Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Keadaan ibu Marni


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


Ibu Marni semakin bersikap seperti orang yang tidak waras, sehingga dia pun di bawa ke rumah sakit untuk di periksakan kejiwaannya. Tinggal beberapa hari ibu Marni juga akan menjalankan persidangan atas kasus yang menjeratnya.


" Sepertinya ibu ini memang kejiwaannya sudah terganggu, pak."Ucap dokter yang memeriksa ibu Marni.


" Berarti dia gila? Kalau dia gila, mana bisa kita menahan dia? Apa tidak sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit jiwa saja?."Tanya perugas lapas kepada dokter.


" Betul, kita bawa dia ke rumah sakit kejiwaan saja dulu untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tapi saya yakin dia ini sudah tidak waras lagi. Lebih baik hubungi saja pihak keluarganya, dan beritahu keadaan ibunya yang seperti ini".Ucap dokter yang bertugas di lapas tempat ibu Marni di penjara.


Polisi dan para petugas lapas yang lainnya pun setuju, lebih baik membawa ibu Marni ke rumah sakit jiwa saja daripada mereka menahan dan menjaga orang gila yang justru akan merepotkan mereka saja. Ibu Marni bisa sewaktu-waktu mengamuk dan melukai dirinya sendiri. Apalagi beberapa hari ini juga ibu Marni sering marah-marah dan berteriak tanpa sebab. Dan juga sering menangis dan tertawa dengan sendirinya.


" Bima, Arya, Serli. Anakku kamu di mana?."Seru ibu Marni tiba-tiba saja bersuara dan mencari keberadaan ketiga anaknya. Ternyata ibu Marni masih mengingat nama ketiga anaknya


Ibu Marni mulai mencari-cari keberadaan ketiga anaknya, matanya berputar sana-sini hingga akhirnya dia menemukan guling yang dia anggap sebagai anaknya. Dokter dan petugas lapas itu hanya bisa saling pandang, mereka harus lebih hati-hati menghadapi ibu Marni agar dia tidak mengamuk yang nantinya justru akan menyusahkan mereka juga.


" Arya, Bima, Serli apakah kamu sudah makan nak? Ibu kangen sama kalian, nanti kita jalan-jalan ya."Seru ibu Marni sembari memeluk guling yang dia anggap sebagai anaknya.


" Wahhh... Positif nih orang sudah tidak waras."Seru petugas lapas dengan yakin.


" Ssssttt... Jangan berisik !! Anakku lagi tidur !!."Bentak ibu Marni memarahi petugas lapas.


Dokter dan beberapa petugas itu mencoba menahan tawa mereka. Salah satu dari mereka ada yang menghubungi pihak keluarga untuk memberitahukan keadaan ibu Marni. Meskipun saat ini ibu Marni ada di dalam penjara, pihak keluarga tetap harus tahu keadaan ibu Marni. Petugas itu menghubungi Bima, untuk meminta persetujuan membawa ibu Marni ke rumah sakit jiwa.


Sudah beberapa kali menghubungi Bima tapi belum ada jawaban juga. Sedangkan nomor yang mereka punya hanya nomor Bima saja.

__ADS_1


Aarrrgggghhhhhh.....


Tiba-tiba ibu Marni berteriak sekuatnya, sehingga membuat yang lainnya pun terkejut. Teriakan ibu Marni melengking, sampai membuat orang yang mendengarnya sakit gendang telinganya.


" Aahhh... Aku mau makan."Seru ibu Marni yang ternyata hanya ingin makan.


Hahaaa Hahaaa Haaa haaaaa


Ibu Marni semakin tidak terkendali lagi, tadi menjerit sekarang dia tertawa. Dan tertawanya itu terdengar menakutkan siapa saja yang mendengarnya.


" Ini orang seperti mbak kunti saja. Kita bawa dia ke rumah sakit jiwa sekarang. Anak-anaknya juga belum bisa dihubungi, kita tidak perlu meminta persetujuan anaknya. Lah ibunya saja sudah gila seperti ini."Seru petugas lapas.


Ibu Marni pun akan segera di bawa ke rumah sakit jiwa. Saat tahu akan menaiki mobil, dia semakin terlihat senang. Dia mengira akan diajak jalan-jalan.


" Kita mau jalan-jalan?."Tanya Ibu Marni dengan wajah senang.


" Iya kita jalan-jalan, makanya kamu diam dan tidak usah berteriak-teriak lagi."Jawab pak Seno, salah satu petugas lapas dengan hati-hati.


Pak Seno dan temannya hanya bisa geleng-geleng. Sebenarnya dia sendiri juga merasa kasihan dengan ibu Marni, wanita setua itu harus tersandung masalah dan mengharuskan dia masuk penjara. Bahkan sekarang keadaannya juga tidak baik, alias sakit jiwa.


*****


Karina yang sedari tadi mendengar ponsel suaminya berdering terus menerus, mencoba untuk mengangkatnya. Akan tetapi belum juga di angkat, telepon itu sudah tidak bersuara lagi.


" Ada apa sayang?."Tanya Bima dengan lembut.


" Ehh mas, ini tadi ponsel kamu terus berdering. Mau aku angkat sudah mati, mas dari mana sih?."Tanya Karina yang memang tidak tahu Bima tadi kemana.


" Ohh.. Mas dari kolam, itu sama om Satria dan kakek Karim juga. Mas belajar memancing dari om Satria, tapi ya yang namanya memancing tetap saja untung- untungan. Oh iya, memangnya siapa yang telepon?."Tanya Bima juga ingin tahu siapa yang menghubunginya.


Karina mencebikkan mulutnya sembari mengangkat kedua bahu dan tangannya. Sebab dia sendiri memang belum mengecek ponsel Bima. Melihat jawaban Karina, Bima pun mengambil ponselnya dan mengecek siapa yang sudah menghubunginya.

__ADS_1


" Petugas lapas?."Seru Bima pelan namun masih bisa di dengar oleh Karina.


" Haahhh... Petugas lapas mas? Ada apa mereka menghubungimu? Apa sudah terjadi sesuatu dengan ibu? Mas, cepat telepon balik mas."Seru Karina dengan wajah cemas dan khawatir.


Bima mengangguk dan menyetujui saran dari istrinya. Dia sendiri juga nampak bertanya-tanya, ada apa dengan ibunya sampai petugas lapas beberapa kali menghubunginya.


[ Hallo pak, maaf saya tadi tidak tahu saat ada menelpon. Ada apa ya pak? Apa terjadi sesuatu dengan ibu saya?] Tanya Bima pada intinya.


[ Maaf pak Bima, kami hanya ingin memberitahu jika ibu anda saat ini sedang dalam perjalanan ke rumah sakit jiwa. Sudah beberapa hari ini ibu anda bertingkah aneh. Dia suka bicara sendiri, nangis sendiri dan berteriak dan marah-marah tanpa sebab. Atas saran dari dokter yang bertugas di lapas, akhirnya kami membawanya ke rumah sakit jiwa.]


Haaahhhhh


Rumah sakit jiwa? Apakah ibu ku gila? Bima nampak syok saat tahu ibunya hendak dibawa ke rumah sakit jiwa. Tidak pernah menyangka jika ibu nya akan seperti ini. Bima beranggapan jika ini semua berupa teguran dan hukuman atas kesalahan-kesalahan yang selama ini dilakukan oleh ibunya.


[ Lakukan saja yang terbaik untuk ibu saya pak. Maaf, untuk sekarang saya dan adik-adik saya belum bisa menemui ibu saya, karena saat ini kami masih berada di luar kota. Dalam 3 hari ini insya Allah kami akan pulang. Terima kasih atas infonya pak.]


[ Sama-sama pak Bima.]


Klik


Bima mematikan sambungan teleponnya, tubuhnya terasa lemas sampai Karina membantunya untuk duduk di bibir ranjang.


" Mas, jangan beritahu yang lainnya. Biarkan mereka menikmati liburannya, terutama Serli. Dia pasti akan syok saat tahu jika ibu saat ini dirawat di rumah sakit jiwa, tidak bagus untuk kehamilannya. Apa lagi dia masih hamil muda."Seru Karina sambil mengusap punggung suaminya dengan lembut.


" Iya sayang, cukup kita saja dulu yang tahu. Mas tidak mau merusak suasana liburan mereka. Ya sudah, yuk kita keluar kamar dan gabung sama mereka. Mereka tadi mau bakar-bakar ikan, kita nampak biasa saja. Jangan sampai mereka curiga, kita akan memberitahu mereka saat sudah di kota."Ucap Bima juga setuju dengan saran dari Karina.


" Iya mas."Jawab Karina dengan singkat.


Bima dan Karina keluar dari kamar, mereka menuju halaman belakang. Di mana yang lainnya saat ini berkumpul dan bakar-bakar ikan untuk menu makan siang mereka.


************

__ADS_1


__ADS_2