini ya."Ucap Yusuf sangat perhatian.


Yisuf keluar kamar dan menuju dapur, rumah dalam keadaan sepi sebab semuanya sedang beristirahat di kamarnya masing-masing. Yusuf sudah tahu letak dapurnya, sehingga dia langsung ke dapur.


" Yusuf kok ada di dapur? Mau buat kopi ya?."Tanya Dinda yang ternyata dia ada di dapur.


" Ehhh tante Dinda, kirain dapur kosong. Kok tante tidak istirahat? Emm ini mau ambil air hangat untuk Serli, Tante. Dia masih mual, kira-kira kenapa ya Tante? Apa Serli hamil?."Tanya Yusuf secara beruntun.


Mendengar pertanyaan Yusuf Dinda hanya tersenyum. Terlihat sekali jika Yusuf sangat menyayangi dan perhatian dengan Serli.


" Untuk lebih jelasnya, kita bawa Serli ke puskesmas saja yuk. Mumpung masih jam 2 siang, puskesmas masih buka. Hanya 8 menit saja dari sini, dengan naik motor atau mobil."Seru Dinda mengajak Yusuf untuk membawa Serli ke puskemas agar diperiksa lebih jelas.


" Tidak merepotkan tante Dinda?."Tanya Yusuf merasa tidak enak jika mengganggu istirahat Dinda.


" Sama sekali tidak, ya sudah yuk langsung berangkat saja. Kita bawa mobil saja ya agar tante juga bisa ikut kalian. Ini air hangat untuk Serli kamu kasih Serli dulu, tante tunggu di luar ya."Ucap Dinda dengan ramah.


Yusuf mengangguk dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Dinda menyiapkan mobil, mobilnya yang memang sengaja dia tinggal di rumah orang tuanya untuk di gunakan sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Di rumah orang tuanya juga ada sopir yang bisa mengantar jemput kedua orang tuanya.


" Mau kemana mas?."Tanya Serli saat Yusuf memintanya untuk bersiap.

__ADS_1


" Ke puskesmas dek, itu Tante Dinda sudah menunggu di luar. Yuk dek, mumpung puskesmas nya masih buka."Seru Yusuf dengan lembut membantu Serli turun dari ranjang.


Serli hanya menurut saja, sebab dia memang sudah sangat lemas. Siapa tahu setelah dari puskesmas dia bisa segera baikan dan mualnya hilang. Dia sendiri merasa tidak enak jika liburan mereka tidak sesuai rencana gara-gara dia yang sakit.


" Maaf ya tante, Serli jadi merepotkan tante."Ucap Serli sebelum dia naik mobil.


" Jangan merasa tidak enak, kalian ini sudah tante anggap anak tante sendiri. Apa lagi kalian ini mau liburan, kalian juga tamunya tante loh. Yuk berangkat."Ucap Dinda dengan tersenyum ramah.


Yusuf diminta Dinda untuk duduk di belakang bersama Serli, dan Dinda lah yang mengendarai mobil. Yusuf tidak membantah, dia tahu jika saat ini istrinya membutuhkannya.


Setelah 8 menit perjalanan, mobil yang di kendarai Dinda sudah sampai di puskesmas. Meskipun di kampung, puskesmas itu bisa untuk rawat inap juga.


" Bu Dinda, sedang mengantar siapa?."Tanya salah satu dokter yang memang mengenali Dinda.


" Ehhh Dokter Susi, ini mengantar anak saya. Apa dokter Susi sudah mau pulang? Bisa tolong periksa anak saya dulu, kebetulan dokter Susi merupakan seorang Bidan. Ini anak saya sedari tadi mual dan lemas."Ucap Dinda langsung pada intinya saja,sebab dia melihat dokter Susi yang memang sudah hendak pulang.


Dokter Sudii memang seorang bidan, jadi Dinda langsung juga bicara terus terang. Dokter Susi mana mungkin bisa menolak permintaan Dinda, sebab Dinda adalah donatur utama saat diadakannya pembangun Puskesmas rawat inap itu. Puskesmas itu dulunya hanya puskesmas kecil, berkat Dinda dan Satria saat ini sudah menjadi puskesmas yang bisa merawat inap pasien dengan fasilitas yang cukup memadai.


" Bisa bu, mari ke ruangan pemriksaan saja."Jawab dokter Susi dengan ramah.


" Terima kasih dokter Susi."Jawab Dinda tak kalah ramah.


Yusuf tetap memegangi lengan Serli agar Serli tidak jatuh. Dokter Susi meminta Serli untuk berbaring dan segera di lakukan pemeriksaan.


" Alhamdulillah, mbak nya positif hamil. Ini ada janin di dalam kantong rahim, ini sudah berusia 4 minggu."Ucap dokter Susi membuat Yusuf dan Serli tersenyum bahagia.


" Alhamdulillah, akhirnya kita akan menjadi orang tua juga."Seru Serli dan Yusuf secara bersamaan.


" Apa kata tante, kamu hamil kan? Selamat ya Serli, tante ikut bahagia dengan kabar kehamilan kamu."Ucap Dinda.


" Iya Tante, terima kasih."Jawab Serli dengan senyum sumringahnya.


Rasa mual dan pusingnya tiba-tiba hilang begitu saja saat mengetahui kabar kehamilannya sendiri. Dokter Susi selesai memeriksa Serli, kini Serli dan Yusuf sedang menunggu resep yang harus di tebus di apotik ataupun di tempat pengambilan obat.


Selesai urusannya di puskesmas, mereka bertiga pun langsung pulang. Pastinya orang-orang di rumah sedang mencari mereka bertiga, apalagi mereka pergi tidak pamit dan juga tidak ada yang membawa ponsel.


" Serli, di jaga ya kehamilannya. Jangan capek-capek, ingat kata dokter Susi tadi."Ucap Dinda menasehati Serli.


" Iya tante, terima kasih sudah mengingatkan Serli."Jawab Serli.


" Sudah tidak mual dan pusing, dek?."Tanya Yusuf.


" Sudah tidak mas. Saat tahu jika aku hamil, rasa mual dan pusingnya tiba-tiba hilang begitu saja."Jawab Serli dengan jujur.


Mobil pun kini sudah memasuki halaman rumah, benar saja orang rumah sedang mencari keberadaan mereka bertiga. Saat mobil baru saja sampai, orang-orang rumah langsung keluar semua untuk memastikan jika yang datang adalah mereka bertiga.

__ADS_1


*************


__ADS_2