Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Kedatangan polisi


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


Brraaakkk


Brraaakkk


Suara gedoran pintu di rumah Yanto begitu mengganggu gendang telinga siapa pun yang mendengarnya. Ada sekitar 5 orang polisi dengan memakai pakaian seperti preman mendatangi rumah Yanto. Saat ini hanya ibu Marni saja yang ada di rumah, sepertinya Yanto sudah tahu jika rumahnya akan kedatangan polisi.


Haahhhh


Polisi ? Ibu Marni sangat kaget saat mendapati beberapa polisi sudah berdiri di depan rumah. Dia takut untuk membuka pintu, dan takut juga jika tidak dibuka.


" Pantas saja Yanto tadi buru-buru pergi, pasti dia sudah tahu kalau bakalan ada polisi yang akan datang. Kenapa dia malah tidak memberitahuku? Kalau seperti ini bagaimana?."Ucap ibu Marni dengan ketakutan.


Brraaakk


Brraaakk


Pintu kembali di gedor, dengon polisi terus memanggil-manggil Yanto.


" Yanto !! Keluar kamu !! Rumah kamu sudah kami kepung !."Seru polisi dengan lantang.


Mendengar rumah sudah di kepung, mau tidak mau ibu Marni membukakan pintu. Daripada didobrak justru akan beda lagi urusannya.


Cekklleeekkk


Pintu rumah terbuka, nampak sekali wajah ibu Marni ketakutan. Dia menundukkan kepalanya, tidak berani memandang para polisi-polisi yang berpenampilan seperti preman.


" Ibu siapa?."Tanya polisi dengan tegas dan penuh selidik.


" Emm.. Saaa, saya Art di sini pak."Jawab ibu Marni dengan terbata-bata.


" Mana Yanto? Jika kamu mau aman, cepat beritahu kami dimana Yanto?."Tanya polisi lagi.


" Saya tidak tahu pak, benar saya tidak tahu dimana Yanto pak. Yanto tidak ada di rumah pak, dia keluar rumah dari 2 jam yang lalu."Jawab ibu Marni dengan ketakutan.

__ADS_1


Kasus kali ini masih sama, yaitu soal n4rkob4 dan perdagangan manusia. Sampai di ujung dunia pun polisi akan mengejar dan mencari keberadaan Yanto. Untuk pekerjaan ibu Marni sendiri belum terendus, sehingga polisi tidak menaruh curiga.


" Cepat geledah rumah ini, dan ambil barang bukti yang mencurigakan."Seru polisi yang ibu Marni yakini sebagai komandannya.


" Siap komandan."Jawab beberapa polisi dengan serentak.


" Awas saja kalau sampai ibu ketahuan bohong dan ibu ada hubungannya dengan kejahatan dan usaha h4r4m Yanto, ibu pasti akan tahu akibatnya."Seru polisi bicara dengan tegas.


Para polisi itupun masuk dan menggeledah setiap sudut dan semua ruangan yang ada di dalam rumah itu. Ibu Marni nampak ketakutan, takut jika mereka masuk ke kamarnya dan menggeledah kamarnya juga.


" Itu kamar saya, tolong jangan digeledah juga. Di dalam kamar saya tidak ada apa-apa."Seru ibu Marni melarang polisi masuk kamarnya.


Polisi tidak menghiraukan larangan dari ibu Marni, dengan ibu Marni melarang justru mereka semakin curiga. Tanpa persetujuan ibu Marni, dua polisi masuk dan memeriksa kamar ibu Marni. Lemari, bawah ranjang dan semua sudut kamar tidak luput dari pemeriksaan.


Saat memeriksa lemari, polisi itupun tercengang mendapati banyak baju dinas yang tersimpan di dalam lemari. Bahkan baju-baju itu tidak pantas ada di kamar seorang Art.


" Ini kamar ibu? Dan sudah berapa lama ibu menempati kamar ini?."Tanya polisi dengan penuh selidik.


" Iya ini kamar saya, saya menempati kamar ini sudah dari pertama saya pindah ke rumah ini."Jawab ibu Marni jujur.


Ibu Marni tidak sadar jika jawabannya tadi justru semakin membuat para polisi mencurigainya.


Ibu Marni nampak gelisah sambil mer3m4s-r3m4s jari tangannya. Tubuhnya pun sudah mulai keringat dingin, bayangan bermalam di penjara sudah ada di pelupuk mata.


" Jawab !!."Seru polisi dengan lantang.


" Saya, saya memang sudah lama kerja dengan pak Yanto. Dan saat beliau beli rumah ini saya juga ikut pindah ke sini."Jawab ibu Marni tidak membuat polisi percaya begitu saja.


" Jangan memberikan keterangan palsu. Kalau ibu memang seorang Art kenapa bisa menempati kamar seluas ini dan pakaian yang ada dalam lemaripun rata-rata pakain dinas dan pakaian lelaki? Dan ini juga milik ibu kan?." Seru polisi sambil mengeluarkan beberapa gepok uang dari dalam tas ibu Marni yang ada di atas kasur.


Dari dalam tas, polisi menemukan yang sekitar 35 juta, dua bungkus pengaman, dua bungkus rokok dan 1 ponsel milik ibu Marni. Polisi memeriksa ponsel ibu Marni, wajah ibu Marni semakin t3g4ng dan cemas.


* Aduh bagaimana ini? Di dalam ponsel itu masih tersimpan beberapa chatt dengan para pelanggan. Semoga saja itu tidak bisa menjadi bukti keterlibatanku. Jika mereka tahu aku juga terlibat, bisa gawat ini. Aku tidak mau masuk penjara lagi.*Gumam ibu Marni dalam hati.


Polisi itupun saling pandang lalu sang komandan menganggukkan kepala. Polisi itu menyerahkan ponsel ibu Marni kepada pemiliknya. Dengan tangan gemetar, ibu Marni menerima ponsel dari polisi.


" Baiklah, maaf bu jika kami sudah membuat kamar ibu berantakan. Kalau Yanto menghubungi anda atau dia pulang, mohon kerja sama nya."Seru komandan polisi.


Tanpa ibu Marni ketahui, polisi itu sudah mencurigai ibu Marni. Namun mereka belum mempunyai bukti-bukti yang akurat, mulai hari ini mereka akan menyelidiki ibu Marni dan mengintai apa saja yang di lakukan ibu Marni. Polisi itu yakin, jika Yanto pasti akan menghubungi ibu Marni.


" Iya pak polisi."Jawab ibu Marni sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Rombongan polisi itupun akhirnya pergi dari rumah Yanto. Ibu Marni nampak lega dan bisa bernafas dengan lega. Dia tidak tahu jika mulai hari ini, semua aktifitasnya di pantau oleh polisi.


" Syukurlah polisi itu sudah pergi, hampir saja j4ntungku ini copot dibuatnya. Yanto juga kemana dia perginya, awas saja kamu Yanto."Seru ibu Marni bicara pada dirinya sendiri.


Drreeett Dreett Drreett


Ponsel ibu Marni berdering, ada panggilan masuk dari Yanto. Dengan cepat ibu Marni masuk rumah dan mengunci pintu rumah lalu mengangkat telepon.


[ Heehhh Yanto si4l4n !! Kamu dimana? Gara-gara kamu, j4ntungku hampir saja copot. Kamu pasti sudah tahukan kalau polisi mau datang kerumah, dan kamu seenaknya saja pergi tanpa memberitahuku dulu.] Ucap ibu Marni langsung memarahi Yanto.


[ Diam kau wanita tua !! Jangan banyak b4cot ! Sekarang apa para polisi itu sudah pergi? Mereka tidak menaruh curiga kan?] Seru Yanto bicara dengan kasar.


[ Mereka sudah pergi, tapi tadi mereka sempat curiga denganku tapi semuanya sudah aman. Hanya saja mereka berpesan jika kamu menghubungiku dan kamu pulang, aku harus menghubungi mereka. Tapi aku bukan wanita bodoh, mana mungkin aku memberitahu mereka.]


[ Good, kerja bagus Marni ku sayang. Aku saat ini ada di suatu tempat, aku belum berani untuk pulang. ]


[ Ok tidak masalah]


Sambungan telepon pun di putus sepihak oleh Yanto.


Sementara itu di tempat lain, Agung yang saat ini datang ke butik untuk melakukan pengukuran baju pun bertemu dengan Ratu.


" Jadi calon istriku juga memesan baju di sini? Tahu begitu kemarin aku ajak saja dia ke kota untuk pengukuran bajunya."Seru Agung.


" Dia sudah mengirimkan ukurannya kok kak. Tenang saja, pasti nanti jadinya juga akan sesuai dengan keinginan sang calon pengantin wanita."Jawab Ratu.


Ratu tidak memberitahu jika dia sebenarnya sudah mengenal baik sang calon istri Agung.


" Kak Agung, emm.. Memang kak Agung sudah tahu betul tentang masa lalu calon istri kak Agung?."Tanya Ratu hati-hati khawatir Agung tersinggung.


Hhhhuuufff


Terlihat Agung membuang nafas lebih dulu sebelum dia menjawab pertanyaan Ratu. Tidak ada salahnya dia bercerita dengan Ratu, Agung percaya jika Ratu tidak mungkin mengumbar masalalu sang calon istrinya, Rani.


" Aku sudah tahu, aku juga tahu anak dia bukan anak dari mantan suaminya. Akan tetapi anak dari selingkuhannya. Aku juga tahu, nama mantan suaminya. Namanya Bima, tapi aku belum pernah bertemu dengan dia. Aku hanya tahu namanya saja, tapi aku tidak tahu detailnya Bima itu siapa."Ucap Agung bicara jujur.


* Ohh.. Jadi kak Agung sudah tahu nama mantan suami mbak Rani tapi dia tidak tahu Bima itu yang mana? Hemmm.. Bagaimana ya kira-kira kalau dia tahu jika mas Bima itu kakak iparku? Sudahlah, aku tidak boleh menebak-nebak dan biarkan saja dia nanti tahu dengan sendirinya.*Gumam Ratu dalam hatinya.


Setelah urusan di butik selesai, Agung pun izin pamit karena ada meeting dengan klien. Begitupun dengan Ratu, dia juga ada janji dengan WO yang akan bekerjasama dengan butiknya.


************

__ADS_1


__ADS_2