
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Mita menatap jengah kearah Ratu dan Arya, dia sama sekali tidak takut dengan Arya padahal Arya adalah direktur perusahaan. Mita terlalu mawas diri, jika tidak ada yang bisa memecatnya selain direktur utama STR GROUP yaitu Raja.
" Apa yang kamu lakukan ? Kamu mau menampar istriku ? Kamu tahukan posisi ku disini itu sebagai apa, dan aku bisa memecatmu kapan saja."Seru Arya mengancam Mita.
" Istri kamu yang mulai, jadi jangan salahkan aku dong. Lagipula, disini yang berhak memecatku hanya pak Raja. Kamu lupa kalau aku ini dari kantor pusat dan disini hanya menggantikan kepala staff pemasaran yang sedang cuti. Meskipun mau minta seterusnya disini tapi kan belum proses, jadi kamu tidak semudah itu memecatku."Jawab Mita dengan mudahnya.
* Ohh jadi dia ini kiriman dari kantor pusat menggantikan kepala pemasaran yang sedang cuti melahirkan itu. Hemm.. Sepertinya dia menyukai mas Arya. Oke deh kalau begitu boleh lah aku bermain-main dengannya. Nanti kamu bakalan menyesal sudah menghinaku, hari ini aku biarkan dulu kamu.*Gumam Ratu dalam hatinya.
" Mita, biarpun kamu dari kantor pusat yang dikirim langsung oleh pak Raja aku tetap bisa menindak tegas kamu. Kamu sekarang bekerja di kantor cabang ini dan aku juga punya kuasa disini. Aku bisa langsung meminta persetujuan dari pak Raja untuk memecat kamu."Ucap Arya pelan tapi tegas.
Haahhhh
Mita langsung kaget dan memandang wajah tampan Arya. Mita lupa jika segala kemungkinan bisa terjadai. Mita tidak mau di pecat atau dikembalikan lagi di kantor pusat. Disini dia sudah nyaman karena bisa mendekati Arya dengan mudah. Apalagi setelah dia bertemu dengan Ratu, yang menurutnya bukan saingan yang susah.
" Emm.. Mas sudahlah, aku tidak apa-apa kok. Jangan diperpanjang lagi, dan jangan sampai di adukan ke kantor pusat. Kasihan dia kalau sampai dipecat, zaman sekarang mencari pekerjaan itu susah. Aku sudah memaafkan dia, mungkin dia harus merubah sikapnya saja dan jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi."Ucap Ratu yang memang sengaja menahan Arya agar tidak mengadukan perlakuan Mita kepada sang kakak, Raja. Ratu masih ingin tahu lebih banyak lagi tentang Mita dan ingin bermain-main dengan Mita, sampai Mita tahu sendiri siapa oranng yang menjadi lawannya.
" Mita, lihat istriku dia terlalu baik sampai dia memaafkan kamu tanpa kamu meminta maaf lebih dulu. Sekarang mintalah maaf, dengan begitu aku anggap selesai masalah ini."Seru Arya tegas.
Hhuuuuffff
Mita membuang nafas dengan kasar, baru kali ini dia dipermalukan dan harus meminta maaf dengan orang yang dia ganggu.
" Maaf ya tadi aku hanya bercanda saja,sebagai salam perkenalan."Ucap Mita terlihat sekali dia tidak tulus.
" Iya sudah aku maafkan."Jawab Ratu sambil tersenyum simpul.
Mita pun menarik tangan Tika yang sedari tadi berdiri di sampingnya. Mereka keluar dari gedung perusahaan untuk makan siang. Sementara itu, Arya mengajak Ratu keruangannya.
* Lihat saja Mita, aku akan membuat kamu menyesal karena sudah berani menyukai suamiku. Aku paling tidak suka jika ada orang yang berani mengusik kebahagiaan ku apalagi ingin memiliki apa yang sudah aku miliki. * Gumam Ratu dalam hati.
__ADS_1
Di caffe seberang, Mita dan Tika sedang makan siang bersama dan Mita masih saja terus menggerutu.
" Aku kesal banget sama istrinya Arya yang songong itu."Seru Mita dengan kesal.
" Mita kamu ini jangan cari gara-gara kenapa? Belum juga genap seminggu kamu di kantor sudah berani cari masalah. Mana sama direktur lagi, beruntung istrinya pak Arya baik. "Seru Tika sambil mengunyah makanannya.
" Haahhh... Sudahlah jangan bahas istri nya si Arya lagi bikin aku sakit hati saja. Tik, salah tidak sih kalau aku mencintai Arya. Aku memang sudah mencintainya dari dulu, dari zaman sekolah. Tapi Arya itu dulu terlalu cuek dan yang difikirin itu belajar dan belajar terus, sampai tidak ada waktu untuk melirikku."Tanya Mita meminta pendapat dari Tika.
" Mencintai seseorang sih tidak salah Mit, tapi kalau mencintai suami orang dan berencana untuk merebutnya itu yang salah. Seperti tidak ada laki-laki lain saja kamu Mit. Malu dong, masa iya wanita secantik Mita mencintai pria yang sudah beristri. Kamu mau di cap wanita pelakor sama para netizen?."Seru Tika mencoba menasehati Mita agar tidak salah lagi.
Hhhuuuffff
Mita justru hanya melengos saja, dia tidak setuju dengan nasehat Tika. Kalau rasa cinta sudah mendarah daging memang susah untuk melupakannya. Banyak penghalang pun pasti akan tetap di terjang, tidak peduli lagi dengan halangan yang merintang.
********
Di rumah pak Santo, ketiga wanita sedang berghibah ria. Siapa lagi kalau bukan ibu Marni, Rani dan Ibu Darti. Sudah hampir 1 minggu ibu Darti belum pulang ke rumahnya juga, padahal suaminya sudah memintanya untuk pulang.
" Bu, apa ibu membiarkan saja si Ratu menguasai uang Arya? Keenakan Ratu dong bu, masa Arya yang capek Ratu yang menikmati uang nya. Ibu itu berhak atas uang Arya, meskipun Ibu ibu kandungnya tapi ibu itu yang merawat Arya dari kecil loh. Kalau seperti ini sama saja Arya dzolim sama ibu."Ucap Rani terus mengompori pikiran sang ibu mertuanya.
" Jelas ibu tidak iklas kalau Ratu yang menikmati hasil kerja kerasnya Arya. Dia kan sudah punya uang sendiri, kata nya orang kaya. Jadi uang Arya itu seharusnya untuk ibu, tapi Ratu itu terlalu serakah. Makanya ibu itu semakin benci sama dia, mana Arya cuma ngasih 1,5 juta saja. Mana cukup untuk kebutuhan rumah sehari-hari. Uang dari bapak juga tidak seberapa, cukup untuk ibu jajan sama beli baju baru saja."Seru ibu Marni dengan kesal.
Dreett Drettt Drreett
Di tengah-tengah obrolan mereka tiba-tiba ponsel Rani bergetar. Rani langsung melihat siapa yang menghubunginya.
" Andi ? Ngapain anak ini menghubungiku?"Seru Rani sambil menatap ponsel di tangannya.
" Andi adik kamu? Heleh pasti dia disuruh bapak mu untuk meminta ibu pulang. Ponsel ibu saja sengaja ibu matikan karena malas bapak mu terus-terusan telepon meminta ibu pulang." Ucap ibu Darti.
" Angkat tidak ya bu?." Tanya Rani meminta persetujuan dari ibu Darti.
" Sudah biarkan saja. Kalau mau kamu angkat juga tidak apa-apa juga sih, kalau dia menanyakan ibu, bilang saja kalau ibu sedang tidur."Ucap Ibu Darti dengan malas.
Posel Rani kembali bergetar, dan tanpa fikir panjang Rani pun mengangkat telepon dari Andi sang adik angkatnya.
[ Hallo apa apa ? Ganggu orang lagi santai saja kamu ini, Ndi.] Belum apa-apa Rani sudah berkata ketus.
__ADS_1
[ Mbak, Mbak Rani jangan marah-marah dulu dong. Mbak Rani dan ibu harus segera pulang karena bapak masuk rumah sakit mbak ] Ucap Andi dengan cepat.
[ Apa? Bapak masuk rumah sakit? Memangnya bapak sakit apa?]
[ Sudah mbak dan ibu cepat datang saja, ini bapak kritis. Bapak di rawat di rumah sakit Medika, cepat datang mbak.]
[ Iya iya bawel banget ]
Klik
Rani mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ibu Marni dan ibu Darti memandang Rani dan menantikan Rani memberikan penjelasan.
" Bapak masuk rumah sakit bu. Kita harus segera kerumah sakit, kata Andi bapak kritis."Ucap Rani memberitahu.
" Apa? Bapak masuk rumah sakit? Kok bisa?."Seru ibu Darti.
" Sudahlah bu, nanti tanyakan sama Andi saja. Sekarang ibu siap-siap saja, kita harus kerumah sakit sekarang."Seru Rani.
" Kita naik apa, Ran?." Tanya ibu Darti.
" Nanti Rani pesan taksi online saja."Jawab Rani.
Ibu Darti pun masuk ke kamarnya dan dia membereskan pakaiannya di bantu oleh ibu Marni. Ibu Marni tidak ikut ke rumah sakit, karena memang jaraknya yang lumayan jauh sehingga dia memilih untuk di rumah saja.
" Bu, bilang sama mas Bima kalau Rani pulang sama ibu. Tadi Rani sudah telepon mas Bima tapi tidak di angkat."Ucap Rani sambil memasukan tas ke dalam mobil.
" Iya nanti ibu sampaikan. Semoga bapak mu cepat sembuh ya, kalau ada apa - apa kabari ibu ya."Seru ibu Marni memperlakulan Rani dengan sangat lembut.
" Iya bu. Kami berangkat ya "Seru Rani berpamitan.
" Bu Marni saya pulang dulu ya."Seru ibu Darti juga berpamitan.
" Iya bu Darti. Hati - hati di jalan."Ucap ibu Marni dengan ramah.
Rani dan ibunya pun segera masuk mobil. Setelah semuanta masuk, pak sopir pun melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah pak Santo.
**********
__ADS_1